
Alvin keluar dari ruangan Lova dan ia melihat Rosa berjalan kearah pantry yang jaraknya tak jauh dari ruangan itu.
Alvin mengekor dibelakangnya. Ia mengikuti gadis itu hingga akhirnya ia bisa melihat Rosa sedang menghubungi seseorang.
"Astaga! Bagaimana bisa, Bu? Apa tidak ada kesempatan untuk berberes?" Rosa menyandarkan bok*ngnya disisi meja. Gadis itu tidak menyadari kehadiran Alvin yang masih terpaku di depan pintu. Pria itu enggan mengganggu Rosa yang sepertinya sedang menerima panggilan penting dari seseorang.
Rosa menutup mulutnya tak percaya. Ia meneteskan air mata membuat Alvin menduga-duga apa yang terjadi pada gadis itu.
Ibu? Bukankah dia yatim piatu? Lalu mengapa ia menangis seperti itu?
"Baik, baik!" Rosa menegakkan tubuhnya.
"Aku akan kesana sekarang! Jangan pergi kemana pun, Bu!" Rosa mengakhiri panggilan itu dan segera berlari keluar.
Alvin sudah tidak berada di pintu lagi. Ia sudah diluar dan memunggungi Rosa yang berlari panik.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Alvin kembali mengikuti Rosa yang mengetuk ruangan Lova dan langsung masuk ke dalam.
"Bu... Saya harus pergi sekarang!" ucapnya cepat.
"Kemana Ros? Mengapa kamu menangis?" tanya Lova heran. Dan ia hanya khawatir jika ini semua karena Alvin yang belum lima menit keluar dari ruangannya.
"Ke panti, Bu! Panti benar-benar digusur dan Ibu panti bersama anak-anak sekarang sudah di usir keluar dari tempat itu."
"Astaga!" Lova terkejut.
"Pergilah, Ros! Hubungi saya jika butuh sesuatu!"
"Baik, terima kasih, Bu!"
Rosa kembali keluar dan menyambar tas nya. Ia bahkan tidak peduli saat tubuhnya menabrak tubuh Alvin yang berada di depan pintu.
"Cla... Aku pergi dulu!" Pamit Rosa dan Clara hanya terbengong karena tak faham Rosa akan kemana.
Alvin berlari mengejar Rosa. Mereka masuk ke lift dan benar-benar hanya berdua.
Rosa tak peduli pada pria yang saat ini sedang berdiri di sampingnya. Ia malah fokus pada angka di lift yang menandakan mereka berada di lantai berapa.
Rosa keluar dengan terburu-buru. Ia berlari keluar area gedung untuk mencari taxi. Tapi sebuah tangan kekar menarik tangannya.
Rosa melihat Alvin yang menatapnya dan mengangguk. "Ku antar!" ucap pria itu kemudian.
"Saya bisa sendiri-"
__ADS_1
"Terburu-buru, kan?" tanya Alvin.
Rosa mengangguk dan Alvin tiba-tiba menariknya paksa. Membuat Rosa yang belum bersiap menubruk tubuh Alvin.
"Maaf, pak!"
Alvin mengangguk dan membawa gadis itu ke mobilnya.
"Di depan, Ros! Saya bukan supir kamu!" Ucap Alvin saat Rosa hendak membuka pintu belakang mobil.
Alvin membukakan pintu depan dan menyuruh Rosa masuk. Ia lantas ikut masuk dengan setengah memutari mobil.
"Kemana?" tanya Alvin.
"Panti asuhan Kasih Bunda di jalan Xxx."
Alvin mengeluarkan ponselnya dan mencari di map. Ia mengikuti petunjuk dari ponselnya.
"Sebenarnya ada apa, Ros? Mengapa kamu panik sekali!"
Rosa menggeleng pelan. Ia menggigit kuku tangannya. Ia masih memikirkan kemana ia akan membawa Ibu-ibu panti dan anak-anak yang jumlahnya hampir 20 orang itu.
Panti asuhan Kasih Bunda adalah panti asuhan dimana ia dibesarkan. Tidak ada yang mengadopsi dirinya hingga dewasa. Rosa bahkan tidak tahu siapa orang tuanya hingga sekarang.
Setelah lulus SMA, Rosa melanjutkan kuliah diluar kota dengan beasiswa yang ia dapatkan dan hidup mandiri diluar panti sambil bekerja sampingan. Kadang ia jadi buruh cuci dan kadang ia menjadi asisten rumah tangga panggilan.
Alvin terheran saat gadis itu langsung turun dan menghampiri gerombolan anak-anak dan dua orang wanita paruh baya sedang duduk di bawah pohon besar.
Alvin ikut turun dan takjub melihat Rosa menanyai keadaan semua orang-orang itu.
"Bu, kalian keluar dan..."
Salah satu wanita itu mengangguk. "Kami tidak sempat membawa apapun, Ros!"
"Tempat itu langsung dihancurkan dengan alat berat."
Rosa menghela nafas berat. "Kalian tunggu di sini, ya..."
Rosa menghampiri Alvin. "Pak, terima kasih sudah mengantar saya. Bapak bisa pulang sekarang."
"Lalu kamu?" tanya Alvin.
"Saya akan pergi bersama mereka, mencarikan tempat tinggal mereka yang baru."
"Panti sudah digusur paksa dan saya tidak bisa membiarkan mereka tidur di jalanan."
__ADS_1
"Saya ikut kamu!"
"Tapi, pak!"
"Ros! Tidak semua masalah bisa kamu selesaikan sendiri."
"Tunggu sebentar!" Alvin mengambil ponsel disaku celananya dan segera menghubungi Ken.
"Kak! Bisakah ku pakai rumah kita untuk membantu anak-anak panti?" tanya Alvin. Ia tahu, rumah Ken yang pernah di gunakan sebagai tempat untuk menawan Lova waktu itu sedang kosong. Hanya ada asisten rumah tangga yang tinggal disana untuk merawat rumah itu.
"Thanks, Kak!" ucap Alvin senang saat Ken mengizinkan Alvin untuk membawa anak-anak panti ke rumah itu.
"Satu masalah selesai! Bawa mereka ke rumah kak Ken," ucap Alvin pada Rosa.
Rosa terdiam. "Tapi-"
"Ros! Kamu tega lihat bayi itu kepanasan?" tunjuk Alvin pada bayi 3 bulanan dalam gendongan salah satu ibu panti.
"Apa kamu sudah punya rumah untuk mereka tinggali?"
Rosa menggeleng. Ia sendiri tinggal di sebuah kontrakan. Tabungannya belum cukup untuk membeli rumah, karena selama ini ia masih tetap memberikan sebagian gajinya untuk panti asuhan itu.
"Pesan taxi online, Ros!" perintah Alvin pada gadis itu.
Rosa membulatkan matanya. "Mereka terlalu banyak, Pak. Bagaimana jika mobil pick up saja."
"Ck!" decak Alvin. "Dan kamu membiarkan mereka kepanasan."
"Tunggu disini sebentar!" Alvin masuk ke dalam mobilnya.
"Jangan kemana-mana, Ros! Aku akan segera kembali." Alvin meninggalkan tempat itu. Ia belum tahu akan kemana, tapi ia segera mencari di ponselnya sebuah tempat penyewaan minibus.
"Pas sekali, hanya satu kilometer dari sini," gumamnya saat melihat tempat penyewaan bus terdekat di ponselnya.
Sementara itu, Rosa ikut duduk di rerumputan bersama penghuni panti lainnya.
"Kalian tunggu disini sebentar! Aku akan menemui Bu Diana, wanita yang tidak punya belas kasihan sama sekali itu!"
"Ros! Jangan Nak!" cegah ibu panti bernama Siti saat Rosa akan menemui Bu Diana, pemilik tanah tempat berdirinya panti asuhan itu.
"Diana tidak ada disana, Nak!"
Tanah itu awalnya adalah tanah milik ayah dari Bu Diana dan Bu Siti. Hanya karena Bu Siti hanya anak angkat, Bu Diana merasa dirinya lebih berhak atas tanah itu.
Hingga wanita yang usianya sudah hampir 50 tahun itu mengusir mereka semua, menghancurkan bangunan panti dan akan menjual tanah itu kepada orang lain.
__ADS_1
Jangankan mengganti dengan bangunan yang baru, sekedar mencarikan rumah sewa untuk sementara saja tidak Bu Diana lakukan.
Rosa sudah mencoba bernegosiasi dan di beri waktu satu bulan. Tapi ini masih 2 minggu dari waktu yang mereka sepakati.