ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 73 Marry Me


__ADS_3

Alvin dan Ken keluar dari kamar bersamaan. Mereka masih mentertawakan perkataan terakhir Ken, yaitu diceraikan.


Alana dan Brata memicing curiga pada dua pria dewasa yang entah sedang mentertawakan apa. Sepasang suami istri itu sedang menunggu mereka di meja makan. Lova perlahan juga tampak turun dari lantai dua.


"Kalian sedang akur?" tanya Alana sambil melebarkan senyum.


Alvin dan Ken saling tatap lalu mengangguk. Dan saat Lova duduk di dekat Alana, Alvin kembali tidak bisa menahan tawanya. Ia bahkan sampai mengatupkan bibirnya rapat-rapat.


Entahlah, mendengar kata diceraikan yang Ken ucapkan tadi seperti sebuah jokes tak terlupa. Bagaimana jika benar-benar terjadi, kakak laki-lakinya itu diceraikan hanya karena bulan madu receh, bahkan disaat pernikahan mereka masih tergolong baru.


Ia tak bisa membayangkan penantian Ken selama bertahun-tahun harus pupus hanya dalam waktu singkat.


"Vin? Apa yang lucu?" tanya Alana.


"Tidak ada, Mom!" jawab Alvin cepat.


Selesai makan malam, mereka berkumpul di ruang keluarga. Alana dan Brata duduk berdampingan di sofa. Lova duduk di sofa yang lain sementara Ken dan Alvin memilih duduk di karpet tepatnya di dekat kaki Alana.


Alvin memberi kode pada Ken untuk bicara pada Brata dan Alana karena mereka sudah mencapai sebuah kesepakatan. Tapi, Ken bingung harus memulai dari mana.


"Pak..." Ken berbalik menatap Brata dan Alana.


"Ya..."


"Aku ingin menikahi Lova dalam waktu dekat. Mungkin sekitar tiga atau empat bulan lagi."


Lova menatap tajam pada pria itu. Ia melihat Ken berucap begitu serius kepada Ayahnya.


Dia ingin menikahiku, tapi tidak melamarku secara khusus. Dia tidak berlutut di depanku, tidak mengatakan menikalah denganku atau kata romantis lainnya. Dia malah langsung mengatakan pada ayah? Beginikah jika akan dinikahi pria kaku seperti batu? Batin Lova.


"Aku akan membawa Alvin ke Australia dan akan mengajarinya dalam waktu 4 bulan."


"Jika bapak tidak keberatan, kita akan cari tanggal yang tepat dan dalam waktu beberapa hari yang tersisa ini akan ku persiapakan semuanya, Pak!"


"Mulai dari gedung sampai konsep pernikahan."


Brata dan Alana saling tatap. Mereka senang karena akhirnya Ken menemukan solusi dari masalah yang sempat membuat pria itu dan putri mereka berdebat.


Keduanya juga menatap Alvin yang sudah membantu dalam menyelesaikan masalah ini.


"Baiklah, Ken. Kami akan memikirkan semua ini lebih dahulu. Kami akan memilih tanggal yang tepat untuk pernikahan kalian nanti."


Setelah Brata dan Ken selesai bicara, Lova meminta Ken untuk bicara berdua saja.


Keduanya berjalan ke halaman belakang. Lova menyempatkan diri mengambil minuman dingin dari lemari es.


Mereka duduk berdampingan. "Mau membicarakan tentang apa, Lov?" tanya Ken pada gadis di sampingnya.


Lova menatap Ken. "Tidakkah kamu melupakan sesuatu, Ken?" tanya Lova.


Ken mengerutkan keningnya. "Apa, Lov?" Ken malah bertanya pada gadis itu. "Aku sepertinya tidak melupakan apapun."


Lova menghela nafas. Masa iya, ia harus mengatakan pada Ken bahwa pria itu belum melamarnya secara langsung. Belum berlutut dihadapannya dan Ck! Lova tidak mungkin mengatakannya, seolah ia banyak menuntut pria itu.

__ADS_1


*Ku rasa ini resikonya jika berhubungan dengan Ken. Satu dari banyak pria kaku di dunia ini. Harusnya aku menyadari dari awal bahwa pria ini tidak mungkin bersikap romantis.


Sudahlah, tidak ada gunanya aku mengatakannya pada Ken. Semua masalah sudah beres dan aku tidak ingin membuat masalah baru dengan menuntutnya melamarku secara khusus.


Dia berani mengatakan pada ayah dan bunda saja sudah cukup bagiku. Itu tandanya ia serius dan benar-benar ingin hidup bersamaku*.


"Hei... Lov...!" Ken mengguncang bahu Lova yang sedang melamun.


"Ah, ya..." Lova terkesiap. Ia tersentak dam menatap Ken yang juga sedang menatapnya.


Ken tersenyum kecil. Ia menyelipkan rambut Lova kebelakang telinga gadis itu. "Ada apa?"


"Masih adakah yang mengganjal dihatimu?" tanya Ken dengan suara lembut.


"Apa kamu tidak siap menikah denganku dalam waktu dekat?" tanyanya lagi.


"Masalah sudah selesai, Lov. Aku akan disini terus setelah menikah nanti."


"Entah itu memimpin perusahaan bapak atau mendirikan kantor cabang, hal itu masih ku pertimbangkan."


"Atau ada sesuatu yang kamu inginkan?"


Lova terpaku melihat Ken yang memperlakukannya selembut itu.


"Aku..." Ia menunduk. Entahlah, jantungnya berdebar hebat. Manik mata itu membuatnya melemah.


"Tidak ada... Aku hanya ingin..." Lova berfikir sejenak, untuk mencari alasan lain.


"Katakan apa yang kamu inginkan!"


"Konsep pernikahan, gaun pengantin, atau cincin..."


Ken tersentak dalam hatinya. Ia menyadari sesuatu setelah mengatakan kata cincin.


*Cincin? Oh God! Aku belum berlutut di depannya, mengatakan will you marry me dan memasangkan cincin indah dijemarinya.


Dam*n it*!


Ken melihat Lova yang menatapnya dalam. Ken tahu gadis itu sedang mencoba memahami ekspresi Ken yang tampak sedang kebingungan sekaligus merasa bersalah.


Ken melihat sekeliling dan dalam sekejap ia menemukan sebuah ide saat matanya menangkap rerumputan di sekitar taman.


"Tunggu sebentar!" pintanya pada Lova. Lova hanya bisa menatap Ken yang tiba-tiba berlari kearah taman belakang. Entah apa yang akan pria itu lakukan. Tapi Lova menurut saja.


Ken melihat kebawah dan mencabut rumput yang lumayan tinggi. "Ini memalukan, tapi setidaknya aku sudah berusaha." gumamnya pelan.


Lova melihat Ken kembali dan langsung berlutut di depannya. Lova mengerutkan kening, terheran atas apa yang pria itu lakukan.


"Lova..."


Ken menatap dalam mata indah itu. Ia tersenyum geli sebentar karena menyadari kesalahannya di detik-detik terakhir.


"Lov..." Ken meraih tangan gadis itu dan menggenggamnya erat. Meletakkan genggaman itu dilutut Lova.

__ADS_1


"Aku tahu ini mungkin terlambat."


"Aku tahu ini konyol dan aku tahu kamu akan tertawa puas malam nanti."


"Terserahlah! Yang pasti, si bodoh ini baru menyadarinya beberapa detik lalu."


Lova tidak ingin menyela setiap ucapan yang Ken keluarkan dari bibirnya.


"Lov, marry me!" Ken menunjukkan sebuah benda yang membuat kening Lova berkerut.


Sebuah benda berbetuk lingkarang kecil yang terbuat dari rumput.


"Anggaplah ini cincin untuk melamarmu!" Lova meng*ulum senyum. Ia tak menyangka Ken akan sekonyol ini.


Jika biasanya pria kaya dan berkuasa bisa menghubungi asisten atau orang suruhannya untuk membeli cincin dalam waktu sepuluh sampai lima belas menit, maka berbeda dengan Ken yang malah memilih membuatnya dari rerumputan.


"Tertawalah!" Ken tertawa kecil. "Aku tahu ini bodo*h! Tapi ini tulus dari hatiku."


"Aku sungguh ingin bersamamu, Lov."


"Dulu aku hanya bisa memimpikan ini. Dan selama enam bulan kemarin, mimpi itu begitu dekat dan aku optimis bisa ku gapai dengan mudah."


"Tapi kemarin, rasanya semua harapan, impian dan keinginanku pupus begitu saja."


"Dan Alvin datang..."


"Baru kali ini, aku merasa dia berguna," ken terkekeh.


"Aku tidak ingin dia berubah fikiran lagi dan aku meminta Bapak untuk mencari tanggal terbaik bahkan dihadapanmu."


"Tapi lucunya, aku lupa bertanya padamu. Siapkah kamu menikah denganku."


"Dan kali ini, aku akan bertanya tulus dari dalam hatiku, Lov."


"Will you marry me, Lov?"


Lova meneteskan air mata, tersenyum kecil dan mengangguk. "Yes, i will!"


"Thank you!" Ken memakaikan cincin rumput itu di jari manis Lova. Ia berdiri dan memeluk gadis itu erat.


"Terima kasih sudah menerimaku dengan segala kekurangan dalam diriku, Lov."


"Terima kasih untuk segala perjuanganmu untukku, Ken! Love you so much!"


Mereka berpelukan cukup lama. Ken mengecup kening Lova sekilas. Lalu duduk di samping gadis itu.


Ken meraih tangan Lova dan meletakkan telapak tangan kecil itu diatas telapak tangan besarnya. Tampak cincin rumput yang terlihat seperti sampah itu.


"Simpan ini, dan aku akan menggantinya esok sebelum rumput ini mengering."


Lova tersenyum. "Ku rasa aku akan menyimpannya, dan kelak akan ku tunjukkan pada keturunanmu."


"Dan sambil berkata, ini adalah cincin pertama dari papamu!"

__ADS_1


__ADS_2