ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 97 Hadiah Tak Terduga


__ADS_3

Rosa tidak bisa tidur dua malam terakhir. Ia terus memikirkan pria bernama Alvin itu. Pria yang berhasil memporak porandakan hari dan tembok pertahanannya.


Hatinya hancur kala pria itu mengatakan bahwa malam itu adalah pertemuan terakhir mereka.


Ada perasaan aneh saat melihat kekecewaan Alvin karena ia tidak memberi jawaban apapun.


Ada rasa marah pada dirinya sendiri karena melukai hari pria yang jelas-jelas mencintainya itu.


Rosa merasa menyesal. Ia menyesali kenaifannya yang membuatnya tidak bisa lagi bertemu pria itu.


Rosa menghela nafas panjang. Setumpuk berkas yang menunggu untuk dikerjakan membuatnya sadar, ia harus berhenti memikirkan nasip percintannya yang gugur sebelum berkembang karena merasa dirinya tak sebanding dengan Alvin.


Hari Senin, menjadi hari paling menyebalkan baginya. Apa lagi Lova belum bisa masuk kerja hingga hampir semua pekerjaan dia yang mem-back up.


Clara juga tak kalah sibuk. Ia mendapat telpon yang menanyakan apakah Lova sudah masuk kerja atau belum. Padahal klien tersebut tahu, Bos nya itu baru menikah dan masih dalam masa cuti.


"Huuh! Mengapa hari ini banyak sekali klien yang amnesia dan mendadak jadi bod*h!" Keluh Clara sambil meletakkan gagang telpon yang terletak diatas mejanya.


"Mengomel terus, Cla?" tanya Rosa heran.


"Bagaimana tidak mengomel. Dia klien ke tiga yang bertanya apakah Bu Lova sudah masuk kerja."


"Dimana akal sehatnya? Mereka datang ke resepsi bu Lova tapi malah menanyakan kedatangannya."


"Dia fikir, bu Lova tidak ingin santai dan menikmati masa-masa ahh bersama pak Ken?"


Rosa tertawa mendengar kata masa-masa ahh yang Clara ucapkan.


"Pengantin baru ditanya kedatangannya. Bisa menjawab panggilan urgen saja sudah suatu keajaiban!"


Rosa makin terbahak. "Mungkin klien-kkien itu hanya ingin mendengar suaramu, Cla."


"Mungkin salah satu fans beratmu!"


"Aku tidak tertarik dengan pria beristri," jawab Clara cepat.


Ponsel Rosa berdering. Dan ia melihat siapa yang menghubunginya.


"Panjang umur, Cla," ucap Rosa karena nama Lova yang muncul di layarnya.


"Selamat pagi, Bu..."


"Ros! Berkas yang harusnya diserahkan pada Alvin, sudah kamu selesaikan?"


"Sudah, Bu! Tapi belum anda tanda tangani."


"Ah, syukurlah. Tidak masalah, Ros. Tolong, minta siapapun untuk mengatar ke Bandara. Karena Alvin mendadak harus kembali ke Australia dan pesawatnya akan berangkat beberapa jam lagi. Tidak ada waktu untuk mampir ke kantor, Ros!"


Rosa membulatkan matanya. "Baik Bu. Saya akan minta supir mengantar!"


"Segera, Ros. Nanti suruh siapapun yang mengantar untuk menghubungiku, ya..."


***


Rosa turun dan keluar dari gedung perusahaaan. Ia mencari supir perusahaan di sekitar lobby.


"Supir sedang keluar mengatar staff meeting diluar, Bu. Satu lagi, tidak bisa hadir Bu karena sakit." jawab seorang security saat Rosa bertanya tentang keberadaan supir kantor.

__ADS_1


Rosa menghela nafas. Berkas ditangannya harus segera diatar. Ia berfikir sejenak. Jika menyuruh OB atau anak magang, apa tidak beresiko? Berkas ini sangat penting. Walaupun Bu Lova akan memeriksanya lagi disana, tapi aku tidak boleh menganggap sepele.


Rosa akhirnya meminta Clara untuk menyuruh OB mengantarkan tas yang masih tergeletak diatas meja kerjanya.


Ia harus mengantarkan berkas ini langsung. Rosa memesan taksi online untuk bisa sampai ke Bandara.


Cukup lama, hampir 15 menit akhirnya ia sudah berada di dalam taksi yang akan membawanya ke tempat tujuan.


Rosa berdoa semoga dirinya belum terlambat untuk mengatar berkas ini ke tangan Lova. Ia melihat jalan raya yang lumayan padat, hingga taksi tidak bisa melaju dengan cepat.


"Pak, apa tidak bisa cari jalan pintas atau jalan yang lebih sunyi?" tanya Rosa.


"Tidak bisa, Bu. Kita akan cepat sampai, Ibu jangan khawatir. Jalanan hanya sedikit padat tapi tidak sampai macet."


Rosa menyandarkan punggungnya. Ponselnya bergetar, karena ada pesan masuk. Ia mencari dan mengambil ponsel itu dari tasnya.


Tapi sebuah amplop berwarna putih berukuran kecil mencuri perhatiannya.


"Ini milik siapa?" gumamnya.


Lova mengambil amplop yang entah sejak kapan ada di tasnya dan ia tetap melihat ponsel dan memastikan siapa yang mengirim pesan.


Setelah membalas pesan yang ternyata dari Lova itu, ia kembali terfokus pada amplop di tangannya.


Ia membolak balikan amplop itu dan menemukan namanya tertulis disana.


To Rosa.


Ini untukku?


Rosa membuka amplop yang entah sejak kapan ada di tasnya itu. Ia juga tidak tahu siapa yang memberikan atau bahkan memasukkan ke dalam tas miliknya.


Dear Rosa.


Aku tidak tahu kapan kamu akan membaca surat ini. Tapi yang pasti sebelumnya, sekali lagi maafkan aku jika ucapanku saat pesta itu, menyakiti hatimu.


Selamat ulang tahun, Ros.


Hahaha... Terlalu pengecut untuk mengatakannya secara langsung.


Semoga panjang umur dan sehat selalu. Doa terbaik untukmu, Ros.


Ah, ya...


Aku sebenarnya sudah menyiapkan kado untukmu...


Lihatlah di laci kerjamu, ada sebuah amplop coklat. Semoga kamu menyukainya.


Tertanda,


Alvino Aldric


Rosa mengerutkan keningnya. "Hari ini adalah hari ulang tahunku." Rosa bahkan baru menyadarinya. "Astaga! Aku bahkan tidak ingat!"


"Amplop coklat apa yang di maksud? Berarti amplop ini baru ada di tasku pagi ini. Siapa yang memasukkannya? Apakah OB?" gumamnya pelan.


Rosa meminta Clara untuk membuka isi amplop coklat yang Alvin maksud. Melanggar privasi memang, tapi ini lebih baik daripada ia mati penasaran.

__ADS_1


Tak lama, Clara dan Rosa melakukan video saat call. Clara tidak ingin ada kesalah fahaman nanti karena Rosa mengatakan bahwa gadis itu sendiri tidak tahu isi amplop tersebut.


Clara mulai membuka laci dan menemukan amplop coklat berada di tumpukan paling atas.


"Yang ini, Ros?" tanya Clara.


"Sepertinya iya, Cla!"


Ia melihat, Clara membuka amplop itu dan menemukan sebuah surat jual beli, sebuah lahan yang ia kenal lokasinya.


"Surat jual beli tanah, Ros. Sebidang tanah di jalan Xxx. Dibeli oleh Alvino Aldric. Bukankah ini Pak Alvin?"


"Ini, bukankah ini tanah bekas panti asuha dulu?" gumam Rosa.


"Lembar kedua, penyerahan tanah itu menjadi atas namamu dan Pak Alvin sudah menandatanganinya." lanjut Clara sambil menunjukkan lembar kedua.


Apalagi ini, ya Tuhan. Mengapa pria itu penuh kejutan begini. Aku sudah merasa bersalah karena membuatnya kecewa, tapi dia malah memberikan ini semua padaku?


"Ros, are you okey?" tanya Clara karena Rosa hanya diam saja sambil memandang kosong layar ponselnya.


"Ah, ya... I'm okey Cla." Rosa menyeka air matanya.


"Ros! Masih ada satu surat di dalamnya. Tulisan tangan dan sepertinya aku tidak berhak membacanya."


"Akan ku foto dan ku kirimkan padamu, Ros."


Rosa mengangguk. "Thanks Cla..."


Tak butuh waktu lama, Rosa mendapat kiriman foto surat yang Alvin tulis.


Hai... Kamu membaca suratku lagi?


Jangan tersinggung atas apa yang ada di amplop itu. Aku hanya ingin membuatmu tidak terbebani dengan anak-anak panti.


Mulailah memikirkan hidupmu sendiri, Ros. Cari kebahagiaanmu. Aku tahu, kamu merasa kosong meski anak-anak panti kadang bisa membuatmu tertawa. Aku tahu, kamu merasa sendiri dan butuh seseorang untuk mengisi ruang di sela jemari tanganmu. Dan aku sadar, lelaki itu bukan aku meski aku pernah begitu berharap.


Jangan merasa rendah hanya karena apa yang ku beri ini. Aku hanya merasa seperti terbang ke masa lalu tiap kali melihat anak-anak yang hidup tanpa peluk hangat orang tua.


Aku pernah ada di posisi itu, Ros. Bahkan lebih parah lagi, aku terlantar dan ketakutan, padahal orang tuaku punya rumah dan harta.


Aku tulus ingin membantu mereka. Tolong terima ini demi kenyamanan, dan kebahagiaan mereka semua. Demi tempat tinggal yang lebih layak.


Berkas pembangunan panti akan ku kirim beberapa hari lagi. Dan semua pembangunannya, biar perusahaan yang mengurus. Aku sudah menyerahkan semuanya pada kak Lova.


Tertanda.


Alvino Aldric


Rosa menangis. Air matanya tak lagi bisa ia tahan. Ia tidak mengerti dengan pria bernama Alvino Aldric itu.


Dia menyakiti perasaannya, tapi pria itu memberinya begitu banyak kebaikan. Rosa menyesal, sungguh ia menyesal telah menyakiti pria itu padahal pria itu tidak memandanganya rendah sedikitpun.


Rosa tiba di bandara dan ia langsung menemui Lova yang sudah mengirimkan pesan dimana posisi bosnya itu sekarang.


"Bu..."


"Kamu menangis, Ros?"

__ADS_1


Rosa menggeleng. Ia melihat sekitar tapi tidak menemukan Alvin.


"Dia sedang ke toilet." Lova seolah tahu apa yang Rosa cari.


__ADS_2