
"Silahkan masuk, Tuan Thomas." Clara mempersilahkan pria bertubuh atletis dengan wajah khas orang barat dengan bulu-bulu halus di sekitar rahangnya untuk masuk ke ruangan Alova.
Pria itu memang sudah membuat janji dengan si Bos sebelumnya, untuk meeting di ruang kerja Lova.
Pria bernama Thomas itu lantas masuk ke dalam dan disambut hangat oleh Lova, Ken dan Rosa.
"Selamat datang, Tuan Thomas! Apa kabar?" Ken menjabat tangan pria itu. "Anda semakin terlihat menawan," kelakar Ken.
Tuan Thomas tertawa. "Kabar baik, Ken. Dan kamu sendiri, apa kabar?"
"Dan, ya... panggil Thomas saja." lanjut Pria berwajah tampan itu.
"Seperti yang terlihat," Ken menunjuk dirinya sendiri. "Saya baik-baik saja. Ayo silahkan duduk."
Ken memperkenalkan pria itu pada Lova dan Rosa. Mereka duduk di sofa di dalam ruangan itu.
Thomas tidak sendirian, ia di temani wanita cantik yang merupakan asisten pribadinya. Thomas adalah pengusaha yang akan membantu perusahaan Lova untuk kembali bangkit.
"Saya akan pinjamkan dana tanpa bunga."
Lova nyaris tak percaya mendengar penuturan pria bernama Thomas itu.
"Saya akan memberikan 5 proyek yang sedang dalam proses untuk dikerjakan oleh perusahaan ini." Kebetulan perusahaan mereka sama-sama bergerak di bidang konstruksi.
"Desainnya tetap dari perusahaan kami, karena sudah disetujui oleh klien."
"Semoga dengan dikerjakannya proyek kami, klien akan kembali percaya pada perusahaan ini."
"Saya berharap, perusahaan Nona Lova ini bisa melakukan yang terbaik dan tidak mengecewakan kami, terutama saya pribadi."
"Terima kasih banyak, Tuan Thomas!"
"Kami akan mengerahkan segala kemampuan kami. Kami akan melakukannya dengan sebaik mungkin."
"Terima kasih!" Lova berkali-kali mengucap terima kasih karena Tuan Thomas bersedia membantunya.
"Sama-sama Nona Lova. Ken adalah teman lama saya. Saya sangat senang bisa membantunya."
"Semoga dengan adanya bantuan dari kami, beberapa klien yang masih bertahan, tidak memutuskan kerja sama secara sepihak lagi."
"Setelah ini, biar orang-orang saya yang mengurus."
"Saya akan kembali ke Australia dalam waktu dekat. Masih banyak pekerjaan yang harus saya lakukan disana."
Lova mengangguk mengerti. Perusahaan yang Thomas pimpin memang berpusat di benua itu. Sudah dipastikan, jadwalnya di sana sangat padat.
***
"Terima kasih, Ken!" Tanpa sadar, Lova memeluk pria itu. Ia sangat bahagia, karena harapan untuk bangkit semakin besar. Ia bisa menyelamatkan perusahaan dan ribuan karyawannya.
"Berkat kamu, semua ini berkat bantuanmu!"
Ken dengan ragu membalas pelukan Lova, ia melingkarkan tangannya dipunggung gadis itu. Sedikit deg-degan, tapi Ken suka rasa ini.
"Sama-sama, Bu. Saya hanya berusaha membantu," balasnya pelan.
"Bu..." Tiba-tiba pintu terbuka, dan Rosa menjadi salah tingkah saat melihat Lova tengah berpelukan dengan Ken.
__ADS_1
"Ah, maaf mengganggu. Silahkan dilanjutkan!" Rosa buru-buru kembali menutup pintu.
Ken dan Lova juga sama-sama terkejut. Keduanya bahkan terlihat merona karena malu dan menyadari apa yang mereka lakukan barusan bisa menimbulkan salah faham.
"Masuklah, Ros! Ada apa?" Lova duduk di kursi kerjanya. Ken duduk di depannya. Ia menyandarkan punggungnya dan menaikkan satu kakinya.
Rosa berdiri di samping Lova. Ia menunjukkan beberapa dokumen terkait proyek yang akan mereka kerjakan.
"Staff dari perusahaan Tuan Thomas sudah mengirimkan beberapa data via e-mail, Bu."
"Oh, ya?" Kagetnya. "Cepat sekali kinerja mereka, Ros."
"Pantas saja mereka kebanjiran proyek begini."
"Sepertinya mereka punya ciri khas, bekerja cepat dan tepat." Lova mulai membaca isi dokumen yang Rosa berikan.
"Persiapkan meeting untuk besok pagi, Ros." perintahnya tanpa menatap Rosa. "Jangan mengecewakan Tuan Thomas." Ya, besok mereka akan mengadakan meeting dengan perwakilan dari perusahaan tersebut.
"Dan nanti, setelah jam makan siang, persiapkan meeting dengan staff dan jajaran direksi."
"Kita akan bahas mengenai beberapa proyek yang Tuan Thomas berikan."
***
"Terima kasih, Mom..." Ken menghubungi seseorang yang telah membantu Lova. Saat ini ia sedang berada di dalam mobil dan bersiap untuk kembali ke rumah.
Brata sedang dalam penjagaan ketat hingga ia bisa dengan tenang menyelesaikan masalah Lova.
"Iya, Mom. Mommy juga harus berhati-hati karena Tuan Hendrico pasti akan mencari tahu siapa orang yang telah membantu Lova."
(...)
"Ya, aku percaya kalau mommy wanita tangguh. Jika dia macam-macam, silahkan tarik pelatuk, dan bidik tepat di jantungnya, Mom."
(....)
"Hahahahah..." tawa Ken begitu lepas.
"Ya, ya... aku hanya takut Thomas yang malah menjadi korban keganas*an Tuan Hendrico, Mom."
(...)
"Hahaha.... Iya... iya..." Ken terbahak. "Tapi mengapa harus Thomas, Mom!" Ken menghapus setitik air di sudut matanya. Sedari tadi ia terus tertawa.
(...)
"Ah... Ya, Mom benar, memang hanya dia yang pantas menjadi Bos. Tampanganya memang meyakinkan, Mom."
"Seandainya Mom melihat aktingnya tadi." Ken masih terus tertawa.
(...)
Ken kembali mendengarkan wanita itu berbicara. "Oke... Oke... Jaga kesehatan, Mom."
"Miss you." Ken menutup panggilannya.
Ia kembali ke rumah dan mendapati 2 orang bertubuh besar tengah berusaha menerobos masuk ke dalam rumah Bratadikara.
__ADS_1
Ia segera keluar dari mobil saat orang-orang tersebut mulai baku hantam dengan security di rumah itu.
"Stop!" Ken berusaha memisahkan mereka. "Berhenti!" jeritnya.
"Bug!"
"Bug!"
"Bug!" dengan gagah, Ken menghajar pria bertubuh besar itu bergantian.
Tak lama, beberapa orang suruhan Ken datang dari arah dalam rumah dan membantunya menangkap keduanya.
"Bawa ke mobil."
Orang-orang ken berhasil membuat pingsan keduanya hanya dengan memukul kepala bagian belakang mereka.
"Pak, mereka mencari Ibu Mariska." Seorang scurity melaporkan pada Ken.
"Kami melarang masuk dan mereka memaksa."
Ken mengangguk singkat. Ia merapikan jasnya. "Tetap jaga gerbang ini dari orang asing!" perintahnya.
"Kalian sudah melakukan yang terbaik." Ken mengangguk singkat.
Ken berjalan masuk ke halaman rumah. "Bawa mereka ke markas!" Bisik Ken pada salah satu dari orang-orangnya yang berjumlah 4 orang itu.
"Dua orang ikut saya! Tetap berjaga di dalam." Perintahnya lagi.
Ken masuk ke dalam dan mendapati Brata tengah duduk di kursi roda tepat dipinggir kolam renang.
Ia tersenyum melihat pria itu tengah menyantap buah yang ada di pangkuannya.
Ia berjalan mendekat, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara aneh di kamar Mariska.
Ken mendekat dan menajamkan telinganya. "Ahh!" Jerit Marisa dengan suara tertahan.
Karena terdengar mencurigakan, Ken segera masuk ke dalam kamar mandi di kamar Brata. Melalui ponselnya ia bisa mendengarkan suara Mariska. Ya, Ken diam-diam memasang alat penyadap suara di kamar Mariska.
Ia bisa lebih licik dari wanita itu. Karena mencurigainya secara berlebihan, Mariska memasang cctv di kamar Brata. Dan Ken, lebih licik lagi memasang penyadap suara di kamar Mariska tanpa sepengetahuan siapapun.
"Bisa-bisanya Lova keras kepala begitu!" Ken semakin menajamkan telinganya. "Apa susahnya menerima lamaran itu dan aku akan memperoleh imbalanku!" Mariska bermonolog dengan nada geram.
Dasar serakah! Batin Ken.
"Aku akan menggunakan Brata sebagai senjataku." Suara Mariska terdengar begitu serius.
Kurang ajar! Maki Ken.
"Konsentrasi gadis bod*oh itu akan terbagi, dan perusahaan akan terbengkalai." Ada Nada senang dalam kalimatnya.
Dia lupa jika ada aku? Ken tersenyum tipis.
"Ya... ya... ya, Mariska... Kamu memang pintar." Wanita itu memuji dirinya sendiri.
Ken tersenyum sinis. "Oke, Nyonya Mariska, permainan akan segera di mulai." gumamnya pelan.
"Show akan segera dipertontonkan!"
__ADS_1
***
Apa yang akan Ken lakukan?