ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 36 Tertarik?


__ADS_3

Sebuah panggilan masuk di ponsel Ken membuat siempunya melihat layar persegi itu. Nama Thomas ada di sana.


"Hallo, Thom?" sapa Ken pertama kali.


"Ken, ada satu perusahaan menawarkan kerja sama." sahut Thomas tanpa basa-basi. Pria itu tidak menanyakan kabar atau bahkan membalas sapaannya.


"Ya, lalu? Apa masalahnya, Thom?" tanyanya jengah.


"Bukankah kamu biasa mengurus hal itu?" tanya Ken heran karena semua urusan perusahaan sudah Thomas yang mengatur.


Tidak biasanya Thomas menghubunginya untuk urusan perusahaan. Apalagi ini hanya soal perusahaan baru yang meminta kerja sama.


"Hendrico Grup," jawab Thomas cepat. "Kamu tidak tertarik?" tanya Thomas.


Ken menghela nafas. "Tidak! Aku tidak bisa meninggalkan negara ini hanya untuk mengurus hal itu, Thom!" jawab Ken cepat.


"Hahahah... Aku tidak memintamu pulang." Tawa Thomas menggelegar. "Aku tau hatimu masih tertawan di rumah besar Bratadikara! Hahaha." Thomas kembali tertawa.


"Pelankan suaramu!" Geram Ken karena Lova terus memperhatikannya. Padahal suara Thomas sama sekali tidak terdengar oleh Lova.


"Hahaha... dasar pria gil* cinta."


"Tho... mas!" Ken menekankan suaranya.


"Hahaha... bagaimana Ken? Sudah siap mencintai adik sendiri. Oh God itu berkat atau kutukan, Ken?" Thomad semakin terbahak di ujung telpon.


"Baiklah Thomas! Sepertinya kamu ingin aku menembak si Tom!"


"Atau bagaimana jika ku kuliti saja," ucap Ken dingin.


"Hahahah... Ku rasa tidak perlu, Ken! Di masih ingin masuk ke sana dan ke sini! Jadi, jangan sakiti dia. Si pemb*wa kenikm*tan dalam hidup. Hahahah." Tanpa berdosa Thomas terus tertawa menolak Ken yang akan menguliti sesuatu paling berharga miliknya.


"Jadi, bagaimana?" tanya Thomas. "Ingin bermain?"


"Aku akan jadi pemain terbaikmu, Ken! Siapa tahu kita bisa mengintip bisnis haramnya!"


Ken berfikir sejenak. "Akan ku fikirkan nanti, Thom."


"Jangan lama-lama atau aku akan main sendiri!" ancam Thomas yang hanya candaan.


"Jangan macam-macam atau besok pagi si Tom tidak akan bisa bangun lagi," balasnya tak kalah sadis.


Ken mengakhiri panggilan itu. Ia sejenak memikirkan apa yang Thomas katakan ada benarnya. Kita akan lebih mudah menyerang musuh jika kita dekat dengannya.


Tapi, berurusan dengan Tuan Hendrico bukanlah hal mudah. Kelicikan dan kekuasaannya sewaktu-waktu bisa menyebabkan kekacauan bagi perusahaan yang Thomas pimpin.


"Siapa, Ken?" tanya Lova yang saat ini sudah berada di depannya.


"Thomas!" Jawabnya jujur. "Hendrico Group menawarkan kerja sama dengan perusahaan Thomas."


"Oh ya?" Lova tampak terkejut.


"Segitu ingin tahunya," gumam Lova.

__ADS_1


"Maksud anda?" tanya Ken.


Lova menatap Ken lekat-lekat. "Dia penasaran, perusahaan mana yang membantu perusahaanku saat hampir bangkrut karena ulahnya."


"Simple sekali Ken! Dia ingin menghancurkan perusahaan Thomas."


"Untuk apa?"


"Tentu untuk membalas karena telah mengusik kesenangannya!" Lova tersenyum licik.


"Kamu lupa, Aland ada disini? Karena apa? Tentu karena untuk mencari tahu informasi sekecil apapun." Dugaan Lova tentu tidak salah. Meskipun Aland ada di perusahaan itu hanya ingin mencari informasi mengenai dirinya.


"Jangan salah langkah Ken, aku sudah terlanjur terlibat dengan Aland. Dan menurutku sebaiknya menghindari urusan sekecil apapun dengan mereka." Lova tulus menasehati.


Aland yang hanya seorang arsitek yang kebetulan desainnya menjadi proyek yang ditangani perusahaannya saja sudah membuat repot apalagi jika sampai kerja langsung dengan perusahaan mereka.


"Itulah yang sedang ku fikirkan. Sudah pasti dia akan tahu ada aku dan Mommy di belakang Thomas."


"Nah, jangan membahayakan bunda lagi, Ken! Ku mohon!"


Tapi aku masih punya urusan dengan Tuan Hendrico, Lov. Batin Ken.


"Kamu sendiri yang bilang, nasib ribuan orang menjadi tanggung jawab kita. Ribuan karyawan bisa saja kehilangan pekerjaan, Ken!"


Lova benar, aku tidak mungkin mengorbankan mereka yang telah mengabdi pada perusahaan hanya untuk urusan dendam pribadiku. Aku tidak boleh menjadi pengecut dengan bersembunyi dibalik punggung mereka.


"Anda benar!" jawab Ken setuju.


Malam ini, Ken dan Lova sengaja membuat janji temu dengan Tuan Hendrico terkait status Mauza yang masih menjadi jaminan atas uang 10 Milyar yang telah Mariska habiskan.


Ken dan Lova masuk ke sebuah restoran mewah dimana mereka telah mengundang Tuan Hendrico untuk datang kesana.


Lova dan Ken dikawal oleh empat orang berbadan besar. Keempat-empatnya sudah pasti menguasai ilmu bela diri dan memiliki kemampuan menemb*k.


"Tidak ada racun dalam makanan kita, kan Ken?" bisik Lova saat keduanya menuju ruang VVIP.


"Dia tidak akan sebod*h Mariska, membun*h target langsung dihadapannya." balas Ken.


"Jadi, makan apapun yang kamu ingin."


Tentu, Tuan Hendrico tidak mungkin membiarkan tangannya kotor sebab melakukan kejahatan disaat ia sudah punya nama besar seperti saat ini.


Membun*h Ken dan Lova tepat di depannya dan di tempat umum akan menjadi pemberitaan paling menghebohkan. Hal itu tentu akan dihindari olehnya.


Ken dan Lova menunggu hampir 15 menit. Dan pria dengan sepuluh mengawal itu masuk ke dalam ruangan, dimana seluruh hidangan sudah tersedia.


Tuan Hendrico duduk di sebuah kursi tepat di depan Lova dan Ken. "Ada apa kalian mengundangku?" tanya Tuan Hendrico.


"Hanya untuk makan malam dan berbicara mengenai hal yang sangat penting."


Tuan Hendrico menaruh kecurigaan pada keduanya. "Maaf, aku tidak bisa makan karena waktuku sangat terbatas."


"Terima kasih atas waktu yang terbuang ini, Tuan!" ucap Lova.

__ADS_1


"Saya ingin bertemu dengan anda, dengan tujuan meminta agar Mauza dikembalikan kepada kami selaku keluarganya," pinta Lova sopan.


Tuan Hendrico tersenyum sinis. "Lunasi saja hutang ibunya. Maka semua urusan akan selesai."


Lova menghela nafas. "Bukankah itu urusan anda dengan Mariska? Mengapa harus mengorbankan Mauza?"


"Ibunya sudah menandatangani surat perjanjian!" jawan Tuan Hendrico.


"Saya bisa saja melaporkan anda pada pihak berwajib terkait hal ini!" ancam Lova.


"Atas tuduhan apa?" tanya Tuan Hendrico. "Aku tidak menyakitinya, aku hanya mempekerjakan dirinya hingga hutangnya lunas."


"Tapi itu bisa menghabiskan seluruh hidupnya!" sambar Lova tak sabaran.


"Hahahah... Itu bukan urusanku!" jawab Tuan Hendrico enteng.


Lova diam sejenak. Jika ku serahkan uang itu, akankah dia menepati janjinya?


"Kapan dan dimana kita bisa saling bertukar, Tuan?" tanya Ken. Yang Tuan Hendrico inginkan hanyalah uangnya kembali. Ken tau, baginya Mauza bukanlah hal penting.


Ken juga tahu, Mauza tidak sepenuhnya salah, sama seperti Mauren. Mereka hanya korban hasutan Mariska.


"Sediakan saja uangnya."


"Aku tahu perusahan kalian tidak punya uang sebanyak itu!" hina Tuan Hendrico.


Huh! Apa perlu ku hubungi Thomas untuk mengirim data tentang semua aset dan kekayaanku agar bisa ku bungkam mulutnya yang busuk ini! Batin Ken kesal.


"Tentukan saja waktunya Tuan!" perintah Ken.


"Akan ku kabari nanti!" Tuan Hendrico berdiri dari duduknya.


"Aku harus segera pergi!" Tuan Hendrico meninggalkan ruangan itu.


Lova menatap kepergiannya. Tangannya mengepal dan memukul meja. "Sombong sekali dia!"


"Pantas saja putranya begitu, ternyata ayahnya juga lebih menyebalkan." lanjut Lova. Padahal ia pernah bertemu dengan Tuan Hendrico tapi entah mengapa kali ini ia hampir tidak bisa menahan emosinya.


"Dia hanya ingin uangnya!" sahut Ken.


"Dia kaya, Ken. Uang segitu tidak ada artinya bagi dirinya," sahut Lova.


"Tapi berarti bagi kita, Lova!" tegas Ken. "Tujuannya hanya satu. Menyusahkan pihak musuh!"


"Dia senang melihat kesulitan orang lain," sahut Ken.


Bagi Ken, Mauza ditangan tuan Hendrico atau bebas, tidak ada untungnya. Toh, Mauza dan Mauren sama-sama mengetahui kejahatan Mariska dan mereka mendukung.


Tapi, perintah Brata tidak akan bisa ia tolak. Dan menurutnya, apa yang Brata rencanakan cukup masuk akal. Karena setelah semua kasus selesai, Brata tidak akan membiarkan Mauren dan Mauza tinggal di rumah itu lagi.


Brata ingin memberikan rumah untuk keduanya agar hidup mandiri. Ia hanya akan membantu sedikit untuk tambahan biaya makan mereka.


Ia tidak ingin, Mauren sendirian hingga ia berupaya membebaskan Mauza agar keduanya saling menguatkan. Lagi pula, Brata menganggap Mauza hanya korban dari keserakahan Mariska.

__ADS_1


__ADS_2