
Di sisi lain, pasangan Mauza dan Aland juga tampak serasi. Bibir gadis itu tak pernah berhenti melengkung saat ia menatap pria yang sedang meletakkan kedua tangan dipinggangnya itu. Sementara tangan Mauza ada dibahu dan dada pria itu.
"Jangan menatapku seperti itu, Mauza," pinta Aland.
"Aku hanya heran, pria sepertimu ingin berdansa," ucap Mauza karena ia sempat terkejut Aland mengajaknya berdansa.
"Bukan karena ingin dilihat rekan bisnis kamu, kan?" tanyanya lagi.
Aland menggeleng. "Tentu tidak. Aku hanya ingin melakukannya."
Entahlah. Aku ingin berdansa denganmu sebelum ada pria lain yang mengajakmu, Za. Batin Aland karena ia melihat Thomas dan Alvin yang tidak membawa pasangan.
Sementara itu, Alvin sedang melipir menuju meja Rosa yang tampak sedang melihat dansa para pasangan itu. Ia mendekat dan memberanikan diri mengajak Rosa untuk berdansa. Namun sayang, gadis itu sudah ditarik oleh seorang pria dan langsung mengajaknya berdansa.
Alvin hanya bisa gigit jari melihat gadis itu bergerak sambil tertawa bersama pria yang merupakan salah satu staff di perusahaan Lova.
Alvin terus berdiri memperhatikan gerak pasangan itu. Sepertinya hanya mereka berdua yang tidak bertingkah romantis karena dansa yang keduanya lakukan terkesan asal-asalan.
Rosa berputar-putar sambil tertawa dan akhirnya tangannya terlepas dari pria itu. Rosa langsung berhenti saat tubuhnya menabrak tubuh Alvin yang memang sedari tadi berdiri tak jauh darinya.
"Pa..pak Alvin." ucapnya gugup saat menyadari ia berhenti tepat dalam pelukan Alvin.
"Ros! Lanjutkan! Aku akan menjawab telpon dulu," ucap teman dansa Rosa yang sudah pergi menjauh untuk menjawab panggilan telponnya.
Alvin meraih pinggang Rosa. Ia menuntun tangan Rosa untuk diletakkan di bahunya. Rosa masih speachless dan ia hanya bisa bertingkah seperti gadis bod*h yang menuruti kemauan Alvin.
Kecanggungan dirasakan oleh Rosa. Terlebih melihat Alvin yang hanya diam dan membimbingnya untuk terus bergerak ke kiri dan ke kanan.
Rosa menunduk karena ia tidak sanggup melihat tatapan mata Alvin yang mengincar manik matanya. Tatapan mata itu begitu tajam hingga mampu mempercepat kinerja jantungnya.
"Kenapa tidak ingin menatapku?" tanya Alvin dengan nada dingin.
"Sa-saya..." jawab Rosa gugup.
"Perasaanku masih sama, Ros!" Bisik Alvin berhasil membuat bulu kuduk Rosa meremang.
"Aku masih mencintaimu dan berharap bisa bersamamu!" Alvin tidak peduli lagi dengan yang namanya penolakan karena ia merasa ini adalah kesempatan terakhir baginya.
"Aku tidak peduli, jika kali ini kamu kembali menolakku!"
Rosa menatap wajah Alvin. Ia memberanikan diri karena ingin melihat kesungguhan pria itu. Selama ini, Rosa tidak pernah menganggap Alvin serius. Dari segi usia jelas mereka berbeda. Dari segi harta, tahta dan kekayaan, mereka juga berbeda.
Rosa kerap kali bertanya pada dirinya. Apa yang Alvin lihat darinya? Dan saat hati nuraninya berkata, tidak ada. Ia kembali bertekad untuk menolak pria yang ia duga hanya ingin main-main saja.
"Karena setelah ini aku akan pergi dan tidak akan pernah kembali."
"Aku tidak akan pernah menemuimu lagi. Mungkin kakiku juga tidak akan pernah berpijak di perusahaan kak Lova." Ya, Alvin bisa mengandalkan Thomas untuk urusan kerja sama. Atau mungkin ia bisa mengandalkan Ken.
__ADS_1
Deg! Jantung Rosa rasanya seperti berhenti berdetak saat mendengar bahwa Alvin tidak akan menemuinya lagi. Ada rasa tidak rela disana.
Rosa melihat manik mata itu tak lagi tampak seperti ingin mengulitinya. Tatapan itu mulai meredup dan yang ada hanyalah cinta yang ia lihat begitu jelas. Mata itu tampak berkaca dan menatapnya penuh harap.
"Semoga kamu selalu bahagia, Ros! Semoga kelak kamu menemukan pria yang benar-benar kamu cintai dan juga mencintaimu."
"Anggap saja, dansa ini adalah salam perpisahan dariku. Pria bod*h yang selalu mengejarmu."
"Aku sempat optimis, dan beberapa hari terakhir aku menjadi pesimis."
"Aku menyerah, Ros. Hatimu terlalu jauh untuk ku jangkau."
"Hatimu terlalu keras untuk ku luluhkan."
"Dan aku sudah berada dititik lelahku..."
Sementara itu, cara pasangan Thomas dan Mauren berdansa lumayan kaku. Selain karena baru mengenal dan mereka tidak punya hubungan apapun, ternyata keduanya sama-sama merasakan debaran aneh di dada.
Ayolah Thom. Kamu hanya perlu bergerak ke kanan dan kiri. Tidak harus bergerak ero*tis seperti di club. Lihat pasangan Pak Brata dan Bibi Alana yang begitu santai! Batin Thomas menyemangati dirinya sendiri.
Huh! Ingat Mauren! Pria ini hanya mengajakmu berdansa karena mungkin kekasihnya tidak bisa datang. Pria sesempurna dia tidak mungkin menjomblo sepertimu! Batin Mauren untuk menyadarkan dirinya agar tidak terbawa perasaan akibat perlakuan Thomas.
Lekukan pinggangnya sungguh sempurna. Tidak bisa ku bayangkan bagaimana indahnya jika ia menari diatas tubuhku. Otak Thomas mulai memikirkan hal lain.
Dadanya begitu keras dan berotot. Aku bisa merasakannya meski dari luar jas yang ia pakai. Batin Mauren lagi.
"Apa kamu merasa tidak nyaman, Mauren?" tanya Thomas.
"Maaf, tapi aku memang ingin mengajakmu berdansa bersama."
"Boleh ku tanya sesuatu?" tanya Thomas dan Mauren mengangguk.
Thomas melepaskan satu tangannya dipinggang Mauren. Ia mengambil satu gelang kaki di saku jasnya.
Thomas melingkarkan tangannya dipinggang Mauren dan satu tangannya lagi menggantungkan gelang kaki itu tepat di depan wajah Mauren.
Mata gadis itu membulat membuat Thomas yakin perhiasan ini milik gadis yang berada dalam rengkuhannya.
"Aku sedang mencari pemiliknya." Mauren langsung menatap mata Thomas.
"Itu..."
"Ini milikmu?" tanya pria itu lagi dan Mauren mengangguk sekali.
"Bagaimana anda bisa tahu itu milik saya? Dan dimana anda menemukan gelang kaki itu?"
Gelang kaki hadiah ulang tahun dari Mariska. Benda berharga yang ia simpan hingga kini sebagai kenang-kenangan dari wanita yang sedang menghabiskan masa tahanannya di penjara itu.
__ADS_1
Mauren cukup terkejut karena Thomas menemukan gelang kaki yang hilang entah kemana. Sesampainya di rumah siang tadi, ia tak langsung menyadari bahwa gelang itu hilang. Ia baru mengetahuinya saat mandi sebelum bersiap untuk datang ke hotel ini.
"Anggap saja ini petunjuk dari Tuhan, bahwa tak hanya Cinderella yang kehilangan sepatu kacanya dan akhirnya pangeran datang meminangnya."
Mauren masih bingung. "Anggap saja dirimu seorang putri yang kehilangan gelang kakinya dan aku adalah pangeran yang berhasil menemukannya."
Thomas berjongkok dan memakaikan gelang kaki itu di kaki Mauren. Dress yang panjangnya hanya sebetis itu membuat Thomas lebih mudah memasangkannya.
Lagi-lagi, sepasang kaki putih mulus dan jenjang itu begitu menggoda imannya. Thomas segera berdiri dan kembali meraih pinggang gadis itu.
"Bukankah kamu sedang sendiri?"
Mauren mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Sejak masalah menimpa mama dan ck! Aku ditinggalkan." gumamnya pelan. Ia masih kesal pada pria yang pergi meninggalkannya itu. Bukannya didukung, Mauren malah mendapati pria itu sedang berselingkuh dengan wanita lain.
"Be my girlfriend and I promise i'll never leave you!" bisik Thomas di telinganya.
*jadilah kekasihku dan aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu!
Thomas mengatakan kalimat yang biasa diucapkan para buaya darat. Namun begitu, tetap saja Mauren merasa berdebar.
"Bagaimana, Mauren?" tanya Thomas lagi.
"I don't know."
"Kita masih baru saling mengenal dan saya rasa anda terlalu terburu-buru."
"Beri kesempatan, Mauren!"
Mauren menatap wajah Thomas yang menunggu jawaban darinya. "Saya tidak bisa, Pak Thomas."
"Why?"
"Jarak!" jawab Mauren singkat dan Thomas langsung mengerti, jarak yang di maksud adalah harta, latar belakang keluarga, nama baik dan semuanya.
Tepuk tangan tamu undangan mengakhiri dansa meraka semua. Banyak orang bersorak saat melihat Ken dan Lova saling menempelkan bibir keduanya.
"Terima kasih saya ucapkan kepada hadiri. semua untuk satu moment luar biasa ini," ucap Ken kepada tamu undangan.
Semua orang kembali ke meja masing masing. Alvin melepaskan tangan Rosa dengan berat hati karena hingga dansa berakhir, gadis itu tak bicara apapun lagi.
Alvin menganggapnya sebagai sebuah menolakan. Ia melihat wajah Rosa, mungkin untuk yang terakhir kalinya sebelum lusa ia benar-benar kembali ke negaranya.
Thomas membawa Mauren kembali ke mejanya. Gadis itu sesekali menatapnya. Suasanya tak lagi senyaman tadi sebelum mereka berdansa.
__ADS_1
Thomas menyadari langkahnya terlalu cepat dan dilakukan ditempat yang salah pula.
Sementara Mauren, tak lagi bisa menikmati jalannya pesta ini. Ia sedang memikirkan setiap kalimat Thomas yang masih terngiang-ngiang di telinganya.