ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 88 H-1


__ADS_3

"Pastikan bunga-bunganya masih segar sampai besok, ya Mas!" ucap Alana pada salah satu petugas W.O yang datang ke rumah mereka sejak pukul 8 pagi itu.


"Jangan sampai properti yang kalian bawa melukai putriku, nanti."


"Pastikan dekorasinya tidak tumbang saat acara berlangsung."


Lova sedang membaca berita mengenai saham di ponselnya. Ia bahkan dengan santinya mencelupkan biskuit ke cangkir teh diatas meja lalu melahapnya.


Gadis itu tak terganggu sedikitpun dengan keriuhan orang-orang disekitarnya. Ruang tamu sedang di dekor sebagai tempat untuk melangsungkan akad nikah.


Sementara resepsi yang akan di lakukan pada malam harinya akan dilaksanakan di hotel mewah. Brata mengundang seluruh rekan bisnisnya.


Berita simpang siur antara dirinya, Alana dan Mariska masih menjadi pertanyaan dimata publik meski ia sudah menjelaskan di depan media mengenai hal itu.


Dan disaat Alana menjadi pendampingnya saat resepsi pernikahan Lova nanti, Brata harap ia itu bisa meyakinkan publik bahwa kenyataannya memang begitu. Alana adalah istrinya.


"Lova, kapan pegawai salon akan datang, sayang?" tanya Alana dari kejauhan karena wanita itu melihat anak gadisnya malah duduk santai sambil makan biskuit.


"Sebentar lagi, Bunda."


"Rosa benar-benar sudah menghubungi mereka, kan?" tanya Alana lagi dengan suara agak keras.


"Sudah, Bun!"


"Bunda!" Lova berbalik dan melihat Alana sedang menjadi mandor atas beberapa petugas W.O.


Lova ingin tertawa melihat Alana yang tampak lemah lembut menjadi sedikit garang akhir-akhir ini. Ya, dia sadar semua itu karena Alana ingin yang terbaik untuknya.


"Sepertinya kamarku tidak perlu di dekorasi."


"Kenapa? bukankah itu kamar pengantin?" tanya Alana.


"Ehm..."


"Bukankah kami akan menginap beberapa hari di hotel setelah resepsi?"


Alana menatap putrinya. Jarak mereka lumayan jauh. "Tapi, bukankah siang hari kalian masih di rumah?"


Lova mengangguk karena sekitar pukul 4 sore mereka akan ke hotel untuk persiapan dirinya kembali di rias.


Alana tersenyum. "Apa saat siang hari kalian tidak ingin..." Alana sengaja tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi matanya mengerling kearah Lova.


Lova mendadak malu dan wajahnya memerah. Ia tahu kemana arah pembicaraan Alana.


"Ku rasa tidak, Bun!" Jawabnya sambil berbalik. Ia tak tahan saat melihat petugas W.O mengulum senyum mendengar pertanyaan Alana.


Jangankan dirinya, pria dan wanita yang sedang memasang kain serta bunga-bunga itu saja bisa mengerti arah pembicaraan bundanya.


"Bagus! Atau kamu tidak akan sanggup berdiri menyalami semua tamu yang naik ke plaminan untuk mengucapkan selamat!" ucap Alana membuat Lova semakin merasa malu.


Dengan langkah lebar Lova berjalan menuju kamarnya.

__ADS_1


"Ada apa? Bundamu berulah lagi?" tanya Brata yang baru saja keluar dari kamar.


Lova menggeleng pelan. "Tidak ayah. Ayah sedikit pucat?" Lova mendekat dan memegang pipi Brata.


"Oh, ya? Kelihatan seperti itu?"


"Iya ayah. Ayah sakit?"


Brata menggeleng. "Mana mungkin ayah sakit sementara putri ayah akan menikah besok."


"Ayah harus tetap sehat untuk menyaksikan sendiri mimpi ayah." Brata mengusap bahu Lova agar gadis itu tidak berlebihan.


Ia bahagia karena Lova akan menikah, tapi ia masih memikirkan soal keputusan mereka yang ingin tinggal di apartemen hanya berdua.


Ia merasa sedikit sedih karena tidak bisa melihat Lova setiap hari. Rumah akan terasa sepi meskipun setiap hari memang begitu karena gadis itu yang sibuk bekerja.


"Melihat gadis kecil ayah menjadi ratu sehari."


Lova memeluk Brata. "Tetaplah sehat ayah."


"Jangan berpelukan tanpa Bunda, Lov." Alana ikut memeluk keduanya.


"Bunda saja, yang terlalu sibuk."


Alana tertawa. "Entahlah, 13 tahun tidak bertemu dan ketika bertemu beberapa bulan, bunda harus mempersiapkan pernikahan ini."


"Ini seperti mimpi indah, Lov."


"Jangan pernah berpisah lagi."


Ponsel Alana bergetar, mengganggu momen indah itu.


"Ck! Mengganggu saja." Keluh Alana namun tak urung ia membuka pesan masuk itu. Karena ia takut pesan itu sangat penting.


Alana membulatkan mata saat melihat Ken sedang berada di barber shop dan pria itu sedang merapikan rambutnya.


Alana menunjukkannya pada Lova. "Lihat! Ken saja sudah bersiap, Lov. Mana pegawai salonnya? Mengapa belum sampai juga?" Pelukan itu sudah terurai dan Lova memutar bola matanya jengah.


"Mulai lagi..." gumamnya lemah dan Brata tertawa kecil. Ia tahu istrinya itu begitu cerewet mengatur Lova untuk melakukan ini dan itu.


"Sabar, ya..." Brata mengelus bahu Lova.


"Jangan jangan Rosa...." Kalimat Alana terpotong saat asisten rumah tangga datang bersama beberapa pegawai salon beserta alat-alat yang mereka bawa.


"Syukurlah, kalian datang tepat waktu atau macan yang dulunya jinak akan berubah menjadi ganas," gumam Lova.


"Mereka sudah datang, Bun! Lihatlah! Bunda saja yang tidak sabar." Lova menyambut pegawai salon itu.


"Ayo, mbak! Kita ke kamar..." Lova bingung memakai kamar yang mana. "Yang itu saja!" Lova menunjuk kamar yang biasa dipakai Ken. Karena letaknya dilantai bawah dan memudahkan pegawai salon untuk membawa peralatan mereka.


"Bunda, sepertinya bunda juga harus creambath dan facial. Dua hari ini kerutan di wajah bunda bertambah 20 persen." Lova tersenyum kecil saat melewati tubuh Alana.

__ADS_1


Wanita itu membulatkan mata. Ia mengangkat ponselnya dan mengaktifkan kamera depannya untuk melihat wajahnya.


Brata menahan senyum melihat kelakuan istri dan anaknya.


"Lova, jangan membohongi bunda." teriak Alana.


"Pastikan itu kamera tanpa filter, bun!" teriak Lova sesaat sebelum ia masuk ke dalam kamar.


Alana mengerutkan kening. Ia langsung menatap suami yang sedang menahan senyumnya.


"Mas, benarkah yang Lova katakan?" tanyanya cepat. "Ada banyak kerutan baru diwajahku?" tanya Alana.


Brata merangkul Alana dan membawa istrinya itu untuk duduk di sofa. "Tenanglah, dia hanya bercanda sayang."


"Dia yang bercanda atau kamu yang sedang berusaha menenangkanku, Mas?" tanya Alana.


Brata tertawa pelan. "Benarkan? Memang benar banyak kerutan di wajahku." ucap Alana lagi.


"Sini, duduklah!"


"Kamu terlalu lelah mengurus semuanya, Al."


"Padahal Ken dan Lova sudah meminta orang lain mengatur semuanya."


"Karena apa? Karena mereka tidak ingin aku dan kamu kerepotan, kelelahan dan stress mengurus semua persiapan ini."


"Tapi mereka juga harus diawasi, Mas."


"Diawasi ya, bukan diatur," balas Brata.


"Mereka sudah punya konsep sesuai dengan yang Ken dan Lova minta."


"Mereka punya pengawas mereka sendiri."


"Mereka pasti akan memberikan pelayanan dan hasil terbaik, sayang!" Brata berusaha membuat Alana mengerti.


"Ini baru dekorasi, bagaimana dengan catering besok? Apa kamu akan mencicipi satu persatu menunya?" Brata tertawa kecil sementara Alana menatapnya tajam.


"Tidak kan?"


Brata menarik Alana dalam rangkulannya. meletakkan kepala wanita itu di bahunya. "Kamu terlalu excited, Al."


"Aku tahu ini seperti mimpi bagimu. Dan sama. Bagiku juga seperti mimpi."


"Menikahkan Lova dengan kamu ada di sisiku."


"Sebaiknya, sekarang kamu ikut dengan Lova, melakukan perawatan karena besok kita akan kelelahan menyambut ribuan tamu."


"Pipimu akan terasa kebas kerena terus tersenyum ramah pada mereka."


Alana terkekeh. "Entahlah, aku begitu ingin yang terbaik untuknya. Masa remajanya terlewat begitu saja olehku, Mas. Aku ingin menebus semua waktu yang sempat terlewat."

__ADS_1


"Doakan dia dan dukung dia. Itu lebih dari cukup untuk membalas kesempatan yang sempat hilang itu, Al."


__ADS_2