
Tiga hari lagi sisa waktu yang Aland berikan untuk Mariska. Tapi sepertinya, ia belum mengetahui tanda-tanda keberadaan Lova.
Ia sudah mengikuti kemana pun Ken pergi. Namun pria itu malah menuju sebuah proyek yang saat itu Lova kunjungi.
Pagi ini, Mariska mengikuti mobil Ken. Tapi lagi-lagi, pria itu masuk ke dalam gedung perusahaan, bukan malah menemui Lova. Mariska menggeram kesal. "Sebenarnya dimana dia menyembunyikan gadis itu? Mengapa tiap kali aku membuntutinya tidak pernah membuatku sampai pada tempat dimana dia menyembunyikan Lova?"
"Aku tidak bisa membiarkan Mauza terus-terusan menjadi pelayan di rumah Tuan Hendrico."
"Mauren juga tiba-tiba diberi cuti oleh Ken dengan alasan hilangnya Lova."
"Ini pasti cuma akal-akalan Ken saja. Dia benar-benar ingin menguasai perusahaan Brata!" Mariska memijat keningnya.
"Ah...!" terlintas ide di kepalanya. "Bagaimana jika ku tukar Lova dengan perusahaan Brata?"
"Aku akan mengajaknya kerja sama, memaksa Brata memberikan perusahaan untuknya dan sebagai gantinya aku akan meminta Lova darinya."
"Ck!" Decaknya kesal. "Dia mana mungkin mau!"
"Kenapa sulit sekali mencari celah dirinya? Membuntutinya berhari-hari saja masih percuma, apalagi hanya menebak-nebak!"
"Apa dia menyadari jika aku mengikutinya?" gumam Mariska. Selama ini ia memang mengikuti Ken dengan mengendarai mobilnya atau pun mobil Mauren.
"Akan ku coba ganti mobil, saja. Ya, ganti mobil saja!" Mariska yakin caranya akan berhasil.
"Tapi apa mungkin Ken memang tidak menculik Lova?" gumamnya. "Bagaimana jika memang bukan dia?"
"Bagaimana jika Brata bergerak sendiri tanpa Ken?"
"Ah! Mikir apa aku ini? Brata saja sampai syok saat mendengar kabar putrinya diculik. Mana mungkin dia yang melakukannya!" Fikiran Mariska berkecamuk. Ia seperti orang gil*.
"Lalu siapa yang menculik gadis itu?"
"Apa mungkin Aland?" lanjutnya.
Mariska diam sejenak. "Mungkin saja."
"Mereka kan licik sekali. Bisa saja Tuan Hendrico dan putranya sengaja menyembunyikan Lova agar aku tidak mendapatkan bayaranku. Ya, bisa saja. Agar mereka tidak perlu mengeluarkan uang lagi."
Mariska memukul setirnya. "Bagaimana aku bisa menemukan Lova jika mereka yang menyembunyikannya. Karena selama ini aku hanya terfokus pada Ken."
"Aku akan menyelidiki keduanya!"
Mariska memutar arah. Ia menuju rumah sakit dimana Brata tengah di rawat. Ia sempatkan membeli buah dan bunga.
"Maaf, Nyonya. Pasien sedang istirahat." cegah salah satu penjaga di depan ruangan Brata.
"Ini jam besuk, dan saya istrinya." jawab Mariska angkuh. "Terserah saya mau datang kapan saja!"
"Tapi maaf. Saya tidak bisa membiarkan anda masuk." Kedua pria itu berdiri tepat di depannya agar Mariska tidak mendekat kearah pintu pintu. "Ini perintah dari pak Ken!"
"Ken itu bekerja pada Pak Brata. Dan saya istrinya! Itu berarti saya bosnya!" Bentak Mariska, sontak menimbulkan keributan karena ia juga memukul dada salah satu penjaga. Namun sia-sia, tubuh besar itu tak menyingkir sedikitpun dari pintu.
__ADS_1
Brata yang mendengar keributan memanggil salah satu penjaga yang duduk di sofa di dalam ruangan rawatnya.
"Ya, Pak!" Pria tampan itu maju dan mendekat kearahnya. "Ada apa?"
"Vin, tolong biarkan wanita itu masuk! Saya ingin bicara padanya," perintah Brata pada Alvin.
Ken sengaja sesekali meminta Alvin untuk datang dan menemani Brata. Dan Alvin pasti sangat senang dari pada ia haruz bersama Thomas untuk mengurus perusahaan.
Alvin membuka pintu dan melihat seorang wanita yang sedang memberontak kedua penjaga.
Mariska langsung menatap tajam kearahnya. Ia memindai wajah Alvin bahkan sampai ke seluruh tubuhnya.
Siapa pria ini? Batin Mariska.
"Biarkan dia masuk!" Perintah Alvin. Kedua penjaga itu langsung memberi jalan untuk Mariska.
Mereka menuruti perintahnya? Mariska semakin menatap tajam.
"Silahkan duduk, Nyonya!" Alvin meminta Mariska duduk disamping ranjang Brata sementara dia berdiri di samping tubuh Brata bersebrangan dengan Mariska.
Mariska menatap tak suka kearahnya. "Bisa tinggalkan kami berdua?"
Alvin tersenyum. "Maaf, saya tidak bisa, Nyonya!"
"Tapi saya mau bicara dengan suami saya."
"Bicaralah! Saya tidak akan mengganggu." jawab Alvin tegas. Ia berdiri tegak dan menatap lurus ke depan seolah menjadi bodyguard.
"Saya tidak akan peduli dengan rahasia anda berdua. Jadi bicaralah!" jawabnya acuh.
"Kamu melanggar privasi orang lain. Kamu duduk saja di sofa sana!" tunjuk Mariska kearah sofa agak jauh dari ranjang Brata.
Brata hanya diam, ia tak ingin bicara apapun.
"Tapi anda juga mengganggu tugas saya, Nyonya! Saya bisa dipecat oleh Pak Ken!"
Ah, rasanya geli sekali menyebutnya Bapak. Batin Alvin tertawa saat ia memanggil Ken dengan sebutan Bapak.
"Bukan urusan saya!" sahut Mariska.
"Anda ingin bicara dengan Bapak atau berdebat dengan saya?" tanya Alvin. "Waktu jenguk cuma 5 menit!" lanjutnya.
"Hei, peraturan dari mana itu?" tanya Mariska.
"Waktu anda tersisa 3 menit lagi. Bicaralah sebelum kedua orang di depan menyeret anda untuk keluar!" Ucap Alvin dingin dengan wajah tanpa ekspresi.
Pasti wajahku seram sekali tadi. Heheheh. Batin Alvin.
Mariska bersungut kesal. Ia menatap suami yang sudah memberikannya dan kedua putrinya kebutuhan hidup selama ini. Jika tidak ada Brata mungkin ia sudah berkeliaran dari satu kamar ke kamar lain demi melayani pria hidung belang. Dan mungkin saja hal itu juga terjadi pada putrinya.
Tapi nyatanya semua itu belum cukup bagi Mariska. Ia masih saja iri dan membandingkan kasih sayang yang Brata beri untuknya dan untuk Lova.
__ADS_1
"Aku ingin bicara penting!" Mariska menatap Brata yang sepertinya masih enggan menatapnya.
"Katakanlah," balas Brata yang masih berbaring di ranjang.
"Lova belum kembali." Mariska menatapnya dengan raut sedih yang dibuat-buat.
"Dia memang bukan putri kandungku, tapi aku juga menyayanginya."
"Kita telah hidup bersama selama bertahun-tahun. Ya, walaupun kami tidak harmonis, tapi percayalah aku juga khawatir dan sedih."
Brata diam saja. *Tapi sayangnya semua itu palsu Mariska. Mengapa kamu menjadi wanita yang tidak tahu malu begini? Kamu tidak segan menatapku dan menemuiku, padahal sudah banyak kejahatan yang kamu lakukan.
Hanya karena harta kamu rela menghalalkan berbagai cara. Padahal sudah pernahku katakan bahwa perusahaan itu ku bangun dengan uang Almarhumah Alana, Bundanya Lova.
Jadi, wajar saja jika aku memberikan semuanya untuk putriku. Selama ini aku hanya sedang menjalankan janjiku. Aku akan menjaga semua milik istriku, termasuk perusahaan dan Lova*.
"Kamu tidak sedih?" tanya Mariska menyeka air mata palsunya.
Alvin tertawa dalam hatinya. Padahal dia juga ingin menculik gadis itu. Pantas saja Ken muak sekali dengan wanita ini.
Brata menatap Mariska sebentar. "Apa sakitku belum cukup jadi bukti hingga kamu menanyakan hal itu?"
Mariska merasa tertohok dengan jawaban dingin Brata.
"Ya, maksudku... jangan bersedih lagi. Semua orang sedang mencarinya."
"Termasuk aku."
Mengapa tiba-tiba aku ingin muntah. Memuakkan sekali ular berkepala tiga ini. Batin Alvin yang dalam diamnya mendengar semua percakapan itu.
Brata menatap Mariska sekilas. "Lalu untuk apa racun di gelas jus milik putriku, Mariska?"
"Lalu untuk apa semua obat yang kamu tukar?" ucap Brata santai.
Mariska berdebar. Dia sudah tahu semuanya?
"Jangan bersandiwara lagi, Mariska!"
"Surat wasiat sudah ku ubah. Surat cerai sudah dalam proses. Maka jika detik ini kamu membunuhku sekalipun, aku sudah tidak peduli."
"Jika Lova tiada, harta itu akan di sumbangkan untuk yayasan dan pembangunan masjid di berbagai daerah, sebagai amal ibadah untuk kami sekeluarga."
Mariska masih diam mematung. Ia masih belum percaya semua ini. Brata tega mengubah surat wasiat. Dan dipastikan, dia sama sekali tidak dapat apapun. Jika selama ini ia masih mungkin dapat warisan berupa salah satu rumah milik Brata, tapi kali ini pupus sudah.
Bolehkan aku tertawa melihat wajahnya yang seperti kalah berjudi? Alvin tertawa dalam hatinya.
"Sekarang, tinggalkan aku. Aku ingin istirahat."
Mariska pergi dengan kekesalan dan penyesalan. Ia keluar dengan diiringi senyum mengejek dari wajah Alvin.
"Hati-hati, Nyonya!" Alvin melambaikan tangannya saat mengantar Mariska keluar.
__ADS_1