ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 25 Lova dan Ken


__ADS_3

Ken masuk kedalam kamar dimana Lova tengah terlelap. Ia lelah setelah menangis berjam-jam.


Ken mendekat, ia berdiri dengan kedua lututnya. Ia melihat wajah Lova yang memang sangat terlihat jika gadis itu habis menangis.


Ken mengusap rambut yang terurai di bantal itu. Ia merasa bersalah pada gadis di depannya.


Maafkan aku Lova. Maafkan aku.


"Tidurlah, aku akan menunggumu terbangun bahkan hingga waktu subuh tiba." ucap Ken dengan suara pelan.


"Lelahmu dan sedihmu hari ini adalah akibat ulahku."


"Aku terlalu takut untuk jujur, Lov. Aku takut kamu membuat semua yang sudah ku rancang rapi menjadi berantakan."


"Katakan aku egois! Tapi ini kesempatan bagiku untuk membalas dendam bertahun-tahun silam."


"Semakin cepat akan semakin baik."


"Kamu tahu?"


"Semua musuh sedang mencarimu. Kamu tenanglah disini, sampai aku menyelesaikan permainan ini. Hanya dua hari, Lova. Aku janji setelah ini kamu akan bertemu Pak Brata."


Ken diam sejenak. "Aku akan menghukum Mariska."


"Aku sudah mengumpulkan banyak bukti kejahatannya."


"Semoga kamu setuju dengan apa yang ku lakukan ini."


"Aku juga akan membuatmu terhindar dari Aland."


"Ah... ya... Aku ingin bercerita." Ken ingat sesuatu.


"Ternyata pria bernama Aland itu benar-benar menyebalkan."


"Dia kaya dan berpendidikan, tapi sepertinya dia sak*t jiwa." Aland tertawa kecil.


"Dia bertindak semaunya tanpa rasa takut sedikitpun."


"Aku belum pernah bertemu langsung dengan Hendrico. Tapi yang ku dengar, dia memang keji dan tak berprikemanusiaan. Mariska sampai stress hidup dibawah tekanannya."


"Aku akan tidur di sofa sana!" Ken menunjuk arah sofa seolah Lova bisa melihatnya. "Saat bangun nanti, kamu akan menemukan Mr. A ada di kamarmu."


Ken merapikan selimut Lova. Tapi tangannya di tahan oleh tangan Lova. Ken melihat tangan itu. Tangan putih nan lembut tengah memegang punggung tangannya.


Ken menatap wajah Lova, bola mata itu terbuka. Ken sedikit terkejut dan gugup.


"Permainan apa, Ken?" pertanyaan pertama yang Lova lontarkan.


"Sejauh apa kamu mengendalikanku dan ayah?"


"Untuk apa semua ini, Ken?"


"Untuk apa aku ada disini dan ayah entah ada dimana?"


"Jangan selamatkan aku jika ayahku dalam bahaya."


"Jangan jadikan aku batu loncatan untukmu membalas dendam."


"Mengapa aku, Ken?" Lova meneteskan air matanya. "Mengapa harus aku?"


"Saya... saya..." Ken gugup karena sentuhan tangan Lova berhasil membuat darahnya berdesir.


"Saya ingin menjaga anda dari kejahatan Mariska."


"Saya membawa anda dari penculik suruhan Mariska!"


Lova membukatkan mata. "Maksudnya?"

__ADS_1


"Saat itu Mariska yang menculik anda."


"Dan di tengah jalan, orang-orangku berhasil membawa anda."


Lova menutup mulutnya tak percaya. Dia baru tahu tentang hal itu. "Lalu ayah?"


"Bapak dalam keadaan sehat dan berada di rumah sakit."


"Sehat tapi di rumah sakit?" tanya Lova heran. Sebenarnya siapa yang sakit?


"Ya, besok bapak boleh pulang. Tapi saya tahan sebentar sampai saya meledakkan bom waktu untuk Mariska."


Lova mengerutkan keningnya.


"Sudahlah, yang terpenting, Saya mohon, bantu saya sekali ini saja."


"Bantu saya dan Alvin mencari keadilan."


"Alvin?"


Ken mengangguk. "Dia adikku.."


Adik? Lova membulatkan matanya. Keduanya tidak mirip.


"Ceritanya panjang hingga wajah kami tidak mirip."


Ken bisa membaca pikiranku?


"Ken, aku ingin bicara dengan ayahku." Pinta Lova dengan nada sendunya. Wajah lelah drngan mata berkaca itu membuat Ken terpaksa mengangguk.


"Sebentar!" Ken mengambil ponsel di saku celananya. Ia mencari nama seseorang dan melakukan panggilan video.


"Ya... ada apa?" tanya seorang pria dengan suara paraunya. Pria itu sepertinya sedang tidur.


"Aku memintamu menjaga Bapak, Vin. Bukannya menumpang tidur di rumah sakit." Marah Ken pada Alvin yang sepertinya menikmati tidur malamnya.


Lova mengintip sedikit dan dia terbelalak melihat wajah Alvin ada di layar ponsel Ken. Dan pria itu sepertinya sedang berada di rumah sakit, karena sekilas Lova bisa melihat sebuah ranjang dengan pasien tengah berbaring diatasnya.


"Apa bapak sudah tidur?"


Alvin tampak mengalihkan wajahnya kearah ranjang pasien.


"Saya belum tidur, Ken!" Itu suara Brata.


"Ayaaah!" gumam Lova tak percaya. Ia menutup mulutnya dengan tangan dan air matanya lolos begitu saja.


Ken mengarahkan ponsel itu ke wajah Lova dan ia melihat ponsel bergerak mendekati pria paruhbaya di atas ranjang.


Lova menatap Ken. Binar matanya seolah mengatakan ribuan terima kasih. Ken menjaga ayahnya dengan sangat baik. Bahkan Alvin langsung yang dia tugaskan.


"Ken punya kejutan untuk bapak!" ucap Alvin dan layar ponsel itu ia hadapkan ke wajah Brata.


Brata dan Lova sama sama terdiam. Keduanya sedang berkomunikasi lewat pandangan mata. Ungkapan kerinduan dan kelegaan menjadi satu membuat bulir bening di sudut mata mereka kembali menetes.


"Ayaaahhh!" Isak tangis itu lolos begitu saja.


"Lovaaa. Apa kabar, sayang?" tanya Brata.


"Baik ayah. Lova baik. Ayah sakit lagi?" tanya Lova.


Brata menggeleng. "Ayah tidak sakit, Nak. Ayah hanya sedang bermain-main disini."


"Bersama Alvin?"


Brata mengangguk. "Dengan skenario Ken." Lanjut Alvin.


"Diam, Vin!" Sahut Ken tanpa menunjukkan wajahnya. Lova langsung menatap Ken yang memarahi adiknya.

__ADS_1


"Lova, lihat sendirikan. Baru bicara segitu saja, rekeningku sudah tidak aman!" Alvin tertawa.


Lova menggeleng pelan dan dia ikut tertawa.


"Putri ayah bahagia disana?" tanya Brata.


"Ayah tahu Lova disini?"


Brata mengangguk. "Ken menjagamu dengan sangat baik, Nak!"


Lova kembali menatap Ken yang sedari tadi tengah menatapnya. Manik mata itu saling mengunci satu sama lain.


Alvin bilang, Mr. A menyayangiku. Jika Mr. A itu adalah Ken, itu artinya dia menyayangiku?


"Ada apa, Nak?" tanya Brata saat Lova terlalu lama melihat kearah Ken.


Keduanya terkesiap dan memutus tatapan itu. "Tidak ada ayah! Aku hanya ingin menghajar Ken dan memotong semua gajinya selama 6 bulan kedepan."


Ken membulatkan matanya.


Alvin terbahak. "Potong saja, Lova. Jika perlu, jadikan dia budakmu seumur hidupnya. Hahahahah!"


"Alvino Darrass....!" geram Ken.


"Aku tidak peduli, Ken. Karena jika kamu menjadi budak Lova. Aku akan menjadi asisten pribadi Bapak."


"Bekerja denganmu tidak seru!"


Lova tertawa. "Aku akan menjadikanmu baby sitter ikan koi, Vin!"


Brata tersenyum melihat senyum Lova. Ayah rela kita berjauhan, Nak. Yang penting ayah masih bisa terus melihat senyum itu.


"Aye.. aye... kapten! Aku bahkan rela menjadi ibu susu bagi ikan-ikan koi itu!" Ucap Alvin semangat.


"Koi tidak menyusu, Vin!" sambar Ken dengan wajah kesalnya.


"Darimana kamu tahu, Ken?" balas Alvin. "Kamu mengintai ikan koi juga?"


Lova tertawa. "Sudah hentikan!" sambar Lova.


"Ayah, ini sudah malam. Sebaiknya ayah istirahat. Lova tenang karena ayah dalam keadaan baik-baik saja. Bersama Alvin pula. Dia akan membuat ayah terus tersenyum dan tertawa. Ayah akan sehat dan awet muda."


"Tentu, aku bukan sebatang kayu seperti makhluk disampingmu, Lova."


"Jaga diri kamu, Nak. Ikuti apapun yang Ken rencanakan. Ia akan memastikan kita semua aman."


"Ya ayah..."


"Titip ayah, Vin!"


"Siap, Lova."


Lova menatap Ken yang juga menatapnya. "Terima kasih!" ucap Lova tulus dan Ken mengangguk.


Brak!


Mommy Anna membuka pintu. Ken dan Lova menatap wanita itu. "Kita diserang, Ken!"


Ken langsung berdiri. Ia berlari kearah jendela dan melihat anak buahnya tengah berkelahi dengan orang asing yang memakai pakaian serba hitam.


"Baj*ngan!" Ken mengumpat.


"Kita pergi sekarang!" Ken menarik paksa tubuh Lova dan menggandeng Mommy Anna.


***


Rencana Ken sepertinya akan bubar jalan 😅

__ADS_1


__ADS_2