
Keduanya sama sama terkejut, terlebih saat Lova melihat Ken bertelan-jang dada dan hanya menggunakan celana panjang dengan tali kolor yang terikat simpul di bagian depan.
Ken kembali menutup pintu dan mencari kaosnya.
Ku fikir Alvin yang mengetuk pintu. Jika tahu begini, aku tidak akan langsung keluar kamar. Dia pasti merasa tidak nyaman saat melihatku tadi.
Ken keluar dari kamar dan melihat Lova masih berdiri di depannya sambil membelakangi pintu.
"Ada apa, Lov?" tanyanya.
Lova berbalik dan ia menatap gugup pada pria di depannya. Lova berusaha menetralkan debaran jantungnya serta berusaha mengatur nafasnya.
"Ehm, Ken...!"
"Bisakah kamu menghubungi Mauren?"
"Mauren?" tanya Ken. "Ada apa dengannya?"
"Bu-bukan apa-apa. Ponselku ada di rumah. Jadi aku tidak bisa menghubunginya. Aku hanya memikirkan dirinya yang entah berada dimana sekarang."
"Saat kejadian pagi tadi, dia sudah pergi dari rumah. Aku tidak tahu kemana, tapi sepertinya ia akan mencari pekerjaan."
Ken mengangguk mengerti. "Sebentar, ku ambil ponselku dulu."
Ken masuk ke kamar dan kembali keluar dengan membawa ponselnya.
Ken memberikan ponsel itu pada Lova. "Pakailah!"
Lova menerima ponsel itu dan keningnya mengernyit.
"Ken!"
"Ya..."
"Ponselnya terkunci."
Ah, Ya. Ken lupa jika ponselnya memakai kata sandi. Ken mengambil kembali ponsel itu dan membuka kuncinya.
"Sekalian carikan saja nomor Mauren!" lirih Lova.
Ken mengangguk dan memberikan kembali ponsel itu ke tangan Lova. "Langsung hubungi saja!" Lova mengangguk pelan.
Sejak kapan kami jadi canggung begini? Batin Ken.
Lova menempelkan ponsel itu di telinganya. Dering ke dua baru dijawab oleh Mauren.
"Hallo, si-siapa ini?" Lova bisa mendengar suara Mauren yang tampak ragu.
"Kamu dimana Mauren, Ini Lova!"
"Huuh!" Terdengar hembusan nafas lega.
"Kakak dan yang lain kemana kak? Aku melihat berita tadi siang kak, tentang penyerangan di rumah. Aku pulang dan kalian semua tidak ada."
"Kakak dan yang lain baik-baik saja kan? Aku sudah berusaha menghubungi kalian tapi tidak ada yang menjawab panggilanku."
"Iya, Mauren. Kami baik-baik saja. Kami sedang di rumah Ken. Kamu dimana sekarang?"
"Aku terpaksa menginap di apartemen temanku, Kak."
"Ya sudah, aku lega karena kamu baik-baik saja."
"Aku akan meminta Ken untuk mengirimkan alamat rumah ini padamu, jadi kamu bisa pulang kesini sementara waktu."
"Iya kak. Terima kasih. Aku juga lega karena kalian semua baik-baik saja."
Panggilan diakhiri dan Lova kembali menyerahkan ponsel itu kepada Ken.
"Terima kasih. Aku ke kamar dulu."
Lova berbalik dan berjalan menjauh, tapi ia ingat sesuatu. "Ken, tolong kirimkan alamat rumah ini pada Mauren!" pintanya sambil membalikkan badan.
"Baiklah!"
Lova mengangguk pelan. "Sekali lagi terima kasih!"
__ADS_1
Saat Lova hampir membalikkan badan, "Mengapa kamu terlalu baik?" tanya Ken. "Padahal Mauren dan Maura susah bersikap tidak baik padamu selama ini."
"Mereka mendukung rancana Mariska. Mereka hampir membu-nuhmu dan Bapak. Tapi sekarang kamu malah mengkhawatirkannya."
Lova tersenyum. "Kejahatan mereka, bukan tugasku untuk membalasnya."
"Tuhan lebih tahu caranya, Ken!"
"Tuhan lebih tahu kapan saatnya."
"Lagi pula, aku hanya bersimpati pada keduanya. Sebagai sama-sama seorang perempuan. Dan juga sebagai gadis yang pernah kehilangan sosok ibu."
Lova berbalik meninggalkan Ken yang masih mematung. Jika Ken adalah Lova maka mungkin Mauren sudah berkeliaran di jalanan atau mungkin ikut mendekam bersama Mariska di dalam tahanan.
Namun, itulah Lova, gadis yang sudah bertahun-tahun ia kenal namun tidak bisa ia tebak.
***
Rumah Tuan Hendrico tampak mencekam. Semua orang yang bekerja disana sudah tahu mengenai kasus majikan mereka itu termasuk Mauza.
Tidak ada yang berani untuk sekedar berkumpul dan menceritakan kasus yang menimpa Tuan Hendrico terlebih saat Aland sudah pulang dengan wajah lelah dan terlihat angker.
Malam ini, Aland duduk termenung sendirian di sudut kolam renang. Dengan bertelan-jang dada dan hanya memakai boxer serta tubuh yang basah, ia kembali memasukkan kakinya ke dalam air.
Ia begitu terbebani dengan kasus Daddynya. Kasus yang begitu berat menurutnya. Ia bahkan sudah mengirimkan pesan pada Ken untuk bertemu di salah satu restoran besok.
Ia bingung. Harus mengancam atau memohon keringanan dari Ken.
Seorang Aland tidak pernah memohon pada siapapun. Tapi jika aku mengancamnya sekalipun, pria itu tidak akan mengampuni Daddy.
Aland terkejut saat melihat tangan kecil nan putih terulur ke depannya dengan memegang piring kecil dengan secangkir kopi diatasnya.
Aland melihat Mauza tersenyum kecil. Gadis itu berjongkok di sampingnya.
"Minumlah, Tuan!"
Aland menerimanya dan meminum kopi itu sedikit demi sedikit karena masih lumayan panas.
"Kopi bisa sedikit menenangkan anda."
Aland tertawa kecil. "Tapi akan membuatku semakin sulit tidur."
Aland menatap Mauza yang terlihat cantik dengan rambut terurai dan piyama tidur yang gadis itu pakai.
"Kamu mengejekku?" Aland tersenyum miring. Bahkan saat ini, asisten rumah tangga saja berani mengejeknya.
Mauza tertegun. Ia sadar telah salah bicara padahal bukan itu maksudnya.
"Bu-bukan begitu, Tuan."
"Tidak mengapa. Wajar jika kamu mentertawakanku."
"Tidak Tuan. Bukan seperti itu."
"Pergilah! Sebelum aku marah padamu!" Usir Aland pada Mauza. "Aku tahu kamu hanya ingin melihat bagaimana wajahku sekarang!" Aland enggan menatap Mauza.
"Tuan,"
"Pergilah!" Usir Aland lagi dengan nada dingin.
Mauza diam saja. Ia tahu apa yang Aland rasakan saat ini. Ia pernah ada di posisi seperti Aland.
"Pergi!" Bentak Aland dan tangannya menunjuk arah kamar Mauza.
Mauza perlahan berdiri. "Buk!" Mauza menjatuhkan sebuah buku yang ia letakkan dipangkuannya tadi.
Buku kecil yang ia dapat dari kepala asisten rumah tangga. Buku yang biasanya dipakai untuk mencatat kebutuhan mingguan yang harus di beli saat berbelanja ke pasar.
Aland melihat ada sesuatu yang terjatuh di dekatnya. Tampak sebuah buku notes yang jatuh dan terbuka. Aland melihat desain sebuah perhiasan. Terlihat seperti sepasang anting. Maski tidak terlalu jelas karena garis-garis buku catatan itu cukup mengganggu. Padahal desainnya lumayan bagus menurutnya.
Mauza dengan cepat mengambil buku itu dan membawa pergi menjauh dari Aland sebelum pria itu banyak bertanya atau mungkin akan kembali membentaknya.
Aland kembali menatap lurus ke depan sata menyadari Mauza sudah berjalan menjauh. Gadis itu tampak masuk ke dalam kamarnya.
Satu, dua, tiga detik.
__ADS_1
"Aaahhhhh!" Teriakan Mauza terdengar dari arah kamarnya.
Aland terkesiap dan langsung berdiri. Dari tempatnya saat ini memang tampak kamar gadis itu.
"Tolooo... emmpp!" Suara Mauza seperti meminta tolong dan seketika menghilang.
Aland segera berlari saat menyadari ada hal tidak beres yang terjadi. Secangkir kopi di tangannya bahkan sudah terlempar entah kemana.
Aland tiba di kamar Mauza namun ia tidak mendengar suara apapun lagi. Aland berusaha mengintip dari jendela.
"Aku duluan!"
"Aku yang duluan! Memberinya obat bius adalah ideku! Menyingkir dan tunggu giliranmu."
"Cepatlah! Sebelum dia sadar!"
Aland melihat punggung dua orang pria dan kaki Mauza yang menjuntai di atas ranjang sementara tubuhnya tidak terlihat karena dua orang pria itu menghalangi pandangannya.
"Brengsek!" gumam Aland. Ia memang bejat, tapi tidak pernah memaksa seorang gadis seperti ini. Ia hanya akan menikmati gadis yang bersedia menghabiskan malam bersamanya meski dengan cara membayar. Bukan memperk*osa begini.
"Braaakkk!" Sekali tendang, pintu berhasil di buka. Pintu itu memang tidak dikunci. Kedua pria yang sudah membuka resleting celananya itu mendadak memucat.
"Tu-tuan!"
"Tu-tuan!"
Dua orang yang bertugas menjaga rumah tampak terkejut dengan kedatangan Aland.
Aland masuk ke dalam dan keduanya menunduk sambil kembali membetulkan resleting celana mereka.
"Masih ingat aturan mainnya?" tanya Aland pada dua pria yang masih menunduk.
Keduanya mengangguk. "Ma-masih tuan."
"Sebutkan!"
"Tidak boleh melakukan pemaksaan kepada sia-"
"Braak!" satu pria terpental dan menabrak lemari dibelakang mereka karena Aland menendangnya.
"Jika masih ingat, mengapa kalian melakukannya pada gadis ini?"
Pria yang tersungkur sambil memegangi perut itu hanya bisa diam.
"Braakk!" Satu pria lagi juga mendapatkan hal yang sama.
Aland mengacu-ngkan jari telunjuknya. "Ingat! Hanya lakukan pada mereka yang mau!" Bentak Aland.
Sebenarnya, kejadian yang Mauza lihat selama ini tidak seperti yang ia fikirkan. Para pekerja di rumah ini memang kerap kali melampiaskan naf*su mereka pada asisten rumah tangga. Tapi atas dasar sama-sama mau. Bukan karena paksaan.
Mereka yang rata-rata sudah berusia dewaa sama-sama punya kebutuhan biologis yang harus disalurkan. Dan di rumah ini tidak ada larangan untuk itu. Namun dengan syarat bukan karena paksaan.
Namun kadang, mereka tidak tahu tempat saat melakukannya. Kadang dibalik pohon, kadang juga belakang ruang cuci. Mungkin menjadi hal biasa dikalangan asisiten rumah tangga tapi tidak bagi Mauza.
Ia sedikit terkejut dan tidak biasa dengan apa yang ia lihat beberapa kali itu.
"Sekarang pergilah! Dan jangan ganggu gadis ini!"
Dua pria itu lari tunggang langgang. Aland mendekat ke arah Mauza dan membetulkan posisi tidurnya.
Gadis itu masih utuh dan belum tersentuh. Aland merasa lega karena sepertinya ia datang tepat waktu.
Aland berjalan keluar setelah menutup tubuh gadis itu dengan selimut. Aland tanpa sengaja menginjak buku yang ia lihat tadi.
Aland membukanya dan ia bisa melihat puluhan desain perhiasan. Ia tersenyum kecil.
Dia punya bakat, seperti Mommy.
Aland menutup buku itu dan meletakannya diatas meja. Saat melihat pena disana, ia menyobek satu lembar kertas dari buku itu dan menuliskan sesuatu di atasnya.
Lain kali berhati-hatilah. Selalu kunci pintu kamarmu. Karena kejadian seperti ini mungkin akan terulang lagi.
Aku akan menguncimu dari luar, dan akan ku masukkan kuncinya dari bawah pintu.
Aland meletakkan kertas itu diatas meja. Ia segera keluar dan mengunci pintu. Aland berjongkok dan meletakkan kuncinya di celah bawah pintu dan ia mendorong sedikit keras, agar masuk agak ke dalam.
__ADS_1
Ia melihat beberapa asisten rumah tangga tampak keluar dari kamar mereka. Keributan di kamar Mauza sepertinya mengganggu tidur mereka.
"Masuklah!" perintah Aland sebelum akhirnya ia pergi untuk masuk ke rumah utama.