
"Apa?" tanya Ken tak percaya. "Yang benar saja, Thom?" Matanya membulat dan mulutnya terbuka. Thomas baru saja menghubunginya dan mengatakan bahwa Tuan Hendrico sedang berada di kantornya saat ini.
Saat ini Thomas sengaja menunda pertemuannya dengan Tuan Hendrico dan mencoba menghubungi Ken lebih dulu untuk meminta pendapatnya.
"Pria itu ke sana?" tanya Ken tak percaya. Malam tadi, ia masih bertemu Tuan Hendrico di restoran dan siang ini, pria itu sudah berada di kantor Thomas yang berada di benua lain.
"Iya! Dan pasti kedatangannya untuk terus menawarkan kerja sama." lanjut Thomas.
"Dan lebih parahnya lagi, Alvin yang bodoh itu menyebut nama terlarang dihadapan pria itu."
"Argh!" Ken meninju tembok hingga tangannya terasa perih.
"Alvin selalu saja bertindak semaunya!" geram Ken karena adiknya menyebut nama terlarang, yaitu nama belakang keluarganya yang sudah habis dibantai oleh Tuan Hendrico puluhan tahun lalu.
"Bagaimana jika Hendrico itu mencurigainya dan mencari tahu siapa dirinya!" Marah Ken. Persembunyian mereka dibalik nama Darrass selama bertahun tahun akan sia-sia.
"Dia berperan sebagai office boy, jadi tenanglah!" Thomas mencoba membela Alvin yang terkesan tidak sabar untuk membalas dendam. "Pria itu tidak akan mencurigainya."
"Tenang bagaimana, Thom! Sekalian saja suruh dia menembak kepala pria itu di depan bodyguardnya. Dan setelahnya kita akan menyaksikan bagaimana kepala dan tubuh Alvin terpisah jauh!" Geram Ken.
"Tenanglah Ken, banyak orang yang memiliki nama seperti itu disini." Thomas masih terus berusaha menengangkan Ken.
"Tapi dari wajah Alvin jelas bukan asli warga sana, Thomas!" Ya, Alvin dan Ken memilik wajah campuran, tidak terlalu bule dan tidak terlalu lokal.
"Bagus! Jadi permainan akan bisa langsung dimulai," jawab Thomas tak mau kalah.
"Mumpung usiaku masih muda dan aku masih kuat menghajar pria itu." Sepertinya Thomas juga sangat semangat untuk membantu membalaskan dendam mereka.
Ken memutuskan panggilan itu. Ia pusing memikirkan Thomas dan Alvin yang bertindak gegabah.
Mengapa Alvin segegabah ini? Aku bahkan belum memutuskan untuk bermain, malah dia menciptakan permainannya sendiri.
Bagaimana jika Handrico tua itu pernah melihatnya di rumah ini atau di kota ini saat aku memintanya menjaga Bapak.
Ken tengah diselimuti ke khawatiran. Jika Hendrico tahu ada hubungan antara perusahaan, identitas asli mereka, mommy Anna dan pak Brata maka akan semakin banyak korban. Dan Hendrico tua itu pasti akan mendapatkan jackpot. Sekali tepuk maka habislah semua.
Alvin sudah terlanjur masuk dalam permainannya sendiri. Mau tidak mau, Ken terpaksa meminta Thomas untuk terus maju demi mengawasi gerak Tuan Hendrico terhadap Alvin. Tapi sebelum itu, Ken segera menghubungi adiknya.
"Ya, ada apa Kak?" tanya Alvin.
"Apa yang kamu katakan pada Hendrico itu?"
"Hahahah.. Thomas sudah melaporkanku ternyata." Pria itu malah tertawa.
"Aku cuma memperkenalkan diriku, sebagai Alvino Aldric, seorang office boy yang kebetulan membuatkan kopi untuknya."
"Alvin!" geram Ken. "Tidak bisakah kamu jangan bermain-main seperti ini!"
"Dia itu licik, Vin!"
"Ayolah kak! Ini kesempatan kita untuk memancingnya."
__ADS_1
"Mommy bisa dalam bahaya juga, Vin!"
"Tenanglah, Kak! Wajah Mommy dan Alana istri pak Brata itu berbeda."
"Tapi mereka orang yang sama, Vin!" Ken mengakhiri panggilannya.
Ia menyusun banyak rencana agar bisa menghancurkan Hendrico sebelum pria itu menghancurkan dirinya.
***
Ken memuju sebuah markas besar miliknya dimana orang-orang suruhan Hendrico masih tertahan di dalamnya.
Ken masuk kesebuah ruangan dimana dua orang yang telah berdiri dihadapannya dengan kedua tangan yang dirantai.
Ken duduk di kursi dan menatap tajam keduanya dari balik kaca mata hitam yang ia pakai.
"Di mana saja bisnis haram Hendrico?" pertanyaan pertama dari Ken tidak di jawab.
Ctaar!
Sebuah cambukan mendarat di tubuh keduanya.
"Ku tanya sekali lagi! Dimana saja bisnis haram Hendrico?" Bentak Ken dengan suara keras.
"Aku tidak tahu!"
"Aku tidak tahu!" keduanya memberikan jawaban yang sama.
Ctaar!!
Ctaar!!
"Arrghhhh." teriak mereka kesakitan.
"Mau memberi tahu atau mati berdiri disini?"
"Kami sungguh tidak tahu, Pak!"
"Kami hanya orang suruhannya."
"Kami tidak tahu apapun tentang bisnis haram milik Tuan Hendrico!"
Ken diam sejenak. Ia merasa salut pada Hendrico yang begitu rapi menyimpan kebusukannya.
"Kalian tidak pernah dengar bahkan sekali pun mengenai bisnis haram itu?"
Keduanya menggeleng.
"Tembak mereka!" perintah Ken dan seketika satu senjata api terarah pada masing-masing pria.
Tu... tunggu, pak!"
__ADS_1
Ken tersenyum licik. Ia memerintahkan orang suruhannya untuk menurunkan senjata yang siap meluncurkan timah panas ke tubuh keduanya.
"Tunggu!" Ulang salah satu dari dua orng yang sudah tidak berdaya itu.
"Aku memang... ti-dak tahu soal bisnis ilegal tu-an Hendrico." Ucapnya menahan sakit.
"A...ku hanya pernah mendengar ru-mor bahwa Tuan Hendrico memiliki pasukan lain untuk mengu-rus bisnis itu," lanjut pria itu.
"Kami pasukan tim H hanya mengurus bisnis legalnya. Dan yang ilegal ada pasukan lain yang saya tidak tahu siapa dan berapa jumlahnya."
"Informasimu tidak berguna!" Ken memberi kode untuk menaikkan lagi senjata api kearah dua orang tersebut.
"Tu-tunggu dulu!"
"Saya pernah mendengar Tuan mengatakan markas di daerah x. Tempatnya jauh di dalam hutan."
"Jangan membohongiku!" Bentak Ken.
"Itu yang ku tahu, Pak!" jawab Pria itu penuh rasa takut.
Ken berfikir sejenak. Dimana letak markas itu? Daerah x sangat luas dan hutan disana juga begitu luas. Ia segera keluar dari ruangan itu.
Ken duduk di sebuah meja kerja, masih di tempat yang sama. Ia mencari data lebih lengkap mengenai Hendrico Group.
Perusahaannya berpusat di Eropa. Lalu pria tadi mengatakan markas bisnis haramnya ada di negara ini dan di tengah hutan.
Aland lebih banyak berkarier di negara ini sebagai arsitek. Mengapa teka teki ini begitu sulit di pecahkan?
Apa mungkin Aland yang menjalankan bisnis haram itu dengan berkedok sebagai seorang arsitek?
Apa mungkin, bisnis haram puluhan tahun lalu itu sudah mereka tinggalkan?
Lalu bagaimana aku mencari celah agar bisa membalaskan dendamku?
Ken mengetuk-ngetuk meja kerjanya. Bersamaan dengan masuknya seorang pria.
"Bos, ada informasi baru!" Orang kepercayaannya memberi laporan.
Ken mengangguk semangat. "Katakan!"
"Malam tadi, tuan Hendrico tidak pulang ke rumahnya."
Setelah pertemuan kami malam tadi?
"Dia menuju satu rumah mewah di pinggiran kota."
"Dan ada satu mobil box besar. Di curigai berisi korban illegal trafficking. Karena setelah kami ikuti, mobil itu menuju ke pelabuhan."
"Tim masih mengikuti mereka?" Tanya Ken.
"Sayang sekali, kami kehilangan jejak setelah menyebrang!"
__ADS_1
Ken mengangguk pelan. "Awasi terus rumah itu!" Perintahnya kemudian.