
"Hidupmu penuh teka-teki, Ken! Sangat berbeda dari yang ku kenal selama ini."
"Bahkan ayah tidak mengetahui hal ini."
Ken tersenyum tipis. "Tujuh tahun lalu aku datang karena keinginan Mommy!" Sepertinya Ken masih ingin bercerita.
"Dia ingin aku mencari bukti tentang kecelakaannya."
"Mommy, dan Thomas mengurus perusahaan yang kami rintis dari uang hasil menjual perhiasan milik mamaku."
Lova mengangguk. Bundanya sudah menceritakan tentang hal itu.
"Ken, lalu sekarang apa? Bukankah tugasmu sudah selesai?" tanya Lova.
Tugas Ken mencari keadilan untuk bundanya sudah selesai. Mariska sudah mendapatkan hukumannya. Bundanya juga sudah kembali meski belum tinggal serumah dengannya.
Ken tertawa. "Kamu mengusirku?"
Lova juga tertawa. "Bukan begitu maksudku, Ken. Kamu tidak ingin mengurus perusahaanmu sendiri?"
Ken mengangguk. "Akan, tapi bukan sekarang. Aku masih ingin Thomas duduk disana."
"Lagi pula ada hal penting yang harus ku selesaikan disini!"
Lova diam dan berusaha memikirkan hal penting apa yang ingin Ken urus disini.
"Apa itu, Ken?"
Ken menatapnya dalam tanpa berkedip. Lova sampai berdebar. "Ken."
"Rahasia!" Ken tertawa lepas.
"Sial*n!" Lova memukul bahu keras itu karena Ken berhasil membuatnya berdebar hebat.
****
Beberapa hari berlalu...
Ken dan Lova menghadiri sebuah undangan makan malam dari tuan Hendrico. Masih di tempat yang sama seperti waktu itu.
Pertemuan ini akan membahas kelanjutan mengenai pembebasan Mauza. Saat yang Ken dan Lova tunggu-tunggu.
Di dalam sudah menunggu Aland dan Tuan Hendrico. Aland memaksa ikut dalam pertemuan itu. Nyonya Hendrico juga turut hadir disana.
Lova mengerutkan kening merasa keheranan melihat kehadiran mereka bertiga. Mengapa semuanya ikut dalam urusan ini.
"Bagaimana keputusannya Tuan?" tanya Ken tanpa basa-basi. Ia tidak ingin membuang-buang waktu, terlebih melihat wajah Aland yang begitu memuakkan. Wajah yang selalu menatapnya dengan tatapan meremehkan.
"Gadis itu akan tetap bekerja di rumah kami," suara Aland membuat semua orang menatapnya. Tuan dan Nyonya Hendrico juga menatap putranya keheranan.
Apa yang dia katakan? Mengapa dia memberi jawaban seperti itu? Mengapa dia ikut campur dalam urusanku? batin Tuan Hendrico.
Aland? Jadi untuk ini dia memaksa ikut? batin Nyonya Hendrico.
__ADS_1
Mau apa lagi dia? batin Ken.
Selalu ikut campur! batin Lova.
"Dia dan kakaknya sudah sepakat untuk melunasinya dengan cara mencicil tiap bulan dari gaji mereka berdua," lanjut Aland tegas.
"Maksud kamu apa, Aland?" tanya Tuan Hendrico pada putranya. Dia memang menerima laporan bahwa Mauren datang dan Aland yang menemuinya. Tapi sungguh, ia belum membahas hal itu dengan Aland.
"Bukan apa-apa Daddy. Ya, keputusannya adalah apa yang ku katakan tadi," jawab Aland.
"Dia akan tetap bekerja di rumah kita."
"Aku butuh dia untuk menyemir sepatuku, aku butuh dia untuk membuatkanku kopi dan yang pasti membantu pekerja yang lain untuk membersihkan rumah," lanjutnya.
Tuan Hendrico menatap tajam putranya yang malah sedang memainkan ponsel di atas meja.
Tidak sopan! Berbicara tapi masih menggunakan ponsel. Batin Ken kesal.
Tuan Hendrico menatap layar ponsel yang berkedip karena sebuah pesan masuk.
Dari Aland. Kali ini biarkan aku yang urus, Dad.
Mau apa anak ini? Tidak biasanya dia ikut campur urusanku. Batin Tuan Hendrico.
Ken dan Lova saling pandang. Mereka punya pemikiran yang sama. Ada rencana lain yang Aland fikirkan.
"Jadi, maaf sekali."
"Penawaran kalian saya tolak." Tuan Hendrico berhasil mengembangkan senyum putranya.
"Tapi bagaimana mungkin mereka bisa melunasinya dengan gaji hanya sebagai pelayan di rumah kalian?" tanya Lova geram.
"Hei!" Bentak Aland. "Gaji pelayan di rumah kami bisa 5 kali lipat dari gaji pelayan di rumah kalian!"
Ken tersenyum miring. "Tidak apa, Bu Lova." Ken mencoba menenangkan Lova yang sepertinya akan membalas ucapan Aland.
"Lagi pula, gadis itu sendiri yang memutuskan untuk melunasinya."
"Tapi Mauren?" tanya Lova.
Aland menunjukkan rekaman pembicaraan Mauren da Mauza kala itu. Lova membulatkan mata tak percaya. Ia tak menyangka Mauren bertindak sendiri. Tapi ia terharu karena keduanya begitu saling menyayangi dan mendukung satu sama lain.
"Dia sendiri yang datang dan keduanya telah sepakat."
"Setelah malam ini, tidak akan ada lagi pertemuan untuk membahas hal ini." Aland berdiri dari kursinya.
"Saya permisi dulu."
"Mom, Dad, duluan!"
***
"Mauren!" Lova memanggil nama gadis itu sambil mengetuk pintu kamarnya.
__ADS_1
"Aku mau bicara, Mauren!" Lova terus mengetuk pintu kamar itu. Masih jam 10 malam dan pasti gadis itu belum tidur.
Handle pintu yang bergerak menandakan gadis itu akan keluar kamar sebentar lagi.
"Ada apa, Kak?" tanyanya sambil menunduk. Ia sudah berfikir negatif, ia menduga akan diusir malam ini juga.
"Aku mau bicara. Ikut sebentar!" Lova membawa Mauren di ruang keluarga. Keduanya duduk saling berhadapan.
"Mengapa kamu datang ke rumah Tuan Hendrico, Mauren?" tanya Lova tegas. Ia melihat Mauren mulai menegang dan terus menunduk.
"Aku... aku ingin membebaskan Mauza, kak." jawabnya gugup. "Aku rela memohon demi kebebasannya." Mauren mulai meneteskan air mata.
"Bagaimana pun, dia hanya korban atas kesalahan mama, Kak!"
"Aku tidak mungkin diam saja. Disini aku masih bisa bebas sementara dia harus kehilangan masa depannya dengan menjadi pelayan di rumah itu."
"Aku takut, Kak. Tidak ada yang bisa menjamin dia akan baik-baik saja. Bagaimana jika dia dijual ke pria hidung belang atau dia di jadikan pemu*as n*afsu di rumah itu."
"Hiks... hiks... hiks... aku takut itu menimpa Mauza..."
Lova menghela nafas berat. "Kamu harusnya jangan gegabah, Mauren! Kami sedang berupaya mengembalikan uang itu dan menukarnya dengan Mauza."
"Tapi, semua gagal karena kamu datang."
Mauren langsung menatapnya. Mata basah dan memerah itu tidak berkedip sekalipun. "Ma...maksud kakak?"
"Aland tidak ingin kami menebus Mauza."
Deg! Jantung Mauren terasa berhenti berdetak.
"Karena apa? Karena kamu dan Mauza sepakat untuk membayar tiap bulan dari gaji kalian."
"Ta...pi..." Mauren terisak.
"Semoga tidak ada rencana jahat apapun yang Aland rencanakan untuk Mauza," potong Lova.
Mengapa jadi seperti ini? Padahal Ken dan Kak Lova menjadi harapanku satu-satunya agar Mauza bisa kembali.
Mengapa Aland malah memilih waktu yang lama dibanding langsung mendapatkan uang itu? Apa rencananya?
"Kak..."
"Sudahlah Mauren," potong Lova. Ia kecewa tapi mau bagaimana lagi. Nasi sidah menjadi bubur.
"Mulai minggu depan aku akan kembali mempekerjakan kamu di kantor." Lova berharap ini bisa membantu gadis itu.
Dia bisa saja memberikan ratusan juta sebulan untuk Mauren mencicilnya pada Aland. Tapi pria licik itu mana mungkin percaya jika Mauren memiliki gaji sebanyak itu.
"Dan aku akan memberi modal untuk membeli saham agar lebih cepat untukmu mengumpulkan uang untuk membebaskan Mauza."
"Terima kasih, Kak!" Mauren menangis dan berlutut di kakinya.
"Terima kasih, Kak! Maaf atas kesalahan kami bertiga, termasuk mama."
__ADS_1
Lova memeluk gadis itu. "Aku sudah memaafkan kalian."
"Sekarang tugas kamu semakin berat. Mauza menjadi tanggung jawabmu sekarang. Rajinlah bekerja dan menabung untuk Mauza."