
"Masuk!" Perintah pemimpin tim penyelamat yang Ken tugaskan untuk mengintai gedung dimana Alvin disekap.
"Argh!" Satu penjaga tumbang hanya dengan satu peluru. Senjata yang di lengkapi dengan peredam suara itu membuat tembakan mereka nyaris tak menimbulkan suara.
"Hei! Siapa kau!" Beberapa orang pria melihat pemimpin tim Ken, dan seketika terjadi adu tembak.
Orang-orang Ken yang mampu menggunakan dua senjata api sekaligus, dengan mudah melumpuhkan mereka.
"Kalian berjaga-jaga!"
"Kamu ikut denganku! Kita cari dimana Pak Alvin berada!" Pemimpin tim memberi instruksi.
Suara mobil tuan Hendrico membuat mereka harus bergerak cepat. Mayat yang bergelimpungan segera mereka sembunyikan agar siapapun yang datang tidak menaruh curiga.
Satu persatu ruangan dibuka dan mereka belum menemukan Alvin. Yang ada hanya penjaga- penjaga yang mereka temui.
"Dimana dia disekap!" Pimpinan tim mengarahkan sebuah senjata ke kepala seorang pria yang merupakan orang suruhan Tuan Hendrico.
"Aku lebih baik mati dari pada memberitahumu!" Jawab pria botak itu dengan nada sombong.
"Selamat jalan ke neraka!" Satu t*mbakan berhasil membuatnya meregang nyawa.
"Cari sampai ketemu!"
Sementara itu, Ken berdiri tepat di belakang mobil Tuan Hendrico yang sudah masuk ke dalam area bangunan itu. Pria itu berjalan kaki untuk semakin memasuki gedung usang itu dengan dua bodyguard di belakangnya.
Ken bersandar di mobilnya dengan tangan terlipat di dada. "Buru-buru sekali, Tuan!" ucapnya.
Tuan Hendrico dan dua bodyguardnya berbalik dan dua senjata api langsung mengarah ke tubuhnya.
Ken tertawa. "Mengapa kedua anj*ingmu terlalu tegang, Tuan?"
"Aku bahkan tidak melakukan apapun dan mereka malah ingin menyerangku."
Tuan Hendrico tersenyum licik. "Akhirnya kamu datang, Alkenzy Aldric!"
"Aku tidak menduga ternyata selama ini kita sangat dekat!" Tuan Hendrico maju beberapa langkah dan langsung diikuti oleh bodyguardnya.
"Mengapa kamu malah memperkenalkan dirimu sebagai Ken Darrass?" Pria itu tersenyum mengejek. "Bahkan adikmu saja berani mengakui siapa dirinya!"
Ken tak bergerak sedikitpun. Ia malah menatap pria lekat-lekat.
"Ada apa? Mencoba mengingat wajahku?" tanya pria itu saat melihat Ken menatapnya begitu dalam bahkan tidak berkedip.
"Aku tidak pernah mengubah wajahku, anak muda! Aku masih tetap seperti dulu," Ucapnya sombong.
Ken menyeringai, lalu menghirup udara dalam-dalam. Ia lantas menghembuskan nafas pelan.
"Ada apa? Kamu gugup? Ingin bertemu adikmu sekarang?" tanyanya pada Ken.
"Adikmu masih hidup, karena aku ingin mengirim kalian berdua secara bersamaan kepada kedua orang tua kalian, di neraka!"
"Tidakkah anda mencium bau-bau kekalahan dari tubuh anda, Tuan?" tanya Ken. Ia berdiri tegak dan maju selangkah. Jarak mereka hanya tiga meter.
"Aku tidak pernah kalah," ucap pria tua itu sombong.
Ken mengusap dagunya. "Bagaimana dengan hadiahku pagi ini?"
Tuan Hendrico mengerutkan kening. Ia juga menatap wajah Ken dan bertanya dalam hatinya. Hadiah apa?
Ken tertawa. "Membuatmu terkejut? Atau mungkin goyah?"
__ADS_1
Tuan Hendrico masih diam mematung. Ia tidak paham maksud pria muda dihadapannya ini.
"Apa pondasi kekayaanmu mulai runtuh, Tuan?"
"Ah ya... Pulanglah dan masuklah dalam selimut hangatmu, karena berkeliaran diluar sepertinya sangat berbahaya bagimu," ejek Ken.
"Ck!" decaknya.
"Aku lupa, 300 kilogram sabu tidak akan membuatmu miskin, bukan?"
Tuan Hendrico mendelik tak percaya karena Ken mengetahui bahwa semua itu miliknya.
"Jangan takut begitu," ia tertawa. "Aku tidak akan melaporkanmu ke polisi karena aku masih ingin kita bermain."
"Bukan begitu, paman Juan!" ucap Ken pelan bersamaan dengan tumbangnya dua bodyguard Tuan Hendrico.
Tuan Hendrico melihat ke belakang dan ia bisa melihat dua orang pria masih mengarahkan senjata kearahnya.
Tuan Hendrico menyadari satu hal, ia dijebak. Ia bahkan tidak punya pasukan lagi sekarang.
Ia mengeluarkan sebuah pist*l dan mengarahkannya pada Ken.
"Suruh mereka menurunkan senjata!" Ancam pria tua yang perlahan maju dihadapan Ken.
Ken tertawa lepas. "Siapa mereka? Bukankah mereka pasukan anda, Tuan Hendrico yang terhormat!"
"Suruh saja mereka menurunkan senjata. Aku baru datang dan aku tidak tahu apa-apa soal ini." jawab Ken acuh.
"Jangan banyak bicara!"
Ken mendekat dan terus mendekat. Ia menatap tajam pada pria yang masih berdiri tegak tanpa rasa takut di depannya ini.
Ken maju selangkah demi langkah dengan menunjukkan wajah dingin yang diselimuti dendam.
"Pilih saja, paman! Mau paru-paru dulu atau langsung ke jantung?" Ken menunjuk dada kirinya sementara pist*ol ada di dada kanannya.
"Dan setelahnya, puluhan peluru akan menembus semua bagian tubuhmu!"
Tuan Hendrico melirik ke samping dan melihat pasukan Ken sudah mengepungnya.
"Tidak masalah, aku lebih baik mati setelah memb*nuhmu dari pada aku hidup tapi tetap membiarkanmu menghirup udara segar!" jawab Tuan Hendrico sombong.
"Aku sudah berjanji pada mendiang Adam Aldric," ucapnya.
"Aku sudah berjanji untuk mengirim kedua putranya agar ikut bersama ke surga."
"Aku masih ingat bagaimana aku menggantungnya hidup-hidup." Pria itu tertawa lepas.
"Ingin dengar ceritaku?" Tanyanya seolah ada hal lucu dalam ceritanya.
"Baiklah, aku akan ceritakan."
"Malam itu, aku mengantarkan papamu pulang. Lalu aku memasang tali dan memastikan tali itu kuat untuk menahan tubuhnya."
"Kamu tahu? Ayahmu minta digantung!" Ken mengepalkan tangannya. Merasa geram pada pria gil* yang tidak punya perasaan ini.
Ken tahu semua kejadian itu benar adanya. Hanya saja pria tua itu sedang mengarang cerita tentang percakapan terakhir mereka. Ken tidak mungkin percaya papanya yang meminta untuk digantung dengan tali.
"Dia tidak sanggup hidup tanpa istrinya dan kalian berdua yang saat itu ia kira meninggal karena kecelakaan mobil."
Ken diam tanpa berkata apapun. Rahangnya mengeras dan matanya memerah menatap pria itu tanpa berkedip.
__ADS_1
Tuan Hendrico menarik pelatuk pist*lnya. Ken tidak gentar sedikitpun.
"Selamat jalan Alken-"
"Kretaak!" Dengan gerakan cepat, Ken berhasil menggeser posisi tubuhnya dan membalikkan genggaman Tuan Hendrico hingga semua sendi di jemari tangannya berbunyi keras.
Pist*l itu langsung terjatuh. Ken menendang perut, wajah dan kakinya hingga pria itu terjatuh di tanah.
Ken menginjak dadanya. Ia mengeluarkan pist*l dari sakunya dan langsung mengarahkan pada pria yang menahan sakit luar biasa itu.
Tubuh yang mulai menua dan kebiasaannya memakai jasa bodyguard membuat Tuan Hendrico tidak pernah lagi berlatih bela diri. Hingga ia begitu mudah dikalahkan hanya dengan tendangan kaki Ken.
Tuan Hendrico meringis kesakitan kala Ken menginjak dadanya semakin kuat.
"Bagaimana? Merasa de javu?" tanya Ken menyeringai.
"Bukankah dengan posisi seperti ini anda menghabisi nyawa mamaku, Paman Juan?" bentak Ken.
"Apa salahnya hingga dia menjadi korbanmu juga?" Air mata Ken mengalir disudut matanya.
"Apa salah papaku hingga kamu menghabisi harta dan juga nyawanya?" Bentak Ken semakin kuat.
"Uhuk... Uhuk..." Tua Hendrico terbatuk
"Kenapa? Haus, uh?" tanyanya.
"Belum apa-apa jika dibanding dengan keringnya tenggorokan papaku saat tali itu mencekik lehernya."
"Semua itu salahnya. Dia selalu menyuruhku melakukan hal hal yang bukan tugasku!" terdengar suara serak pria di kakinya itu.
"Dia memintaku mengurus masalah pribadinya dan tidak membiarkanku mengurus urusan perusahaan."
"Tentu karena itu tugas anda sebagai asisten pribadinya."
"Bahkan jika papaku meminta untuk membelikan pakaian dalam untuknya, anda harus menurutinya."
"Aku bukan pembantu!" Ucapnya geram.
"Hanya untuk hal sepele anda melakukan kekejian itu."
"Dan hari ini dengan alasan sepele aku juga akan membalasnya!"
Satu tembakan Ken lepas kearah Tuan Hendrico. Sayang sekali, tembakannya meleset dan mengenai tanah disamping lehernya.
Ken menyeringai kala melihat pria itu memejamkan mata dan menahan nafas. "Anda belum sampai ke neraka, Tuan!"
"Aku masih bingung, bagian mana yang akan ku pilih, apakah jantung, kepala atau perut?"
"Jantung anda masih berada pada tempatnya kan?" tanya Ken.
Ken melepaskan satu tembakan ke lengan atasnya.
"Aargh!" jeritan terdengar seiring dengan keluarnya darah segar dari balik jas yang pria itu pakai.
"Tangan ini yang telah menyiksa kedua orang tuaku."
Ken mengarahkan pist*olnya ke dada Tuan Hendrico. "Sudahlah, aku tidak ingin bermai-main lagi."
Tuan Hendrico kembali memejamkan mata.
"Angkat tangan jika masih ingin melihat orang ini, hidup!" terdengar suara pria dari arah belakangnya.
__ADS_1
Ken berbalik melihat siapa yang datang. Dan matanya membulat sempurna melihat orang yang telah ditodongkan pist*l kearah pelipisnya.
"Oh, Sh**it!!" geramnya.