
Siang ini Aland sedang dalam perjalanan menuju perusahaan milik Mommynya yaitu perusahaan yang memproduksi serta memasarkan perhiasan dengan nilai fantastis.
Aland baru saja pulang dari kantor polisi mengunjungi kedua orang tuanya. Benci dan sayang berbaur, berkecamuk dalam hatinya. Tapi, saat kuasa hukum kedua orang tuanya menghubunhinya dan meminta datang ke kantor polisi, mau tak mau Aland pergi kesana.
Ia masih ingat, apa yang Mommynya katakan. Ia memikirkan bagaimana mungkin ia mengemban amanah yang sama sekali bukan keahliannya.
"Aland, perusahaan milik Mommy bukan termasuk dalam daftar aset yang akan diperiksa pihak berwajib. Semua itu murni milik Mommy."
"Bisakah kamu menjalankan bisnis kesayangan Mommy itu, Nak!"
"Mommy mohon! Datanglah ke kantor Mommy dan disana kamu bisa menemui Mr James dan Mike. Mereka pemimpin tim yang membuat perhiasan di perusahaan Mommy."
"Kamu bisa temui Sashi, dia adalah tim desain Mommy."
"Rencananya dua bulan lagi, perusahaan akan meluncurkan produk baru, Aland."
"Pengerjaannya sudah 80 persen."
"Tapi ada satu desain lagi yang belum Mommy selesaikan, tapi mungkin susah dikerjakan oleh Sashi."
"Tolong Mommy, Nak. Gantikan Mommy untuk sementara waktu. Untuk waktu yang belum tahu sampai kapan, Aland!"
"Tapi aku tidak berpengalaman dalam hal itu, Mom!"
"James, Mike dan Sahsi akan membantumu, Aland. Please, Mommy mohon. Jangan hancurkan mimpi Mommy, Nak!"
Aland mengangguk pasrah. Ia akan mencoba lebih dulu dan jika ia tidak bisa, barulah ia akan menyerah.
"Mommy akan meminta pengacara mengurus berkas serah terima perusahaan menjadi atas namamu!"
"Tiiinnn!" Klason nyaring dari arah belakang membuat Aland terkesiap. Ia melamun cukup lama, hingga tidak meyadari lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau.
"Apa aku mampu menjalankan bisnis yang selama ini Mommy jalani sendiri? Mulai dari mendesain bahkan sampai mengawasi langsung proses pembuatannya? Aku mana mungkin mengerti hal semacam ini?" keluh Aland menghela nafas berat.
Aland tiba di sebuah gedung empat lantai, dimana perusahaan Mommynya berada. Lantai satu adalah sebuah toko perhiasan yang memamerkan banyak koleksi hasil rancangan Nyonya Hendrico yang siap untuk di jual.
Dari sisi samping toko, ada sebuah lorong luas yang langsung menuju ke sebuah lift. Aland melewati lantai dua yang merupakan ruangan berisi kubikel-kubikel para karyawan yang bekerja di perusahaan ini.
Lantai tiga, merupakan ruangan workshop, dimana semua perhiasan itu di buat oleh para karyawan yang memiliki keahlian yang mumpuni. Peralatan canggih langsung di datangkan dari luar negeri demi menciptakan sebuah perhiasan dengan kualitas dan desain terbaik.
Aland berhenti di lantai lima. Ia menemui seorang sekretaris yang pernah beberapa kali ia lihat menyambangi rumahnya.
__ADS_1
Perusahaan ini masih tergolong baru, tapi sudah sangat diminati karena desainnya yang disukai banyak orang. Kualitas yang di tawarkan juga sebanding dengan harga yang dipatok.
"Pengacara Bu Shanas, sudah menghubungi saya, Pak. Memberi tahu bahwa anda akan datang dan menggantikan beliau untuk sementara waktu." Ya, Shanas adalah nama Mommynya. Aland hampir tergelak, karena tidak ada yang pernah menyebut nama itu di rumah. Semua orang lebih mengenal Mommynya itu dengan sebutan Nyonya Hendrico.
Ck! Baguslah, Mom. Nama Shanas lebih enak didengar dari pada nama Hendrico yang sudah terinjak-injak dimata masyarakat. Batin Aland.
Aland diajak berkeliling oleh wanita bertubuh proporsional itu, dan wanita itu menjelaskan secara terperinci setiap prosesnya pada Aland.
"Ini adalah desain yang belum Bu Shanas selesaikan, Pak. Sudah saya selesaikan tapi saya masih membutuhkan persetujuan dari bapak," ucap Shasi saat Aland menanyakan desain yang belum selesai dikerjakan.
"Bisa saya minta berkasnya, akan coba saya pelajari di rumah," pinta Aland karena ia tidak mengerti dengan desain yang ditunjukkan gadis itu.
Aland meninggalkan perusahaan itu saat hari mulai sore dan ia membelokkan mobilnya menuju sebuah apartemen mewah dimana ada satu unit yang ditinggalinya dan satu unit ditinggali oleh Mauza dan Mauren.
Aland tidak peduli jika gadis itu mengetahui bahwa ia tinggal disini juga. Mereka berada di lantai yang berbeda. Aland di lantai 18 dan Mauza di lantai 20.
Tapi satuhal mengejutkan terjadi, Aland dan kakak beradik itu berada dalam satu lift.
"Tuan? Anda ingin ke..."
"Tidak, aku akan ke unitku sendiri di lantai 18."
"Kalian dari mana?" tanya Aland kemudian. Tapi ia langsung diam dan menunjukkan ekspresi datarnya karena menyadari ia terlalu ingin tahu urusan keduanya.
"Lalu ke sekolah. Dan aku lulus..." Mauza tersenyum senang menunjukkan berkas berupa bukti kelulusannya di depan Aland.
Aland tersenyum samar. "Selamat!"
Mauza mengangguk lemah. "Terima kasih, Tuan!"
Lift sudah menunjukkan angka 18 tapi Aland tidak keluar. "Tuan...!" Mauza menunjukkan angka 18 yang muncul di lift dan Aland menekan angka 20.
"Aku berubah fikiran. Aku akan mampir ke unit kalian dulu," ucap Aland menatap lurus kedepan.
Cih! Alasan macam apa itu? Berubah fikiran? Mauren kesal karena merasa sepertinya dugaannya benar, Aland memang benar-benar memiliki perasaan pada adiknya.
Mereka masuk ke unit yang ditinggali Mauza dan Mauren. Aland memperhatikan setiap sudutnya dan tersenyum senang.
"Anda kenapa, Tuan?" tanya Mauren memicing curiga melihat senyum Aland.
"Tidak ada. Aku hanya senang karena tempat ini bersih. Baguslah! Tidak sia-sia aku menempatkan kalian disini. Dari pada harus membayar mahal asisten rumah tangga untuk merawat tempat ini."
__ADS_1
Mauren menatap sinis pada Aland. Batinnya menggerutu mengomentari pernyataan Aland yang ia rasa tidak masuk diakal sehatnya.
Alasan yang bagus! Bukankah akan lebih menguntungkan jika anda sewakan saja, Tuan. Asisten rumah tangga juga tidak semahal biaya sewa tempat ini. Jangan membodo*hiku mengenai hitung-hitungan uang!
Aland duduk dan memanggil Mauza. "Kemarilah!" Mauren meliriknya. Gadis yang tengah membuat kopi itu masih menatap tak suka pada pria yang ia duga hanya ingin memanfaatkan kepolosan adiknya saja.
"Ada apa, Tuan?" tanyanya.
"Aku pernah melihat notes milikmu yang terdapat desain perhiasan." Mauza mengangguk.
"Kamu memahami mengenai desain perhiasan?" tanya Aland lagi.
Mauza menggeleng. "Saya hanya menggambar saja, Tuan. Karena saya suka."
"Dari mana kamu mendapatkan inspirasinya?" Mauza menunduk takut.
"Katakan saja, jangan takut!" ucap Aland saat melihat ekpresi wajah Mauza berubah drastis.
"Da-ri... Dari perhiasan yang Nyonya pakai, Tuan." Aland mengangguk mendengar jawaban Mauza.
Aland membuka tas jinjingnya, mengeluarkan berkas yang Shasi berikan menunjukkan desain rancangan gadis itu yang merupakan sebuah kalung berlian kepada Mauza.
"Menurutmu bagaimana dengan desain kalung ini?" tanya Aland menatap wajah bingung gadis yang duduk di depannya.
"Saya... tidak mengerti Tuan!"
Aland membuka laptopnya dan menunjukkan desain dengan lebih jelas dari berbagai sisi.
"Aku tidak memintamu mengerti. Tapi menurutmu ini bagus atau tidak? Layak jual atau tidak? Apakah akan diminati dipasaran atau tidak? " tanya Aland.
Mauza diam sejenak. Ia tidak mengerti mengenai desain. Tapi ia suka desai simple pada bagian liontinnya.
"Menurut saya, tergantung konsumen, Tuan."
"Ibu muda akan butuh kalung tipis dengan ukuran tidak terlalu panjang namun kuat dan tidak mudah putus. Mengingat mereka akan lebih sering beraktivitas mengurus balita yang rentan menarik kalung ibunya."
"Wanita berhijab sepertinya butuh kalung lebih panjang."
"Saya rasa liontin atau badulnya bisa di padu padankan dengan kalung dengan panjang sesuai keinginan pelanggan. Hanya saja tidak cocok untuk rantai kalung yang ukurannya besar dan tebal, Tuan."
Aland tersenyum kecil. "Kamu suka modelnya?"
__ADS_1
"Suka." Mauza mengangguk. "Simple. Dan sepertinya yang menjadi target pemasarannya memang remaja, wanita single dan ibu muda."
Sebenarnya Aland hanya butuh pendapat gadis di depannya. Besok Aland akan ke kantor polisi untuk menemui Mommynya lagi dan membicarakan masalah ini.