ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 67 Panggilan Video


__ADS_3

Lova tersenyum malu saat melihat wajah Ken di layar ponselnya. Sebuah panggilan video untuk pertama kalinya sepanjang sejarah kenalnya mereka berdua.


"Jangan tersenyum seperti itu!" tegas Ken. Ia terus menatap kearah Lova. Tampak pria itu tengah berbaring diatas ranjangnya.


Satu hal yang baru pertama kali Lova lihat, pria batu yang gil* kerja itu berbaring santai di atas ranjang. Karena biasanya Lova sellu melihat Ken duduk di sofa, atau pun kursi malas dengan tangan yang tak terlepas dari ponsel atau tab.


Lova mengerutkan kening. "Kenapa?" tanyanya heran. Baginya, tidak ada yang salah dengan senyumnya. Ken sudah biasa melihatnya tersenyum seperti itu. Melihatnya marah, merajuk bahkan menangis.


"Senyummu membuatku ingin segera kembali kesana." Ken berucap dengan wajah datar.


Lova membuang muka. Ia menatap arah lain. Bibirnya terkatup rapat menahan tawa agar tidak meledak.


Si batu ini bisa merayu juga rupanya.


"Hei... kenapa? Siapa yang datang? Apakah perusuh itu?" tanya Ken karena Lova melihat ke arah lain.


"Ah, bukan!" sahut Lova cepat. "Aku hanya... hanya melihat cicak yang bersembunyi di balik lemari," ucap Lova cepat. Ia bingung harus mencari alasan apa.


Ken mengerutkan kening. "Sejak kapan kamu bisa melihat cicak yang bersebunyi di lemari? Apakah lemarimu terbuat dari kaca? Hingga terlihat cicak di belakangnya."


"Bu-bukan! Bukan begitu, Ken. Cicak itu mengintip tadi."


"Cicak atau Alvin yang mengintip?" tanya Ken.


"Ah! Entahlah. Sulit sekali berdebat denganmu. Lagi pula mana mungkin adikmu itu bisa bersembunyi di belakang lemariku."


"Mendekat ke kamarku saja sudah bisa membuat telinganya merah!" Lova bersungut kesal.


Ken terlalu pandai bicara. Ia tak pernah kehabisan kata-kata untuk menjawab siapa saja lawan bicaranya.


"Hahaha..." Ken malah terbahak. "Bagus! Biasakanlah menarik telinganya meski kesalahan kecil yang ia perbuat."


"Pasti! Apalagi sekarang dia akan menjadi supir pribadiku selama sebulan."


"Oh, ya!" Ken menunjukkan ekspresi terkejut. "Bagaimana bisa?" tanyanya.


"Dia frustasi karena tidak menemukan pekerjaan yang tepat untuknya?" tanya Ken lagi.


Lova menggeleng. "Bukan!"


"Coba tebak!" pinta Lova sambil menahan senyum.


"Dia di suruh Mommy?" Lova menggeleng.


"Atau Bapak?" tanya Ken lagi. Dan Lova dengan cepat menggeleng.


"Dia menukar pekerjaan itu hanya untuk nomor ponsel Rosa."


"Apa? Hahahahahaha?" Ken tertawa keras. "Oh, God! Dia segil* itu?"


Lova terpaku melihat tawa Ken. Tawa itu begitu lepas. Tidak pernah Lova lihat sebelumnya.


Apakah selama ini dia menjaga image-nya?


"Padahal sudah ku sarankan untuk menjadi office Boy di lantai dimana ada ruangan CEO. Dia akan bisa berjumpa dengan Rosa setiap hari dan bisa membuatkan kopi untuk gadis itu."


"Tidak Ken! Aku tidak setuju!"


"Kenapa?" tanya Ken.


"Dia akan menghabiskan stok gula dan kopi di pantry. Karena setiap jam dia akan mengantarkan kopi ke meja kami terus terusan demi melihat wajah Rosa."


Keduanya kompak tertawa. Lova bahkan sampai menyeka air matanya.

__ADS_1


"Ah, ya. Bagaimana dengan acara makan malamnya?" tanya Lova. Sesampainya di sana, Ken istirahat sebentar dan dia langsung pergi ke acara makan malam yanf Thomas adakan di salah satu restoran ternama bersama beberapa rekan bisnis mereka.


"Lancar." jawabnya singkat.


"Lalu, apakah kamu akan terus disana, Ken?" tanya Lova.


"Sepertinya untuk beberapa bulan ke depan. Karena aku akan mengirim Thomas ke salah satu kantor cabang dua minggu lagi."


"Disana butuh dia, dan aku akan mengurus kantor pusat, Lov." Ken menatap wajah Lova.


"Kenapa, merindukanku, uhm?" tanya Ken percaya diri.


Lova tersenyum kecil. "Bukan begitu, apa salahnya jika aku bertanya."


"Tidak salah, wajar saja. Tapi yang pasti aku akan sangat merindukanmu," Ken mengakuinya.


Love tersenyum lebar. "Sejak kapan jadi perayu begini?"


Ken berfikir sejenak. "Aku belajar dari bapak."


"Ayah?" tanya Lova. "Bagaiman bisa? Ayah juga pria kaku sepertimu, Ken!"


"Hahaha. Jangan terlalu serius. Maksudku aku belajar dari beliau, untuk merayu klien pada awalnya."


"Dan sekarang ku praktekkan untuk merayu putrinya."


Lova tertawa kecil. "Dasar! Murid tak tahu diuntung."


Ken juga tertawa. "Seandainya kamu tahu, Lov!


"Apa?"


"Bapak sudah pernah memintaku untuk menjagamu!"


"Sejak sekolah, sejak kuliah, bahkan hingga kejadian kemarin."


"Ck! Bukan itu maksudku, Lov!" sergah Ken. "Maksudnya adalah menjaga dalam artian lain."


"Bapak memintaku menjagamu menggantikannya, menjadikanmu milikku karena beliau tidak tahu saat itu akan bertahan sampai kapan dari serangan Mariska."


Lova menatap wajah Ken dalam. Meski hanya dari layar ponselnya tapi ia merasa begitu dekat dengan pria itu. Lova sungguh tidak menduga ayahnya bahkan sudah memberi restu untuk Ken.


"Apa karena itu kamu menculikku, Ken?"


Ken tersenyum kecil. "Bukan!"


"Aku menculikkmu murni karena aku ingin menyelamatkanmu dari keserakahan Mariska dan dari kelicikan Tuan Hendrico."


"Sebanarnya semua tulus dari dalam hatiku. Tapi, disisi lain ada janjiku pada Mommy. Ada janjiku pada Bapak."


"Lalu, kamu menjawab apa pada ayah saat itu?" tanya Lova penasaran.


Ken terkekeh. "Aku..."


"Ken!" marah Lova karena Ken terus saja tertawa. Pria itu bahkan sampai menghapus air matanya.


"Kamu pasti akan mengejekku saat mendengar apa jawabanku saat itu, Lov!"


"Katakan! Aku ingin mendengarnya, Ken!" paksa Lova.


"Aku...." Ken sengaja menggantung kalimatnya.


"Aku apa Ken?"

__ADS_1


"Aku tidak mengatakan apapun. Aku malah menyuruhnya tidur, malam itu."


"Ck!" Decak Lova. "Dasar! Percuma aku menunggumu, Ken!"


"Hahahah... " Ken tertawa.


"Akan ku beri tahu satu hal lagi."


"Apa?" jawab Lova malas. Ia tidak ingin terjebak lagi dalam obrolan itu.


"Bapak pernah berhasil menebak, bahwa aku menyukaimu!"


Lova sedikit tertarik, tapi gengsi. Ia menatap layar ponsel dengan sedikit tidak bersemangat.


"Ingin dengar?" tanya Ken dan Lova mengangguk lemah.


"Aku pernah mengatakan pada Bapak bahwa aku tidak pantas menyukaimu. Bukankah terlihat bagai pungguk merindukan bulan?"


"Seorang bawahan mencintai atasannya. Ck! Bisa ku bayangkan betapa kurang ajarnya aku."


"Tidak ada yang aneh, Ken!" sahut Lova. "Tapi, sekarang keadaan malah berbalik Ken. Kamu jauh di atasku. Kamu lebih sukses dan..."


"Semua itu bukan karena aku, Lov. Ada Mommy dan Thomas."


"Tapi kan semua milikmu, Ken! Aku merasa...."


"Ussst!" Ken menempelkan telunjuk ke bibirnya sendiri.


"Bahkan jika kamu tidak punya apapun, aku akan tetap mencintaimu!" ucap Ken tulus.


"Aku melihat bagaimana dirimu begitu kuat dan tegar hidup dalam ketidaknyamanan, Lov."


"Bagaimana kamu tahu?" tanya Lova dengan mata memerah.


"Siapa yang akan nyaman hidup serumah dengan ibu tiri bermuka dua itu?"


"Aku minta maaf karena terlalu lama membawa Mommy kembali, Lov!


"Aku minta maaf karena memisahkan kamu dan Mommy."


"Jika bunda saja bisa sesabar itu menunggumu membuktikan semuanya, mana mungkin aku tidak memakluminya, Ken!"


"Aku berterima kasih karena kamu telah menjaga dan melindungi Bunda selama ini, Ken."


"Aku bahkan mengira kepergianmu karena kamu marah pada ku dan bunda."


"Karena aku merebutnya darimu, atau karena bunda lebih memilih disini bersamaku."


"Aku memang menyayanginya seperti mamaku sendiri, Lov."


"Tapi aku tahu, dia akan sangat bahagia jika bersamamu." Ken tampak menahan air matanya. Lova tahu pria itu menahan tangisnya.


"Tidurlah, dan mimpikan aku!" ucap Lova karena ia tidak sanggup meneruskan obrolan yang entah sudah merambat kemana-mana ini.


Ken tertawa kecil. "Tidakkah aku berdosa jika memimpikanmu?" tanyanya.


"Tidak!" jawab Lova cepat. "Asalkan selama disana matamu tidak melirik gadis lain."


"Hahahah... siap Nona posesif!"


"Baiklah Tuan Batu, kita akhiri panggilan video ini. Bye..."


"Bye... Tunggu aku kembali."

__ADS_1


"Pasti!"


__ADS_2