ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 94 Setelah Pesta


__ADS_3

Ken menghempaskan tubuhnya diatas ranjang hotel. Ia mengendurkan dasinya dan jasnya sudah ia lemparkan entah kemana.


Kaki kakinya terasa lelah. Tangannya juga lumayan pegal karena ada seribuan orang yang bersalaman dengannya.


Setelah resepsi selesai, Ken langsung kembali ke kamar hotel. Tidak ada acara tambahan seperti minum-minum atau bergadang hingga pagi karena dua manusia yang harusnya melakukan itu malah sibuk alih profesi sebagain supir pribadi.


Alvin langsung pulang keapartemen setelah mengantar Rosa. Sementara Thomas dan Mommynya pulang mengantar Mauren menggunakan mobilnya.


"Lelah?" tanya Lova yang sedang duduk di sofa. Ia mengangkat gaunnya dan mencoba membuka tali sepatu hak tinggi yang ia pakai itu.


Ken menatapnya yang kesulitan. Dan pria itu langsung bangun dan berjongkok di depannya. "Katakan jika tidak bisa, sayang?"


Lova tersenyum kecil. Ia menyandarkan punggungnya di sofa. "Terima kasih, Hero!"


Lova merasa lebih baik. Kakinya yang terasa kebas ia luruskan setelah Ken berhasil membuka sepasang sepatu itu.


"Mau ku pijat?" tanya Ken. Ia meletakkan kaki Lova di atas lututunya.


"Tidak perlu, sayang!" Tolak Lova yang langsung menurunkan kakinya dari lutut Ken.


"Hanya butuh diluruskan dan mandi air hangat sepertinya akan membuatku rileks."


Ken mengangguk. Ia berdiri dan membungkuk. Tangannya terulur disandaran sofa mengukung gadis yang sudah sah menjadi istrinya itu.


"Mandi bersama?" ajak Ken dan Lova terkekeh.


"No!" tolak wanita yang masih memakai riasan lengkap itu.


"Why? Kita sudah sah!" balas Ken.


Lova tertawa. "Kita memang sudah sah! Tapi untuk mandi bersama, malam-malam begini, ku rasa tidak sayang!"


"Kalau lain waktu, bisa ku pertimbangkan!" Lova mengerling. Ia mendorong tubuh Ken agar pria itu menyingkir.


Lova berdiri lalu berjalan menuju meja rias. Ia menghapus make upnya. Sementara Ken dengan setia membuka satu persatu bobby pin di rambut Lova.


Lova menggeleng melihat bayangan Ken di cermin. Pria itu tampak serius mencari satu persatu bobby pin dan menariknya dari rambut Lova.


"Banyak sekali, sayang? Apa tidak sakit?" tanya Ken.


"Tidak. Kan tidak sampai menusuk kulit kepalaku, sayang!"

__ADS_1


Ken mengangguk-anggukan kepalanya. "Mau mandi sekarang?" tanya Ken saat melihat wajah Lova sudah bersih dari make up dan bulu mata palsunya.


Lova mengangguk. "Bisa minta tolong..."


"Siap! Akan ku bantu untuk membuka gaunmu!" jawab Ken cepat.


Lova tertawa. "Bukan itu, Ken. Aku ingin minta tolong, bisakah kamu isikan bathtube dengan air hangat sementara aku akan mempersiapkan pakaian kita berdua."


"Ku rasa kita tidak butuh pakaian," jawab Ken tersenyum jahil sambil masuk ke kamar mandi.


"Jadi, kamu akan pakai bathrobe sampai pagi?" tanya Lova yang pura-pura polos.


Ken tertawa dari dalam kamar mandi. "Aku tidak butuh bathrobe, sayang!"


"Jangan pura-pura tidak tahu. Siap atau tidak aku akan tetap menagihnya. Meski aku harus menunggu hingga besok pagi," lanjut Ken.


Lova menghela nafas. Sepertinya malam ini ia tidak bisa menghindar dari pria itu. Entahlah, semakin ia mengenal Ken, ia semakin melihat banyak perubahan dalam diri pria itu.


Pria yang dulunya seperti batu, kini mulai bisa diajak bercanda. Bahkan terkadang Ken tidak bisa serius.


***


Suasana mobil Alvin begitu sunyi. Hanya ada dia dan Rosa di dalam mobil dan keduanya sama-sama diam.


"Menunggu siapa, Ros?" tanya Alvin saat mobilnya berhenti di depan gadis itu.


Ia sebenarnya enggan mengganggu gadis itu lagi. Ia sudah menyerah. Tapi membiarkan gadis itu pulang sendiri, sebagai laki-laki ia merasa seperti seorang pengecut.


Ia tidak sedang sibuk dan terburu-buru, maka tidak salah jika ia menawari gadis itu tumpangan.


"Taksi online, Pak!" jawab Rosa sambil menunduk. Gadis itu masih menunjukkan sikap hormatnya pada Alvin, meski ia sadar, sudah mengecewakan pria yang turun dari mobilnya itu.


"Cancel saja. Biar ku antar!" ucap Alvin.


"Tidak bisa, Pak. Kasihan."


Sebuah mobil memasuki kawasan hotel dan berhenti di dekat mereka. "Dengan Mbak Rosa?"


Rosa mengangguk. Ia hendak berjalan maju dan masuk ke taksi online. Tapi Alvin menarik tangannya.


Alvin berdiri di samping pria yang masih duduk di kursi kemudi itu. Ia mengeluarkan dompetnya dan mengambil beberapa lembar uang pecahan seratus ribuan dan memberikannya pada supir taksi itu.

__ADS_1


"Cancel saja, Mas. Ini untuk ganti rugi, karena anda sudah jauh-jauh datang kesini."


"Tapi Mas!" Pria itu ingin menolak dan enggan menerima uang dari Alvin.


"Adik saya sedang merajuk, tadi. Jadi ia ingin pulang sendiri. Maaf ya, Mas!"


Pria berkumis tipis itu menerima uang dari Alvin dan segera pergi dari tempat itu. Melihat Rosa yang tidak marah atau melawan keputusan Alvin, membuat pria itu yakin, bahwa Alvin tidak mungkin membahayakan gadis itu.


"Pulang kemana?" tanya Alvin. "Kontrakan kamu atau rumah panti?" lanjutnya.


"Ke kontarakan saja. Kalau ke rumah panti takut mengganggu mereka yang sudah tidur."


Semenjak anak-anak panti tinggal di rumah Ken, Rosa sering kesana untuk memastikan anak-anak tidak membuat masalah dengan merusak perabot di rumah itu.


Alvin mengemudikan mobilnya menuju kontrakan Rosa. Ia sudah tau letaknya dimana karena pernah mengantar gadis itu.


Kurang dari lima menit lagi, mereka akan sampai. Namun, Rosa dan Alvin tidak saling bicara lagi.


Alvin merasa ada hal yang masih mengganjal dihatinya. Melihat diamnya Rosa. Ia merasa sepertinya gadis itu tidak nyaman dengan apa yang Alvin katakan di pesta tadi.


"Ros! Jangan fikirkan tentang ucapanku tadi."


"Jangan merasa sungkan pada kak Lova dan Ken hanya karena aku."


"Aku dan mereka berbeda. Perasaanku jangan kamu sangkut pautkan dengan mereka."


"Keputusan yang kamu buat ini, tidak akan mempengaruhi posisimu di perusahaan." Alvin khawatir, Rosa merasa bersalah karena kembali menolaknya hingga ia mengundurkan diri dari perusahaan.


Alvin tahu, gadis itu sangat butuh pekerjaan itu. Terlebih posisinya juga lumayan bagus di perusahaan Bratadikara.


Rosa diam saja. Ia menatap Alvin yang sedari tadi bicara tanpa menatapnya.


Apa aku terlalu bodoh menolak pria ini? Apa aku terlalu naif, dengan merasa diriku ini tidak pantas untuknya?


Pak Alvin... jika kita bersama, apakah aku mampu menutup telingaku agar tidak mendengar cibiran orang-orang*? Batin Rosa.


Alvin mencoba untuk menenangkan dirinya. Penolakan Rosa membuat luka yang cukup dalam di hatinya. Tapi menaruh dendam, tidak mungkin ia lakukan kepada gadis yang ia cintai itu.


Ia hanya sedang berusaha meyakinkan hatinya, menguatkan dirinya bahwa akan ada Rosa yang lain yang jauh lebih baik dari gadis di sampingnya ini.


Ia hanya perlu bersabar. Setelah ini, ia akan benar-benar fokus pada perusahaan. Seketika ia membandingkan dirinya dengan Ken.

__ADS_1


*Kakakku saja menikah diusia 30 tahunan. Dan aku masih 25. Masih ada 5 tahun lagi untuk aku mencari gadis yang tepat.


Mungkin Rosa memang tidak ditakdirkan untukku*.


__ADS_2