
"Deal..." Alvin menjabat tangan Ken dan menggerakannya sekali tanda telah terjadi kesepakatan diantara keduanya.
Setelah sebuah perdebatan alot dan tawar menawar yang sedikit merugikan Ken, akhirnya pembicaraan empat mata itu mencapai sebuah kesepakatan.
Beberapa menit yang lalu....
"Aku akan memegang kendali perusahaan sesuai tawaran Mommy," ucap Alvin yang baru saja masuk ke kamar Ken pagi ini.
Setelah sehari semalam memikirkan keuntungan dan kerugian yang ia dapatkan jika ia mengurus perusahaan akhirnya Alvin memutuskan untuk menerima tawaran Alana.
Satu hal yang pasti adalah ia ingin membuat Alana tetap berkumpul bersama Lova di negara yang sama.
Kedua, Alvin ingin Ken segera menikah dengan Lova. Karena usia pria itu sudah sangat pas untuk menjadi seorang ayah. Dan lagi pula, ia tidak yakin bisa menikahi Rosa jika Ken saja belum menikah. Ya, anggap saja ini satu keuntungan baginya.
Ketiga, seperti yang Lova katakan, ini bisa menjadi pertimbangan bagi Rosa jika ia mampu memimpin perusahaan. Walaupun ia harus banyak belajar, tapi ia yakin ia bisa. Lagi pula gadis mana yang tidak akan terpesona saat si tampan Alvin memakai jas rapih, memimpin meeting dan menjabat sebagai seorang CEO di sebuah perusahaan besar.
Dan keempat, kapan lagi ia bisa menadapat jabatan setinggi itu jika bukan di perusahaan kakaknya sendiri? Jika di perusahaan orang lain, mungkin ia akan menjadi staff sampai pensiun, itu pun jika tidak di phk.
Ken yang baru saja keluar dari kamar mandi terkejut mendengar apa yang Alvin katakan. Ia bahkan meleparkan handuk yang ia pakai untuk menggosok rambut basahnya ke wajah adiknya yang tengah berbaring di atas ranjangnya.
"Kamu serius, Vin?" Ken melompat ke atas ranjang hingga tubuhnya sedikit melambung keatas karena rajang yang bergerak seperti trampolin karena ulah Ken.
"Astaga!" Ia seketika langsung duduk dan membuang handuk lembab yang menutupi wajahnya itu.
"Hampir saja kakak membuatku terpental sampai ke langit-langit kamar!" Serunya kesal.
"Aku terkejut, Vin! Kamu benar-benar ingin mengurus perusahaan?" tanya Ken.
Alvin mengangguk. "Tapi dengan syarat!" pintanya tanpa berani menatap Ken.
Wajah Ken berubah masam. Bibirnya mencebik kesal karena biasanya syarat yang Alvin berikan sedikit aneh.
"Katakan!" dengan berat hati Ken mengatakan itu.
Alvin tersenyum senang. "Baiklah. Tidak banyak, hanya sedikit menguras kantongmu kak."
Sesuai dugaan! Perasaanku sungguh tidak enak. Batin Ken.
"Pertama, aku minta disediakan mobil yang bagus untuk tiap kalia aku meeting di perusahaan Lova."
Ken mengerutkan kening. "Kamu meeting mungkin hanya sekali dalam tiga bulan, Vin. Itupun jika kerja sama masih berlanjut," protes Ken atas permintaan Alvin yang sungguh berlebihan.
"Kamu bisa memakai mobilku dulu."
"Ck! Ayolah kak, aku tidak mungkin terlihat miskin di depan Rosa!"
Ken menatapnya jengah. "Hanya untuk gadis itu ternyata. Bagaimana jika ku sewakan saja setiap kali kamu ke negara ini. Lamborg*ni, Rubi*con, terserah pilih saja."
Alvin menghela nafas. "Iya atau tidak?" tanya Alvin. "Atau aku akan berubah fikiran."
__ADS_1
Ken kesal menatap Alvin. "Iya... Oke..."
"Potong gajimu 10 persen selama 2 tahun sebagai bantuan untukku membeli mobil itu."
"Astaga! Aku belum menjabat menjadi CEO loh kak. Tapi gajiku sudah di potong!"
"Dua puluh persen?"
"Tidak-tidak." Alvin terkekeh. "Baiklah, 10 persen. Win win solution!"
"Syarat ke dua," sambung Alvin lagi.
Ken terbelalak. "Ada berapa syarat, Vin?" tanya Ken.
"Hahahah... ada beberapa."
"Kedua, aku ingin kakak mengajariku selama 3 bulan dia sana."
"6 bulan bahkan," sambar Ken.
"Jangan!" larang Alvin.
"Kenapa?" tanya Ken heran.
Karena semakin lama kakak disana maka akan semakin lama kalian menikah dan akan semakin lama aku mendapatkan Rosa! Batin Alvin licik.
"Tidak apa-apa. Hanya saja aku kasihan pada kak Lova yang kakak tinggal terlalu lama."
Alvin terkekeh. "Ya, aku mengerti bagaimana beratnya menahan rindu."
"Syarat ke tiga!"
"Are you kidding me, Vin?" bentak Ken. "Banyak sekali syarat darimu."
"Ini yang terakhir, kak!"
"Oke. Janji yang terakhir. Katakanlah!"
"Aku ingin Rosa tetap bekerja di posisinya sekarang. Buat dia sibuk hingga tidak ada yang bisa mencuri perhatiannya kecuali pekerjaan." Ken mengerutkan keningnya mendengar syarat ke tiga.
"Jika ada pria yang berusaha mendekatinya, maka kakak wajib menjauhkan mereka."
"Itu privasinya Vin. Mana bisa begitu!"
"Bisa, Kak! Intinya jika ada staff kantor yang tercium tanda-tanda menyukai dan mengejarnya, maka pecat saja orang itu."
Ken terbahak. "Tidak semudah itu memecat orang, bod*h!"
"Kamu fikir aku segil* itu memecat orang tanpa kesalahan yang jelas!"
__ADS_1
"Terserah!" Jawab Alvin tak mau tahu. "Intinya aku ingin Rosa tetap menjadi gadis jomblo sampai aku melamarnya lagi."
"Dan dia akan kembali menolakmu!" jawab Ken asal.
"Ck! Sekali saja, dukung aku kak!" Alvin cemberut.
"Iya... iya!" Ken merangkul bahunya. "Aku akan mendukungmu untuk mendapatkan Rosa. Si mawar berduri yang sedang mekar-mekarnya."
"Bagaimana? Deal?" tanya Alvin karena jika tidak begini, Ken bisa saja tidak memenuhi syarat darinya.
"Deal!"
"Kapan kita akan kembali ke sana?" tanya Alvin.
"Minggu depan," jawab Ken. "Setelah aku dan Lova membicarakan tanggal pernikahan kami."
"Ku rasa persiapan selama tiga sampai empat bulan cukup untuk membuat acara itu berjalan lancar," lanjut Ken.
"Pakai saja jasa wedding organizer terbaik di negara ini. Mereka akan mengurus semunya menjadi perfect wedding party, Kak Lova pasti akan sangat bahagia dan akan semakin mencintaimu, Kak!"
"Beri cincin berlian paling mahal."
"Beri dia rumah mewah yang kran shower di kamar mandinya berlapis emas."
"Beri dia sebuah mobil mewah keluaran terbaru dan limited edition, dengan warna kesukaannya."
"Ajak dia bulan madu ke empat benua atau jika perlu keliling dunia. Ajak dia bermain dengan pinguin dan ajak dia menginap di rumah iglo."
Iglo adalah rumah atau tempat tinggal sementara yang dibangun dari bongkahan atau balok-balok salju di daerah kutub utara yang dibangun oleh suku Eskimo.
"Atau ajak dia ke negara dimana banyak boyband yang personilnya tampan-tampan itu kak."
"Atau... ajak dia ke sebuah pulau pribadi yang ditempuh dengan kapal pesiar pribadi."
"Atau sewa jet pribadi dan ajak dia ke negara paling romantis di dunia."
Alvin terus bicara tanpa henti memberikan ide-ide konyol yang membuat Ken menggeleng pelan sambil mengulum senyum.
"Aku bisa saja melakukan semuanya, Vin. Kami bisa saja keliling dunia dan akan kembali ke negara ini dalam waktu 2 sampau 3 tahun."
"Kami bisa saja berpindah dari satu negera ke negara lain."
"Tapi, kamu tidak akan menjadi CEO karena sepertinya aku harus menjual perusahaanku untuk mewujudkan semua ide konyolmu itu!"
Alvin terbahak. "Hahahah..."
"Kalau begitu jangan dengarkan saran dariku," ucap Alvin berubah fikiran. Ia tak boleh gagal menjadi seorang CEO.
"Ajak saja dia berlibur di danau buatan di dekat sini. Kakak hanya akan butuh tikar dan perbekalan seadanya."
__ADS_1
Ken tertawa pelan. "Dan aku akan langsung diceraikan!"
"Hahahah..." Keduanya tertawa bersama.