ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 11 Kejahatan Mariska


__ADS_3

"Anda akan kemana, Nyonya?" Tanya Ken pada Mariska yang bersiap membuka pintu mobilnya. Mariska terkejut karena tiba-tiba Ken muncul dari arah taman yang lumayan gelap.


Mariska menatap Ken yang tetap berdiri melipat tangan di dada, menunggu jawabannya.


"Sejak kapan mengurus hidupku menjadi tugasmu, Ken?" Tanyanya sinis.


"Hakku untuk pergi kemana pun ku mau," lanjutnya.


"Tapi ini sudah jam 8 malam, Nyonya." Ken menunjuk jam tangan mahal di pergelangan tangannya.


"Aku hanya khawatir pada keselamatan anda!" Jawab Ken tenang. "Karena beberapa hari lalu ada dua orang pria berbadan besar yang mencari anda."


Mariska membelalakan matanya. Ia sama sekali tidak mengetahui hal itu.


Siapa yang mencariku? Apakah orang suruhan Tuah Hendrico? Apakah mereka sudah tahu aku punya kerja sama dengan Tuan Hendrico?


Mariska menatap Ken dengan wajah memucat.


"Tapi tenang saja, security sudah mengusir mereka." Ken tersenyum simpul. "Sesuai perintah Bu Lova, tidak diizinkan siapapun masuk ke dalam rumah jika itu orang asing."


"Apalagi jika orang itu membuat keributan." lanjutnya.


Mariska perlahan menerbitkan senyum palsunya. Jantungnya masih berdetak hebat, tapi dihadapan Ken, ia tak ingin terlihat lemah.


"Kerja bagus!" Jawabnya singkat.


"Kalian telah menjadi anj*ng penjaga yang bekerja dengan sangat baik." Mariska tersenyum mengejek.


"Teruskan tugas kalian, karena gaji kalian tidaklah murah!" Ia masuk ke dalam mobil dan segera meninggalkan rumah.


Ken tersenyum hambar. Silahkan pergi kemana pun anda suka, Nyonya. Pria yang anda sebut anj*ng penjaga ini akan setia mengikuti anda.


Ken mengeluarkan ponselnya dari saku celana, lalu ia mengirim pesan singkat pada seseorang.


[Ikuti dia.]


Ken diam-diam telah memasang GPS di mobil Mariska. Baginya, Mariska adalah orang yang paling berbahaya. Ia menduga, Mariskalah yang memasukkan racun ke segelas jus yang Brata minum waktu itu. Baik secara langsung ataupun melalui orang suruhannya.


Ken hanya belum mendapatkan bukti yang kuat hingga ia belum bisa menjebloskan wanita itu ke penjara. Lagi pula, bagi Ken, penjara terlalu ringan untuk wanita sekeji Mariska.


***


Mariska membelokkan mobilnya ke sebuah rumah mewah setelah memastikan tidak ada yang mengikutinya dari belakang. Ia berniat menemui seseorang yang akan memuluskan rencananya.


"Selamat malam, Nyonya Bratadikara!" Sambut pria berkumis tebal yang memakai jaket kulit saat ia masuk ke dalam ruang tamu rumah mewah itu.

__ADS_1


Mariska langsung duduk di sofa besar bersebrangan dengan pria yang menyambutnya tadi. "Berhentilah berbasa-basi!" Sarkas Mariska.


"Beri aku satu obat yang bisa membuat seseorang langsung koma." Pinta Mariska pada pria itu. "Kalau perlu, mat* sekalian."


"Hahahah..." Pria itu tertawa. "Siapa lagi yang menjadi target anda, Nyonya?"


"Apa masih orang yang sama?" Tanya Pria itu.


"Bukan urusanmu!" Jawab Mariska ketus. "Lakukan saja tugasmu!"


"Obat dariku selama ini, tidak bekerja dengan baik, Uh?" tanya pria itu sambil tertawa.


Mariska tersenyum sinis. "Reaksinya sangat lambat!" Jawab Mariska.


"Pria tua itu masih bisa duduk dan bicara!"


"Dia bahkan masih semangat untuk sembuh!"


"Bagaimana dengan racunnya?" tanya pria itu lagi.


"Ah! Jangan banyak tanya!"


Racunmu salah sasaran! Batin Mariska.


"Beri aku obat yang sama persis dengan obat ini." Mariska meletakkan satu pil dalam plastik kecil di atas meja dan pria itu langsung mengambilnya.


"Dasar! Mata duitan!" Ejek Mariska.


"Sesuai dengan cara kerjanya yang cepat dan tepat, Nyonya!"


Mariska lantas mengambil sebuah amplop coklat di tasnya dan melemparkannya di dada pria yang tengah duduk di agak jauh di depannya itu.


"Lima puluh juta. Sisanya menyusul!" Ucap Mariska sombong.


Pria itu memeriksa amplop yang sudah ia buka lalu tersenyum lebar.


"Sebentar!" Pria itu masuk ke dalam sebuah ruangan dan dalam sekejap ia kembali dengan membawa sebotol kecil berisi obat dengan bentuk yang sama seperti yang Mariska tunjukkan, tapi dengan kandungan yang berbeda.


"Ini yang anda minta, Nyonya!" Pria itu memberikan obat tersebut pada Mariska.


"Semoga berhasil dan senang berbisnis dengan Anda." Pria itu menunjukkan seringainya.


Mariska tersenyum licik dan ia tak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi pada suaminya itu.


****

__ADS_1


Pagi-pagi sekali, Mariska masuk ke kamar Brata dan menukar obat dokter dengan obat yang salah. Ia menghalangi kamera cctv agar tak terlihat saat ia menukar botol obat itu.


Ia tersenyum licik. Selamat jalan ke neraka, Brata.


"Wah, tumben sekali Nyonya?" Suara Ken membuatnya terkejut. Ken baru saja keluar dari kamar mandi. "Pagi-pagi sudah masuk ke kamar suami."


Sial! Hampir saja.


Untung saja Mariska sudah menyembunyikan obatnya di kantung celananya.


"Aku hanya ingin... memastikan kamu menjaganya dengan baik." Jawab Mariska sedikit gugup.


Ken mengangkat bahunya. "Bukankah anda bisa melihatnya dari cctv, Nyonya?" Tunjuk Ken kearah sudut langit-langit kamar dimana cctv terpasang di sana.


Ken bersandar di dinding dan melipat tangannya di dada. "Anda bahkan bisa melihat sesuatu dibalik celanaku terbangun setiap pagi, bukan?" Sindir Ken mengada-ngada.


Mariska membuang muka. Ia sama sekali tidak pernah memperhatikan bagian tubuh Ken, apalagi sampai ke bagian sensitif itu.


"Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal, Ken!" Marah Mariska dengan suara sesikit keras.


Ken seketika melirik Brata yang masih terpejam. Mariska juga melirik ke arah pria itu. Keduanya takut jika Brata terbangun.


Mariska segera keluar dari kamar. "Lain kali kunci pintunya." Ucap Mariska sinis sebelum ia kembali menutup pintu.


Ken menatap kepergian Mariska dengan perasaan was-was. Ia langsung meraih ponselnya dan melihat rekaman cctv.


Apa yang dia lakukan di dekat meja ini? Batin Ken.


Ken diam-diam menghubungkan seluruh cctv di rumah itu ke ponselnya. Ia melihat Mariska berdiri lumayan lama di dekat meja nakas dan membelakangi cctv.


Ken melihat meja itu, was-was jika Mariska memasang alat penyadap suara atau mungkin...


"Huuh!" Ken menghela nafas.


Dia pasti menukar obat Pak Brata. Dasar wanita licik.


Selama ini, setelah Brata pulang dari rumah sakit, Mariska memang menukar salah satu obat Brata dengan obat lain yang sama sekali tidak memberi efek kesembuhan untuk pria itu.


Tapi ternyata, reaksinya sangat lambat. Hingga Mariska tidak melihat keadaan Brata yang memburuk, meskipun Brata juga tidak segera sembuh.


Padahal, Ken mengetahui ulah Mariska itu dan Ken sudah kembali menukar dengan obat yang benar. Hanya saja ia tidak memberi tahu Lova tentang hal itu. Ken masih terus mengumpulkan bukti kejahatan Mariska.


Dan kali ini, Mariska melakukan hal yang sama lagi. Jadi, Ken tidak akan tertipu. Pengalaman mengajarkan banyak hal padanya. Kebusukan seorang Mariska tidak akan mudah mengecoh dirinya.


***

__ADS_1


Jangan lupa jejak kalian guys....


Aku kasih bocoran 😉Next bab, kita akan culik Lova 😀


__ADS_2