
Pertemuan dengan keluarga Hendrico.
Sepasang suami istri yang masih terlihat muda ada di hadapan Lova saat ini. Tampilan mewah dengan barang branded membuatnya yakin, mereka memang kaya raya.
Cincin berlian limited edition yang hanya ada 3 unit di dunia melingkar cantik di jemari si wanita serta kalung berlian yang harganya bisa setara dengan satu buah pulau pribadi menggantung indah di leher putihnya.
Dan lihat si pria, jam tangan mewah keluaran terbaru dengan harga fantastis membuat Lova hanya bisa menggeleng pelan. Keduanya benar-benar menunjukkan kekayaan mereka.
Lova datang bersama Mariska dan langsung diarahkan ke restoran mewah di sebuah hotel berbintang.
Sebuah ruang VVIP dengan penjagaan ketat menjadi bukti betapa berharganya keselamatan kedua orang tersebut.
Mariska tak hentinya melebarkan senyum melihat Lova yang bersedia menemui keluarga kaya raya itu.
Ia bahkan tak peduli kala Mauren menceritakan kondisi perusahaan yang hampir bangkrut karena ulah keluarga itu.
Ia hanya berucap. "Perusahaan itu akan diwariskan pada Lova. Jadi, sukses atau bangkrut sekalipun, bukan menjadi urusan kita!"
"Selamat datang, Nona Alova Bratadikara." Pria seusia ayahnya menyapa Lova.
Lova menunduk hormat. "Ya, terima kasih atas sambutannya, Tuan." Lova mengembangkan senyum. "Terima kasih juga sudah meluangkan waktu berharga anda untuk saya." Tuan Hendrico mengangguk sopan.
"Apa kabar nyonya Bratadikara?" Istri Hendrico bertanya pada Mariska.
"Saya dalam keadaan baik, Nyonya Hendrico, seperti yang anda lihat," jawab Mariska ramah.
"Saya mendengar kabar bahwa ayah kamu sedang sakit? Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya Tuan Hendrico padanya.
Lova melirik Mariska. Pasti nenek sihir ini yang menceritakan pada keluarga ini kalau ayah sedang sakit.
Ia tersenyum tak kalah ramah. "Sudah mulai membaik, Tuan. Ayah sedang menjalani pengobatan dan keadaannya terus membaik."
Mariska tersenyum sinis. Tidak mungkin. Berbohonglah terus. Si jompo itu juga masih belum menunjukkan perkembangan apapun.
"Bagaimana keadaan perusahaan kamu?" Tanya Nyonya Hendrico.
"Baik Nyonya."
"Masih sangat baik." Jawabnya berusaha tegar.
Mariska lagi-lagi tersenyum mengejek. Pertahankanlah warisanmu yang akan rata dengan tanah itu.
"Oh, ya Nyonya Brata, dimanakah kedua putrimu, mereka tidak ikut?"
Sopan sekali caramu bicara Nyonya. Tapi mengapa perbuatan kalian begitu keji? Batin Lova.
"Ah... Mauren sedang berkencan dengan pacarnya. Dan Mauza sedang belajar dengan kelompoknya." Jawab Mariska seramah mungkin.
Ponsel Mariska berdering. "Maaf saya jawab panggilan ini dulu, Tuan, Nyonya. Sepertinya sangat penting."
Mariska menempelkan ponsel barunya ke telinganya. Ia diam sebentar lalu kemudian mengangguk.
"Ya, sayang! Mama akan segera pulang!" Nadanya seperti sedang panik.
"Maaf Tuan, Nyonya."
__ADS_1
"Saya sepertinya harus segera pergi, karena tiba-tiba penyakit maag Mauza kambuh."
"Kalian silahkan lanjutkan saja makan malamnya."
"Lova, mama pulang dulu sayang!" Mariska mencium pipi kanan dan kiri gadis itu.
Kenapa semua sedang bermain drama?
Mariska keluar dari ruangan itu. Kini tinggallah mereka bertiga. Suasana sangat canggung. Terlebih bagi Lova yang masih menunggu Tuan Hendrico membuka pembicaraan mengenai lamaran itu.
Ketiganya makan dalam diam. Selesai menyantap hidangan yang tersedia diatas meja, Lova menyeka bibirnya dan menunggu sepasang suami istri di depannya selesai.
"Sebelumnya, saya minta maaf sudah meminta waktu berharga kalian."
"Saat ini saya hanya ingin bertanya mengenai lamaran. Apa benar putra kalian ingin menjadikanku sebagai istrinya?"
Gadis yang pemberani. Dia begitu to the poin dan tanpa ragu sedikitpun bertanya padaku. Batin Tuan Hendrico.
"Ya... Mama kamu pasti sudah memberi tahu, bukan?" jawab Tuan Hendrico.
"Lalu, apakah kamu bersedia, Nona Lova." Tuan Hendrico membakar ujung rok*oknya.
Lova tersenyum miring. "Kalian sudah tahu saya menolak, lalu kalian tarik klien serta investor di perusahaan saya. Untuk apa lagi bertanya?"
"Untuk menghina, atau memberi penawaran ulang?" Lova menatap keduanya tanpa rasa takut.
"Heem!" Lova tersenyum hambar. "Sebenarnya, cara itu terlalu licik untuk Pengusaha sekelas anda." Lova mengejek kedua orang di depannya.
Tuan Hendrico menghembuskan asap ke udara. "Perlu anda ketahui, kami selalu mendapatkan apa yang kami inginkan."
Lova tertawa hambar. Ia menaikan sebelah alisnya. "Apa yang ku dapat jika aku menjadi menantu di keluarga kalian?" pancing Lova. Ia melipat kedua tangannya di dada.
Tuan Hendrico terbahak. "Apa yang kamu inginkan? Majunya perusahaan Bratadikara? Rumah? Perhiasan? Perusahaan baru? Villa? Atau pulau pribadi? Kamu bisa memiliki semuanya."
Lova memasang ekspresi datar.
"Ternyata kamu sama saja dengan gadis lain!" Hina Tuan Hendrico dengan ekspresi merendahkan.
Lova masih menatap keduanya. Kali ini ia tersenyum tipis dan menaikkan sedikit dagunya.
"Masih kurang?" tanya Nyonya Hendrico.
Lova menarik satu sudut bibirnya. Ia tersenyum miring. "Sangat cukup." Ucapnya yakin.
"Tapi sayangnya, harga diriku tak terbeli dengan semua itu."
Lova menunjukkan penolakan, karena Ken sudah memberi tahunya melalui pesan beberapa menit lalu, bahwa ada perusahaan besar yang akan membantu mereka menangani masalah perusahaan Setidaknya ia tidak perlu menerima lamaran itu.
Tuan Hendrico dan Istrinya tertawa. "Besar sekali nyalimu, Nona!" Nyonya Hendrico menatapnya sinis. "Berani menolak putra keluarga Hendrico."
"Seribu gadis sepertimu, akan bertekuk lutut dihadapan putraku."
Lova tertawa hambar. "Lalu?"
"Suruh saja putramu itu menikah dengan seribu gadis yang bertekuk lutut dihadapannya."
__ADS_1
"Untuk apa memaksaku dengan menghancurkan perusahaan ayahku."
"Cara kalian terlalu kekanakan!" Lova tertawa kecil dan menggeleng.
"Saya permisi dulu. Selamat malam, Tuan, Nyonya!" Lova meninggalkan ruangan itu. Tuan Hendrico melepaskannya begitu saja. Ia ingin melihat bagaimana gadis itu bertahan dengan kondisi sulit yang terus menghimpitnya.
"Dia gadis yang tangguh. Putraku memang tidak pernah salah menilai wanita," ucap Nyonya Hendrico setelah kepergian Lova.
"Tapi ketangguhannya akan membuat Bratadikara rata dengan tanah."
Nyonya Hendrico tersenyum mengejek suaminya. "Kita lihat saja, apakah gadis itu akan bertahan dengan keputusannya atau menyerah karena keadaan yang Tuan Hendrico ini ciptakan."
"Dia pasti akan menyerah."
"Aku berani bertaruh, dia akan sulit dikalahkan!"
***
Lova keluar dari hotel dan berjalan menuju mobilnya. Tapi seseorang menabrak tubuhnya. Membuatnya kehilangan keseimbangan dan berakhir jatuh dalam dekapan pria itu.
Lova segera berdiri dan meminta maaf. "Maaf, Pak. Saya buru-buru," ucap Lova menunduk.
Ia bisa melihat pria bertubuh ideal dengan setelan kemeja dan celana bahan sedang berdiri di depannya.
"Lain kali berhati-hatilah." Suara bariton yang menurutnya sangat enak didengar. Tapi sayang, Lova tidak punya waktu untuk mengagumi fisik dan suaranya. Yang terpenting ia harus segera sampai ke rumah dengan selamat.
Lova sadar ia tengah mematik api di kayu kering bernama Hendrico. Ia harus lebih berhati-hati karena si licik itu bisa saja mengikuti dan mencelakainya.
"Lain kali berhati-hatilah, karena biasanya gadis yang sudah jatuh dalam pelukanku, akan berakhir di ranjangku!"
Lova menghentikan langkah, ia berbalik dan kembali menatap pria tampan itu. Lova bisa melihat dengan jelas, pria itu juga sedang menatapnya.
"Nona Alova Bratadikara!" Pria itu tersenyum licik.
Lova mengerutkan kening. Ia berusaha mengingat siapa pria yang mengenalnya itu.
Siapa dia? Aku belum pernah melihat wajahnya? Dan dia mengenalku? Apakah teman sekolah? Teman kuliah? Atau teman masa kecilku.
Pria itu maju dan mendekati Lova. Keduanya saling berhadapan. Lova sampai menengadahkan kepalanya karena tinggi mereka selisih lebih dari 10 cm.
Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Lova dan menariknya mendekat. Tangannya sampai menempel didada pria itu untuk menghalangi agar dadanya tidak menyentuh tubuh pria tampan dihadapannya.
Kurang ajar sekali dia? Selain sok kenal, ternyata dia sok akrab juga. batin Lova.
Lova menggerakkan badannya berusaha melepaskan diri. Namun, dekapan pria itu terlalu keras. Ia tidak bisa berderak sedikitpun.
Wajah pria itu mendekat dengan wajahnya. Lova membuang muka, ia tidak ingin sembarang pria menciumnya.
Namun, sepertinya buka itu tujuan pria dihadapannya. Pria itu tertawa kecil.
"Jangan takut, sayang!"
Lova mendelik, saat pria itu memanggilnya sayang.
"Aku calon suamimu, Aland Hendrico." bisik pria itu dengan suara nan se*xy yang mampu membuat bulu halus dilehernya meremang.
__ADS_1
****