ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 99 Double Repot


__ADS_3

Setahun kemudian....


"Sah!"


"Alhamdulillah!...."


Alvin berderai air mata karena kata sah itu membuat Rosa resmi menjadi miliknya seutuhnya.


Dihadapan penghulu, wali hakim, saksi dan keluarga Brata serta puluhan anak panti dan ibu panti, Alvin mencium kening Rosa, gadis yang selama ini ia inginkan untuk menemani hari-harinya.


Alvin, menunggu setahun untuk bisa menikahi Rosa. Bukan tidak mampu menikahi gadis itu dalam waktu singkat, tapi ia harus mempersiapkan banyak hal termasuk tempat tinggal yang layak untuk istrinya itu.


Alvin akan memboyong Rosa ke negara dimana ia tinggal sekarang. Mereka akan tinggal disana karena Alvin benar-benar akan memegang penuh perusahaan Ken.


Tidak akan ada pesta mewah di hari ini. Alvin hanya akan mengundang semua karyawan kantornya untuk makan malam di sebuah hotel di Australia sekaligus mengumumkan pada media bahwa ia telah menikah dengan Rosa.


Acara pernikahan itu di gelar di rumah panti yang dibangun Alvin. Rosa merasa rumah itu adalah rumahnya, rumah masa kecilnya meski dengan bangunan berbeda.


"Sayang!" Lova mencengkram lengan Ken yang sedang menemaninya menikmati sepotong cake.


"Kenapa, sayang?" tanya Ken panik apalagi melihat istrinya itu meringis kesakitan.


"Kontraksi palsu lagi?" tanyanya karena hari ini Lova sudah merasakan entah berapa kali kontraksi.


Lova menggeleng. "Entahlah! Tapi hari ini sakitnya sedikit berbeda, Ken!" Ia meringis tak sanggup menahan sakit.


"Sayang, kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Ken.


"Ada apa, Ken?" tanya Alana yang tergesa gesa menghampiri keduanya karena dari kejauhan wanita itu melihat putrinya meringis menahan sakit.


"Lova merasakan kontraksi lagi, Mom," jawab Ken.


"Bunda, aku mengompol," lirih Lova karena merasakan dress yang ia pakai basah.


"Aku tidak bisa menahannya, bun!" lirih Lova lagi.


Alana melihat ke bawah dan memang benar, lantai di bawah kursi yang Lova duduki seketika basah.


"Astaga! Ini air ketuban, Ken!" Alana mencoba membuat pasangan itu mengerti.


"Ketubannya pecah, Al?" tanya Brata yang baru datang karena sedari tadi pria itu berbincang dengan teman lamanya.


"Iya, Mas. Suruh supir siapkan mobil. Kita harus ke rumah sakit sekarang."


"Mom, Hpl nya masih dua minggu lagi!"


"Ayolah Ken! Lova bisa melahirkan kapan saja. Usia kandungannya sudah diatas 37 minggu."


Tamu yang hadir seketika berkumpul melihat keributan apa yang tengah terjadi.


Alvin dan Rosa bahkan juga mendekat. Keduanya juga merasa khawatir, karena sejak kemarin Lova selalu sibuk ikut mengurus pernikahan mereka ini. Keduanya khawatir jika Lova kelelahan karena hal itu.


"Kak Lova kenapa, Mom?"


"Kak Lova sepertinya akan segera melahirkan."


"Kemana ayah kalian? Diminta memberi tahu supir untuk bersiap, malah belum muncul juga."

__ADS_1


"Thom!" Teriak Alvin pada sepupu yang sedang berjalan mendekat.


Thomas dan Mauren sedang sibuk mengatur petugas catring untuk kembali mengisi makanan di meja yang sudah kosong.


"Ada apa?" tanya Pria itu.


"Segera ke mobil, antar Kak Lova ke rumah sakit!"


"Haaa! Ayo!" Thomas sempat terkejut, tapi wajah Lova yang menahan sakit dan Ken yang tegang karena cengkraman di lengannya begitu kuat.


"Ayo! Ken, bawa Lova segera!" Thomas berlari keluar, mobilnya memang terparkir agak jauh, tapi mudah untuk keluar dari halaman panti.


Ken mengangkat tubuh Lova dan segera membawa istrinya itu keluar dari bangunan panti.


"Beri jalan, adik-adik!" Teriak Alvin pada anak panti yang berlarian di teras dan halaman.


"Kak Lova sedang sakit!"


Anak-anak langsung berhenti berlari dan memberi jalan pada Ken agar bisa lebih cepat sampai ke mobil Thomas.


"Sakit, Ken!"


"Sakit!" rintih Lova dengan terus mencengkram lengan Ken.


"Rasanya seperti sudah mau keluar!"


"Jangan dulu, sayang! Katakan pada baby kita. Jangan dulu keluar!"


"Ahhhh! Ken! Dia mau keluar!"


"Dimana dia, Vin!" Teriak Ken.


"Aku disini, Ken!" Thomas keluar dari mobil setelah ia berhasil memutar arah mobilnya.


"Astaga! Tidak sekalian saja kamu menunggu di ujung jalan sana!" kesal Ken.


"Sayang....!"


Ken masuk ke mobil bersama Alana juga. Sementara Brata pergi dengan mobil lain. Mauren dan Mauza tetap tinggal karena harus membantu mengurus acara yang sudah hampir selesai itu.


"Bunda...!" Teriak Lova tak sanggup menahan dorongan yang dari dalam perutnya.


"Sabar sayang! Atur nafas kamu, nak!" perintah Alana.


"Hembuskan nafas lewat mulut, sayang!" perintah Ken. "Seperti di kelas kehamilan kemarin."


"Aku tidak ingat, Ken! Sakiiit!" teriaknya makin membuat Ken kebingungan.


"Thomas! Cepat!"


"Astaga! Hari ini weekend, Ken! Jalan raya lumayan ramai!" teriak Thomas kesal.


"Tabrak saja! Aku akan ganti rugi!"


Thomas terkekeh. "Diamlah! Kalau kamu panik, otakmu jadi tidak waras."


"Huhuhuhu!" tangis Lova pecahah.

__ADS_1


"Bunda, ada yang keluar!"


Alana menunduk dan menyibak dress yang Lova pakai. "Sebentar sayang!"


Alana menarik panty yang Lova pakai dan membuangnya asal. Alana mengarahkan kaki anak perempuannya itu agar menekuk di jok mobil.


"Ken, buka jasmu!" perintah Alana yang tak di dengar Ken karena ia fokus pada istrinya yang merintih, menjerit dan bahkan sekarang sedang menggigit tangannya.


"Ken! Buka jasmu!" Ulang Alana. "Bayi kalian akan segera keluar!"


"Mom? Are you sure?"


"Cepat!"


Ken sementara waktu melepaskan genggaman tangan Lova dan melepaskan jasnya.


Lova mengejan cukup panjang. "Sekali lagi, sayang!"


Lova mengejan lagi dan ia merasa ada yang keluar dari dalam rahimnya.


Thomas memang tidak bisa melihat dengan jelas, tapi dari spion terlihat sesosok bayi putih dan bersih Alana angkat dari bawah dress Lova.


Alana meletakkan bayi itu di jas milik Ken dan meletakkan bayi laki-laki nan mungil itu ke dada Lova.


Bayi yang menangis dengan suara kerasnya membuat Lova dan Ken ikut menangis. Rasa haru bercampur tegang sangat terasa.


Alana langsung membenarkan posisi duduknya. Ia mencium kening Lova, "Selamat sayang!"


"Bunda bangga padamu!"


"Terima kasih, bunda. Ternyata seperti ini perjuangan seorang ibu," lirih Lova yang terkulai lemas dan bersandar di jok mobil. Jangan lupakan keringat yang membasahi kening dan rambutnya.


"Kita sudah sampai!" ucap Thomas saat mobilnya sudah terparkir di depan rumah sakit bersalin.


Thomas langsung turun dan meminta pihak rumah sakit menyediakan brangkar untuk membawa Lova.


Brata yang sampai di rumah sakit hampir bersamaan dengan mereka merasa terkejut saat Alana turun dengan menggendong bayi.


Lova dan bayinya langsung di tangani. Plasenta di rahim Lova sudah dikeluarkan. Bayi laki-laki itu juga dalam keadaan sehat.


"Bagaimana keadaan istri dan anak saya? Apakah ada hal serius, dok?" tanya Ken pada dokter yang menangani Lova.


"Tidak, Pak! Semuanya baik-baik saja. Ibunya dalam keadaan sehat, dan juga bayinya."


Ken segera masuk ke ruangan rawat. Ia bisa melihat senyum Lova saat bayi di dadanya tengah menggeliat.


"Dia sedang apa, Mom?" tanya Ken mendekat.


"Sedang mencari sumber kehidupan!" jawab Alana sambil tersenyum lebar, bangga melihat cucunya yang bisa melakukan hal hebat itu.


Ken berjongkok dan melihat apa yang bayi imut itu lakukan. Ken terpesona melihat bayi itu menghisap tubuh Lova.


"Minum yang banyak sayang!"


"Jadilah anak yang kuat, Axelle Bratadikara Aldric."


***

__ADS_1


__ADS_2