
"Brengs*k!!!" Mak* Tuan Hendrico pada Aland dan Mariska. Pria yang tengah duduk di meja kerjanya mendadak menggebrak meja dengan sangat keras.
"Kalian terlalu bod*h! Mengirim orang-orangku hanya untuk masuk ke rumah itu!" Bentakan Tuan Hendrico membuat Aland dan Mariska tersentak kaget.
Kabar kekalahan dan tew*snya orang-orang Tuan Hendrico langsung terdengar sampai ke telinga pria itu. Ia jelas marah besar karena Aland menggunakan orang-orangnya untuk hal tidak penting seperti ini.
"Kamu tahu Aland! Kesalahan kamu ini bisa membuat citra kita menjadi buruk!" Tuan Hendrico berdiri dari kursinya. Ia melihat dua orang yang duduk diseberang mejanya dengan wajah ketakutan.
"Jaket dengan identitas kita yang mereka pakai bisa membuat polisi bertanya-tanya!"
"Untuk apa orang-orangku menyerang rumah itu!" Bentak Tuan Hendrico. Ia berjalan disekitar kursinya dengan melipat tangan di dada.
"Menuduh pemilik rumah melakukan penculikan?"
"Petunjuk dan bukti apa yang kalian punya?" Ia memegang sandaran kursinya. Kursi dengan roda di bawahnya itu bergerak seiring dorongan dan tarikan tangannya.
"Terutama kamu!" tunjuk Tuan Hendrico pada Mariska. "Terlalu berani, menyerang tanpa strategi!"
"Tapi Tuan! Saya melihat sendiri banyak penjaga di dalam sana!" jawab Mariska.
"Saya yakin, Lova disembunyikan disana!" lanjutnya.
"Braaak!" Tuan Hendrico menendang kursinya hingga membentur meja.
Mariska sampai tersentak kaget. Jam yang menunjukkan lewat tengah malam itu nyatanya tak membuat mata Mariska mengantuk. Ia bahkan kehilangan rasa kantuk itu semenjak panggilan Tuan Hendrico masuk ke ponsel Aland sejam lalu.
"Jadi, kamu juga akan menuduhku menculik gadis itu hanya dengan melihat penjagaan ketat di rumahku!" Bentak Tuan Hendrico yang tak habis fikir dengan cara berfikir Mariska.
"Pakai ot*kmu Nyonya!" Ia menunjuk kepalanya sendiri. "Hanya karena waktumu hampir habis, kamu menjadi tidak sabaran begini!"
"Tidak bisakah kalian mengirim satu penyusup untuk masuk ke dalam dan mencari tahu?"
"Tidak bisakah kalian pakai orang lain selain orang-orangku?"
Tuan Hendrico beralih pada putranya. "Mengapa kamu memberi perintah pada orang-orang kita, apalagi ini tim H!"
"Tidak bisakah kamu perintahkan kepada mereka yang tidak memakai identitas kita?"
"Maaf Daddy, saat aku membutuhkan, hanya mereka yang berada di posisi paling dekat dengan lokasi!"
Tuan Hendrico membuang muka. "Mengapa kamu jadi ikut-ikuan bod*h Aland?" geram pria itu saat mendengar jawaban putranya.
"Kalian tidak mabuk, kan?" tanyanya.
"Kalian mengirim 7 orang, ke markas musuh. Sementara kalian tidak tahu di dalam sana ada berapa banyak orang!"
"Kalian tidak tahu ada apa saja didalam sana!"
__ADS_1
"Lain kali, berfikirlah dulu sebelum bertindak!" Tuan Hendrico menatap tajam putranya. Aland hanya diam dan mengangguk.
Selama ini, Aland selalu mendapatkan apa yang ia mau dari orang tuanya. Ia hanya melakukan apa yang ia senangi. Termasuk menjadi arsitek. Ia suka pekerjaan itu.
Menurutnya, uang orang tuanya tidak akan habis meski ia tidak bekerja selalipun. Jadi, ia membebaskan dirinya dengan kesenangan itu tanpa terbebani status pewaris tunggal Hendrico.
Pria itu tidak pernah peduli dengan bisnis Daddynyaa. Baik yang legal maupun ilegal. Aland juga tidak pernah mengetahui bahwa Tim H hanya akan bekerja untuk pekerjaan legal, bukan untuk kejahatan seperti ini.
Bukan hal sulit untuk Tuan Hendrico mengurus masalah ini. Ia bisa memberikan banyak alasan mengenai tujuan penyerangan itu jika pihak berwajib memanggilnya.
Ia hanya tidak ingin Aland bertindak gegabah. Ia tidak ingin Aland menghancurkan topeng yang bertahun-tahun ia pakai. Mengembangkan bisnis halal untuk menutupi bisnis haramnya.
"Sekarang! Daddy tidak peduli kamu akan menikah atau tidak!"
Aland menatap Daddynya. "Dengan gadis itu atau bukan!" lanjut Tuan Hendrico.
"Dan kamu!" tunjuknya pada Mariska. "Kembalikan semua uang yang sudah ku berikan!"
"Perjanjian kita batal!"
"Dan jika kamu tidak bisa mengembalikan uang itu. Maka sisa hidup kedua putrimu menjadi milikku!" Ancam Tuan Hendrico.
Astaga! Uang itu sudah hampir habis. Harus ku cari kemana uang sebanyak itu? Si tua ini taunya hanya mengancamku saja!
***
"Ayo!" Sebelum subuh, Ken membawa Lova dan Mommynya ke tempat lain yang jauh lebih aman. Mereka mengendarai mobil lain agar tidak ada yang mengenali.
"Sore nanti ada yang akan menjemputmu!" Ucap Ken saat mereka baru saja tiba dan masuk di sebuah rumah besar.
"Untuk apa, Ken?" tanya Lova.
"Tentu untuk pulang!"
"Tapi..."
"Aku akan segera melengkapi bukti kejahatan Mariska." Ken mengalihkan pembicaraan.
"Aku pergi dulu!" Pamit Ken pada Lova dan Mommynya. Ia memag tengah terburu-buru hingga tidak bisa lebih lama berada disana.
"Ken...!" Wanita paruhbaya itu menatap Ken dengan mata berkaca. Pengorbananmu luar biasa, Ken! Maafkan Mommy yang selalu merepotkanmu.
Ken memeluk wanita itu. "Sebentar lagi, Mom. Mommy akan bisa kembali memeluknya!" bisik Ken tanpa bisa di dengar oleh Lova.
"Terima kasih banyak, Ken!"
"Ini masih belum cukup untuk membalas kebaikan Mommy." Ken mengusap punggung Mommy Anna.
__ADS_1
"Aku pergi dulu, Mom! Tetap hati-hati dan tunggu kabar dariku!"
Ken keluar dari rumah itu. Ia segera melajukan mobilnya ke markas besar miliknya. Disana ada banyak orang yang ia tawan. Disana lebih mirip penjara bawah tanah.
Ken masuk ke dalam salah satu ruangan dimana terdapat satu orang pria bertubuh kurus kering yang sudah menempati penjara itu selama beberapa minggu terakhir.
Ken berdiri diluar jeruji besi itu. "Kemarilah!" Ken meminta pria itu untuk mendekat.
"Kamu ingin bebas?"
Pria itu mengangguk berkali-kali. "I...iya Tuan. Tolong bebaskan saya! Saya ingin bebas."
"Bagus! Tugasmu hanya perlu mengatakannya di depan pihak berwajib!"
"I... iya. Saya akan katakan yang sebenarnya."
Ken berpindah ke ruangan lain dimana pria berkumis tebal itu sedang duduk menunduk di dekat pintu yang terkunci itu.
Ken berjongkok. "Aku akan membebaskanmu dengan syarat!"
Pria itu menatap Ken. Wajahnya penuh luka lebam. "Apa syaratnya?"
"Mengaku dihadapan pihak berwajib."
Pria itu diam.
"Brak!" Ken memukul jeruji besi itu dengan tangannya. "Ingin mengaku atau tidak!" Bentak Ken.
"Aku bisa masuk penjara!" jawab pria itu.
"Setidaknya aku bisa membantu meringankan hukumanmu!"
Pria itu masih diam. Ken berdiri. "Baiklah! Aku akan musnahkan semua aset berharga milikmu. Selain dipenjara, kamu akan miskin mendadak!"
"Jangan!" pria itu memegang kaki Ken. "Jangan lakukan itu. Ku mohon."
"Aku tidak ingin anak dan istriku hidup susah!"
Ken kembali berjongkok. "Jadi, bekerja samalah denganku!"
Pria itu terpaksa mengangguk demi kehidupan anak dan istrinya. Dia lah pria yang menjadi agen penjualan obat-obatan palsu langganan Mariska.
Ken berhasil menangkapnya. Ken sengaja melakukan ini, karena jika menunggu pihak berwajib, akan membutuhkan proses panjang.
Ken keluar dari tempat itu. Disana dia juga menahan orang-orang suruhan Mariska yang menculik Lova.
Di tempat itu juga ada orang-orang suruhan Tuan Hendrico yang tempo hari datang untuk menemui Mariska. Ken mendapatkan banyak informasi dari mereka.
__ADS_1
Ken mengambil banyak dokumen sebagai bukti kejahatan Mariska dan fakta mengenai Mommy Anna.
Sebentar lagi, Mom. batin Ken saat melihat berkas-berkas di tangannya.