ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 8 Perasaan Aland


__ADS_3

Semakin hari, kondisi perusahaan perlahan mulai stabil. Lova tidak peduli lagi dengan ancaman Tuan Hendrico. Ia tak peduli lagi dengan Mariska yang makin gencar memaksanya.


Dan satu lagi, pria bernama Aland Hendrico yang seketika membuat desiran aneh di dadanya. Pria tampan yang berhasil membuat hatinya bedebar hebat. Tapi Lova yakin, itu bukan cinta melainkan rasa benci dan marah karena ancaman pria itu sungguh membuatnya bergidik ngeri. Ya, Aland seolah mengancamnya, bahwa ia akan berakhir di ranjang panas pria itu.


Bermimpi pun aku tak sudi.


Lova tetap berhati-hati. Dan selama ini tidak ada pergerakan aneh dari Aland hingga fokusnya hanyalah bekerja dan terus bekerja. Ia ingin membuat Tuan Thomas terkesan dengan kinerjanya beserta Tim.


Dan bangkitnya perusahaan Bratadikara ini tak luput dari sepengetahuan Tuan Hendrico si pembuat onar.


Di rumah besarnya, Tuan Hendrico tengah menatap kosong jendela besar yang menampilkan halaman belakang yang begitu bersih dan rapi.


Setiap hari ia menerima laporan demi laporan tentang perkembangan perusahaan Bratadikara yang semakin membaik dari anak buahnya.


"Dia sangat tangguh, bukan?" tanya istrinya. "Dia berani melawan orang sepertimu."


Nyonya Hendrico tersenyum mengejek. "Ia sungguh luar biasa!" pujinya pada Lova yang sejak awal memang sudah sangat mencuri perhatiannya.


Tuan Hendrico mematikan rok*knya di asbak. Menggerus benda yang ujungnya yang masih berasap itu.


"Bukan dia!" Tuan Hendrico meneguk segelas wine. "Bukan dia yang hebat."


"Tapi orang-orang di belakangnya." lanjutnya.


"Bagaimana bisa ada perusahaan yang mau membantu perusahaan yang hampir bangkrut itu." Tuan Hendrico menatap istrinya yang terus saja tersenyum simpul.


"Lalu apa bedanya denganmu, yang membeli banyak perusahaan bangkrut?" sambar Nyonya Hendrico diiringi tawa mengejek.


"Mungkin dia bersedia menikahi pemilik perusahaan itu," Celutuk wanita itu lagi. "Ya, sebagai syarat!"


"Tidak mungkin!" Potong Tuan Hendrico cepat.


"Pasti..." belum sempat melanjutkan kalimatnya, perhatian tuan Hendrico tertuju pada putra tunggalnya.


Ia heran melihat pewarisnya itu hanya senyum-senyum sambil menatap kosong pada layar Tv yang menyala.


"Aland..."


Tidak ada sahutan.


"Aland!" panggilnya sedikit lebih keras.


Masih tidak ada sahutan.


"Alaaand!"


"Ah!" Pria itu terkejut. "Ya Daddy!" Aland langsung menatap Daddynya yang tak menunjukkan ekspresi apapun. Sementara Mommynya sudah menahan senyum sedari tadi.


"Ada apa, Dad?" tanyanya.


"Daddy memanggilmu, dari tadi."


Aland tampak kebingungan. "Oh, ya? Aku tak mendengarnya."

__ADS_1


"Kamu sibuk melamun sambil tersenyum, Aland!" Sambung Nyonya Hendrico. "Siapa yang membuatmu jatuh cinta?" tebak Mommynya.


Aland mengembangkan senyum. Ia maju dan mendekati wanita cantik yang melahirkannya itu. Aland duduk di samping Mommynya lalu tersenyum lebar.


"Apa begitu terlihat, Mom?" tanya Aland.


Nyonya Hendrico tertawa pelan. "Benar tebakan mommy?" tanyanya.


Aland mengangguk. Ia menatap lurus ke depan. Angannya melayang. Ia teringat saat pertama kalinya bertemu Alova.


Senyumnya mengembang. "Dia perfect!"


Tuan Hendrico mengerutkan keningnya. Nyonya Hendrico juga melakukan hal yang sama.


"Cantik, lebih cantik dari yang terlihat di foto."


"Dan tubuhnya harum semerbak."


"Rambutnya indah."


"Wajahnya manis."


"Dan yang paling memikat, matanya indah menantang!"


Aland menatap kedua orang tuanya bergantian. "Bukankah kami cocok, Mom, Dad?"


"Aland dan Alova." Ia tertawa kecil.


Tuan Hendrico tersenyum sinis. "Tapi dia menolakmu!"


"Tapi saat aku sudah bergerak, jangankan untuk menolak, untuk bernafas saja dia akan meminta izinku dulu," ucap Aland sombong.


"Jangan terlalu kejam, atau dia akan terpaksa menikahimu!" Nyonya Hendrico menasehatinya.


Aland tertawa sumbang. "Ayolah, Mom!"


"Bukankah dari awal kita memang sudah memaksanya?"


"Dari awal kita membuat keadaan memaksanya menerimaku!"


"Dan selama dia belum ada dalam genggamanku, hidupnya tidak akan tenang!" Aland tersenyum sinis.


"Aku ingin dia berlutut di depanku, mengemis cintaku dan menyerahkan tubuhnya diatas ranjangku!" ucapnya penuh tekad.


"Aland... Kamu mencari istri atau budak se*ks?" tanya Tuan Hendrico dengan nada sindiran.


"Keduanya!" Jawabnya enteng. "Dia istriku, dia budakku. Dan aku benci jika apa yang disukai ingin dimiliki orang lain."


Mommy dan Daddynya terbahak. "Tuan Hendrico, Lihat putramu! Dia sama serakahnya sepertimu."


Aland tak ikut tertawa bersama kedua orang tuanya. Otaknya hanya membayangkan rasanya menghabiskan malam dengan gadis yang membuatnya tergila-gila, Alova.


Aku pasti akan mendapatkannya!

__ADS_1


***


"A... aku akan memaksanya. Tapi ku mohon, jangan sakiti aku dan kedua putriku!" Mariska tampak memohon pada dua orang suruhan Tuan Hendrico yang menagih janjinya untuk membuat Alova bersedia menikah dengan Putra keluarga itu.


Kesabaran Tuan Hendrico mulai menipis, ia menagih Mariska yang sudah berjanji padanya. Wanita itu bahkan sudah menerima banyak uang darinya.


Tuan Hendrico bisa saja menjadi rekan kerja sama yang baik, tapi kalau berani melanggar aturan mainnya, maka bersiap-siap saja menanggung resikonya.


"Tolong sampaikan pada Tuan Hendrico, dalam satu minggu. Ya, dalam satu minggu, aku akan membuat gadis itu menikah dengan putranya." Mariska memelas. Tubuhnya mulai bergetar, ia ketakutan karena kedua pria itu membawa senjata api di tangannya.


Kedua orang suruhan Tuan Hendrico mengancam dengan mempertaruhkan keselamatan nyawanya dan kedua putrinya karena belum berhasil membuat Lova menerima lamaran itu.


Mereka bertemu di sebuah gudang kosong, karena rumah Bratadikara sangat tidak aman untuk rencana mereka.


"Satu minggu!." Seorang Pria bertubuh besar itu mengarahkan sebuah pistol di kening Mariska.


"Terlambat satu menit saja, sebuah peluru akan menembus otakmu!" ancamana yang membuat tubuh Mariska bergetar hebat.


"Aku... Aku janji!"


Pria itu mendorong tubuh Mariska hingga ia hampir terjatuh. "Pergilah!" Usir pria itu.


Mariska berjalan terburu-buru. Ia segera masuk ke dalam mobilnya dan meningggalkan tempat itu.


"Huuh! Huh!" Nafasnya memburu. Berulang kali ia melihat spion, khawatir jika kedua pria itu mengikutinya.


"Hampir saja!" ucapnya lega. "Aku nyaris mat* hanya karena Lova si gadis sial*n itu!" Makinya. Ia mencengkram setir mobilnya menahan geram.


"Dia begitu keras kepala. Dasar gadis bod*h, dijanjikan hidup mewah malah memilih bersusah payah bekerja mempertahankan perusahaan yang hampir bangkrut itu!"


"Aku tidak akan membiarkan Mauren dan Mauza menjadi korban kekejian Tuan Hendrico." Mariska bergidik ngeri. Membayangkannya saja ia tak sanggup. Tuan Hendrico bisa saja menjadikan kedua putrinya sebagai budak se*ks untuk semua anak buahnya. Atau bahkan menjual kedua anak gadisnya itu ke tempat prostit*si.


"Aku harus mulai membuat rencana besar. Waktu yang tersisa tidak banyak lagi."


"Dan lihatlah Lova! Aku akan membuatmu menangis darah!"


"Aku akan membuatmu memohon padaku!"


"Dan aku akan membuatmu menikah dengan putra keluarga Hendrico."


Mariska tersenyum licik. Satu persatu rencana jahat sudah tersusun rapi di fikirannya.


***


Apa yang akan Mariska lakukan?


Dan bagaimana Lova bisa menghindar?


Penasaran gak sih 😊


Ah, yaaa..


jejak kalian maaanaaa 😀😀😀

__ADS_1


Komen dong 😂


Ngarep 😆😆😆


__ADS_2