ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 62 Rasa Bersalah


__ADS_3

"Syukurlah kamu sudah sadar..." Helaan nafas Aland terdengar jelas di telinga Mauza yang terbaring lemah di brangkarnya. Seluruh tubuhnya terasa remuk redam. Bahu, siku lutut hingga tulang belakangnya terasa sakit.


Mauza baru saja dipindahkan ke ruang rawat dan Aland segera masuk sesaat setelah suster keluar dari kamarnya.


"Aku baik-baik saja Tuan," ucapnya dengan suara lemah. Ia masih bisa tersenyum kecil pada pria yang terkenal kejam itu.


Aland mengangguk dan tetap duduk di sampingnya tanpa bicara apapun lagi. Keduanya sama sama diam.


"Ehm, kamu butuh sesuatu?" tanya Aland gugup. Entahlah, ia merasa sesuatu yang berbeda dari dirinya hadir begitu saja. Berbasa-basi manis seperti ini sangat jarang ia lakukan.


Mauza menggeleng. "Terima kasih telah menyelamatkanku."


Aland menatap manik mata yang penuh ketulusan itu. Ia tak menduga, wanita ini ternyata begitu lugu dan polos. Pantas saja ia bisa begitu mudah menuruti semua permainan Mariska.


Mungkin ia hanya memikirkan kebahagiaannya saja dan hal itu bergantung pada uang yang diterima Mariska dari Dadynya Aland.


"Tuan, sekali lagi terima kasih," ulang Mauza karena pria itu menatapnya dengan tatapan kosong.


Aland tersadar, ia berusaha menenangkan dirinya karena kedapatan sedang melamun.


"Ya..."


"Mengapa anda menolongku padahal kita tidak punya urusan apapun lagi, Tuan?" tanya Mauza.


Aland juga heran mengapa tanpa fikir panjang ia menolong gadis di depannya ini. Padahal banyak asisten rumah tangga dan supir yang bisa mengantarnya.


Ya, karena rasa bersalah. Karena aku yang menyebabkannya terjatuh. Aland berusaha meyakinkan dirinya. Ia berusaha menampik apa yang hatinya katakan jika ia sepertinya memiliki perasaan istimewa pada gadis ini.


"Aku hanya merasa bersalah. Dan aku berterima kasih padamu karena kamu masih hidup. Atau aku tidak akan memaafkan diriku sendiri."


Aland menyadari apa yang ia katakan terkesan berlebihan. Ia bahkan melihat gadis itu sampai terpaku mendengar apa yang ia katakan.


"Ah, ya... Kamu butuh kakakmu?" tanya Aland mengalihkan perhatian Mauza.


"Hubungi saja dia." Aland memberikan ponsel yang baru ia ambil dari saku celananya pada Mauza.


Mauza diam saja. "Ambillah!" perintah Aland.


"Aku tidak akan marah padamu. Aku sudah membebaskanmu. Mulai sekarang, pulanglah bersama kakakmu setelah kamu diizinkan pulang dari rumah sakit ini."


Mauza dengan ragu mengambil ponsel itu dari tangan Aland dan menghubungi nomor Mauren. Untung saja dia hafal nomor kakaknya itu.


Mauza dengan lemas memberikan ponsel itu lagi pada Aland. "Nomornya tidak bisa dihubungi."


Aland menatap iba pada gadis di depannya. Apa mungkin kakaknya menjadi korban saat penyerangan di rumah Bratadikara? Aland membulatkan matanya.


Bagaimana jika gadis itu juga menjadi korban yang meninggal dalam penyerangan itu? Gadis ini akan menjadi gadis yang hidup sebatang kara.


Aland kembali menatap Mauza. Gadis itu tampak murung. Apakah dia memikirkan hal yang sama seperti yang ku fikirkan barusan? Bisa ku bayangkan bagaimana perasaannya saat ini.


Daddy, mengapa kamu juga merenggut kebahagiaan orang lain yang tidak bersalah? Jika benar dugaanku, aku tidak akan memafkanmu, Dad!


"Kamu, tenanglah disini dulu."


"Aku akan meminta salah satu asisten rumah tangga untuk datang dan menemanimu."


"Kamu ingin siapa yang datang kesini? Adakah teman akrabmu di rumah itu?" tanya Aland.


Mauza menggeleng. "Aku tidak ingin siapapun."


Aland menghela nafas. "Baiklah."

__ADS_1


"Aku akan segera kembali. Aku akan mengatakannya pada kakakmu jika ia menghubungiku lagi nanti."


"Atau aku yang akan menghubunginya. Mungkin saja saat ini baterai ponselnya sedang habis." Aland berusaha menghibur.


Ia keluar dari ruangan Mauza dan menghubungi tim kuasa hukum yang menangani kasus kedua orang tuanya.


"Pak Gerald, bisakah anda kirimkan daftar korban meninggal saat penyerangan di rumah Brata?"


"Baik... Ku tunggu."


Aland mendudukkan dirinya di kursi tepat di depan ruangan Mauza. Tak menunggu lama, pria bernama Gerald itu mengirim daftar nama korban meninggal akibat penyerangan itu.


Aland bernafas lega karena tidak ada nama Mauren disana. Hanya ada daftar nama beberapa orang pria saja.


Aland menatap pintu ruangan itu. "Aku tahu saat ini ia hanya butuh kakaknya. Tapi kemana aku akan mencarinya?"


Aland segera pergi dan meninggalkan tempat itu dengan terburu-buru. Ia sepertinya tahu harus datang ke mana.


***


"Ros, coba minta Clara untuk mengerjakam ulang laporan ini."


"Ini masih terlalu berantakan, Ros!" Lova memberikan satu berkas pada Rosa agar diberikan pada Clara.


"Baik, Bu." Rosa keluar dari ruangan itu.


"Astaga!" Rosa terkejut saat tiba-tiba ada pria asing masuk kedalam ruangan itu. Tapi wanita yang berjalan dibelakangnya membuat Rosa menunduk hormat.


"Maaf, Nona. Mengejutkanmu!" pria itu tersenyum manis pada Rosa.


Lova menatap kearah pintu dan melihat Alvin datang bersama bundanya.


"Eh, hai..." Sapa Lova. "Biarkan dia masuk, Ros." Rosa mengangguk dan segera keluar.


Alvin dan Alana kompak mendudukan diri di sofa. "Tidak ada. Hanya bosan di rumah, bukan begitu Mommy?" tanya Alvin.


"Ya, Mommy dan Alvin juga baru saja berbelanja di supermarket, membeli banyak kebutuhan."


"Amankah diluar sana?" tanya Lova yang tetap duduk di kursi kerjanya. Pekerjaannya hari ini lumayan banyak dan kedua tamunya untung saja bisa mengerti.


"Hahaha..." Alvin dan Alana kompak tertaaa.


"Masker menolong, kak."


"Kaca mata hitam, dan topi juga lumayan membantu," lanjut Alvin.


Lova menatap keduanya. "Bisa ku bayangkan bagaimana orang-orang menatap kalian seperti melihat turis."


"Ya..." sahut Alana. "Tapi mana ada turis yang membeli beras dan tempe, Lov." Alvin tertawa mendengar apa yang Alana katakan.


Rosa mengetuk pintu ruangannya dan masuk. "Bu, Pak Aland ada di depan, beliau ingin bertemu dengan anda."


Alvin terkesiap. Alana juga. "Mau apa dia kesini, Kak?" tanya Alvin menatap Lova.


Rosa sampai mengerutkan kening karena mendengar pria itu memanggil Lova dengan sebutan kakak.


"Dia arsitek di salah satu proyek kami, Vin! Tenanglah!" Lova tersenyum kecil.


"Baiklah, Ros. Antarkan dia ke ruang meeting, aku akan bicara disana." Lova berdiri dan hendak menemui Aland.


"Aku ikut, Kak!" pinta Alvin was-was. Pria itu berdiri dari duduknya.

__ADS_1


"Untuk apa? Tetaplah disini bersama bunda!"


Lova tertawa dan menggeleng, melihat kekhawatiran Alvin yang berlebihan.


"Tapi batu itu tidak ada disini, kak. Siapa yang akan melindungi..." Yang Alvin maksud batu adalah Ken.


Lova tidak lagi mendengar apa yang Alvin ucapkan karena saat ini ia sudah berada di luar ruangannya.


"Mari, pak Aland! Bu Lova ingin bicara di ruang meeting," ajak Rosa.


"Terima kasih, tapi aku hanya sebentar saja," tolak Aland.


"Bu, Lova!" Aland langsung berhadapan dengan Lova. Ia sedikit malu, benci dan merasa bersalah pada gadis di depannya akibat ulah Daddynya.


Gadis yang sekejap pernah mendebarkan hatinya. Namun entah mengapa kini tidak lagi.


"Ada apa, Pak Aland."


Aland melirik Rosa. "Bisa saya bicara berdua saja dengan Bu Lova?"


Rosa mengangguk setelah mendapat persetujuan dari Lova untuk kembali bekarja.


"Begini..." Aland tampak bingung dan ragu.


"Saya, saya butuh kontak gadis bernama Mauren!"


Lova mengerutkan kening, "Untuk apa, Pak Aland?"


Aland menceritakan tentang Mauza yang sedang terbaring di rumah sakit dan nomor Mauren yang tidak bisa dihubungi.


"Saya rasa gadis itu ingin kehadiran kakaknya."


Sejak kapan dia perhatian seperti ini? Batin Lova.


"Sebentar!" Lova masuk ke dalam ruangannya dan mengambil ponselnya di tas.


"Dia tidak macam-macam kan?" tanya Alvin saat melihat Lova masuk ke ruangannya.


"Tidak. Tetaplah duduk disana!"


Lova kembali dan mencoba menghubungi Mauren di depan Aland.


"Mauren...!"


"Ya..."


"Kamu sedang berada di mana? Tuan aland menghubungimu berkali-kali tapi tidak tersambung."


"Aku baru mengaktifkan ponselku, kak. baterai ponselku habis semalaman dan aku lupa mengecasnya."


"Untuk apa beliau menghubungiku, kak?"


"Bicara sendiri padanya."


Lova memberikan ponsel itu pada Aland. Pria itu langsung menempelkan benda persegi itu di telinganya.


"Hallo, bisakah kamu datang ke rumah sakit Xx. Adikmu sedang di rawat di ruang VVIP nomor 22."


"Mauza? Dia sakit apa?" Terdengar suara panik Mauren.


"Datanglah, dia menunggumu. Dia baik baik saja. Jangan terlalu khawatir."

__ADS_1


Aland mengembalikan ponsel Lova. "Terima kasih. Maaf mengganggu waktu anda."


Aland pamit dan meninggalkan tempat itu.


__ADS_2