
"Tunggu aku kembali!" Pelukan hangat Ken berikan pada gadis cantik yang mengantarkannya hingga ke gerbang keberangkatan.
Hari ini ia dan Alvin akan kembali ke negara dimana perusahaannya berdiri. Untuk kedua kalinya meninggalkan hati yang tertawan oleh seorang gadis yang berada dalam dekapannya kini yang dalam hitungan bulan akan resmi menjadi istrinya.
"Aku akan kembali, dan aku akan berusaha sesering mungkin datang," ucapnya kemudian. Ia akan berusaha jika ada waktu senggang, akan kembali berkunjung ke negara ini.
"Jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan dan jangan terlambat makan," pesan yang ia ucapkan pada calon istrinya.
"Atau gaun pengantinmu akan menjadi longgar nanti," Ken terkekeh pelan.
Lova melepas pelukan hangat itu. Ia juga tertawa pelan. Beberapa hari terakhir, Ken dan Lova menyempatkan diri melakukkan fitting baju pengantin dan membicarakan konsep pernikahan dengan salah satu wedding organizer ternama untuk mengatur pesta pernikahan mereka kelak.
Tidak ada perdebatan berati, karena Ken menyerahkan semua keputusan pada Lova kecuali biaya. Ia hanya menyediakan uang yang banyak demi mewujudkan pernikahan impian gadis itu.
"Aku bisa menjaga pola makanku, Ken."
"Justru dirimu lah yang perlu diperhatikan. Jaga pola makan dan rutin olahraga. Jangan sampai perut six pack ini menjadi one pack dalam tiga bulan!" Lova menusuk perut Ken dengan telunjuknya.
"Dan satu lagi, kurangi junk food!"
"Hahah... Aku tidak akan bisa makan enak jika bukan hasil masakan Mommy!" Ken tersenyum melirik Alana yang berdiri di belakang Lova.
"Jangan manja, selama bersama Bapak, kamu juga tidak pernah menikmati masakan Mommy dan kamu tidak pernah mengeluh, Ken!" sindir Alana.
"Dulu sedikit berbeda, Mom. Jika aku mengeluh, mungkin Mommy akan segera mimintaku kembali dan kita tidak akan sampai di titik ini."
"Love you!" Alana berucap tanpa suara pada putra tersayangnya itu.
"Always Love you too, Mom!" Balas Ken membuat Lova tersenyum bahagia. Setidaknya ia tidak perlu khawatir jika suaminya kelak tidak cocok dengan ibunya atau dirinya kelak yang tidak cocok dengan ibu mertuanya. Karena Ibu dan ibu mertuanya adalah orang yang sama. Ini menggelikan baginya. Tapi mau bagaimana lagi jika takdir yang membawanya hingga kesini.
Alvin dan Ken perlahan berjalan maju sambil melambaikan tangan kepada mereka bertiga.
"Vin, selamat berjuang!" teriak Lova menyemangati pria yang telah menjadi penolong diantara Ken dan dirinya.
Lova tahu, ada bayaran mahal yang Alvin terima. Entah itu tentang uang atau hal lain. Yang pasti, Alvin pasti mendapatkan keuntungan lain selain Rosa.
"Terima kasih, kak! Titip gadis itu!" teriak Alvin bersemangat.
"Pasti!" Lova menga*cungkan ibu jarinya. "Akan ku pastikan dia tetap single sampai kamu kembali."
"Ayo kita pulang!" Rangkul Brata pada dua orang wanita yang ia cintai itu.
"Satu wanitaku kembali, dan satu wanitaku akan pergi!" lirih Brata saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Lova yang sedang mengemudikan mobilnya sampai melihat dari spion. "Setidaknya aku akan tetap bisa kalian lihat, Ayah!"
"Aku beruntung, Ken bisa berkorban dan mengalah!"
"Entahlah, ini benar atau salah. Yang pasti, kita harus berterima kasih pada Ken dan Alvin," ucap Lova.
"Bunda menyayanginya, Lov. Sejak dulu pengorbanannya tidak tanggung-tanggung!"
"Untuk itu, jika kelak kalian kembali dalam situasi sulit, kalian berdebat dan berbeda pendapat, cobalah mengalah, Nak!"
"Dia sudah mengorbankan banyak hal untukmu dan kita semua."
"Menurutlah sebagai seorang istri."
__ADS_1
"Ayah tahu, dia mencintaimu, Nak!"
***
"Oh, God!" Thomas menepuk keningnya saat melihat Ken masuk ke dalam rumah dengan seorang pria dibelakangnya.
"Kamu membawanya, Ken?" tanya Thomas frustasi.
"Ya, dia akan menjadi CEO di perusahaan."
"Oh, God! Musibah apa ini?" seru Thomas seolah datangnya Alvin akan membawa bencana besar.
"Hai... Miss you, jagoan!" Alvin langsung memeluk wanita yang menyapanya. Wanita yang datang dari arah dapur itu tertawa senang.
"Bibi... Katakan pada putramu yang tampan itu. Aku kembali untuk membantunya di perusahaan. Jadi, mintalah ia berhenti menganggapku sebagai musibah!" Alvin mengadu pada wanita itu sambil menunjuk Thomas yang duduk tegak sambil memeluk bantal kursi.
Wanita seusia Alana itu tertawa senang. "Biarkan saja, Vin! Aku senang kamu kembali. Rumah ini akan ramai dengan tikus tikus besar yang saling bekejar-kejaran."
"Kemana Mommymu, tidak ikut?" tanya wanita itu.
"Tidak Bibi. Persiapan pernikahan Ken dan Lova sudah dimulai."
"Mereka akan lebih repot dari putramu itu!" Alvin belum selesai menyindir Thomas.
"Mereka tidak tahu saja, kalau mengurus dirimu jauh lebih merepotkan!" balasan dari Thomas membuat Ken jengah.
Ia memilih menghempaskan diri di sofa. Keduanya baru bertemu, tapi sudah berdebat begini.
"Aku akan berubah menjadi pria dewasa, Thom!" Seru Alvin.
"Kita lihat saja, nanti. Awas saja kalau kamu asal-asalan menandatangani berkas tanpa membacanya dulu!" ancam Thomas.
"Cih!" Thomas berdecih. "Aku heran, mengapa Ken percaya begitu saja padamu!"
"Karena dia melihat ada potensi dalam diriku, Thom!" seru Alvin bangga.
"Oh, ya?" tanya Thomas penuh ejekan. "Di bagian mana kamu melihat potensi itu, Ken?"
"Ayolah Ken? Matamu sedang tidak bermasalah, kan?" Thomas menatap Ken.
"Kurasa potensi yang kamu lihat itu adalah potensi untuk menghancurkan perusahaan."
Ken tertawa. "Teruslah saling ejek dan hina. Dan aku sepertinya butuh popcorn dan minuman kaleng untuk menontonnya."
Thomas dan Alvin saling tatap namun seketika sama-sama membuang muka dengan tangan yang terlipat di dada.
"Berdamailah!"
"Tidak akan!" jawab keduanya kompak.
"Ku sewakan X club malam ini untuk kalian berpesta!" ucap Ken menyebut nama sebuah club malam ternama.
Wajah Thomas dan Alvin mulai ceria. Keduanya mulai tertarik.
"Undang semua teman kalian dan berikan bill nya padaku. Aku akan membayar semuanya."
"Ini serius, Ken?" tanya Thomas bersemangat.
__ADS_1
"Kakak tidak membual?" tanya Alvin.
"Tentu tidak!"
Jari telunjuk Ken menga*cung. "Dengan catatan, cuma minum. No obat-obatan!" Ken memperingatkan.
"Yesss! Party....!" Teriak keduanya kompak sambil bertos ria.
Keduanya memang sering mengadakan pesta di club malam. Terlebih keduanya termasuk dalam satu komunitas pecinta mobil modifikasi.
"Oke.. Aku akan segera menghubungi teman-temanku!" Thomas langsung menyambar ponselnya.
"Ku rasa kamu harus menghubungi nona cantik dari keluarga Smith, Thom!"
"Oh, tentu, Vin! Dia tidak boleh terlewat. Si s*exy itu pasti masuk dalam daftar tamu pentingku!"
"Ck! Jika urusan dada dan paha..."
"Diamlah, Ken!" potong Thomas. "Fokus saja pada pernikahanmu!"
"Atau..." Thomas menatap Ken sekilas. "Kamu ingin ikut dan belajar bagaimana caranya membuat baby?"
"Akanku carikan guru private dan langsung praktek!"
Ken melempar kepala Thomas dengan batal. "Aku tidak sebod*h itu!" Seru Ken.
"Ck!" Decak Alvin. "Biarkan saja, Thom! Jam terbang akan membuatnya mahir, nanti!"
"Lagi pula bukan masalah style, urusan baby itu masalah kesuburan!"
"Jika benihnya unggul, hanya diam tanpa bergerak pun, pasti akan berhasil," lanjut Alvin sambil tertawa. Thomas bahkan juga ikut tertawa.
"Sekali lagi menyudutkanku, Rosamu tidak aman, Vin!"
"Jangan menggunakan gadis itu sebagai bahan untuk mengancamku, kak!" Seru Alvin tidak suka.
"Wait!" ucap Thomas. "Siapa Rosa?"
"Rosa..."
"Rosa..." Thomas berulang kali menyebut nama yang tak asing baginya.
"Dia sekretaris Lova?" tanya Thomas tak percaya. Ia pernah bertemu gadis itu saat datang ke kantor Lova beberapa bulan lalu.
Ken mengangguk dan Thomas terbahak. "Oh God!" Serunya tak percaya.
"Tapi, dia cantik sih!"
"Jangan mencoba berfikir untuk mendekatinya!" Ancam Alvin.
"Hahahah... Terserah padaku. Jika kamu sudah berhasil menikahinya, baru katakan itu padaku!"
Alvin melompat dan menindih tubuh Thomas. Lalu mencekik pelan pria itu.
"Akan ku bun*uh kau!" teriak Alvin
"Bunuh saja. Jika aku mati, maka Rosa enggan menikah dengamu calon penghuni penjara!"
__ADS_1
"Ck!" Ken berdecak. Ia berjalan masuk ke kamarnya. "Baru sepuluh detik terlihat akur, sekarang sudah berkelahi lagi!"