ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 27 Luka


__ADS_3

Ken keluar dari ruangan rahasia dan muncul dari halaman belakang. Rupanya tamu tak diundangnya sudah sampai disana. Tujuh orang yang masuk, hanya tersisa 5 orang saja.


Ken berdiri tepat di depan tiga orang yang mengarahkan senjata ke arahnya. Ia bisa memastikan ketiganya bukan orang sembarangan. Mereka pastilah merupakan penembak jitu yang dikerahkan musuh.


Huruf H? Ken menyeringai. Harusnya kamu kirim semua orang-orangmu itu Hendrico. Supaya saat mereka semua tiada aku akan lebih mudah membidik jantungmu!


Ketiga pria di depannya saling memberi kode. Ken bisa membaca gerakan mereka yang akan melepaskan temba*kan. Ken segera melompat sambil melepaskan satu tembakan dan bersembunyi di balik vas besar. Ia kembali membidik dengan dua senjata di kedua tangannya.


Sekali tembakan, satu tewas dan keduanya masih bisa bangun. Sial, mereka pakai rompi anti peluru!


Sebuah tembakan menyambar lututnya. Ken merasakan perih namun sepertinya peluru tidak bersarang disana.


Ken membidik kaki dan kepala di masing-masing pria itu. Satu tembakan berhasil melumpuhkan salah satunya. Dan bidikan di kepala meleset.


Ken terpaksa berlari mencari tempat lain karena vas batu di depannya sudah hancur berkeping akibat tembakan musuh.


Ken membidik tangan satu-satunya musuh yang tersisa. Berhasil! Ken membuat senjatanya lepas. Dan ia berhasil melumpuhkan dengan dua peluru kearah kaki kanan dan kiri pria itu.


Ken mendengar ada keramaian dari arah depan. Ternyata Alvin sudah membereskan sisanya.


Alvin mengarahkan senjata di kepala pria yang sudah tergeletak tak berdaya dibawah kakinya.


"Biarkan agar tetap hidup, Vin! Kita butuh mereka!"


"Hanya menambah biaya perawatan, Ken!" balas Alvin sangar. Melihat logo berupa huruf H di jaket pria itu membuat darahnya mendidih.


"Permainanmu terlalu lambat. Kita sampai diserang lebih dulu!" marah Alvin padanya.


"Ini diluar kendaliku! Entah dari mana mereka tahu tempat ini!"


Pria dikaki Alvin meregang nyawa saat sebuah peluru dilepaskan tepat mengenai kepala pria itu. Alvin meniup ujung pist*l yang ada di tangannya. Gayanya bak pemeran utama yang berhasil mengalahkan musuh dalam sebuah film action.


Ken membuang muka melihat kekejaman Alvin. "Sudahlah. Aku harus memeriksa kondisi Mommy dan Lova!"


Ken segera lari kedalam dan meninggalkan Alvin yang belum puas bermain. Alvin memerintahkan orang-orangnya untuk mengamankan mereka. Alvin dan orang-orangnya tak menyisakan satupun musuh. Semuanya mereka buat meregang nyawa karena sebentar lagi pihak keamanan komplek akan datang bahkan mungkin membawa polisi.


Alvin hanya ingin melindungi Ken dari tuduhan penculikan. Jika salah satunya buka mulut, maka semuanya akan berantakan.


Ken berlari menuju ruang bawah tanah. Ia masuk dengan sedikit pincang akibat luka di lututnya.


"Ken!" gumam Lova. Ia langsung berdiri saat pintu diketuk dari luar. Ia menebak orang itu adalah Ken.


"Mommy..." suara dari luar membuat Lova dan Mommy Anna menghela nafas lega.

__ADS_1


Mommy Anna membuka pintu dan menemukan wajah lelah putranya. "Ken! Are you okay?"


"Yes, Mom!" Ken masuk dan langsung duduk di sofa. Ia mencari gunting di nakas yang letaknya di samping sofa dan menggunting celananya yang mulai basah akibat rembesan darah.


Lova duduk di dekatnya. "Ken! Apa semua sudah aman?"


Ken menatap wajah Lova yang terlihat khawatir. Ken mengangguk pelan. "Alvin datang membawa bantuan tepat waktu."


"Syukurlah!" Lova menghela nafas lega.


Mommy Anna datang dengan membawa air bersih dan handuk kecil serta kotak obat.


"Kreek!" Ken menarik celana jeansnya. Ia dapat melihat kulit di bagian atas lututnya terbuka, bahkan sampai terlihat bagian dagingnya.


"Ssst!" Lova mendesis sambil membuang muka. Ia merasa tidak kuasa melihat luka itu.


"Kita ke dokter, Ken!" ucap Lova cepat.


"Tidak perlu! Kita tidak bisa keluar dari rumah ini, karena diluar sana masih belum aman." jawab Ken yang membiarkan Mommynya membersihkan luka itu.


Mommy Anna membersihkan luka Ken dengan telaten dan berhati-hati. Wanita itu merasa dejavu. Dulu ia pernah melakukan hal ini pada Ken saat pertama kali menemukan pria yang masih remaja itu terluka parah.


Mommy Anna meneteskan air mata. *Sekian tahun berlalu, Ken. Rasa sakit itu masih sama, Nak. Mommy melihatmu menderita, mommy melihatmu kehilangan senyum dan tawa. Dan Tuhan masih menghendaki kita untuk terus bersama hingga kini.


"Bibi, anda kenapa?" tanya Lova yang melihat Mommy Anna meneteskan air mata.


Ken menatap wanita yang duduk berlutut membersihkan lukanya. Ken langsung memeluk wanita itu. Ia tahu kesedihan itu pasti tengah menyelimuti mommynya. Penyerangan, perkelahian, darah, luka, meregang nyawa, masih menjadi trauma tersendiri bagi Mommy Anna.


"It's okay, Mom!" Ken mengusap punggungnya. "Menangislah, ku yakin luka itu masih terasa."


"Bersabarlah sedikit lagi."


Mommy Anna mengangguk sementara Lova sedikit kebingungan melihat apa yang ada di depan matanya.


*Sebenarnya ada apa ini? Mengapa Bibi Anna terlihat begitu sedih?


Apa ini kali pertama Ken datang dengan tubuh terluka ataukah ini yang kesekian kalinya*?


"Ken..." panggil Lova. "Ayah..." ucapnya ragu, karena dalam keadaan seperti ini ia malah membebani Ken dengan menanyakan keadaan ayahnya.


"Bagaimana dengan ayah?"


Tanpa melepas pelukannya, Ken tersenyum kecil. "Bapak baik-baik saja."

__ADS_1


"Penjagaan di ruangan cukup ketat, dan mereka tidak mungkin menyerang ke rumah sakit."


"Mereka siapa, Ken?" tanya Lova yang tidak mengetahui siapa yang telah menyerang rumah ini.


"Orang-orangnya Hendrico!" jawaban Ken membuat Lova membulatkan mata.


"Mereka sudah mengetahui keberadaanku?" tanya Lova.


Ken mengangkat bahunya. "Entahlah, yang pasti dia sudah mengetahui tempat persembunyian kita. Ini berarti, rumah ini sudah tidak aman lagi."


"Besok malam, pulanglah ke rumah!" perintah Ken.


"Ken!" Mommy Anna terkejut atas keputusan Ken.


"Apa tidak berbahaya?" tanya Mommy Anna. "Lagi pula waktunya masih 2 hari lagi."


"Aku sudah tidak tahan lagi, Mom! Ini pasti ulah Mariska. Beberapa hari ini dia selalu mengikuti mobilku dan sepertinya kali ini aku kecolongan!" ucap Ken.


"Aku tidak bisa terus-terusan membahayakan kalian." lanjutnya.


"Lalu, apa yang akan ku katakan pada media dan orang-orang, Ken?" tanya Lova. Berita beredar dia diculik. Lalu apa yang terjadi jika ia tiba-tiba pulang sendiri.


"Katakan kamu diculik!" jawab Ken singkat.


"Dan katakan kamu bisa melarikan diri dan bersembunyi di hutan!"


"Katakan kamu tersesat dan baru bisa menemukan jalan keluar setelah beberapa hari."


"Aku akan membayar orangku untuk mengantarmu, seolah kamu memang tersesat."


"Ken, tidakkah berbahaya? Apa alasan itu masuk akal, Ken?" tanya Mommynya.


"Mommy, tenanglah. Karena besok akan ada kejadian paling menghebohkan yang akan mengalihkan pemberitaan media tentang hal itu."


Lova masih belum mengerti.


"Termasuk balas dendammu?" tanya Mommy Anna.


"Mariska dan Hendrico beda kelas, Mom. Membalas Hendrico tidak akan semudah membalikkan telapak tangan."


"Yang terpenting, aku akan membereskan Mariska lebih dulu."


***

__ADS_1


Gak sabar pengen bongkar kejahatan Mariska 😂


__ADS_2