
Mariska mengikuti mobil Ken dengan menggunakan mobil yang ia sewa. Ia mengikuti Ken hingga ke sebuah perumahan mewah. Ia tidak sendiri! Mariska bersama Aland.
Ternyata Aland juga memiliki beberapa unit rumah di komplek tersebut. Sehingga mereka dapat dengan mudah masuk ke dalam. Sebuah keberuntungan yang berlipat-lipat.
"Aku yakin dia menyembunyikan Lova di dalam." Ucap Mariska yakin. Sementara itu, Aland yang duduk di kursi belakang tidak peduli sama sekali.
Aland ikut bersama Mariska karena ia hanya ingin mencari tahu rumah kedua Ken selain rumah Brata. Ini ia lakukan agar sewaktu-waktu bisa menyerang Ken yang sepertinya bukan rekan bisnis yang baik baginya. Ken terlalu licik dan licin. Aland perlu informasi lebih mengenai pria itu.
Dan satu sisi, ia ingin melihat usaha Mariska. Ia ingin melihat wanita itu benar-benar bekerja untuknya atau tidak.
Keduanya berhenti saat melihat mobil Ken masuk ke dalam salah satu rumah besar agak di ujung blok.
"Disini rupanya dia bersembunyi." gumam Mariska.
Mariska bersiap keluar dari mobil. Ia memakai rambut palsu dan sebuah kaca mata tebal.
"Mau apa?" tanya Aland dingin.
"Turun. Hanya untuk memastikan." Mariska keluar dan berjalan mendekat dengan pagar setinggi tiga meter itu. Ia menekan bel dan tak lama pintu dibuka sedikit.
"Cari siapa?" tanya Security.
"Ah, saya hanya diperintahkan mengantar pesanan kue, Pak." Mariska memberikan paperbag berisi beberapa pack kue.
Security menerimanya dan melihat isinya. "Atas nama siapa?"
Mariska diam sejenak, matanya berhasil melihat arah dalam gerbang dari sedikit celah antara tubuh security dan pagar.
Banyak penjaga? Pakaian mereka sama. Jelas Lova di dalam.
"Atas nama siapa, Bu?" ulang pria bertubuh tegap itu.
"Atas nama... Nyonya Diana!" jawab Mariska.
"Maaf, disini tidak ada yang namanya nyonya Diana?"
"Oh ya? Bukankan ini rumah nomor 103 Blok E?" tanya Mariska pura-pura bodoh.
"Anda salah alamat! Ini Blok F. Sepertinya anda kelewatan."
"Astaga? Jadi aku salah alamat?" Mariska menepuk keningnya.
__ADS_1
"Maaf, terima kasih Pak." Mariska kembali mengambil paperbag itu dan masuk ke mobil.
"Lova ada di dalam!" ucapnya setelah duduk di dalam mobil.
"Tuan Aland, bisakah saya meminta bantuan anda?"
"Apa?" tanya Aland yang terus menatap sebuah jendela dengan kaca yang tidak tembus kedalam itu.
"Buat orang-orangku masuk ke komplek ini. Kita akan melakukan penyerangan!"
Di perumahan elite ini, tidak mudah bagi orang lain untuk masuk tanpa konfirmasi salah satu pemilik rumah. Jika ada penghuni komplek yang mengatakan atau menjamin bahwa orang-orang tersebut adalah tamu mereka, maka barulah diizinkan masuk.
"Sangat mudah bagiku!"
***
Security di rumah Ken membukakan pintu pagar saat ada yang datang. Tapi sebuah senjata api dengan peredam suara berhasil menembus dada pria itu.
Tujuh orang dengan rompi anti peluru dan pakaian serba hitam dengan Logo huruf H di dada mereka berhasil melumpuhkan beberapa anak buah Ken. Adu tembak dan saling serang tidak terelakkan lagi.
"Dimana Bos kalian!" Teriak salah satu pria berompi anti peluru.
"Banyak bicara!" anak buah Ken berhasil menembuskan timah panas ke kepalanya.
Ia mengintip dari tirai jendela dan matanya membulat kala melihat banyak orang berlumur dar*ah tergeletak di depan rumah. Anak buahnya yang berjumlah lebih dari sepuluh orang itu sepertinya sudah banyak yang tertembak.
Mommy Anna meraih ponselnya dan berlari. masuk ke kamar Lova.
Brak!
"Kita diserang!" ucapnya tergesa-gesa.
Ken melihat dari kaca besar di kamar itu, anak buahnya sedang melawan orang-orang berpakaian serba hitam.
Ken meraih tubuh Lova yang tengah kebingungan. Ia juga menggandeng tangan Mommy Anna. Ken melihat ke arah bawah dan mereka belum berhasil masuk ke pintu depan.
Ken berlari dan membawa keduanya menuju lift. "Cepat Mommy!" Ken tetap menggendeng tangan Mommynya.
"Rumah kami di serang! Blok F nomor 103." Dengan jam pintar di tangannya, Ken menghubungi keamanan komplek untuk meminta bantuan!"
"Alvin! Kerahkan bantuan! Rumah kita di serang!" Satu kali perintah, Alvin pasti akan melaksanakan tugasnya.
__ADS_1
Ken membawa Mommynya dan Lova ke lantai dasar. Dan mereka masuk melalui pintu rahasia menuju ruangan bawah tanah.
Disana terdapat kamar mewah dengan fasilitas lengkap. Lova mulai mengerti apa yang sedang terjadi. Namun ia terpaku saat Ken memanggil wanita yang selama ini ia tahu hanyalah asisten rumah tangga itu dengan sebutan Mommy.
Sementara Mommy Anna mencoba memeluk Lova. Mencari ketenangan dan memberikan ketenangan. Keduanya berharap bisa saling menguatkan.
"Mommy, Lova! Dengarkan aku! Tetaplah di sini, apapun yang terjadi." ucap Ken pada keduanya.
Ken membuka sebuah peti di lemari khusus. Ia mengambil 3 buah senja*ta api yang sudah berisi peluru. "Aku harus membereskan ini." Ken juga mengambil jaket hitam dan memakainya. Lalu berjalan kearah pintu. "Kunci pintunya, Mom!"
"Ken... hati-hati." Lova melepas kepergian Ken dengan berat hati. Entah mengapa ia khawatir berlebihan melihat Ken yang pergi dengan beberapa senjat yang tersembunyi dibalik jaketnya.
"Hati-hati, sayang!" Mommy Anna juga melepas kepergian Ken dengan perasaan was-was.
Keduanya menunggu di dalam dan mengunci pintu. Mommy Anna mendekat kearah Lova yang duduk mematung di tepi ranjang.
"Jangan takut!" Mommy Anna mengusap rambut Lova. "Saya tahu kamu syok! Tapi inilah resikonya jika kita sedang berurusan dengan seorang penguasa yang kejam."
Lova mengerti. "Anda..." Lova menatap wajah Mommy Anna.
"Saya mommynya Ken dan Alvin! Semua adalah rencana Ken. Ia tidak ingin orang lain menjagamu. Jadi..."
Lova langsung memeluk pinggang wanita paruhbaya itu. "Terima kasih sudah melahirkan pria sebaik Ken, Bibi."
Mommy Anna memeluk erat tubuh ideal gadis 25 tahun itu. "Dia memang sangat baik. Dan sangat beruntung wanita yang telah melahirkannya."
Tapi wanita itu bukan aku, Lova. Dan aku beruntung telah bertemu dengannya. Dia dan Alvin adalah cahaya baru bagiku. Keduanya adalah lentera dikala kegelapan menyelimutiku.
Lova mengangguk. "Dia sulit ditebak, Bibi. Aku berterima kasih padanya, karena telah menyelamatkanku dan Ayah."
"Dia telah lama bekerja dengan ayahku, tapi aku baru tahu dia punya sisi lain seperti ini."
"Ku... fikir dia hanya bisa mengurus dokumen saja, tapi senja*ta api, dan semuanya...." Lova menggeleng pelan melihat apa yang tidak pernah ia duga selama ini.
"Dan, entah mengapa dia baik padaku, Bibi. Dia membantuku tiap kali aku mengalami kesulitan. Dia selalu tahu saat aku membutuhkannya."
Semua itu karena permohonanku, Lova. Aku yang memintanya untuk melakukan semua itu.
"Tapi yang pasti aku berharap dia baik-baik saja. Semoga dia tidak terluka."
"Percayalah, Sayang!" Lova menatap wajah wanita yang memanggilnya sayang itu. Sebuah kata indah yang Lova rindukan dari sosok wanita bernama Ibu. "Ken akan baik-baik saja."
__ADS_1
Lova mengangguk dan ia semakin mengeratkan pelukannya. Entah mengapa terasa hangat dan nyaman sekali.
***