
"Alvin!"
"Alvin!"
"Alvin!"
Panggil Ken berkali kali namun tidak ada sahutan. Panggilannya bahkan sudah diakhiri. Ken mencoba menghubungi lagi namun tidak terhubung.
"Bangs*at!" Umpatnya sambil menendang sebuah vas besar di balkon apartemennya.
Ia tidak lagi tinggal di rumah Brata. Ia langsung pindah ke apartemen setelah mengunduran dirinya kemarin.
"Siapa yang melakukan ini?" tanyanya marah.
Ken segera menghubungi orang suruhannya. "Keluar dari bandara! Alvin sudah dibawa mobil lain dan sekarang dia dalam bahaya. Kejar mobil itu sampai dapat!" Perintah Ken sambil membentak.
Ken kembali menghubungi seseorang. "Alvin diculik dan dia dalam bahaya sekarang. Selidiki ponselnya!" Perintah Ken pada orang tersebut.
"Cepat beri kabar setelah menemukan titik terang!" lanjutnya.
Ken masuk kedalam dan membanting ponselnya di atas kasur. Ia mencari sesuatu di lemari pakaiannya. Sebuah baju anti peluru, dan dua buah senjata api yang ia selipkan di saku bagian dalam jaketnya.
Ken langsung pergi dan mengendarai mobil ke markas miliknya. Ia mencoba untuk tenang, tapi tetap saja tidak bisa.
Niatnya untuk membuat dekat Alvin dengannya sepertinya salah. Langkah yang ia ambil ternyata salah besar.
Alvin malah diculik saat ia sudah berada di negara ini. Ia menebak semua ini adalah ulah Tuan Hendrico. Dan dia salah menilai pria itu. Ternyata pria itu masih menyelidiki dan mengikuti Alvin.
"Aaarhhhhh!" Teriaknya keras. Jalan raya yang macet ditambah dirinya yang belum mendapat kabar sama sekali membuat emosinya meledak-ledak.
Ia menghubungi Thomas dan mengatakan bahwa Alvin diculik. "Berhati-hatilah, Thom. Pergerakannya kali ini sama sekali tidak terbaca."
Ken juga menghubungi Alana. "Mom, tetap hati-hati. Alvin diculik, dan aku berusaha mencarinya saat ini."
"Perketat penjagaan baik di rumah mommy ataupun di rumah Lova."
"Sepertinya identitasku yang sebenarnya akan segera terungkap." Ken terus berbicara tanpa memberi kesempatan pada Alana yang masih syok.
"Pasti, Mom! Aku akan berhati-hati."
***
Ken tiba di markasnya. Sebagian orang-orangnya ada di sana dan sebagian lagi melakukan pencarian terhadap Alvin. Mereka berkumpul dan siap siaga menghadapi serangan yang bisa saja datang tiba-tiba.
"Sampai Alvin belum ditemukan, tetaplah berjaga-jaga! Perhatikan hal mencurigakan meski sekecil apapun itu!"
Ken mengambil ponsel yang bergetar di saku jaketnya. Dari salah satu orang suruhannya yang mencari tahu kejahatan dan kelicikan Tuan Hendrico.
"Kami menemukan bukti baru. Gudang terbengkalai di perkebunan wilayah xx." Sebuah kabar baik yang Ken terima.
__ADS_1
"Dan bukti ini akan langsung membawa kita pada si Bos besar, Pak!"
Ken tersenyum senang. "Bagus! Kumpulkan bukti lagi, karena kita tidak punya banyak waktu!" ucap Ken.
*Baiklah paman Juan! Aku akan menghancurkan reputasimu. Aku akan menghancurkan kerajaanmu yang berpondasikan penghianatan terhadap kedua orang tuaku.
Alvin, semoga aku masih bisa menyelamatkanmu*!
***
Kantor Bratadikara tepatnya di ruang CEO.
Lova sedang menikmati pancake buatan bundanya. Alana sengaja membuatkannya untuk putrinya dan menikmati makanan yang ia bawa itu bersama-sama.
Ini bukan kali pertama ia datang, sehingga karyawan kantor tidak lagi ada yang mempertanyakan siapa dirinya.
Lova melihat Alana mengambil ponselnya dari dalam tas.
"Dari Ken," ucap Alana sambil tersenyum padanya.
Dia bahagia bahkan hanya karena Ken menghubunginya. Sesederhana itu cinta kalian. Lova merasa tersanjung dengan hubungan antara Ken dan Bundanya.
"Hallo, Ken!" sapanya ceria.
Alana mendengarkan apa yang Ken katakan, bahkan putranya itu tidak membalas sapaannya.
"Astaga!" Alana menutup mulutnya. Wajahnya berubah panik dan Lova juga merasakan jika wanita di depannya itu sangat syok.
"Iya.. iya.. hati-hati, Ken!"
Alana menangis. Perlahan ponsel di telinganya merosot ke bawah hingga jatuh ke pangkuan wanita itu. Tangan yang mulai keriput itu tak mampu hanya sekedar menahan ponselnya.
"Bunda..." Lova mendekat dan mengusap air mata di pipi Alana.
"Ada apa, Bun?" tanyanya.
"Ada apa dengan Ken? Apa yang terjadi padanya?" desak Lova karena Alana terus menangis dan menatap tangannya yang saling menggenggam.
"Ken kenapa?" Lova semakin panik.
Alana menggeleng. "Ken.. dia tidak apa-apa."
"Lalu mengapa bunda menangis begini?"
"Alvin... Alvin, Lov!" Alana menghapus air matanya.
"Alvin? Dia kenapa? Bukankah dia ada bersama Pak Thomas?" tanya Lova lagi.
"Alvin diculik." Bahu wanita itu bergetar. Alana terisak.
__ADS_1
Ia tak menduga Alvin mengalami hal ini. Ia kembali merasakan ketakutan akan kehilangan putra. Meski Alvin bukan anak kandungnya, tapi Alvinlah yang berhasil sedikit menyembuhkan lukanya. Menghibur dirinya dan membuatnya merasakan kembali kehadiran seorang putra.
"Diculik? Bagaimana bisa?" Lova memeluk bundanya berusaha menengangkan.
Alana menggeleng. "Ken hanya mengatakan itu dan meminta kita tetap berhati-hati."
"Penjagaan juga diperketat, Lov."
"Bunda tenang, yaaa." Lova mengusap punggung Alana. "Ken pasti bisa menemukan Alvin."
"Ken pria yang hebat, Bunda."
"Ken pria yang tangguh, ia cerdas dan pasti mudah baginya untu menemukan Alvin."
"Bagaiman jika Tuan Hendrico itu yang menculiknya?" tanya Alana.
Lova tak bisa menjawab pertanyaan Alana. Dia sendiri tidak tahu bagaimana nasib Alvin jika benar Tuan Hendrico pelakunya.
Apa yang terjadi pada Mariska dan Mauza jelas menjadi bukti betapa pria itu tidak tertebak. Bahkan untuk menukar Mauza dengan uang saja tidak semudah yang dibanyangkan.
*Jika memang Tuan Hendrico pelakunya. Itu berarti identitas Alvin benar-benar sudah terbongkar. Dan otomatis siap Ken yang sebenarnya juga sudah diketahui pria itu.
Ya Tuhan, semoga Ken bisa menyelesaikan semua ini. Ku mohon bantu dia*. Doa Lova tulus dari lubuk hatinya.
"Bunda, sebaiknya bunda pulang dan tinggallah sementara waktu di rumah bersamaku dan ayah."
"Penjagaan akan kita perketat berlipat-lipat, Bun!"
"Bunda juga pasti membutuhkan teman cerita atau sekedar orang untuk menemani bunda."
"Bunda akan sedih jika sendirian disana."
Lova mengurai pelukannya. Ia menghapus air mata di pipi Alana.
"Bunda, tenang ya. Kita doakan agar Ken bisa segera menemukan Alvin."
"Amin." ucap Alana pelan.
Lova kembali menyelesaikan pekerjaannya. Ia harus segera pulang ke rumah untuk menemani Bundanya yang baru saja pulang bersama supir pribadinya itu.
Lova menghubungi Ros melalu intercomnya. "Ros! Bawa semua berkas yang harus ku periksa hari ini."
"Aku harus segera menyelesaikannya karena sepertinya besok aku tidak bisa masuk."
Lova menghela nafas. Ia tidak bisa memastikan apakah esok Alvin sudah ditemukan atau belum, tapi yang pasti ia harus menemani bundanya.
Ia mengirim satu pesan pada Ken. Entah mengapa ia khawatir pada pria itu.
Berhati-hatilah, Ken. Aku akan berusaha menjaga bunda disini.
__ADS_1
Lova terus memeriksa ponselnya setelah beberapa menit ia mengirimkan pesan itu. Jangankan balasan, pesan itu bahkan belum Ken baca.
Lova bisa membayangkan sepanik apa dan sesibuk apa Ken saat ini. Alvin menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.