ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 60 Khawatir


__ADS_3

Aland berlari menuju mobilnya dengan menggendong gadis yang sudah tidak sadarkan diri akibat jatuh dari tangga itu.


Aland meminta supir mengantarnya ke rumah sakit karena ia harus menutup luka Mauza dengan kain yang diberikan kepala asisten rumah tangga. Entah kain apa yang ada ditangannya, tapi sekilas terlihat seperti kemejanya.


Sesaat setelah jatuhnya Mauza, semua orang menjadi panik termasuk dirinya. Sedikit rasa bersalah jelas ia rasakan karena jatuhnya gadis itu akibat bahunya yang tanpa sengaja menabrak bahu gadis itu.


Asisten rumah tangga mencari kain apapun, asal ketemunya saja. Yang penting bisa menahanan keluarnya darah dari kening Mauza.


"Lebih cepat!" teriak Aland pada pria yang susah payah mengendalikan setir mobil karena jalanan lumayan padat.


"I... iya tuan!"


"Hei... bangunlah!" Aland menepuk pipi Mauza. Gadis itu tidak sadarkan diri. Tampak siku dan lututnya juga berdarah.


"Ku mohon, bangunlah!" bisik Aland pelan.


Kepala Mauza ia dekap dengan erat. Ia memang baji*ngan. Ia memang jahat. Ia memang suka membuat siapapun menderita. Tapi gadis ini tidak bersalah. Aland tidak mungkin membiarkan seseorang terluka karena dirinya.


Aland segera keluar saat pintu mobil di buka. Ia tiba di rumah sakit dan langsung membawa Mauza ke ruang IGD.


"Tangani dia segera, suster!" Pinta Aland. "Aku ingin dokter terbaik yang menanganinya!"


"Silahkan urus administrasinya, Pak!"


"Oh... *****!" Gumam Aland kesal. "Apa dia fikir aku ini pria miskin!" Aland bergumam tak jelas menuju tempat untuk mengurus administrasi.


Ia menunggu sekitar setengah jam. Tapi ia sudah tak sabar menunggu kabar dari dokter. Baginya waktu setengah jam terasa seperti berjam-jam.


"Baji*ngan!" makinya pelan. "Sebenarnya apa yang dia lakukan pada gadis itu di salam sana!" Aland menatap ruang IGD yang masih tertutup rapat.


"Apa dia menjahit seluruh tubuh gadis itu?"


"Apa dia hanya melihat gadis itu sampai sadarkan diri?" Aland menggerakkan kakinya di kursi tunggu.


"Ingin rasanya ku runtuhkan saja rumah sakit ini jika menangani pasien dengan luka seperti itu saja tidak becus!"


Aland mengusak rambutnya. Ia benci menunggu. Dan yang paling ia benci adalah dia khawatir pada gadis yang bukan siapa-siapa baginya.


"Keluarga pasien?"


Aland mengangkat wajahnya dan melihat dokter yang menangani Mauza keluar dari ruangan itu.


"Saya, Dok!" Dokter tersebut tersenyum namun sekilas mengerutkan kening.


Aland menyadari, pria berjas putih di depannya ini pasti mengenali wajahnya yang beberapa hari ini muncul di tv karena kasus Daddynya.


"Ehm!" Dehem Aland karena dokter di depannya seperti sedang melamun. "Bagaimana keadaannya, Dok?" tanyanya dingin.


"Ehm, pasien sudah sadarkan diri. Perdarahannya juga sudah berhenti. Lukanya sudah di jahit," jawab pria berjas putih itu.


"Apa tidak ada luka dalam? Seperti mengenai otaknya atau apa? Dia tidak amnesia kan?" tanya Aland sedikit was-was.


Dokter berusia sekitar 40 an tahun itu menggeleng pelan. "Kita akan melakukan CT scan untuk pemeriksaan lebih lanjut."

__ADS_1


"Lakukanlah!" perintah Aland.


"Saat ini pasien sudah bisa ditemui, Pak. Dan sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang rawat."


Aland mengangguk.


***


"Ini, untukmu!" Tangan Ken terulur di depan wajah Lova. Sebuah paperbag menggantung di depan wajahnya.


Lova melihat wajah Ken dan pria itu mengangguk. "Ponsel baru, untukmu."


Lova tersenyum senang. "Thank you!" Ia meraih paperbag itu dan membuka isinya.


Sebuah kotak lumayan besar bertuliskan merk sebuah ponsel. "Woow! Keluaran terbaru." serunya.


"Terhitung hutang atau hadiah?" Lova melirik Ken sambil membuka kotak itu.


Ken duduk di sampingnya. "Aku ingin menghitungnya sebagai hutang, tapi sepertinya tidak pantas."


Lova tertawa pelan. "Kenapa?" tanyanya.


"Kemarin aku nyaris membahayakan nyawamu dan anggap saja itu hadiah karena rasa bersalahku."


Lova tersenyum miring. "Berarti masih ada hadiah ulang tahun untukku."


Ken tertawa. "Kamu bisa memiliki apapun dengan uangmu."


Lova membaca tiap lembar kertas yang ia ambil dari dalam kotak setelah ia mengeluarkan benda persegi dan chargernya itu.


"Ya, tapi kan itu bisa mengurangi isi tabunganku?" Lova sedikit cemberut.


Ken tertawa. "Dasar perhitungan!"


"Terserahku. Yang pasti aku ingin hadiah darimu!"


"Kenapa aku? Kenapa tidak Alvin, Bapak atau Mommy?"


"Mereka sudah memberikannya untukku!" Jawab Lova cepat. Ia mengaktifkan benda itu. Lalu menyerahkannya pada Ken. "Buatkan akunnya." pintanya pada Ken.


Ken menerima ponsel itu. "Oh, ya? Aku ingin tahu, apakah lebih mahal dari ini?" Ken menggerakkan ponsel itu.


Lova bersandar di sofa. "Bukan tentang harga, Ken?"


"Lalu?"


"Ayah dan bunda sudah memutuskan untuk kembali bersama."


"Oh, ya? Kabar baik!" Ucap Ken menatapnya sekilas lalu ia kembali fokus pada ponsel baru milik Lova.


"Tentu. Sebuah hadiah terindah yang pernah ku dapat setelah puluhan tahun berlalu." Ken mengangguk.


"Hadiah Alvin?" tanya Ken.

__ADS_1


"Hahaha..." Lova tertawa. "Kamu pasti akan tertawa mendegarnya."


"Apa itu? Pasti hadiah murah?" tanya Ken meremehkan.


Lova memukul bahu, Ken. "Sudahku bilang, ini bukan tentang harga Ken." Ken mengangkat bahunya, bibirnya menerbitkan senyum lebar.


"Kamu tahu? Alvin mengalah." Ken mengerutkan kening. Apa dia melewatkan banyak hal hanya dalam waktu kurang dari satu jam.


Ya, dia pergi sebentar untuk membelikan ponsel untuk Lova dan langsung kembali.


"Dia mengalah untuk menjadi adikku. Hahaha..."


"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Ken terbatuk.


Jika Alvin jadi adiknya maka aku?


"Ken?" Lova menepuk punggungnya. "Kamu kenapa?"


Ken menggelang pelan. "Tidak apa-apa. Aku hanya terkejut."


"Tenanglah, kami sudah sepakat, kamu akan menjadi kakakku, bukan adikku." Lova tertawa pelan.


Ken diam sejenak lalu kembali menatap Lova. Bagaimana aku bisa meraihmu jika kamu menjadi adikku, Lov.


"Aku tidak ingin," gumamnya pelan sambil menunduk menatap layar ponsel.


"Kenapa?" tanya Lova menatap wajah Ken dalam. Gadis itu bertanya-tanya mengapa ia tidak ingin menjadi kakak bagi Lova dan tinggal bersama dengan mereka?


Apa Ken ingin pergi dan hidup terpisah dari keluarganya? Apa Ken tidak senang bunda dan ayahnya kembali bersama? Apakah ia marah karena Alvin ingin masuk dalam keluarga kecil mereka?


Karena aku tidak ingin, Lov.


Ken menghela nafas. "Tidak apa-apa, Lov," jawabnya sendu dengan senyum palsu.


"Aku hanya belum siap."


Lova tersenyum kecil. "Aku memang cantik, Ken! Aku tau alasan itu yang membuatmu tidak siap."


Apa maksudnya? Apa dia tahu kalau aku menyukainya?


Lova melipat tangannya di dada dan menatap lurus ke depan.


Kamu kenapa, Ken? Tidak inginkah kamu selalu dekat denganku? Dulu, ketika kamu menculikku, Alvin mengatakan jika yang melakukannya adalah orang yang menyayangiku. Lalu mengapa kamu tidak ingin selalu ada disisiku? Mengapa kamu selalu berusaha pergi dan berpisah dari kami. Batin Lova.


Lova tersenyum hambar. "Lagi pula siapa yang akan siap jika tiba-tiba memiliki adik secantik aku."


"Mandiri, pekerja keras dan yang pasti kaya." Lova menatap Ken. Ia sudah kehabisan kata-kata untuk menutupi perasaan dan keinginan hatinya.


Ken tersenyum kecil dan mengangguk. "Dan satu lagi, terlalu percaya diri." Lova tertawa kecil mendengar balasan Ken.


Keduanya berperang dengan perasaan masing-masing. Lova ingin Ken menjadi bagian dari keluarga ini supaya ia bisa terus bersama pria itu.


Sementara Ken, tidak ingin tinggal bersama mereka karena ia punya harapan untuk menikahi gadis yang duduk sangat dekat dengannya ini. Menurutnya apakah tidak aneh jika mereka menjadi kakak-adik namun akhirnya menikah?

__ADS_1


__ADS_2