
Ken memasuki halaman sebuah rumah besar di salah satu kompleks perumahan mewah, tempat ia mengurung Lova.
Beberapa hari ini ia terpaksa kucing-kucingan dengan Mariska. Ia selalu memperhatikan GPS yang masih terpasang di mobil wanita itu. Kerap kali Ken mendapati mobil Mariska berada tak jauh dibelakang mobilnya. Itu artinya Ken tahu bahwa ia sedang dibuntuti.
Ken beberapa kali melihat mobil Mauren juga berada dekat dengan mobilnya. Hingga Ken berinisiatif menanyakan keberadaan Mariska dirumah pada beberap orang kepercayaannya di rumah Brata.
Jika Mariska tidak ada di tempat, maka ia harus waspada terhadap siapapun yang mengikutinya.
Malam ini, Ken pulang dari kantor lebih lama. Ia memastikan tidak ada yang mencurigakan hingga ia mampir ke rumah ini. Demi memastikan semuanya baik-baik saja.
Orang yang pertama kali Ken temui adalah Mommynya yang berkacak pinggang menyambut kedatangannya.
"Hai, Mom? Kapan pulang?" tanya Ken basa basi sambil merentangkan tangannya meminta di peluk.
Mommy Anna menghempaskan tangan Ken dan menatap tajam putranya itu. "Pulang?" tanyanya.
"Rumahku bukan disini. Jadi, bukan kata pulang yang tepat, Ken!"
Ken tertawa. Ia merangkul bahu wanita yang ia sayangi itu. "Duduk dulu Mom," Ken membawa Anna untuk duduk di sofa. "Sepertinya perjalanannya cukup melelahkan, ya Mom? Hingga tekanan darah mommy sepertinya naik."
"Aku akan menghubungi... Aduuhhh!" Belum siap ia meneruskan kalimatnya, Anna sudah menarik telinganya.
"Sakit, Mom!" keluhnya tapi tidak melawan sedikitpun.
"Apa salahku hingga mommy menarik telingaku begini?" tanya Ken.
"Salahmu?" Mommy Anna semakin menarik telinga yang sudah kemerahan itu. "Salahmu banyak, Ken!"
"Pertama, kamu mengurung Lova seperti burung!"
"Kedua, kamu memisahkan ayah dan anaknya!"
"Ketiga, Kamu tidak jujur padanya!"
"Keempat, kamu berhasil membuatnya menangis pagi ini!"
Ken terbelalak. "Lova menangis, Mom?" tanyanya heran.
"Pasti sejak pagi kamu belum mengecek cctv kan?"
Ken menggeleng. "Aku sibuk. Putra Hendrico itu banyak maunya. Sepertinya dia sengaja membuatku sibuk." jawab Ken masih menahan sakit.
"Jangan banyak alasan!" Bentak Anna.
"Iya... iya... semua salahku, Mom." Ken pasrah.
"Lepaskan dulu, Mom." Kesangaran dan kegarangannya seketika luntur kala ia berhadapan dengan Mommynya.
Wanita itu melepaskan tangannya. "Sekarang, masuk dan mengakulah!" perintahnya.
"Tapi, Mom..."
"Tapi apa lagi, Ken?"
"Jangan sekarang! Please!" mohon Ken. "Dua hari lagi setelah Hendrico mengeksekusi Mariska."
"Tidak ada hubungannya, Ken!" Marah wanita itu.
__ADS_1
"Ada Mom! Ada."
"Jika aku mengaku, maka aku mau tidak mau harus menurut padanya. Mommy lupa jika dia atasanku?"
"Dia itu keras kepala, Mommy. Semua keputusan yang sudah ia ambil akan ia kerjakan!"
"Termasuk bermain sendiri dan merusak semua permainanku!" Ken membuat Mommynya bungkam.
"Tapi dia merindukan ayahnya, Ken!" Mommy Anna menatap sedih. Ken bisa melihat air matanya hampir menetes.
"Dia hanya punya Ayahnya, Ken! Selama ini ayahnya yang menjadi teman dan tempatnya berkeluh kesah. Jadi, Mommy mohon, mengertilah!" Ada nada memohon dari cara Mommy Anna berbicara.
Ken menghela nafas. "Aku akan masuk ke dalam. Aku akan segera mempertemukannya dengan Pak Brata." Ken akhirnya mengalah.
"Aku tidak janji, tapi akan ku usahakan."
Mommy Anna menatap punggung Ken yang masuk kedalam kamar Lova. Semoga ini bisa mengobati kesedihanmu, Sayang!
Flash Back On.
"Hei, Nona cantik." Mommy Anna melihat Lova yang duduk dilantai sambil menekuk lututnya di dada. Lova duduk di depan kaca besar di rumah itu. Ia habis menangis dan matanya sudah sembab tak karuan.
"Nona, anda kenapa?" Tanya Mommy Anna panik saat mendapati mata indah itu basah dan sedikit bengkak.
"Anda menangis?" tanyanya.
Lova menatap kaca besar itu dan mengangguk. "Kapan Bibi kembali?" tanya.
Yang Lova tahu dari Alvin, Bibi Anna sedang pulang kampung karena ada urusan keluarga.
"Saya, baru kembali sore tadi, Nona."
Lova menggeleng pelan. "Bukan, Bibi."
"Lalu kenapa, Nona?" tanya Mommy Anna. "Sedikit bercerita sepertinya akan meringankan beban anda."
Lova diam cukup lama. Mommy Anna bahkan sudah ikut duduk di lantai bersamanya.
Lova menyeka air mata yang kembali menetes itu. Ia menatap wanita paruh baya di depannya.
"Aku memimpikan Bunda." air matanya kembali menetes tanpa diminta.
"Bunda?" ulang Mommy Anna.
Lova mengangguk. "Dia sudah meninggal, Bibi."
"Saya turut bersedih, Nona." Mommy Anna memeluknya, merangkul bahunya.
"Tiga belas tahun yang lalu."
"Saat itu usiaku baru dua belas tahun."
"Dia kecelakaan bersama kakak laki-lakiku."
Mommy Anna mengusap bahu yang bergetar hebat itu.
"Aku tidak bisa melihat jasad utuh mereka."
__ADS_1
"Mobil yang mereka tumpangi masuk ke jurang dan habis terbakar. Dua jasad yang tidak lagi dikenali itu membuatku sempat meragukan Tuhan."
Mommy Anna ikut menangis. Ia mengusap bahu itu untuk menguatkan.
"Aku benci, bahkan untuk terakhir kalinya aku tidak bisa lagi melihat wajah bunda dan kakakku."
"Aku marah pada Tuhan, terlebih saat dua tahun berikutnya, Ayah malah menikah lagi."
"Mengapa Tuhan menciptakan manusia serakah sepertinya. Aku juga marah pada ayah."
"Tapi, perlahan aku mengerti. Menikah lagi bukanlah keinginan ayah."
"Dia dijebak. Aku benci pada wanita itu, tapi aku tidak tahu mengapa ayah masih bertahan dengannya meskipun mereka tidak harmonis."
"Dan hari ini, aku merasa sangat merindukan ayah. Aku takut, jika dia tiada aku tidak bisa melihat jasadnya. Mungkin juga aku tidak bisa melihat makamnya."
"Karena entah sampai kapan Bos kalian yang katanya baik itu mengurungku terus disini."
"Sebenarnya, tujuannya menawanku di kamar ini, untuk apa, Bibi?" Lova terisak.
"Dia ingin apa dariku?"
"Dia ingin apa dari ayahku?"
Mommy Anna memeluknya. "Dia baik, saya mohon, percayalah Nona."
"Jika dia baik, aku ingin menemuinya."
"Hiks... hiks... hiks.."
"Aku akan berlutut di kakinya, mencium ujung sepatunya bila perlu. Aku hanya ingin bertemu ayahku."
"Entah dia baik-baik saja tau tidak. Entah dia sehat atau sakit? Entah dia bebas atau ditawan sepertiku, aku tidak tahu, Bibi..."
"Hanya dia yang ku punya, Bi..."
"Jika pria itu datang, ku mohon.... Katakan padanya kau hanya ingin bertemu ayahku."
Mommy Anna mengusap rambutnya. Pelukan itu semakin erat dan Mommy Anna tidak kuat melihat tangisan menyayat yang Lova suguhkan dihadapannya.
*Maafkan Ken, sayang! Dia memanfaatkanmu untuk kepentingannya. Tapi, satu sisi ia juga sedang menyelamatkanmu.
Dunia luar masih belum aman untukmu. Ada Mariska dan kaki-tangannya. Ada keluarga Hendrico dengan segala kekuasannya*.
Lova menarik diri dari pelukan itu dan menghapus air matanya. Ia sadar tengah menangis dalam pelukan wanita yang baru ia kenal beberapa hari ini.
"Bibi..."
"Ya..."
"Ku mohon, bantu aku keluar dari sini." Lova bersujud di kaki Mommy Anna.
"Aku janji akan memberikan apa yang bibi minta..."
Mommy Anna menegakkan tubuh Lova. "Bangunlah, Nona!" pintanya.
"Aku tidak bisa melakukannya, maaf!" ucap Mommy Anna penuh sesal.
__ADS_1
Falsh Back Off