
Aland melemparkan remote ke layar tv sebesar lemari itu. Ia baru saja melihat berita tentang kepulangan Lova yang mengaku diculik dan berhasil kabur ke dalam hutan.
"Sial*an!" Umpatnya.
"Sebenarnya, orang suruhanku yang bodoh atau orang suruhan Mariska?"
"Atau gadis itu yang terlalu pintar mengarang cerita!"
"Cih!" Aland berdecih. "Apa katanya tadi? Dia berhasil kabur dan melarikan diri?"
"Bagaimana mungkin dia bisa melarikan diri dari orang sebanyak itu?"
"Sungguh diluar nalar!" Kesalnya. Aland tentu tidak mudah percaya. Orang suruhan Mariska berjumlah 4 orang sementara orang yang menyerang suruhan Mariska pasti lebih dari 4 orang. Dan mereka kehilangan jejak Lova. Sungguh Aland tidak percaya itu.
"Apanya yang tidak mungkin, Aland?" Tanya Hendrico pada putranya. Ia mendengar bagaimana kerasnya suara remote menghantam layar tv. Hingga ia keluar dari ruang kerjanya.
"Dia gadis tangguh, dan kamu saja yang bod*h mau terperdaya oleh Mariska!" hina Tuan Hendrico pada putranya.
"Dari awal, Mariska memang tidak berhasil menculik gadis itu. Dan dengar ucapan Daddy! Orang-orang suruhan Mariska itu sudah ditangkap oleh pihak lain."
"Pihak lain, siapa Dad?"
"Tentu pihak yang ingin melindungi gadis itu!"
"Jika gadis itu tau yang ada orang yang menyelamatkannya. Dia tidak mungkin lari ke hutan!" Ucap Aland.
Tuan Hendrico tertawa. "Brata tidak punya orang-orang bayaran seperti itu! Bisnisnya bersih dan dia bukan pengusaha kaya raya."
"Dia orang yang sederhana. Dia bukan orang yang gil* di hormati dan gil* kedudukan seperti istrinya. Terlihat dari dia yang tidak pernah membawa bodyguard!"
"Dari caranya memperlakukan pemb*ntunya!."
"Daddy tau semuanya? Daddy mengenalnya?" tanya Aland.
Tuan Hendrico tertawa. "Tentu tidak Aland! Itulah gunanya mengirim orang untuk menyelidiki musuh! Bukan asal serang seperti yang kamu lakukan bersama wanita bod*h itu!"
Aland hanya bisa diam. Ia jelas merasa tersindir oleh perkataa Daddynya.
Tuan Hendrico menunjukkan ponselnya pada Aland. "Lihat!" Perintahnya.
Aland membulatkan mata. "Baru satu jam konferensi pers diadakan. Mereka sudah menyerahkan wanita serakah itu ke polisi." Yang dimaksud adalah Mariska. Kabar itu langsung tersebar karena kediaman Brata sedang menjadi sorotan.
"Bagaimana bisa, Dad?"
"Tentu bisa. Selama ini, kejahatan wanita serakah itu sudah terbaca. Mereka hanya perlu menggiringnya, sambil mencari bukti kejahatannya."
"Mereka membuat Mariska berada diatas awan, seolah tak tahu kejahatan yang wanita itu lakukan. Padahal mereka tengah mengumpulkan bukti dan Hap!" Tuan Hendrico menangkupkan kedua telapak tangannya seolah sedang menangkap sesuatu.
"Sekali membuka mulut, mangsa tidak akan bisa mengelak lagi!"
Aland diam mematung. "Cerdas juga, dia."
"Sudah berulang kali Daddy katakan! Bukan dia yang hebat, tapi orang dibelakangnya!" Bentak Tuan Hendrico.
"Maksud Daddy, Ken?"
"Siapa lagi!" Pria itu membakar ujung cerutunya. Ia seketika menghembuskan asap nikotin ke udara.
"Dia memang licik, Dad! Bicara padanya hanya akan membuat kepalaku pusing!"
"Dia pintar membolak-balikkan perkataan."
"Dia pintar menjawab dan mencari alasan! Intinya, dia pandai bicara." Ucap Aland yang secara langsung pernah berbincang dengan Ken.
"Itulah dia! Tidak sepertimu yang hanya tau menggambar saja!" Sindir Tuan Hendrico.
Aland mendengus kesal. Ia selalu saja dipojokkan hanya karena tidak ingin memimpin Hendrico Grup. Alasannya sangat sederhana, ia tidak ingin waktunya tersita untuk perusahaan. Ia masih ingin bersenang-senang.
Aland berdiri dan bersiap untuk pergi. "Mau kemana, Aland?"
"Menghabiskan waktu semalam bersama para gadis." Aland menyeringai.
"Daddy mau ikut?" Aland mengerling. "Jika iya, akan ku siapkan peti jenazah termewah yang pernah ada di negara ini."
"Karena Mom akan men*mbak tepat di senjata laras panjang itu", ucap Aland sambil menggerakkan jari telunjuknya membid*k sesuatu di balik celana Daddynya.
__ADS_1
Aland pergi dan tertawa lebar. "Ayo Dad! Ku tunggu di mobil!" ejeknya lagi.
"Anak kurang ajar!" bentak Tuan Hendrico.
***
"Ken, terima kasih!" Lova menatap wajah Ken yang terlihat jelas meski hanya dari pantulan cahaya lampu taman. Keduanya sedang berada di halaman belakang rumah Brata.
Ken tertawa. "Itu yang ke 100 mungkin."
"Sudahlah, semua ini karena aku sayang!" sambung Ken.
Lova terkesiap. "Sa-yang?" tanyanya menatap manik mata kecoklatan itu.
Ken terkejut. "Sayang?" Ken balik bertanya. Lova mengatakan sayang? Apa maksudnya.
Lova mengangguk.
Apa? Dia mengangguk?
"Ken!" panggil Lova karena pria di depannya itu malah diam mematung.
"Ah, ya?" Ia terkesiap.
"Kamu sayang pada siapa?" tanya Lova.
Ken mengingat apa yang ia katakan tadi. Sepertinya Ia dan gadis di depannya ini sama-sama salah faham.
"Maksudku aku sayang pada Mommy Anna."
Lova mengangguk berkali-kali. Ku fikir dia akan mengatakan bahwa dia menyayangiku. Huuuh! Sungguh, Ken yang tidak bisa ditebak.
Ah, mikir apa aku ini!
"Ken, ceritakan tentang Bunda." pinta Lova mencoba mengalihkan kecanggungan.
Ken menatap gadis itu sekilas, lalu matanya menerawang ke langit. Ken mencoba mencari kata terindah yang bisa mewakili betapa berharganya Mommy Anna baginya.
"Mommy, dia pelangi. Dia matahari dan dia pelindung."
"Saat itu, Alvin masih 12 tahun."
"Dia seusiaku?" tanya Lova dan Ken mengangguk.
"Alvin yang memang manja pada almarhumah mama, merasa kehilangan. Dan Mommy Anna menjadi pengganti bagi Alvin."
"Keduanya lantas menjadi akrab seperti ibu dan anak."
"Lalu, bagimu Bunda seperti apa?"
Ken menahan air matanya agar tidak menetes. "Sebelum kami bertemu Mommy, aku sempat tertembak oleh musuh."
Lova menatapnya prihatin. Sesulit apa hidupmu, Ken?
"Dan bertahun-tahun, aku mengalami kerusakan ginjal."
"Dan saat Mommy memutuskan untuk kembali bersama kami..."
"Saat Bunda sempat pulang?"
Ken mengangguk. "Mommy mengetahui bahwa ginjalku bermasalah. Dia memberiku satu kesempatan untuk hidup dengan satu ginjal darinya."
Lova memegangi dadanya. Terasa begitu sakit melihat Bundanya saat ini hanya bertahan dengan satu ginjal.
"Maaf, aku tidak bermaksud. Tapi Mommy memberikan atas kemauannya sendiri."
Lova mengangguk mengerti.
"Dua tahun setelahnya, Mommy memintaku mengawasimu."
"Akhirnya aku datang ke negara ini, dan bekerja sebagai karyawan di kantor Bratadikara."
"Entah nasib ku yang baik atau memang rezeki bagiku. Tak lama aku diangkat sebagai asisten pribadi, Bapak."
"Semua yang ku lakukan atas keinginan Mommy. Termasuk membantu mengatasi masalah perusahaan."
__ADS_1
"Ma-maksudnya, Pak Thomas?" tanya Lova.
Ken mengangguk. "Itu perusahaan yang Mommy bangun, dan Thomas adalah orang kepercayaan Mommy. Sekaligus sepupuku."
"Ibunya adalah adik dari mamaku."
"Bibilah yang membawaku bersama Alvin dan Mommy serta memberikan identitas baru untuk kami."
"Ken, ini sangat membingungkan!"
Ken tertawa. "Jangan difikirkan, karena tugasku mengeluarkan racun bernama Mariska dari rumah ini sudah berhasil."
"Berapa lama dia akan ditahan?" tanya Lova .
"Sangat lama. Atau mungkin dia tidak akan pernah menghirup udara bebas lagi."
"Tapi apa kamu punya bukti tentang kejahatan Mariska, Ken?"
Ken tersenyum kecil. "Orang yang merusak rem mobil Mommy 13 tahun lalu, sudah berada dalam genggamanku."
Ken mengingat wajah pria kurus yang ia tawan. Pria itu sudah pasrah dan berjanji akan mengakui kesalahannya.
"Dimana kamu menemukan orang itu, Ken?"
Ken tertawa kecil. "Dari hasil membayar mahal orang-orang yang berkompeten dalam hal itu." Lova diam tanda ia tidak mengerti.
Ken selama bertahun-tahun mencari bukti kejahatan Mariska dan akhirnya ia menemukan identitas pria kurus yang membawa kayu bakar, ya... pria yang sempat di tolong oleh Mommy Anna.
Pria yang dalam keadaan sakit parah itu mengaku bahwa ada temannya yang merusak rem mobil saat Alana dan wanita yang menumpang di mobil itu turun.
Dan kini, temannya itulah yang berada dalam tahanan Ken.
"Lalu...?"
"Orang yang menculik kamu dan orang yang menjual obat-obatan palsu dan berbahaya kepada Mariska."
Lova menggeleng tak percaya. "Jadi dia benar menukar obat ayah?"
"Tentu. Jika tidak, bagaimana mungkin kondisi Bapak tidak membaik meski selalu check up dan mengkonsumsi obat-obatan terbaik."
"Dan kecurigaanku benar. Mariska berbuat curang."
"Lalu mengapa menjadikanku tawananmu, Ken?"
Ken tertawa. "Kamu dendam? Padahal kamu diperlakukan istimewa!"
Lova tertawa. "Bukan begitu, aku hanya bingung mengapa kamu menyembunyikan identitasmu dariku."
"Karena kamu atasanku!" sahut Ken kesal karena Lova terus meminta penjelasannya.
"Aku tidak ingin kamu merusak semua rencanaku dengan mengaturku sebagain bawahanmu!"
"Lalu sekarang apa?" tanya Lova. "Mengapa kamu tidak memanggilku dengan sebutan Bu." Lova berkacak pinggang.
Ken menggaruk tengkuknya. "Hahaha... maafkan saya Bu Lova!"
"Dasar!" Lova tertawa dan dia mencubit bahu Ken.
"Auuu!" Teriaknya.
"Kenapa?" tanya Ken khawatir.
"Ini bahu atau batu?" tanyanya heran karena sulit sekali mencubit bahu berotot itu.
"Tentu bahu!" jawab Ken heran.
"Keras seperti batu!" sahut Lova.
"Ayo masuk, Ken!" ajaknya. Malam memang semakin merangkak naik. Udara semakin dingin dan sepertinya mereka juga butuh istirahat.
Ken mengikutinya. "Lain kali ceritakan tentang masa lalumu!" pinta Lova.
Akan, tapi setelah aku menembak m*ti Tuan Hendrico.
***
__ADS_1