ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 12 Mobil Rusak


__ADS_3

Pagi ini, Ken ikut duduk di meja makan atas perintah Lova. Brata tetap sarapan di kamarnya bersama Nur. Lova sengaja tidak mengizinkan Brata bertemu Mariska agar wanita ular itu tidak meracuni fikiran Brata. Dan berakhir dengan memburuknya kesehatan sang ayah.


"Aku akan kembali malam hari, Ken." Ucap Lova setelah ia selesai sarapan. Baginya sangat penting untuk memberi tahu Ken tentang hal itu.


"Aku akan meninjau pembangunan gedung hotel pak Robert, klien baru di perusahaan."


Ken mengangguk. "Anda pergi bersama Rosa?"


Lova mengangguk. "Tentu, Ken."


"Kami akan naik mobil kantor dan juga supir dari kantor."


"Dan ada beberapa orang lagi yang ikut."


"Aku titip ayah!" Lova menatap Ken lalu melirik Ibu dan kedua saudari tirinya.


"Baik, Bu." Jawab Ken. "Saya akan menjaga Bapak sebisa saya."


Termasuk dari nenek sihir yang berada di hadapan anda, Bu. Lanjut Ken dalam hatinya.


Mariska dan kedua putrinya hanya menjadi pendengar dalam obrolan itu. Jika Ken dan Lova sedang berbicara, tidak ada yang ingin ikut campur.


Dia akan kemana? Baguslah kalau dia akan pergi keluar kantor. Aku akan masuk ke rencana selanjutnya.


Kamu akan mengemis padaku untuk melihat jenazah ayahmu, Lova.


Tapi apakah Brata sudah minum obatnya atau belum? Batin Mariska.


Ken melirik Mariska yang terus tersenyum kecil sambil mengaduk nasi goreng di piringnya dengan sendok.


Apa yang ada dalam fikirannya? Kejahatan apa yang sedang ia rencanakan?


****


"Harap beri laporan jika ada kendala sekecil apapun, Pak," ucap Lova pada manager proyek yang menangani pembangunan hotel milik Pak Robert.


"Pasti, Bu. Saya akan usahakan proyek ini selesai tepat waktu."


Ya, saat ini Lova sedang berada di lapangan. Ia sampai sekitar pukul 11 siang. Dan setelah makan siang, ia langsung turun ke lapangan melihat pekerja konstruksi bekerja.


Aland ada di sana, bahkan tak canggung selalu berada di dekatnya. Lova sampai merasa risih karena pria itu terus saja mencoba berinteraksi dengannya.


Lova memakai celana jeans dan kaos putih dipadu dengan denim jaket serta sneakers putih. Ia sengaja memakai pakaian seperti itu agar mempermudah geraknya karena di proyek banyak sekali material bangunan dimana-mana.


"Ros, kita pulang sekarang!" Ajak Lova pada Rosa. Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Dan tak lama lagi pekerja bangunan juga akan pulang.


"Baik, Bu." Rosa dan Lova berjalan menuju tempat dimana mobil mereka terparkir.


Aland mengikuti langkah kaki keduanya. Lova menghela nafas berat saat Rosa berbisik padanya bahwa Aland mengikuti mereka. Saat sudah sampai di dekat mobilnya, Lova meminta Rosa masuk terlebih dahulu.

__ADS_1


Lova berbalik dan hampir saja Aland menabrak tubuhnya.


"Eeiittss...!" Aland terkekeh. "Sepertinya anda sengaja ingin saya tabrak ya, Bu Lova." Pria yang memasukkan satu tangannya ke saku celana itu tersenyum simpul.


Lova menatap jengah. "Mengapa anda mengikuti saya, Pak Aland?"


Aland tertawa. "Siapa yang mengikuti anda, Bu Lova yang cantik?" bisiknya diujung kalimat.


"Lalu untuk apa anda berjalan dibelakang saya?"


Aland tertawa sinis. "Mobil saya ada disana!" Tunjuk Aland pada rubicon berwarna silver yang terparkir sepuluh meter dari posisi mereka berdiri.


"Ingin pulang bersamaku?" Bisiknya di telinga Lova. "Lalu kita akan menghabiskan malam bersama?"


Lova diam sejenak dan ia langsung masuk ke dalam mobil karena supir sudah membukakan pintu. "Saya duluan, Pak Aland!"


"Hati-hati, Bu Lova." Aland tertawa pelan sambil melambaikan tangannya saat mobil yang Lova tumpangi mulai bergerak maju.


"Pak Aland sepertinya tertarik dengan anda, Bu." Kalimat Rosa membuatnya mau tak mau menatap gadis itu. Lova mengangkat bahunya.


"Ya, sangat kelihatan kalau menurut saya."


"Dia selalu mengikuti anda dan menatap anda dengan tatapan memuja."


"Ros, kamu ikut dengan saya untuk bekerja atau untuk memperhatikan dia?" Tanya Lova berhasil membuat Rosa tertawa.


"Pak Aland pria tampan dan sepertinya kaya juga."


"Setiap gadis pasti menyukainya, Bu."


Lova menggeleng pelan. "Kamu tau siapa dia, Ros?"


Rosa mengangguk. "Arsitek yang merancang gedung pak Robert." Jawab gadis itu.


Lova tertawa kecil.


"Kenapa, Bu? Saya tidak salah kan?" Tanya Rosa.


"Tentu tidak, Ros."


"Tapi perlu kamu tahu, dia putra tunggal pemilik Hendrico Group!" Ucap Lova dengan nada datar.


"Hahahah..." Rosa malah tertawa. "Ibu bisa bercanda juga ternyata."


"Mana mungkin, orang tuanya punya perusahaan raksasa tapi anaknya bekerja untuk orang lain."


"Ah, Ibu ada-ada saja!" Rosa masih terus tertawa.


"Terserah kalau kamu tidak percaya!"

__ADS_1


"Itulah sebabnya tidak ada nama Hendrico yang lain di perusahaan raksasa itu." Lova menatap lurus ke depan.


Rosa diam mematung. Ia menyadari sesuatu, Bosnya itu tidak mungkin berbohong. Terlebih Lova bukan orang yang suka bercanda.


"Ja... jadi..." Rosa nyaris tak percaya tentang hal ini.


"Be... benar pak Aland putra dari pemilik perusahaan raksasa itu, Bu?"


Lova menatap Rosa dan mengangguk.


Rosa seketika diam. Kenapa bisa begitu? Apa dia putra yang terbuang? Ah, ini dunia nyata Ros, bukan cerita novel.


Setelah satu jam perjalanan, tiba-tiba mobil yang Lova tumpangi perlahan berhenti.


"Kenapa, Pak?" tanya Rosa yang bingung karena tiba-tiba mobil berhenti.


"Saya akan coba periksa dulu, Bu." Pria berseragam itu keluar dari mobil dan membuka Kap mesin yang seketika mengeluarkan asap yang mengepul di udara.


"Bu, sepertinya kita perlu membawa mobil ini ke bengkel."


Lova mengangguk. Ia menghela nafas. "Mobil ini sepertinya kurang perawatan, Ros."


Rosa mengangguk. "Saya coba cari bengkel dulu, Bu." Rosa menatap benda persegi di tangannya untuk mencari tahu letak bengkel mobil terdekat.


"Semoga saja ada, Ros. Karena tempat ini sepertinya lumayan sunyi." Lova menatap sekitar yang sangat jarang terdapat rumah penduduk. Tempat yang mereka lalui tadi didominasi oleh ladang dan lahan pertanian milik penduduk sekitar.


"Sekalian pesan taxi online, Ros!" perintahnya kemudian.


"Dapat, Bu. Bengkel terdekat, tiga kilo meter dari sini. Saya akan coba hubungi nomor yang tertera supaya mereka kirim orang untuk ke sini." Rosa membuat Lova bernafas lega.


Lova membuka kaca mobilnya. "Butuh tumpangan?" tanya Aland yang tiba-tiba sudah berdiri menunduk di samping jendela mobilnya.


Lova mengelus dadanya. Ia sangat terkejut. Sejak kapan pria ini ada disini?


"Heii..." Aland menjentikkan jari di depan wajah Lova sehingga ia terkesiap.


"Ah, ya... tidak perlu pak Aland. Montir dari bengkel sedang dalam perjalanan ke sini. Dan asisten saya juga sudah memesan taxi online. Jadi, anda silahkan duluan saja," tolak Lova sopan.


"Sayang sekali, tapi hari semakin gelap, Bu Lova."


"Tempat yang sunyi ini sepertinya rawan kejahatan." Aland menakut-nakutinya.


Lova tetap menolak. Ia memilih menunggu taxi online yang sudah Rosa pesan.


Aland yang sudah di tolak, langsung meninggalkan tempat itu. "Keras kepala!" Gumamnya geram.


[Segera ke jalan Xx! Awasi gadisku!]


Aland mengirim pesan pada anak buahnya yang tersebar di wilayah itu. Ia tidak ingin ada yang menyakiti miliknya hingga ia mengirim orang suruhan ke tempat Lova berada.

__ADS_1


__ADS_2