
Kepulangan Ken ternyata membawa satu kabar baik bagi Lova. Pria yang akan resmi menjadi suaminya itu tidak akan kembali lagi ke Australia. Kendali perusahaan sudah sepenuhnya dipegang Alvin dan Thomas.
Selama beberapa hari ini, Ken selalu menemani Lova untuk memastikan seberapa besar kemajuan persiapan pernikahan mereka.
Dan syukurnya, semuanya sudah mencapai sembilan puluh persen. Ada sekitar seribu undangan untuk tamu dari negara ini dan beberapa orang dari luar negeri.
"Hari ini kita fitting baju pengantin," ucap Lova pada Ken yang tengah mengemudi. Sejak kepulangan Ken beberapa hari lalu, ia juga selalu setia mengantar dan menjemput Lova saat ke kantor.
Ken sebenarnya juga sedang mengurus pembelian sebuah gedung bertingkat yang akan menjadi cabang perusahaannya di negara ini. Ken benar-benar memulai dari nol. Ia ingin membuktikan pada Brata bahwa ia tak perlu menerima perusahaan dari calon mertuanya itu.
Ken membebaskan Lova untuk terus bekerja meski dengan batas waktu yang ia sendiri belum tahu sampai kapan.
Jika kelak mereka segera diberi momongan, mungkin itulah saatnya Lova untuk mundur dari dunia perkantoran. Ken ingin putra putrinya kelak mendapat kasih sayang penuh dari keduanya. Ia tak ingin baby sitter yang mengasuh anak mereka.
"Fitting lagi?" tanya Ken. "Bukankah sudah?"
Lova tertawa. "Itu dua bulan lalu, Sayang!"
Ah, hati Ken meleleh mendengar kata sayang terucap dari bibir gadis itu.
"Hanya untuk memastikan ukurannya pas." lanjut Lova.
"Aku hanya tidak ingin, di saat hari H nafasku sesak karena gaun yang terlalu sempit."
Ken tertawa. "Sempit dari mana? Kamu saja terlihat semakin kurus."
Lova melihat pergelangan tangannya, perutnya dan wajahnya dari spion mobil.
"Justru aku merasa sedikit berisi sekarang!" ucapnya.
"Berarti kamu sering makan makanan cepat saji," sahut Ken. "Kamu pasti melupakan dietmu!"
Lova nyengir, menunjukkan gigi rapinya. "Sesekali, Ken!
"Kamu fikir tidak bosan setiap hari bunda hanya membawakan salad dan potongan buah sebagai bekalku ke kantor?" Lova cemberut.
"Hahah... Ternyata kamu bandal juga!"
"Sembunyi-sembunyi makan junkfood!"
"Tidak setiap hari, Ken! Sesekali, itupun selalu bersama Rosa."
"Ck! Bersama Rosa ataupun aku, bahkan bersama Mommy sekalipun, lemak jahat akan tetap jadi lemak jahat, Lov."
__ADS_1
"Makanan itu akan tetap jadi makanan tidak sehat, Sayang!"
Lova tersenyum. "Setelah menikah..."
"Aku izinkan. Sekali seminggu, tapi bersamaku!" potong Ken seolah tahu apa yang akan Lova tanyakan.
"Hahahah!" Lova meninju lengan atas pria tampan disampingnya itu. "Katakan saja jika kamu juga ingin menikmati makanan seperti itu, Ken!"
"Hahah.. Bukan begitu, Lov. Setidaknya jika kamu gendut, kamu tidak sendirian. Aku kan juga akan ikutan gendut!" jawab Ken.
"Dan anak-anak kita kelak akan merasa malu, karena mama papanya gendut. Hahahah!"
Ken tersenyum senang. Ia tak menduga, Lova juga telah membayangkan memiliki anak darinya.
***
"Bagaimana?" tanya lova saat baru saja keluar dari fitting room. Gadis itu keluar dengan gaun pengantin yang akan dipakai untuk resepsi pernikahan mereka.
Ken terpesona. Gadis yang selalu tampil sederhana itu kini terlihat seperti malaikat. Ken hanya bisa mengangguk lemah, ia tak sanggup lagi berkata-kata.
"Lepaskan gaun itu, Lov. Atau pria ini akan terus terpesona sampai besok pagi!" Suara Alana menyadarkan Ken.
Di butik ternama ini, Ken dan Lova memesan pakaian untuk akad dan resepsi. Brata dan Alana juga memesan pakaian yang mereka pakai nanti di butik ini.
Lova tertawa kecil mendengar perkataan bundanya. Ia tidak tahu jika Ken terpesona melihat dirinya karena bagi Lova, melihat Ken diam adalah hal yang biasa.
Jadi, seperti itu wajahnya saat ia sedang terpesona terhadapku? batin Lova.
Lova kembali masuk ke dalam ruangan yang tidak terlalu luas itu dan menatap bayangan dirinya di cermin.
Gaun ini cantik sekali. Dan aku tidak menduga sebentar lagi aku akan mengenakan gaun ini di depan ribuan tamu undangan.
Lova menatap kakinya dan ia menghela nafas berat. *Seribu undangan akan membuat kakiku bengkak jika aku menggunakan hells berjam-jam.
Apa aku pakai plat shoes saja, ya... Hahahah. Atau pakai sneakers? Toh kakiku tidak terlihat karena gaun ini lumayan panjang*. Batin Lova memikirkan ide gilanya.
"Lov... Kamu tidak tidur kan, sayang?" tanya Ken dari luar. Ia sudah menunggu gadis itu cukup lama tapi tidak kunjung keluar.
Lova yang berada di dalam ruangan itu tertawa pelan. "Mbak, tolong bantu lepaskan gaun ini!" Pinta Lova pada asisten pemilik butik itu yang sedari tadi menunggunya memberi perintah.
"Baik, Bu."
Wanita seusia Lova itu membantunya membuka gaun mewah nan berat itu perlahan
__ADS_1
Lova kembali mengenakan pakaiannya. Dan setelah selesai ia keluar dari ruangan itu.
"Mengapa lama sekali?" tanya Ken penasaran.
Untung saja Alana sedang masuk ke fitting room yang lain untuk mencoba pakaiannya. Brata juga turut menemani istrinya itu.
"Bukankah hal yang biasa jika wanita lebih lama saat bersiap, Ken?" Lova duduk di sofa untuk memakai hells 7 cm miliknya.
"Aku harus memakai kembali pakaianku. Dan perlu kamu tahu, wanita itu harus bercermin minimal tiga menit untuk mengagumi kecantikannya," lanjut Lova.
Ken bersandar di dinding dan tangannya terlipat di dada. "Selama ini kamu tidak melakukan itu," ucap Ken sok tahu.
"Siapa bilang, Ken! Aku melakukannya!"
"Tapi aku tidak pernah..." Ken menggantung kalimatnya.
"Karena kamu tidak pernah menunggu, Ken. Kamu tidak pernah menungguku bersiap, karena aku memulai persiapan lebih awal."
"Lagi pula, kamu hanya perlu menungguku di meja makan dan aku akan turun tepat waktu."
Ya, selama beberapa hari ini, Ken selalu menunggu Lova di meja makan. Dan saat gadis itu turun dari lantai dua, itu tandanya Lova sudah selesai bersiap dan tinggal sarapan lalu langsung berangkat.
Ken tersenyum kecil. "Kamu benar, mungkin setelah menikah nanti aku akan sering merasakan hal seperti ini lagi, Lov. Bahkan mungkin setiap hari."
Lova mengerutkan kening. "Kenapa begitu?" tanya Lova heran.
"Karena aku akan tetap di dalam kamar selama kamu bersiap. Mulai dari mandi, berganti pakaian, berdandan hingga kamu sampai pada proses mengagumi dirimu sendiri di depan cermin."
Lova melirik pegawai butik yang mengulu-m senyum mendengar ucapan Ken yang sepertinya tak kenal tempat. Perdebatan antara ia dan Ken sepertinya juga menjadi tontonan seru bagi mereka.
"Aku akan duduk diatas ranjang..."
"Heiii...aku belum selesai bicara, Lov!" Ken sedikit mengeraskan suaranya karena Lova tiba tiba berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.
Ken menyeimbangkan langkah dengan gadis yang berjalan dengan anggun itu. "Aku belum selesai!"
"Selesaikanlah! Dan semua pegawai butik akan mentertawakanmu!" ucap Lova tegas. Ia sudah malu setengah mati karena mereka terlalu banyak bicara.
Ken terdiam. Ia melihat sekeliling dan pegawai butik kedapatan tengah menatap mereka berdua.
Dan saat menyadari Ken menatap mereka, seketika pegawai yang berjumlah beberapa orang itu pura-pura melihat arah lain.
*Sial! Mereka mentertawakanku.
__ADS_1
Mengapa aku bisa kelepasan begitu*? Batin Ken menyadari kesalahannya.