
Ken terus membawa Lova semakin jauh masuk ke dalam kawasan yang lumayan luas ini.
Lova melihat sekeliling, tempat yang tampak asri ini begitu nyaman. Ada berapa orang pria dan wanita lansia yang berkeliling dan berjalan-jalan di tempat ini. Ada yang duduk di kursi roda bersama perawatnya, ada pula yang sedang berkumpul sambil bercerita.
"Bangunan ini, dulunya adalah rumahku."
Lova langsung menatap wajah Ken. Matanya membulat tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Ini adalah rumahku yang entah bagaimana caranya bisa dimiliki orang lain." Ken menunduk. Mereka berhenti di sebuah pohon lumayan rindang dan duduk di bangku yang terletak dibawah pohon tersebut.
"Di tempat ini, aku dan Alvin di besarkan. Keluarga kami hidup bahagia sampai akhirnya kegila*an sahabat papa, - paman Juan menghancurkan semuanya."
"Hari terakhir aku berada di sini adalah sesaat sebelum mama membawaku dan Alvin bersembunyi di rumah kami di dekat hutan, dimana rumah itu malah menjadi saksi bagaimana sakitnya mama meregang nyawa di tangan paman Juan alias Tuan Hendrico." Ken mengemertakan giginya. Ia masih geram tiap kali mengingat momen itu.
Lova mengusap bahu Ken. Ia mengerti bagaimana perasaan pria itu saat ini.
"Beberapa tahun lalu, aku mendapati rumah ini akan dilelang di salah satu bank swasta. Dan aku berhasil membeli dengan harga tertinggi."
"Rumah ini sudah banyak berubah, tapi tidak mengapa. Bagiku kenangan itu akan tetap hidup meski rumah ini tak lagi sama."
"Aku sedih, aku menangis bahkan aku marah saat tiap kali aku kesini"
Ken menunjukkan pegangan tangannya di tangan Lova. "Untuk itu aku menggenggam tanganmu. Supaya aku sadar saat ini aku tidak akan lagi sendirian."
"Aku memilikimu, dan aku harusnya malu menangis dihadapanmu."
Lova bersandar di bahu Ken. "Menangislah, My Hero."
"Air mata itu tidak akan membuatmu rendah setelah perjuanganmu yang begitu besar untuk bangkit dan melawan semua trauma."
"Aku akan disini, bersamamu, menemani tawa dan tangismu."
"Terima kasih, sayang!"
Ken diam sejenak. Lalu ia kembali melanjutkan ceritanya.
"Saat rumah ini menjadi milikku, aku bingung akan menggunakan untuk apa."
"Aku tidak ingin bapak tahu tentang rumah ini, hingga aku tidak mungkin tinggal disini."
"Aku akhirnya membuka sebuah panti jompo. Dimana orang tua berkumpul dan di rawat di sini."
"Satu hal yang tidak bisa ku lakukan pada kedua orang tuaku."
"Merawat keduanya hingga tua dan menjaga mereka hingga hembusan nafas terakhir."
Ken berdiri, dan meminta Lova untuk mengikutinya. Mereka kembali berjalan dan akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang tidak pernah Lova bayangkan sebelumnya.
Dihadapan Lova, kini ada dua makam yang terawat dengan baik. Dikelilingi tanaman mawar putih yang tumbuh subur disekitarnya.
Ken dan Lova berjongkok di kaki kedua makam itu. Lova melihat batu nisan dengan nama yang lumayan asing baginya.
__ADS_1
Tapi nama Adam Aldric membuatnya mengerti satu hal. Ini luka yang Ken sayangi namun tidak ingin ia kunjungi.
"Pa, Ma apa kabar?" Ken menghapus air matanya.
"Putra kalian, Alkenzy Aldric datang untuk menemui kalian."
"Sudah berapa lama, Ma, Pa?" Ken tertawa hambar. "Jangan anggap aku sebagai anak durhaka karena aku tidak pernah berkunjung ke sini."
"Papa, Mama, lihatlah! Kali ini aku datang tidak sendirian, juga tidak bersama Alvin."
"Aku bersama calon menantu kalian."
"Dia cantikkan?" Lova tersenyum pada kedua nisan itu. Terasa aneh memang, tapi entah mengapa Lova tak ragu melakukannya.
"Namanya Alova Bratadikara."
"Aku mencintainya." Lova menatap Ken yang juga sedang menatapnya.
"Kami akan menikah 3 hari lagi."
"Aku datang untuk meminta restu dari kalian."
"Aku tahu, kalian pasti merestui setiap keputusanku."
"Berbahagialah kalian di surga. Aku dan Alvin sudah menemuka kebahagiaan kami di sini."
Ken berdiri dan meminta Lova untuk bergeser sedikit. Mereka akan menaburkan bunga dan air mawar keatas makam.
Dua hal yang sudah di sedikan pengurus panti setiap kali Ken akan datang.
"Ingin katakan sesuatu?" tanyanya pada Lova.
Gadis itu mengangguk dan ia duduk menghadap makam mamanya Ken.
"Hai ma..."
Lova tersenyum kecil. "Tidak mengapa kan jika aku memanggil mama?"
"Terima kasih sudah melahirkan pria sehebat Ken." Ken tersenyum kecil.
"Mama pasti bangga padanya. Dia pria hebat, Ma. Dia pria yang tetap bisa berdiri dengan kakinya meski keadaan bergitu sulit."
"Mama tau? Dia mengatakan bahwa dirinya tampan."
"Apa dia seperti papa saat muda dulu, Ma?" Lova tertawa kecil namun tak urung ia juga menyeka air matanya.
"Dia baik, dia pelindung, dia bertanggung jawab, dia segalanya bagiku, ma."
"Tanpa ku sadari, sejak dulu aku bergantung padanya meski atas perintah ayahku."
"Dia rela mengorbankan hidupnya hanya untuk bundaku."
__ADS_1
"Dia rela mengorbankan karier dan kekayaan hanya demi bisa bersamaku."
"Kalian beruntung menghadirkannya ke dunia ini dan aku beruntung memilikinya."
"Aku berjanji akan terus bersamanya, menemani hidupnya yang sepi, dan akan ku beri dia keturunan yang banyak." Lova tertawa pelan.
"Aku akan membalas semua pengorbanannya untukku, aku akan membuat dunianya kembali indah."
"Ma, Pa."
"Bahagialah disana."
Ken dan Lova meninggalkan dua makam itu. Mereka berkeliling panti dan menemui pengurusnya. Tidak ada kendala apapun, semua berjalan lancar hingga Ken tidak perlu berlama-lama ditempat itu.
"Kenapa hanya diam?" tanya Ken saat Lova lebih banyak diam di dalam mobil saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Tidak. Aku hanya lapar!" Lova tertawa dan Ken menepuk keningnya.
Jam pergelangan tangannya menunjukkan waktu makan siang yang sudah hampir terlewat.
"Maafkan aku, Lov!"
"Aku sampai lupa mengajakmu makan siang."
"Aku lupa, bahwa hanya diriku saja yang merasa kenyang tiap kali melihat wajahmu!"
Lova terbahak. "Apa wajahku ini mirip seporsi nasi goreng atau mungkin burger, Ken?"
Ken tertawa. "Entahlah, asal bersamamu saja aku sudah bahagia. Jangankan rasa sakit, rasa lapar pun tidak lagi terasa."
Lova kembali tertawa. "Berhentilah mengatakan rayuan tidak masuk akal itu, Ken!"
"Aku tidak akan kenyang mendengar bualanmu itu!"
"Lagi pula, yang ada bukan kebahagiaan, tapi asam lambungmu yang naik!"
"Ck! Aku lupa jika dihadapanku sekarang adalah gadis yang realistis!" ucap Ken membuat Lova menipiskan bibirnya.
"Dan aku heran, sejak kapan manusia batu ini pintar merayu?" Lova mencubit pipi Ken.
"Kamu yang dulunya sangat kaku kini justru bertingkah lucu dan diluar ekspektasiku sebelumnya."
"Semua orang bisa berubah sayang. Dan cinta yang mengubah semuanya."
Lova mengangguk. "Tapi yang terjadi padamu terlalu drastis, Ken!"
"Hem, anggap saja Ken sudah terlahir kembali."
"Semua dendam, kebencian, tujuan untuk menjatuhkan dan menghancurkan hidup orang lain sudah lepas dari tubuh ini."
"Sudah tidak ada lagi dalam fikiran ini."
__ADS_1
"Yang tersisa hanya Ken yang sedang berusaha mengejar kebahagiaannya, membahagiakan gadisnya dan menikmati hidupnya," ucap Ken dengan senyum mengembang.
"Terima kasih sudah bersamaku, Lov!"