ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 66 Supir Pribadi


__ADS_3

Aland membuka pintu sebuah apartemen mewah menggunakan access card yang ada di tangannya. Ia membawa Mauza dan Mauren masuk ke dalam.


Lumayan luas menurut mereka. Ada dua kamar, satu kamar mandi, dapur dan ruang tamu dimana ada tv besar menempel di dindingnya. Dominasi cat warna abu muda membuat tempat ini terasa nyaman.


"Ini salah satu apartemenku. Kalian bisa tinggal di sini. Letaknya strategis, dekat dengan area perkantoran dan pusat perbelanjaan," ucap Aland pada keduanya.


"Disini ada dua kamar. Silahkan pakai keduanya atau salah satunya."


"Ini ada dua access card." Aland meletakkan dua kartu yang bentuk dan ukurannya seperti ATM di atas punggung sofa.


"Kalian pegang keduanya."


"Nanti, jika aku ingin datang, aku akan meminta kalian menjemputku ke bawah."


Apartemen ini memang sangat aman. Bahkan untuk naik lift harus menggunakan kartu akses. Tidak sembarang orang bisa masuk. Jadi, bagi tamu yang ingin menemui teman atau saudara harus meminta penghuninya untuk turun kebawah menjemput mereka.


"Tapi, Tuan! Ini milik anda. Anda bisa membawa satu cardnya. Kami cukup menggunakan satu saja," ucap Mauza. Bagaimana mungkin ia membiarkan aland kesulitan untuk masuk ke unitnya sendiri.


"Iya, Tuan!" sambung Mauren. "Mauza akan lebih banyak di rumah. Sebenarnya ia sudah lulus sekolah. Ia sudah selesai dengan semua ujian akhirnya."


"Hanya saja kami belum tahu, apakah dia dinyatakan lulus atau tidak."


"Rencananya besok kami akan ke sekolah dan mencari informasi mengenai itu."


"Karena ponsel Mauza ada di rumah ayah. Dan sudah tidak aktif lagi semenjak dia bekerja di rumah anda, Tuan. Jadi, dia tidak mendapat kabar apapun mengenai sekolahnya." Mauren menjelaskan pada Aland.


Aland mengangguk. "Ah, ya. Kalian duduklah." perintahnya. Ia sampai lupa hingga membiarkan Mauza berdiri cukup lama.


"Silahkan berberes. Aku akan meminta asisten rumah tangga untuk membawa semua pakaianmu ke sini," ucap Aland sambil menatap Mauza.


Mauza mengangguk pelan. "Terima kasih, Tuan."


Aland pergi dengan membawa satu kartu akses dan membiarkan kedua gadis itu tinggal di salah satu unit miliknya.


"Ini tidak berlebihan, Za?" tanya Mauren dengan memegang bahu adiknya yang sudah ia dudukkan di sofa.


"Kamu tidak curiga sedikitpun padanya?" tanya Mauren lagi. "Dia melepaskanmu tapi mengurungmu di apartemennya."


"Ini tidak masuk akal, Za!" Mauren berdiri dan memegangi keningnya yang berdenyut. Baginya ini sangat di luar nalar dan gadis itu mulai menaruh curiga karena Aland menempatkan mereka di apartemen dengan tingkat keamanan yang tinggi.


"Kak... Aku juga tidak tahu, tapi sepertinya di tulus."


Mauren menatap adiknya penuh telisik. "Ya ampun, Za! Mengapa kamu terlalu polos?" ucap Mauren penuh penekanan.


"Bagaimana jika kita berdua di kurung disini dan dia mengirimkan pria hidung belang dan meminta kita untuk melayani mereka?"


Sebenarnya ini yang Mauren takutkan. Di jelas pernah melihat bagaimana kekejaman Aland terhadap mamanya. Menghajar tanpa ampun meski pada wanita yang usianya lebih tua darinya.


"Kak, dia sepertinya orang baik, Kak! Dia sepertinya sudah berubah." Bela Mauza karena dia pernah melihat kebaikan Aland yaitu saat pria itu menyelamatkannya dari dua pria yang menjebaknya malam itu.


"Za...!" Mauren duduk disamping adiknya. membalikkan tubuh Mauza agar menghadap padanya. "Dengar, Za! Tidak ada orang yang berubah sikapnya tiga ratus enam puluh derajat dalam waktu singkat!"

__ADS_1


"Kak..." Mauza masih membela Aland.


"Jangan katakan kamu mencintainya!" Tuduh Mauren tanpa basa-basi.


Mauza mengerutkan keningnya. Lalu gadis itu tertawa. "Kakak bicara apa, kak? Bagaimana mungkin kakak mengatakan hal yang tidak masuk akal begitu?"


"Lalu, berarti dia yang jatuh cinta padamu!"


Mauza semakin tertawa keras. "Hahahah! Bisakah kakak jangan membuat lelucon begini! Dia menyukai kak Lova. Mana mungkin tiba-tiba dia jadi mencintaiku!"


"Hahahah... Lagi pula aku cuma gadis ingusan dimatanya, Kak!" Mauza terus tertawa sampai perutnya terasa sakit.


Putus cinta sepertinya membuatnya begitu frustasi hingga semua kebaikan Tuan Aland disalah artikan. Batin Mauza.


Mauren berdiri dan menghentakkan kakinya. "Sulit sekali membuatmu mengerti, Za."


"Buka matamu lebar-lebar!" Mauren berjalan kearah dapur dan meneguk minuman dingin dari dalam lemari es.


"Uhuuuk!" Dia terbatuk saat sudah meneguk beberapa kali.


"Pelan-pelan, kak!" tegur Mauza.


"Za! Berapa lama apartemen ini kosong?" tanya Mauren.


Mauza menggeleng dan mengangkat bahunya. "Mana aku tahu kak! Aku juga baru datang bersama kakak!" jawabnya.


"Lemari es ini isinya lumayan banyak, Za! Apa selama ini dia tinggal disini?"


"Lalu, kapan dia mengisi semua-"


"Aku ingat!" potong Mauza. "Kemarin, sebelum masuk rumah sakit, dia memang mengatakan akan pergi meninggalkan rumah."


"Mungkinkah tempat ini yang menjadi tujuannya, kak?"


"Dan dia sudah membeli semua bahan pangan yang ia butuhkan."


Mauren mengangguk lemah. "Mungkin saja." Kepalanya sudah terlanjur pusing menebak-nebak tujuan Aland membawa mereka ke sini. Hingga ia hanya bisa mengiyakan dugaan adiknya itu.


***


Sepanjang perjalanan, Lova hanya bisa termenung memikirkan tujuan Aland dan keputusan kedua gadis yang menjadi saudara tirinya.


"Ken bahkan belum mendarat. Tapi sepertinya rindumu sudah berat, kak!"


Lova melirik tajam pada pria bernama Alvin yang setuju dalam sepersekian detik untuk menjadi supir pribadinya hanya demi nomor ponsel Rosa. Padahal pria itu bisa mendapatkannya di beberapa berkas di meja kerja di kamarnya.


"Diam dan lakukan saja tugasmu!" perintah Lova.


Alvin terbahak. "Ternyata bekerja dengan kakak sendiri lebih menderita."


"Sama saja dengan Ken!" lanjutnya dengan suara pelan.

__ADS_1


"Aku dan dia berbeda, Vin!"


"Ya... ya... ya... kalian berbeda. Antara sebelas dan dua belas."


"Tidak ada angka lain di antara sebelas dan dua belas, Vin!" jawab Lova.


"Ya, dan itu artinya kalian hanya berbeda sedikiiiiiiiit saja." Pria itu membuat jarak satu milimeter dengan ibu jari dan telunjuknya menandakan kata sedikit.


Lova berdecak kesal. "Aku sedang memikirkan tujuan Aland dan kedua gadis itu. Mengapa mereka menolak tawaranku."


Alvin diam sejenak. "Ah! Aku tau!" ucapnya tiba-tiba membuat Lova terkejut dan langsung menatapnya.


"Jangan-jangan mereka berdua bekerja sama untuk menyerangmu, Kak! Untuk membalas dendam padamu."


Lova memutar bola matanya. "Bisakah sedikit saja memikirkannya dulu sebelum kamu mengucapkannya, Vin!"


"Membalas dendam untuk apa?"


"Ya karena kedua orang tua mereka dipenjara karenamu dan Ken." jawab Alvin.


Lova berfikir sejenak. "Jika memang iya, harusnya mereka ikut denganku, Vin. Supaya lebih mudah memata-mataiku dan menyerangku dari jarak dekat."


"Tapi rencana mereka dengan mudah akan kakak ketahui jika mereka berada dekat denganmu."


Apa yang Alvin katakan ada benarnya. Apa ini sebabnya Aland membebaskan Mauza? Apa aland memberi syarat dengan menawarkan kerja sama untuk melawanku?


"Ck!" decak Lova. Ia berusaha membuang fikiran itu jauh-jauh. Ia melihat bagaimana Mauren dan Mauza menatap segan padanya. Ia juga melihat ketulusan mereka saat meminta maaf.


"Sudahlah! Aku baru saja merasa tenang dan bahagia, tapi sekarang harus pusing dan ketakutan lagi."


"Semoga saja mereka tidak punya niat apapun."


"Tenanglah, Kak! Aku akan menjadi supir pribadi sekaligus bodyguard yang bisa kakak andalkan." ucap Alvin percaya diri.


Lova mengul*m senyum melihat wajah pria dengan tingkat kepercayaan diri diatas rata-rata itu.


"Jangan sombong! Lupa saat bagaimana mudahnya kamu tertangkap kemarin?" Lova menahan tawa.


"Kamu bahkan menurut saja saat dijemput dibandara. Hahahah."


"Dan bod*hnya tidak bisa membedakan mana orang suruhan Ken dan mana orang suruhan musuh." Lova masih mentertawakan Alvin.


"Ck! Aku mana tahu kak!" Alvin bersungut kesal.


"Sudahlah! Lain kali lebih berhati-hati."


"Oh, ya... jangan katakan pada Ken tentang alasanku menjadi supir kakak, ya." pinta Alvin membuat kening Lova berkerut.


"Atau dia akan mengejekku habis-habisan."


Lova mengangguk. Tapi dalam hatinya ia sedang tertawa.

__ADS_1


Hahaha... Mana mungkin aku tidak menceritakan ini pada Ken. Seorang Alvin rela menjadi supirku hanya untuk nomor ponsel seorang gadis yang beberapa tahun lebih tua darinya.


__ADS_2