ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 85 H-3


__ADS_3

"Good morning my Lova!" Ken mengecup pipi Lova yang tengah menyiram tanaman di halaman depan rumah. Gadis dengan setelan kaos dan celana kulot 3/4 itu tampak berbeda dari pagi biasanya. Ya, karena mulai hari ini Lova akan libur ke kantor.


Mendekati hari pernikahan, Ken harus tinggal di apartemennya. Alana mengatakan mereka harus dipingit dan tidak boleh bertemu untuk sementara waktu.


Tapi, untuk kali ini, seorang Ken tidak akan melakukannya. Tidak akan menuruti perintah Mommynya. Setiap pagi ia selalu muncul di rumah Brata untuk mengajak Lova pergi ke kantor bersama. Atau ada saja alasan pria itu untuk bisa bertemu gadis yang akan menjadi istrinya beberapa hari lagi itu.


"Ken!" Lova terkejut dan ia langsung menatap wajah Ken yang sedang nyengir menunjukkan gigi putihnya.


Ia sebenarnya tahu, mobil Ken baru saja masuk ke area halaman rumah, tapi tak menyangka Ken malah mencium singkat pipinya.


"Apa yang kamu lakukan disini, Ken?" tanya Lova. Ia masih terus menyiram tanaman yang terawat itu.


Ken tertawa. Ia memeluk pinggang gadis yang memasang wajah masam itu.


"Ken! Lepas!" perintah Lova. Karena situasi akan menjadi gawat darurat jika Alana tahu.


"I miss you!" bisik Ken.


Lova bergidik, ia merasa geli mendengar kalimat singkat yang calon suaminya itu ucapkan.


"Masih terlalu pagi, Ken! Berhentilah bertingkah aneh, Sayang!"


"Apanya yang aneh, bukankah hal yang wajar jika sepasang kekasih saling memeluk di pagi hari, lalu mengucapkan kata miss you atau love you, My Lova." Bukannya melepaskan, Ken malah menghirup aroma shampo yang terasa manis di rambut gadis itu.


"Terserah padamu. Aku tidak bertanggung jawab jika bunda datang dan mematahkan kedua tanganmu, calon suamiku," ucap Lova masih terus menyiram. Selang air yang ia pegang ia pindahkan ke sisi kanan karena di sisi kiri sudah selesai disiram.


"Aku akan mengemis di kakinya dan mengatakan bahwa putrinya terlalu indah untuk disia-siakan!" ucap Ken merayu Lova membuat gadis itu menggeleng pelan.


"Jadi, ku peluk saja. Aku takut putri cantik ini kabur di hari ke 3 menjelang pernikahan."


Mana mungkin Lova kabur di hari pernikahannya. Ini adalah pernikahan yang ia tunggu-tunggu.


"Aku akan kabur di hari pernikahanku, jika aku dijodohkan oleh pria tua bangka, keriput dan beruban!" sahut Lova sedikit kesal.


"Hahahah.." Ken malah tertawa. "Tapi sayangnya pria yang akan menikahimu ini begitu tampan, keren, dan kaya. Jangankan uban, garis kerutan saja enggan menempel diwajahku ini." Jawab Ken percaya diri.


"Dan seandainya, jika Mommy yang menjodohkanmu dengan pria tua bangka itu, aku akan berubah menjadi superhero, dan membawamu kabur dari pesta pernikahan itu dan kita akan menikah dengan cara sembunyi-sembunyi, meski harus masuk jauh ke dalam hutan dan hanya disaksikan oleh singa, gajah atau ular derik."


Lova terbahak. Menurutnya Ken terlalu jauh menanggapi candaannya tadi.


"Ku rasa kamu kurang sehat, Ken! Perlu ku antar ke rumah sakit?" tanya Lova pura-pura menyentuh kening Ken.

__ADS_1


"Sepertinya semakin mendekati hari H tingkat stres yang kamu alami semakin parah!"


Ken tertawa. "Kamu benar sayang! Aku sangat stres akhir-akhir ini. Aku sebenarnya ingin langsung ke hari H. Tiga hari ini lebih buruk dari enam bulan yang ku lalui tanpa kamu, Lov!" Lova hanya bisa tertawa mendengar kalimat yang Ken ucapkan itu.


Sungguh terdengar tidak masuk akal. Enam bulan di bandingkan dengan tiga hari, dan Ken merasa tiga hari ini lebih menyiksa.


Padahal mereka bisa bertemu setiap hari, meski tak lagi tinggal seatap. Masih bisa pergi bersama meski hanya untuk makan siang dan berbelanja.


"Lepaskan tanganmu, Ken!" Suara paling mengerihkan terdengar oleh keduanya.


Ken dan Lova kompak berbalik saat Ken sudah melepaskan pelukannya .


"Heheh, Mommy!" Sapa Ken sambil menggaruk tengkuknya. Keberaniannya saat membalas setiap kalimat Lova tadi mendadak hilang entah kemana.


"Lakukan, Ken!"


"Lakukan? Lakukan apa Mom?" tanyanya pura-pura polos.


"Lov, siapa pria yang akan berlutut di kakiku, tadi?"


Lova menutup mulutnya. Selang air yang masih menyala ia biarkan saja tergeletak di tahan.


"Mom, ayolah! Mommy tidak akan tega membiarkan putra mommy yang tampan ini berlutut, kan?"


"Kata siapa mommy tidak tega, Ken?"


Ken langsung menarik diri. "Hehehe, jangan marah lagi ya, Mom!"


"Oke! Oke! Aku minta maaf karena telah bersikap seperti tadi."


"Sebenarnya aku kesini, untuk meminta izin untuk membawa Lova ke suatu tempat."


Alana mengerutkan kening. Lova juga melakukan hal yang sama karena ini diluar rencana. Ken sama sekali belum memberi tahunya jika pria itu akan mengajak dirinya pergi.


"Kemana?" tanya Alana.


Ken berbisik di telinga Alana seolah hal ini adalah sebuah rahasia yang tidak boleh Lova ketahui.


***


"Kita akan kemana, Ken?" tanya Lova pada Ken yang saat ini sedang berada di dalam mobil. Mereka akan pergi ke suatu tempat yang Lova tidak ketahui.

__ADS_1


Setelah Alana dan Brata memberi izin, Lova segera bersiap dan ikut ke dalam mobil Ken.


"Tenanglah, aku hanya akan membawamu menemui seseorang, Lov."


"Siapa?"


Ken menatapnya sekilas lalu tersenyum. "Orang yang ku sayangi, tapi enggan untuk ku kunjungi."


Lova mencoba mengartikan kalimat yang Ken ucapkan namun ia tidak bisa.


"Kamu menyayangi orang itu, tapi tidak ingin kamu kunjungi?"


"Siapa? Apa dia kerabat jauhmu, Ken?" tanya Lova penasaran.


Ken tidak merespon. "Apakah rumah mereka sangat jauh?" tanyanya lagi.


"Tidak. Rumah mereka tidak terlalu jauh. Sebentar lagi kita akan sampai."


Setelah perjalanan lebih dari satu jam, Ken memasuki sebuah rumah dua lantai yang lumayan besar dengan sebuah plang bertuliskan nama sebuah panti jompo.


Lova mengerutkan kening. Siapa yang akan Ken kunjungi disini? Apakah ada keluarganya di panti jompo ini?


Mereka segera turun dan beberapa orang menyambut kedatangan mereka.


"Selamat pagi, Pak!" Sapa seorang wanita pada Ken.


"Selamat pagi," balas Ken. "Kalian tidak perlu menyambutku. Kalian bisa kembali melanjutkan pekerjaan."


"Aku akan berkeliling sendiri, nanti."


Semua orang seketika membubarkan diri dan kembali pada pekerjaan masing-masing.


Ken meraih tangan Lova dan menggenggamnya seolah meminta kekuatan pada gadis itu.


Lova menipiskan bibir dan tersenyum kecil padanya.


"Aku akan membawamu pada lukaku," Ken melangkahkan kakinya, dan diikuti oleh Lova.


*Luka apa yang kamu maksud, Ken? Ada luka apa di panti ini? Dan mengapa baru kamu tunjukkan sekarang, setelah aku dan kamu akan menikah.


Apa luka itu terlalu dalam hingga kamu takut aku pergi jika kamu memberitahukan hal ini jauh sebelum pernikahan?

__ADS_1


Apa kamu takut aku tidak akan menerimamu setelah melihat luka yang akan kamu tunjukkan ini*?


__ADS_2