ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 53 Perang Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Ken mengumpat kesal karena empat pria di belakangnya sedang membawa Lova dan Alana yang keadaannya terlihat kacau. Sudut bibir keduanya membiru dan rambut mereka sudah acak-acakan.


Lova tampak meringis kesakitan dengan kepala menengadah keatas karena rambutnya ditarik kearah belakang.


Sementara Alana menahan sakit karena kedua tangannya ditekuk kebelakang dengan paksa.


Flashback On


"Bawa mereka!" Perintah seorang pria untuk membawa Alana dan Lova. Dua orang pria langsung menarik dan menahan tangan Lova dan Alana kebelakang tubuh mereka masing-masing.


Lova sempat melawan. "Lepaskan!" Ia menggerakkan bahu dan tangannya agar bisa terlepas.


"Diam! Jangan bergerak!" Kedua orang pria itu menempelkan ujung pist*l ke kepala mereka.


Kedua orang pria itu membawa mereka menjauh. Lova dan Alana bahkan sampai terseret-seret karena ditarik secara paksa.


"Mau dibawa kemana, mereka?" tanya Brata panik. Pria itu mengikuti kedua wanita yang berarti dalam hidupnya itu. "Hei... Berhentilah!"


"Bught!" Sebuah pukulan di leher membuar Brata terjatuh di lantai.


"Ayah!"


"Mas!"


Lova berusaha melepaskan diri namun gagal. Mereka akhirnya dimasukkan kedalam mobil dan dibawa pergi entah kemana.


"Lepaskan!"


"Lepaskan bundaku!" Lova berontak. Ia menginjak kaki pria yang memegangi tangannya.


Plak! Tamparan keras mengenai wajahnya.


"Lova!" teriak Alana panik. Ia dan Lova duduk terpisah. Lova di kursi tengah sementara ia di kursi belakang mobil.


Plak! Sebuah tamparan keras juga mengenai wajah Alana.


"Jangan mencoba melawan!" ancam pria itu. "Jika masih ingin hidup."


"Jika masih ingin pria tua di rumah kalian itu hidup!"


"Diam dan ikuti saja kemana kami membawa kalian!"


Lova dan Alana akhirnya hanya bisa pasrah karena semua ini demi keselamatan mereka meskipun tidak ada yang bisa menjamin hal itu.


Flashback Off


"Bagaimana hadiahku?" Ken langsung menatap Tuan Hendrico yang tersenyum puas. "Kamu suka?"


Tuan Hendrico sudah mengatur semua ini. Ia bahkan sengaja mengulur waktu saat berbicara dengan Ken tadi. Ia sudah siap siaga jika hal seperti ini terjadi. Ia memerintahkan anak buahnya untuk membawa Lova dan Alana atau pun Brata sebagai senjata untuk melawan Ken.


Meski ia belum terbukti bahwa Ken adalah putra Adam Aldric, tapi ia merasa keyakinannya tidak pernah salah. Ia yakin Ken adalah Alkenzy Aldric.


"Singkirkan kakimu atau peluru itu akan menembus kepala mereka!"


Ken diam. Ia tidak bergerak sama sekali. Hanya pijakan kakinya yang semakin menekan dada Tuan Hendrico hingga pria itu meringis kesakitan.


"Plak!" Pria itu kembali menampar Lova. Lova di dorong hingga tersungkur di tanah.

__ADS_1


"Ahh!" Teriak Lova karena terkejut dan merasakan sakit di kedua telapak tangannya.


Ken semakin terbakar amarah. Ia benci gadis itu terluka. Ia tidak suka dua orang wanita yang ia sayangi disakiti dan diperlakukan kasar seperti itu.


"Singkirkan kakimu, Ken! Atau gadis itu akan mat* di hadapanmu!"


Ia perlahan menyingkirkan kakinya namun tidak dengan pist*l di tangannya. Ia menatap tajam mata yang tak memancarkan rasa takut sedikitpun itu.


"Perintahkan pada mereka untuk berhenti. Atau aku akan menembakmu!" Ancam Ken.


"Lakukan saja!" jawabnya dengan perasaan lega karena dadanya tidak lagi terasa berat karena kaki besar itu.


"Jika kamu melakukan itu, maka hanya aku yang akan mati."


"Tapi jika kedua orang itu yang mati, maka hidupmu akan dihantui rasa bersalah Ken!"


"Pria tua bernama Brata akan ikut mati dengan membawa kebencian terhadapmu."


"Kamu berfikir ratusan kali untuk menyelamatkan hidup mereka."


"Karena keegoisanmu untuk membalasku, kamu akan kehilangan mereka." Tuan Hendrico menyeringai. Ia merasa menang melawan Ken. Bahkan Ken tidak berani memberi perintah pada anak buahnya yang berjumlah beberapa orang di dekat mereka. Padahal semua anak buah Ken sudah siap siaga dengan pist*l ditangan mereka masing masing.


"Tembak dia, Ken!" Perintah Alana. Ia rela mati asal pria licik itu juga mati. Menurut Alana tidak ada yang bisa menjamin keselamatan mereka hari ini.


Jika Ken melepaskan pria itu, bukan tidak mungkin mereka semua akan tetap mat*.


Lova menatap bundanya yang terlalu berani mengatakan hal itu. Lova merasa heran mengapa bundanya seolah tidak memikirkan keselamatannya dan Brata.


"Diam!"


Plak! Plak!


"Bunda!" Rengek Lova yang berusaha mendekati tubuh Alana yang jatuh tak jauh darinya.


"Diam disitu!" Bentak pria suruhan Tuan Hendrico pada Lova.


Lova tidak peduli. Ia tetap mendekat dan memeluk Alana. Keduanya menangis dan saling menguatkan.


Ken tidak sanggup melihatnya. Bagaimana bisa ia membawa kedua wanita itu dalam bahaya seperti ini?


Mereka baru saja bertemu dan kembali merasakan kebahagiaan setelah sekian tahun. Tapi aku malah merusaknya hanya karena masalah pribadiku.


Ken melihat kesekitar tempat itu tanpa menolehkan kepala. Ia hanya mengandalkan ketajaman matanya dan berusaha membaca situasi.


Kemana pemimpin timku? Apakah ia sudah menemukan Alvin atau belum?


Tuan Hendrico melihat keraguan dan kebimbangan di mata Ken. Ia tersenyum puas karena ia yakin Ken akan menyerah.


"Argh!"


"Argh!"


"Argh!"


Semua orang suruhan Tuan Hendrico yang berjumlah empat orang itu tiba -tiba menjerit dan terjatuh ke tanah.


Lova langsung bangun dan mengambil pist*l yang terjatuh di dekatnya karena terlepas dari tangan pria yang menodongkan pist*l itu padanya.

__ADS_1


Alana meringis kesakitan karena ternyata satu tembakan juga berhasil mengenai lengannya. Pria dibelakangnya tadi sempat melepaskan temba*kan kearahnya. Mungkin karena terkejut saat pria itu tertembak, hingga tanpa sengaja pria itu menekan pemicu (trigger) pist*l tersebut.


Semua orang kebingungan termasuk Tuan Hendrico. Ia tak menduga pasukannya akan kalah dalam sekejap padahal situasi sudah begitu memihak padanya.


Ken tersenyum puas. Ia bisa melihat Alvin dengan wajah penuh lebam beserta pemimpin tim dan pasukan lainnya keluar dari balik tembok setelah semua pasukan Tuan Hendrico tergeletak tak berdaya.


"Bagaimana?" tanya Ken merasa menang. "Suka dengan permainanku?"


Tuan Hendrico menatapnya pias. Ia melihat wajah Ken yang menunjukkan senyum kemenangan itu. Posisinya sudah sangat tersudut. Ia hanya bisa pasrah jika sewaktu-waktu Ken melepaskan tembak*an kearahnya.


Ken melepaskan satu peluru dan mengenai ujung daun telinganya. Tidak sampai mengeluarkan darah, hanya sekedar luka lecet saja.


Tuan Hendrico diam mematung. Ia berdebar hebat meski ia menyadari dirinya masih bisa bernafas dengan baik dan tidak ada yang sakit dari bagian tubuhnya.


"Ah! Sayang sekali! Aku gugup, paman Juan!" Ken terkekeh.


Alvin berjalan mendekat. Ia berjongkok dan menatap pria itu tajam. "Senang masih bisa melihatmu lagi, Paman!"


"Penghianat yang dulu sering menggendongku dan dia juga yang menyebabkan aku kehilangan kedua orang tuaku!" ucap Alvin penuh penekanan.


"Ku rasa maut terlalu indah untukmu!"


"Aargh!" Teriak Tuan Hendrico saat Alvin menginjak lengannya.


"Oopps!" Alvin tertawa meski terasa perih fi sudut bibitnya. "Aku lupa jika tangan jahat ini masih melekat di tubuhmu!"


"Arrgh!" Teriak Tuan Hendrico lagi.


Alvin tertawa saat pria itu menjerit karena ia juga menginjak jari tangannya. "Ah ya, aku baru ingat! Bukankah jari tangan ini yang menarik pemicu pist*l dan membuat kepala mamaku tertemb*s peluru, paman?"


"Ck!" Alvin berdecak. "Aku bingung harus menghukummu seperti apa paman!"


"Kak, boleh ku minta sesuatu?"


Alvin bertanya pada Ken yang sedang berdiri memegang ponsel dengan satu kakinya menginjak tangan Tuan Hendrico agar pria itu tidak berulah. Sementara itu puluhan senjata di setiap tangan pasukan Ken mengarah pada Tuan Hendrico.


"Ada apa?" tanya Ken.


"Aku ingin dia tetap hidup, Kak!" Tuan Hendrico menatap Alvin dalam dalam.


"Aku ingin dia melihat kehancuran kerajaan bisnis yang ia bangun selama bertahun-tahun."


"Boleh!" Ken menyetujuinya.


"Aku juga ingin melihat dia menangis tersedu di sudut penjara yang gelap. Sama seperti saat kita harus bersembunyi dengan rasa takut yang begitu besar di dalam gelap dan sunyinya hutan belantara," balas Ken.


"Aku ingin melihat ia dan istrinya sama sama menangis penuh sesal kak."


"Menangisi setiap dosa-dosa yang mereka perbuat semasa hidup mereka."


"Hingga mereka sakit dan mat* di penjara." Alvin tersenyum puas.


Keduanya berdiri seiring datangnya mobil polisi ke lokasi tersebut.


Ken tersenyum puas. "Ulahmu?" tanya Ken.


Alvin mengangguk. "Aku berubah fikiran." Ia tidak ingin pria itu mat* dengan mudah. Ia masih ingat rasa sakit dan betapa menyedihkannya dirinyanya dikurung ditempat gelap dalam keadaan kelaparan.

__ADS_1


****


__ADS_2