
Lova membuka matanya perlahan. Ia menerjap berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya terang yang masuk ke matanya.
Lova terkejut saat menyadari dirinya ada di sebuah tempat yang asing baginya.
Ia langsung terduduk dan melihat sekeliling. Ranjang nan empuk dan bersih, serta kamar luas bernuansa biru muda membuatnya langsung turun dari ranjang.
Lova membuka sedikit kain jendela berbahan tipis itu untuk melihat kearah luar.
"Sudah gelap!" Ucapnya kala melihat pemandangan luar rumah menyajikan cahaya lampu yang menyala. "Aku dimana?"
Lova kembali melihat sekitar kamar tapi tidak ada petunjuk apapun. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi.
Seingatnya, ia sedang berada di dalam mobilnya yang mogok dan....
"Astaga, Rosa! Dimana dia sekarang?" Ucapnya panik. Love memijat keningnya yang sedikit pusing. "Siapa yang membawaku kesini?"
"Siapa orang-orang yang menyerang kami?"
Lova segera berlari kearah pintu dan berusaha menarik handlenya. "Dikunci!" Gumamnya.
Ia memukul daun pintu berkali-kali. "Brak... brak.... brak! Buka pintunya!" Ia berteriak.
"Tolong! Siapapun diluar, buka pintunya!" Lova berteriak keras. "Brak... brak... brak..."
Ia mulai panik karena tidak ada sahutan sama sekali. "Apa aku diculik?"
"Tapi mengapa aku di kurung di tempat sebagus ini?"
"Ayah.... ya... ayah sedang sakit. Aku ingat saat Mauza menghubungiku."
Ia mencari tasnya di sekitar ranjang dan kamar itu, tapi tidak ia temukan.
Lova mulai panik. Ia menangis kala memikirkan keselamatan ayahnya, nasibnya sendiri dan nasib Rosa.
Lova menggigit ujung kukunya. Ia mulai mengira-ngira penyebab penculikan ini. Mungkinkah pesaing bisnis atau memang musuh yang ingin melenya*pkannya. Atau mungkin Aland?
Lalu bagaimana nasib Rosa dan supir kantornya. Pikirannya memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi. Ia takut keduanya juga dibun*h dan mayatnya dibuang entah kemana.
Aku tidak boleh hanya berdiam diri. Aku harus keluar dari tempat ini! Batinnya.
Lova kembali memukul pintu. "Brak... brak... brak...!"
"Tolong... hiks... hiks... hiks..." Ia menangis. "Tolong buka pintunya..."
"Siapapun kalian, buka pintunya! Aku harus melihat keadaan ayahku!" Tangisnya begitu terdengar memilukan.
"Tolooong!" suaranya melemah. Ia perlahan duduk bersandar di pintu.
"Aku harus melihat ayahku..."
"Hiks... hiks... hiks..." Lova menekuk lutut dan menenggelamkan wajahnya. "Ayaaah... bagaimana kondisi ayah?"
"Ayaaahhh... baik-baik disana, yah."
"Tolong.... siapapun kalian. Keluarkan aku dari sini." Ia menumpahkan tangisnya.
Hampir sepuluh menit ia menangis. Namun, ia tetap memiliki tekad yang kuat untuk lepas dari ruangan ini.
"Jendela!" Lova berlari kearah jendela besar itu. Ia membuka lebar kain tipis itu dan "Arrgghhh! Sial*an!" Marahnya. Ia menendang kaca tebal itu.
Yang ada di depannya bukanlah jendela melainkan dinding kaca besar nan tebal. Ia tahu, tidak mudah memecahkan kaca itu. Ia melihat kearah keluar, dan tidak mengenali daerah sekitar. Ia bisa menebak, ia sepertinya berada di lantai 4 sebuah rumah di salah satu kompleks perumahan mewah.
Lova duduk bersandar di pinggir ranjang. Ia hanya bisa menunggu si penculik berbaik hati membukakan pintu untuknya.
Benar saja. Handle pintu bergerak, ia diam mematung, menunggu siapa yang muncul dari pintu berwarna putih itu.
Sebuah helaan nafas lega kala melihat wanita berpakaian pelayan dengan usia sekitar 50an tahun masuk dengan membawa nampan.
Lova menatapnya yang terus berjalan maju dan meletakkan nampan di atas nakas di dekatnya.
Wanita itu tersenyum kala melihat wajahnya. Lalu duduk menekuk lutut di depannya.
__ADS_1
"Jangan takut, Nona." Suara wanita itu terdengar begitu lembut.
"Anda berada di tempat yang aman." Wanita itu mengusap rambutnya.
Lova berusaha menghindar. "Si... siapa yang membawaku kesini?" Tanya Lova gugup.
Wanita itu tersenyum kecil. "Tuanku yang membawa anda."
Tuan?
"Tu... tuan siapa?" Tanyanya terkejut. Siapa tuan yang wanita ini maksud?
"Maaf Nona, saya tidak bisa bicara banyak. Saya hanya bekerja disini."
"Silahkan dimakan, Nona."
"Bisakah saya bertemu Tuan anda, Bibi?" Tanya Lova.
Wanita itu diam sejenak lalu mengangguk. "Panggil saya bibi Anna."
"Tuan sedang dalam perjalanan kesini."
"Saya keluar dulu, Nona. Jangan lupa habiskan makanan anda."
"Jika ada sesuatu, silahkan bicaralah dengan intercom itu." Bibi Anna menunjuk sebuah alat yang menempel di dinding.
Lova menghela nafas saat melihat sebuah intercom di samping pintu.
Pantas saja, setengah mati aku menjerit dan memukul pintu, ternyata kamar ini kedap suara.
Wanita itu berjalan keluar, sebelum membuka pintu, Bibi Anna menatap Lova dengan raut wajah sendu. Lova menatap manik mata yang terpaku menatap wajahnya itu. Ada makna lain dalam tatapannya. Seperti siratan kerinduan yang mendalam.
Wanita itu memutuskan pandangan mereka kala ia menyadari Lova juga melihatnya begitu dalam.
"Ada apa dengan wanita itu?" Gumam Lova saat wanita itu keluar dari kamar.
Lova menatap makanan diatas nampan. Perutnya keroncongan namun ia tidak ingin menyentuh makanan itu.
"Tapi apa yang akan terjadi jika makanan itu sudah diberi racun?"
"Aku akan mati konyol." Ia bermonolog.
"Apa mungkin Bibi Anna kasihan melihatku yang akan segera mati setelah memakan makanan ini?"
"Huuh! Apa itu isyarat darinya?"
"Lalu, Tuan siapa yang ia maksud? Tuan....???" Lova terus bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
"Tuan Hendrico?" Matanya membulat sempurna. "Apa ini ulah Aland?"
Lova tak bisa tinggal diam. Ia memilih mencari petunjuk. Ia membuka lemari pakaian, namun tidak menemukan petunjuk apapun. Ia hanya melihat beberapa pasang pakaian ganti milik seorang wanita yang kemungkinan ukuran tubuhnya sama dengannya.
"Aku harus bagaimana?"
"God, help me!" Lova menatap kaca besar nan tebal itu. Ia bersandar dan saat matanya melihat alat make up yang tersedia di meja rias, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya.
Lova menulis sebuah kalimat dengan lipstik.
Tolong! Aku diculik di rumah ini! Tolong selamatkan aku!
Ia kembali menutup kain tipis itu agar Bibi Anna tidak melihatnya saat masuk nanti.
Lova hanya bisa menunggu seseorang menyelamatkannya.
***
Pagi harinya, tidak ada seorang pun yang menolongnya. Lova menatap nakas yang sudah berganti dengan makanan yang baru. Makanan yang masih utuh dan tidak ia sentuh kemarin sudah tidak ada lagi.
Ia duduk di atas ranjang. Sebuah kertas di samping nampan membuatnya mengerutkan kening.
Ia mengambil kertas itu dan mulai membacanya.
__ADS_1
"Habiskan makananmu! Aku tidak ingin kamu sakit sebelum permainan ini selesai."
Lova mengerutkan kening. "Permainan apa yang dimaksud?"
"Aku ingin kamu tetap hidup dan melihat sebuah kemenangan besar hingga tidak ada lagi yang bisa menyakitimu," lanjutnya membaca kertas itu.
Apa maksudnya?
"Di kamar mandi, sudah ada pakaian ganti untukmu! Pakailah! Dan jika tidak suka silahkan cari di lemari!"
"Jangan mencoba menulis apapun di kaca. Karena tidak ada yang bisa melihatnya dari luar!" Lova menghela nafas karena usahanya sia-sia dan ketahuan pula.
"Aku belum bisa menemuimu!"
"Tertanda, Mr A."
"Ck!" Lova berdecak. Ia membolak-balik kertas itu dan mengangkat bahunya.
"Sepertinya Mr. A ini ketinggalan zaman. Masih pakai surat menyurat!" ejeknya.
Lova berjalan kearah jendela dan tidak menemukan tulisan tangannya ada disana.
Ia tercengang karena tulisannya sudah berganti. Lova membacanya.
"Jangan melamun di jendela, Nona!"
"Aku takut kaca tebal ini retak karena tak sanggup manahan biasan bayang wajahmu yang cantik itu."
Lova tertawa hambar. "Dia penculik atau penggombal!" Ia kembali menutup kain tipis itu.
Lova melihat desain kamar ini yang begitu indah. Ia baru sempat mengagumi desain interiornya. Dan ia bahkan baru melihat ada cctv di sudut atas kamar tersebut.
Ia berkacak pinggang. "Hei penculik gi*la!"
"Aku harus melihat ayahku!"
"Aku tidak butuh gombalan murahanmu itu!"
"Aku hanya ingin keluar dari sini!"
"Dasar Mr.... mister siapa?" Lova kembali mengingat.
"Mr. A!"
A? batinnya terkejut.
"Hei... Mr A. Apakah kau Aland?" Tanyanya seperti orang gil*.
"Jika ia, kesini kau pecundang! Temui aku!" Lova berlagak berani dan mengancam Mr. A. Bahkan jika itu benar-benar Aland. Ia tak peduli lagi menyebutnya dengan kata ganti kau.
"Jangan jadi pengec*t dengan mengurungku seperti ini."
"Aku bukan seekor merpati!"
"Jadi, muncullah dihadapanku!"
"Supaya aku bisa menghajarmu!" Loca mengepalkan tangannya kearah kamera. Dan ia segera masuk ke dalam kamar mandi.
***
Hai semuanya 😘😘😘
Udah awal bulan aja nih 😊
InsyaAllah, akan emak usahakan, mulai hari ini ALOVA akan up 2 bab sehari.
Jangan tanya waktunya ya akak 😊 Masih random dan belum tau. Entah itu pagi atau siang atau pun Malam.
Terima kasih 😊
Jejaknya Cantik 😍😍😍
__ADS_1