
Mauren membuka pintu ruangan serba putih di depannya. Ia melihat angka 22 sesuai petunjuk yang Aland berikan.
Setelah mendapatkan kabar dari Aland setengah jam yang lalu. Ia langsung datang ke rumah sakit yang pria itu maksud. Fikirannya sudah berkecamuk memikirkan hal buruk yang mungkin terjadi pada adiknya.
Meskipun Aland mengatakan bahwa Mauza baik-baik saja dan tak perlu khawatir, tapi ia tetap saja tidak bisa tenang.
Ia perlahan masuk ke dalam dan seorang gadis langsung menatapnya. Mauren berjalan lebih cepat dan langsung memeluk Mauza.
"Apa yang terjadi?" tanya Mauren. "Siapa yang melakukan ini, Za?"
"Brandal-brand*al di rumah itu tidak melakukan hal buruk padamu, kan?" Mauren melerai pelukannya dan menatap wajah adiknya itu dalam-dalam. Mauren menangkup pipi adiknya dengan kedua telapak tangannya.
"Sudah kakak bilang, biar kakak yang menggantikan posisimu." Mauren terus saja bicara tanpa memberi kesempatan untuk Mauza menjawab.
"Kak, dengarkan aku sebentar," Mauza tertawa sambil memegang lengan Mauren.
Mauren menatap adiknya yang masih bisa tersenyum meski kepalanya masih dibalut perban dengan bercak merah di sekitar kening.
"Aku baik-baik saja kak. Aku hanya jatuh dari tangga."
"Jatuh dari tangga? Bagaimana bisa?" tanya Mauren terkejut.
"Namanya saja kecelakaan kak, bisa terjadi kapan saja dan dimana saja." Mauza tertawa kecil. "Jangan khawatit berlebihan. Kakak lihat sendirikan, aku baik-baik saja."
Mauren mengangguk dan mengusap kepalanya. "Cepat sembuh, Za."
"Jangan sakit-sakit begini. Kakak tidak bisa selalu menjagamu."
"Ah, ya? Bagaimana kakak bisa tahu kalau aku ada di sini?" tanya Mauza.
"Kakak menghubungi tuan Aland? Aku tadi berusaha menghubungi kakak menggunakan ponselnya, tapi tidak terhubung."
Mauren menggeleng. "Ponsel kakak sedang kehabisan baterai dan mati."
"Tak lama setelah kakak mengaktifkannya, Kak Lova menghubungi kakak dan Tuan Aland berbicara langsung pada kakak kalau kamu berada di sini."
"Sepertinya, Tuan Aland yang meminta kak Lova untuk menghubungiku," jelas Mauren.
Mauza mengerutkan kening. Mengapa dia sampai melakukan itu? Ah, mungkin karena kebetulan Tuan Aland sedang berada di kantor kak Lova. Batinnya.
"Mungkin saja kak, mereka kan memang punya kerja sama, kan?" tanya Mauza kemudian. Mauren mengangguk mengiyakan.
"Za, bagaimana dengan Tuan Aland? Dia tidak melampiaskan kemarahannya padamu kan?"
Mauza mengerutkan keningnya. "Maksud kakak?"
Mauren berfikir bagaimana cara mengatakannya pada Mauza. "Ehm, begini... Orang tuanya kan sedang dalam proses hukum. Perusahaannya terancam bangkrut dan nama baiknya bahkan sudah runtuh. Pemberitaan ini sudah sampai ke luar negeri, karena karir dan perusahaan Tuan Hendrico tidak hanya di negara ini saja."
Mauza masih fokus mendengarkan. "Dia pasti marah dan kecewa. Dia malu dan... Apa dia melampiaskan semua itu padamu?"
Mauza menggeleng tapi tak lama mengangguk membuat Mauren membulatkan matanya.
"Dia tidak marah padaku ataupun semuanya. Dia malah membebaskanku, kak?"
Mauren terkejut mendengar apa yang Mauza katakan. "Dia... Dia membebaskanmu?" Mauza mengangguk.
"Dia membebaskanmu dari hutang itu?" tanyanya untuk kedua kalinya. Sulit dipercaya oleh Mauren.
Mauza kembali mengangguk. "Ya kak. Dia bahkan memperbolehkanku pulang dengan kakak setelah keluar dari rumah sakit ini."
Mauren berdiri dari kursinya. "Kamu tidak bohong, Za?"
"Tidak, kak!"
"Ayo! Bersiaplah!"
Mauza kebingungan karena Mauren menyibak selimutnya dan memegang kedua tangannya. Padahal satu tangannya masih terdapat jarum infus. "Mau kemana kak?" Mauza menahan sakit karena tangannya dia pegang oleh gadis itu.
"Kita pergi dari sini sebelum pria itu berubah fikiran," jawab Mauren.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan dia pergi!" Mauren terkesiap saat mendengar suara Aland.
Ia menatap kearah pintu dan Aland sudah masuk sambil membawa beberapa box makanan.
"Tu-tuan!" ucap Mauren tergagap.
"Duduklah!" perintah Aland kepada gadis yang sedang berdiri dengan wajah memucat itu.
"Ba-baik!" Mauren kembali duduk di kursinya dan saat ia melihat Aland menatap selimut Mauza yang berantakan, ia segera menapihkannya dengan cepat.
"Ini makanan untuk kalian." Aland meletakkan barang yang ia bawa keatas meja di dekat sofa.
"Kamu," ucap Aland sambil menatap Mauren. "Temani dia disini sampai sembuh."
"Sebentar lagi dokter akan melakukan CT scan terhadapnya."
"Tapi, saya baik-baik saja Tuan." potong Mauza karena ia tidak merasa pusing berlebihan ataupun mengalami patah tulang dibagian tubuhnya.
"Jangan ajari seorang dokter!" Ucap Aland dingin. "Dokter lebih tahu apa yang harus ia lakukan."
"Jangan pergi sebelum dokter mengizinkannya pulang, atau aku akan mengejar kalian ke lubang buaya sekalipun!" Ancam Aland berhasil mebuat keduanya bergidik ngeri.
Aland segera keluar dari ruangan Mauza dan tak lama seorang suster masuk lalu membawa Mauza untuk diperiksa lebih lanjut.
Ternyata Aland tidak meninggalkan rumah sakit ini. Ia justru sedang bersama dokter yang akan melakukan CT scan pada Mauza.
"Hasilnya bagus. Tidak ada kondisi yang serius."
"Tidak ada retak ataupun patah tulang, tidak ada pembekuan darah."
"Pasien bisa pulang besok."
Aland hanya diam dan mendengarkan penjelasan dari dokter. Sementara Mauren memicing curiga melihat pria yang terkenal galak dan kejam bisa terlihat tenang begitu.
Dia Aland anaknya tuan Hendrico kan? Mengapa dia bisa jadi seperti ini? Dia memang tidak menerbitkan senyum, tapi ku tahu dia dengan sabar mendengar semua penjelasan dokter.
Ini tidak mungkin? Dia punya maksud apa sebenarnya? Mauren berperang dengan fikirannya sendiri.
Lalu, dia tidak membiarkan kak Lova menebus Mauza. Sekarang dia membebaskannya dengan cuma-cuma padahal dia jatuh miskin.
Oh, God. Jangan-jangan dia jatuh cinta pada adikku? Mauren menatap Aland dan Mauza bergantian.
Mauza menolak saat ku minta bertukar posisi. Apa jangan-jangan gadis kecil ini juga menyukai Aland?
Mauren menggeleng pelan. Oh Tuhan, Za. Dia lebih pantas menjadi pamanmu!
***
"Ken menyukaimu!" Bisikan Alvin di telinga Lova membuat gadis itu menoleh pada pria yang baru saja datang dan duduk di sampingnya itu.
Lova sedang duduk di pinggir kolam renang, memasukkan kakinya hingga ke lutut. Ia masih memikirkan apa yang akan terjadi jika tidak ada Ken di sampingnya.
Ia baru menyadari begitu besarnya peranan Ken selama ini. Selama masih menjadi asisten Brata, Ken kerap kali membantunya dalam segala hal. Sebut saja saat ia terkena tilang, mobilnya mogok atau saat ia butuh jemputan setelah pulang kuliah atau hang out bersama teman-temannya.
"Jangan mengarang cerita!" Lova mencebikkan bibirnya.
"Hahahah... Aku tidak bohong, Kak!" Alvin tertawa.
"Dia tidak pernah mengatakan apapun padaku, Vin," sanggah Lova.
"Tidak pernah bukan berati tidak kan, Kak?" tanya pria itu.
Lova mengangkat bahunya. "Entahlah. Jika dia menyayangiku, ataupun Mommy, dia pasti tidak akan memutuskan kembali ke negara itu."
"Apa mungkin dia marah, Vin. Karena bunda memutuskan untuk tetap disini?"
"Atau mungkin dia marah padaku karena dia takut bunda tidak adil membagi kasih sayangnya pada ku dan dia?"
"Hahahah..." tawa Alvin pecah. "Dia bukan bocah berusia 5 tahun lagi, kak? Dia pria dewasa yang tidak akan mungkin cemburu hanya karena kasih sayang Mommy yang terbagi."
__ADS_1
"Jauh saat sebelum bertemu kakak lagi, Mommy selalu menceritakan bagaimana sayangnya beliau padamu. Jadi, ku rasa tidak mungkin dia cemburu kak. Jika memang ia, susah pasti dia cemburu dari dulu, Kak."
"Lalu..." tanya Lova.
Alvin menatapnya dan wajahnya berubah serius. "Aku ingin bertanya padamu, Kak?"
"Bagaimana perasaanmu padanya?"
Lova terdiam. Satu pertanyaan yang cukup mengejutkannya. Bagaimana perasaanku padanya? Aku? Apa yang ku rasakan terhadapnya? Aku...
"Aku..."
Lova menggeleng. "Aku tidak tahu, Vin" ia menunduk sambil menggerak-gerakan kakinya di dalam air.
"Aku..."
"Cinta?" potong Alvin. "Atau sayang?"
Lova menggeleng pelan. Jujur, ia sendiri tidak tahu apa yang ia rasakan. Ia merasa nyaman sekaligus berdebar. Ia merasa Ken adalah sesuatu yang penting dalam hidupnya hingga ia tidak rela jika Ken kembali ke negara itu.
"Entahlah."
Alvin menghela nafas. "Sesulit itu untuk menilai perasaanmu sendiri, kak?"
"Sepenting itu Ken bagimu hingga terlalu sulit untuk menilai sedalam apa perasaanmu." Alvin tertawa tanpa suara.
"Apakah hanya sekedar rekan kerja, bawahan, teman, sahabat, saudara atau belahan jiwamu."
Lova tertawa. "Semuanya benar kecuali yang terakhir, Vin."
Alvin ikut tertawa. "Ingin tahu alasan mengapa Ken pergi?"
Lova mengangguk. "Pertama, ia tidak tahu bagaiamana perasaanmu padanya, kak!"
"Dia tidak pernah bertanya," potong Lova.
"Ya, karena jika kakak tidak memiliki perasaan apapun, ia tidak yakin hubungan kalian akan masih bisa seperti ini."
"Ia takut kakak menjauh."
"Dia mengatakannya padamu?" tanya Lova.
Alvin menggeleng dan tertawa. "Itu tebakanku!"
"Dasar!" Lova mendorong bahunya sambil tertawa kecil.
"Kedua, ia takut tidak bisa meraihmu jika dia menjadi kakak bagimu. Dia ingin pergi menjadi orang lain dan akan kembali suatu saat nanti sebagai seorang pria."
"Bukan kakak bagimu ataupun putra bagi Mommy Anna."
Lova belum mengerti. Lalu Alvin berusaha kembali menjelaskan padanya.
"Begini, Kak."
"Ken akan memikirkan semua hal matang-matang. Ia hanya merasa tidak pantas jika ia menjadi kakak tapi menikahi adiknya."
Ken ingin menikahiku?
"Kenapa melotot begitu?" tanya Alvin. "Pasti karena kata menikah, ya?" Alvin tertawa.
"Jadi apa lagi, kak? Bukankah menikah menjadi harapan bagi setiap manusia yang mencinta?"
"Vin..."
Alvin berdiri. "Jika kakak ingin dia tetap disini, cobalah berbicara padanya."
"Aku yakin, dia akan tetap tinggal jika kakak yang meminta." Alvin meninggalkan Lova sendirian.
Dia ingin menikahiku? Sejauh itu?
__ADS_1
Ken, apa yang sebenarnya ku rasakan padamu?
Masa iya aku harus mengakui perasaanku di depanmu? Sementara kamu tidak mengatakan apapun padaku.