
Perusahaaan Bratadikara.
Aland masuk ke lobby perusahaan Bratadikara. Dengan setelan kerja, pria tampan nan rapi itu mampu menarik perhatian kaum hawa yang bekerja di kantor Bratadikara.
Kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya membuat pesonanya kian menjadi-jadi.
"Selamat pagi, Pak!"
Sapaan seperti itu akan selalu ia dengar di sepanjang jalan menuju lift. Bahkan ada yang tersenyum malu kala berselisihan jalan dengannya.
Aland sampai di meja sekretaris CEO. "Saya ingin bertemu pengganti Bu Lova." ucap Aland pada Clara, sekretaris Lova.
"Sebentar, Pak!"
Clara menghubungi Ken dengan intercom di meja kerjanya. "Pak, disini ada Pak Aland. Beliau ingin bertemu dengan Bapak."
"Persilahkan masuk, Cla!" suara Ken terdengar dari intercom milik Clara.
"Baik Pak."
"Mari saya antar, Pak." Clara berjalan lebih dulu untuk membukakan pintu.
"Terima kasih!"
Ken melihat Aland yang baru saja masuk dari pintu kaca ruangannya. Ken melihat pria angkuh yang sedang berjalan mendekat kearahnya. Putra dari musuhnya.
"Silahkan duduk Pak Aland." Ken berdiri menyambut Aland dan mempersilahkan Aland duduk di sofa.
Aland duduk dengan menekuk satu kakinya keatas. Ken tersenyum kecil. "Ada hal penting apa yang membawa anda datang ke sini?"
Aland tertawa hambar. "Apa saya salah datang ke kantor rekan kerja sendiri?
Ken tersenyum kecil. "Tidak ada yang salah," jawab Ken cepat. "Hanya saja ini untuk pertama kalinya anda datang kesini selama saya duduk di ruangan ini."
Aland mengangkat bahunya.
"Ah, ya... salam kenal Pak Ken! Perkenalkan, saya Aland, arsitek di proyek pembangunan hotel pak Robert." Aland mengulurkan tangannya agar dijabat oleh Ken.
Ken tersenyum kecil. "Ah, Ya... sampai lupa berkenalan. Salam kenal juga pak Aland!"
"Saya Ken, pengganti sementaranya Bu Lova."
Ini kali pertama mereka bertemu. Ken melihat dengan jelas wajah Aland begitu mirip dengan Hendrico.
Darah Hendrico jelas mengalir dalam nadimu. Wajahnya dulu sama persis seperti wajahmu sekarang. Dan kalian juga sama kejamnya. Rela melakukan berbagai cara demi mendapatkan gadis incaranmu. batin Ken.
Keduanya saling jabat tangan cukup lama. Tatapan mata keduanya juga saling memancarkan kebencian.
Diakah pria yang membawa gadisku? Bukankah dia hanya orang kepercayaan Brata? Mengapa pria yang bukan siapa-siapa ini bisa memegang kendali perusahaan? Ataukah ini tujuannya menculik Lova?
Jika memang Lovaku ada padamu, maka bersiaplah. Aku akan mengirimmu ke neraka. Batin Aland.
"Bagaimana dengan pencarian Bu Lova? Sudahkah ada perkembangan?" tanya Aland.
__ADS_1
Ken menggeleng pelan. "Kami semua sedang berusaha, Pak."
"Dengan melibatkan banyak pihak termasuk detektif swasta."
Bagaimana mungkin mereka menemukan Lova, jika kamu sendiri yang menyembunyikannya. Batin Aland.
"Jika anda berkenan, saya siap membantu. Kebetulan saya punya banyak kenalan detektif." Aland menawarkan bantuan pada Ken.
"Saya rasa tidak perlu, pak Aland. Saya tidak ingin merepotkan anda."
"Tapi proyek saya harus rampung tepat waktu. Dan saya sudah merasa cocok bekerja sama dengan Bu Lova."
"Saya akan tetap mengusahakannya, Pak!" Sahut Ken cepat. "Saya juga tidak ingin mengecewakan klien-klien di perusahaan ini."
"Apalagi kabar penculikan Bu Lova menjadi perbincangan hangat di kalangan pebisnis. Saya harus tetap menjaga agar perusahaan ini tetap berdiri tegak." lanjut Ken.
"Kapan anda bisa meluangkan waktu meninjau perkembangan proyek itu?" tanya Aland. "Anda belum pernah kesana, bukan?"
"Secepatnya, Pak. Jika pekerjaan di kantor tidak serepot dan sepadat sekarang, saya akan melihat langsung perkembangan pembangunannya."
"Tapi jangan khawatir. Laporan tiap minggunya pasti akan saya terima."
Keduanya terdiam cukup lama. Aland bahkan sempat menyesap kopi diatas meja yang Clara pesankan dari pantry. Hal rutin yang gadis itu lakukan jika ada tamu di ruang CEO.
"Pak Ken..."
"Ya..."
"Anda beruntung sekali!"
"Ya, anda sangat beruntung! Menjadi CEO dan orang kepercayaan pak Brata. Meskipun anda bukan siapa-siapanya."
Ken mengangguk pelan dan tersenyum. Menyindirku, Uhm?
"Saya malah menganggap ini beban sekaligus tanggung jawab yang begitu berat. Saya harus menjalankan perusahaan milik orang lain. Dan lebih buruk lagi, pewarisnya menghilang, pula." Ken menampilkan ekspresi datar.
"Apa anda tidak takut jika publik menuduh anda yang telah menculik Bu Lova?" Tanya Aland. Ia pria yang tidak takut apapun. Ia berani melontarkan pertanyaan yang bersifat sensitif.
Ken tertawa pelan. " Publik atau anda yang menuduh saya?" tanyanya.
Aland tertawa hambar. "Untuk apa saya menculiknya?" tanya Ken lagi.
"Yaaa... untuk bisa duduk di kursinya!" Aland tersenyum sinis.
Ken lagi lagi tertawa hambar. "Saya tidak serakus itu."
"Lalu sekarang apa?" tanya Aland. Ia menunjuk Ken dengan telapak tangan yang terbuka. "Bukankah ada putri Pak Brata yang lain yang bekerja di kantor ini?" Aland terus memancing emosi Ken.
"Dia sepertinya jauh lebih layak menggantikan Bu Lova."
Ya... ya... ya... agar dia bisa memanfaatkannya. Mauren kan sedang berada dibawah kendalinya. Selain ingin memiliki Lova, ternyata dia juga ingin menguasai perusahaan Bratadikara. Batin Ken.
"Saya bisa apa jika Pak Brata sendiri yang menunjuk saya?" tanya Ken.
__ADS_1
"Jika anda punya malu, ya sebaiknya ditolak saja." Aland tertawa sinis. Pria itu menatap remeh kearah Ken. "Segitu inginnya anda memiliki perusahaan sendiri?"
"Saya cuma diangkat sebagai CEO, Pak Aland. Bukan menjadi pemilik perusahaan."
"Ah, ya... saya dengar Nyonya Mariska menjodohkan anda dengan Bu Lova?" pertanyaan Ken membuat Aland tersenyum kecut karena itu artinya Ken mengetahui bahwa dirinya adalah putra dari keluarga Hendrico.
"Itu hanya akal-akalan para orang tua saja, Pak Ken! Seribu gadis seperti Bu Lova bisa saya takhlukan dalam semalam." Ucapnya sombong. Aland enggan mengakui bahwa ia menggilai Lova. Padahal Ken sudah tahu semuanya.
Ken menganggukkan kepalanya. "Saya tahu itu, Pak Aland. Pewaris Tuan Hendrico tidak mungkin kekurangan belaian gadis-gadis." Sindir Ken.
Aland tertawa. "Jika saya memang pewaris, untuk apa saya bekerja sebagai arsitek dan menangani proyek orang lain, Pak Ken?"
Ken juga ikut tertawa. "Hanya anda yang tau, Pak Aland. Jadi tanyakan saja pada diri anda sendiri."
Aland diam dan enggan menanggapi Ken. Dia terlalu pandai berbicara.
"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Ken.
"Ya, silahkan!"
"Terakhir kali, Bu Lova sedang bersama anda, bukan?" tanya Ken.
"Ya, hanya sampai parkiran dan setelahnya kami terpisah." Jawab Aland jujur.
"Tapi, Rosa mengatakan anda menawarkan bantuan saat mobil mereka mogok."
"Ya, tapi Bu Lova menolak." jawab Aland lagi.
"Dan setelahnya ada orang yang menyerang mereka." Ken menelisik wajah Aland yang tetap tenang.
"Bagaimana jika anda masuk dalam daftar orang yang patut dicurigai?" tanya Ken.
"Ah, tapi mana mungkin!" Lanjut Ken cepat saat Aland belum menjawab.
"Untuk apa anda menculik satu gadis, jika seribu gadis bisa anda dapatkan. Bukan begitu, pak Aland?"
Aland mengangguk. Ia melihat jam dipergelangan tangannya. "Maaf pak Ken, sepertinya saya harus segera pergi." pamit Aland.
Ia berdiri dan menjabat tangan Ken. "Saya permisi dulu. Senang bisa berbincang dengan anda!" ucap Aland. "Ternyata anda teman bicara yang baik!"
Ken tertawa. "Terima kasih atas pujiannya, Pak Aland! Anda juga teman bicara yang menyenangkan!"
Aland keluar dari ruangan itu. Ternyata dia sangat cerdas. Aku bisa melihat dari caranya menanggapi ucapanku. Dia juga sepertinya orang yang tenang. Lebih mengutamakan fikiran dari pada otot. Wajar saja dia bisa menggagalkan rencana Mariska.
***
Hai guysss. 😊😊
Makasih banyak emak ucapkan untuk akak-akak sekalian 🤗🤗🤗😘😚😚😚
Berkat dukungan hadiah dari kalian, Alova masuk ranking hadiah di angka 127 pagi tadi. Dan sekarang sepertinya sudah diangka 150an. Ya, karena pergeserannya sangat cepat.
Sekali lagi terima kasih semuanya 😊😊😊
__ADS_1
Salam sehat dan salam jejak jempol 😉😉😉