ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 71 Membujuk Alvin


__ADS_3

"Pak, aku ingin bicara hal penting." Ken duduk disamping Brata yang sedang membaca pergerakan saham di ponselnya. Brata menatap Ken yang tampak serius.


Ken memanfaatkan kesempatan ini untuk bicara dengan Brata. Ia sempat melihat Lova dan Alvin sedang jogging entah kemana. Mungkin ke area taman. Jadi, ia tidak akan diganggu oleh siapapun.


"Ada apa, Ken?" Brata meletakkan ponselnya. Pria yang sedang duduk dihalaman belakang itu memperbaiki posisi duduknya menjadi tegak.


"Aku akan menikahi, Lova!" ucap Ken to the point.


"Bagus! Saya setuju, Ken. Kapan itu?" tanya Brata tegas.


"Secepatnya, Pak!" Brata menerbitkan senyum lebar. Ia akhirnya bisa menyaksikan putri tunggalnya menikah dengan pria yang gadis itu cintai dan juga ia kenal dengan baik.


Satu hal yang ditakutkan tidak akan pernah bisa ia lihat. Brata takut tiada lagi di dunia ini sebelum putrinya menikah dan bahagia.


"Tapi ada satu kendala, Pak?"


"Apa itu? Katakan Ken?"


"Lova... Lova tidak ingin meninggalkan perusahaan saat aku mengatakan akan membawanya ke Australia."


Brata menatap Ken dalam-dalam. "Kamu akan membawa putriku ke sana, Ken?" tanya Brata lirih.


Ken mengangguk, ia menyadari apa yang ia ucapkan membuat Brata syok. Pria itu pasti juga tidak siap jika akan ditinggalkan oleh putrinya.


"Aku harus menjalankan perusahaanku, Pak!" ucap Ken. "Aku ingin kehidupan normal yang akan kami jalani kelak."


"Aku ingin bekerja dan bertanggung jawab atas Lova dan semua kebutuhannya."


"Dan aku ingin berkumpul dengannya dalam satu rumah. Aku tidak ingin kami menikah tapi berada di negara yang berbeda hanya karena alasan pekerjaan, Pak!"


Brata faham maksud Ken. Keduanya sama-sama tidak ingin meninggalkan perusahaan masing-masing.


"Mommy tidak setuju, Ken!" ucap Alana yang berjalan mendekati mereka. Sedari tadi wanita itu mendengar pembicaraan Ken dan suaminya.


Kedua pria itu menatap Alana. Wanita itu duduk di kursi yang lain tepat di depan kedua pria itu.


"Mommy dan Lova baru bertemu kembali, Ken. Dan kamu ingin memisahkan kami?" tanya Alana pada putranya.


"Aku tidak bermaksud begitu, Mom. Aku berjanji akan sering-sering mangajak Lova kembali ke sini saat ada waktu luang."


Alana menghela nafas. "Kamu saja yang kembali ke sini. Dirikan cabang perusahaan kamu di negara ini atau pindahkan saja kantornya di sini!" perintah Alana.


"Tidak semudah itu Alana," tegur Brata.


"Jadi harus bagaimana lagi, Mas. Aku tidak ingin terpisah dari Lova lagi."


"Awalnya aku bersyukur karena pria yang Lova cintai adalah Ken. Tapi entah mengapa sekarang aku kurang setuju."


"Mom, jangan begitu. Mommy berubah fikiran hanya karena aku akan membawanya pergi."


"Ya!" Jawab Alana tegas. "Mommy setuju karena Mommy percaya kamu tidak akan membawa putri Mommy dan memisahkan kami lagi."


"Tapi nyatanya?"

__ADS_1


"Mom...!"


"Ken, please! Di sana ada Thomas, Nak. Selama ini kan memang dia yang menjalankan perusahaan itu."


Ken mengehela nafas. Mengapa tidak ada yang bisa mengerti aku? Aku hanya ingin menjalankan perusahaanku sendiri. Aku sudah terlalu lama bergantung pada Thomas.


Memindahkan semuanya ke sini juga tidak segampang membalikkan telapak tangan.


"Bagaimana jika kamu tinggal di sini, menjalankan perusahaan Bratadikara dan membiarkan Lova tetap di rumah menjadi ibu rumah tangga seutuhnya," Brata memberi penawaran.


Penawaran macam apa itu? Aku mengurus perusahaan mereka dan meninggalkan perusahaanku? Membiarkan perusahaanku diurus orang lain.


"Tunggu!" Alana membuat kedua pria itu menatapnya.


"Ken, Mommy punya ide."


"Tapi sebelumnya Mommy ingin kamu memahami satu hal."


"Lova anak tunggal dan dia perempuan. Sementara dia mewarisi perusahaan ayahnya."


"Dan kamu juga punya perusahaan sendiri. Tapi kamu bukan anak tunggal Ken. Ada Alvin. Dia punya hak dan kewajiban yang sama denganmu."


"Ini simple!"


"Ajari dia memimpin perusahaan dan biarkan Thomas membantunya."


"Kamu disini menggantikan Lova atau jika ingin kamu bisa membuka cabang disini."


"Alvin? Apa dia bisa, Mom?"


"Dia hanya butuh bimbingan dan sedikit pengawasan."


"Mom, aku tidak yakin."


"Karena kamu belum mencoba, Ken."


***


"Apa?" Bentak Thomas dalam panggilan video. Ken mengatakan akan menyerahkan perusahaan pada Alvin dan Thomas yang akan membantu adiknya itu.


"Kamu ingin perusahaan bangkrut dalam semalam, Ken?"


"Kamu ingin aku menjadi asisten pribadi, CEO, sekaligus baby sitter adikmu itu?"


"No Ken! Big No!" tolak Thomas mentah-mentah.


"Ayolah, Thom! Aku akan mengajarinya dalam waktu enam bulan."


"Dan setelahnya hanya butuh satu hari baginya untuk menjadikan kita semua gelandang*an!" Kesal Thomas.


Thomas dan Alvin memang akrab tapi untuk hubungan saudara dan pertemanan. Bukan untuk urusan pekerjaan.


"Jika kamu ingin menikah, menikahlah! Pindahkan saja gedung dua puluh lima lantaimu ini ke negara itu."

__ADS_1


"Akan lebih baik jika aku duduk di kantor cabang disini dari pada di gedung tinggi itu bersama manusia bernama Alvin!"


"Ck!" Decak Ken.


"Kalian semua sama saja. Tidak ada yang bisa diajak kerja sama. Satu sisi setuju dan satu sisi tidak. Satu pihak mengatakan ini dan pihak lain mengatakan itu!"


"Ini benar-benar membuatku pusing!" Keluh Ken dan ia mengakhiri panggilan video itu secara sepihak.


***


"Aku tidak ingin!" Tolak Alvin saat Alana dan Brata membujuknya untuk memimpin perusahaan Ken.


"Aku tidak mau!"


"Ayolah, Vin! Demi kami dan Lova," pinta Alana.


"Iya, dan aku akan sendirian disana!" kesal Alvin.


"Tapi kamu bisa pulang lebih sering, Vin. Thomas pasti bersedia membantumu selama kamu liburan kesini." bujuk Alana lagi.


Alvin diam. Ia sebenarnya tidak ingin pusing-pusing mengurus perusahaan dan bertanggung jawab atas ribuan karyawan yang berada di bawahnya.


"Ayolah, Vin!" Bujuk Lova juga.


"Ini kesempatan untukmu, Vin!"


"Kesempatan apa?" jawabnya kesal.


"Ini kesempatan untuk kamu membuktikan pada Rosa bahwa kamu bisa serius dalam bekerja. Kamu bisa memimpin perusahaan."


"Lagi pula kamu akan sering datang karena perusahaan kita kan menjalin kerja sama." Lova menemukan ide untuk merayu pria itu.


"Lalu, saat aku disana, Rosa akan memilih pria lain, Kak!"


Lova menggigit bibirnya. Ia memikirkan sebuah ide dan semoga saja berhasil.


"Dia tidak akan sempat memikirkan pria manapun, karena aku akan memberikannya banyak pekerjaan." Lova tersenyum lebar.


"Dia tidak terikat oleh siapapun, Vin. Dia tidak punya keluarga dan sudah pasti dia akan setuju jika kamu membawanya pergi dari negara ini setelah menikah nanti."


"Hubungan kalian jauh lebih mudah."


"Aku akan meyakinkan dia bahwa kamu pria hebat yang mencintainya."


Alvin berfikir sejenak. *Jika aku tetap di perusahaaan Kak Lova, itu artinya aku akan tetap menjadi staff atau karyawan biasa dan itu artinya jabatan Rosa lebih tinggi dariku.


Tapi jika aku pindah dan menjalankan perusahaan Kakak aku akan menjadi CEO*. Alvin tersenyum lebar.


***


Hai semuanya...


Sepertinya emak akan selesaikan kisah Lova sama Ken dulu, baru setelahnya akan masuk ke kisah Mauza dan Aland.

__ADS_1


Tetap tunggu kelanjutannya ya 😊😊😊 terima kasih untuk Like dan Commentnya. 😚


Salam sehat selalu 😚


__ADS_2