ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 38 Memohon


__ADS_3

Mauren turun dari mobil saat ia berhenti di depan sebuah rumah yang sangat besar dengan pagar setinggi empat meter. Ia memencet bel dan seketika pagar terbuka sedikit. Ia terlihatlah seorang pria berseragam warna hitam.


Penjagaannya ketat sekali. Batinnya saat terlihat beberapa pria dengan seragam yang sama.


"Cari siapa?" tanya Pria itu.


Mauren mendadak ragu untuk masuk. Ia takut tidak bisa keluar lagi dari rumah ini. Tapi, saat kembali mengingat Mauza, ia kembali memantapkan langkah.


"Saya ingin bertemu Tuan Hendrico, Nyonya ataupun Tuan Aland!" ucapnya agak gugup.


Pria itu menatapnya dari atas sampai bawah. Memperhatikan dirinya. Mungkin pria itu menaruh kecurigaan padanya atau karena belum pernah melihat dirinya hingga pria di depannya itu lebih berhati-hati.


"Sudah buat janji sebelumnya?" tanya pria itu lagi.


Mauren terdiam dan menggeleng. "Be-lum, Pak."


"Maaf, anda tidak bisa masuk!" Pria itu hendak menutup pintu dan Mauren maju selangkah berusaha menahannya.


"Pak, tunggu Pak! Saya ingin bertemu adik saya, Mauza!" ucapnya cepat. Mauren tidak boleh pulang dengan sia-sia.


Pria itu diam mematung. Ia tahu, bahwa Mauza adalah pelayan baru di rumah ini. "Tidak bisa!" jawabnya tegas.


"Nyonya dan Tuan sedang tidak di rumah!" lanjutnya bertepatan dengan pria lain yang membuka lebar pintu gerbang kokoh itu.


Mobil Aland keluar dari arah dalam rumah. Mauren bisa melihat wajahnya dari kaca jendela yang masih terbuka setengah.


Mauren yang melihat itu pasti tidak menyianyiakan kesempatan. Mauren mengejar mobil Aland dan mengetuk kaca mobil yang mulai tertutup itu.


"Tuan Aland!"


"Tuan!"


"Tolong berhenti sebentar, Tuan!" Mauren berteriak dan pria berseragam itu mengejarnya dan berupaya menahannya.


"Jangan membuat keributan disini!" bentak Pria berseragam itu.


"Sebentar saja, Pak!" Mauren tak menyerah. Ia mengejar mobil yang sudah sedikit menjauh itu.


Dari spion tengah, Aland melihat seorang gadis yang ia kenali tengah ditahan oleh security rumahnya. "Bukankah itu anaknya Mariska? Mau apa dia?"


Aland sejak awal memang melihat kehadiran Mauren yang mengetuk kaca mobilnya dan mengejarnya sambil berlari. Tapi, Aland tidak menduga bahwa gadis itu adalah putri Mariska.

__ADS_1


Aland memundurkan mobilnya dan segera keluar. Dengan sangat berwibawa ia menghampiri Mauren yang sudah menangis karena terus dihalangi.


"Ada apa?" tanyanya dengan kedua tangan ia masukkan di saku celananya.


Mauren yang mendengar suara Aland langsung menatapnya.


"Lepaskan dia!" perintah Aland.


Mauren menekuk lutut dan bersimpuh di kaki Aland. "Tuan, saya mohon!" Mauren terisak.


"Izinkan saya bertemu dengan adik saya, Mauza!" Mauren menyatukan dua telapak tangannya memohon pada Aland.


"Saya ingin melihat keadaannya."


Aland berfikir sejanak. "Ikit denganku!" Aland kembali masuk dan membiarkan mobilnya terparkir diluar.


Aland mencari dimana Mauza berada. "Dimana gadis itu?" gumamnya pelan. "Padahal baru saja dia selesai menyemir sepatuku."


Aland melirik Mauren yang menunggu di ruang tamu. Ia bisa melihat dari sorot matanya, gadis itu tengah ketakutan.


"Hei! Kemarilah!" Panggil Aland pada Mauza yang sedang membereskan piring di meja makan.


Mauza yang merasa dirinya dipanggil, langsung berjalan mendekat. "A-ada apa Tuan?" tanyanya ragu.


"Ada yang ingin bertemu denganmu."


Mauza melihat siapa yang datang dan seketika air matanya menetes tanpa di minta. Ia juga melihat Mauren menangis.


"Kaaakkk!" rengeknya manja.


"Mauzaaa!" Keduanya saling peluk dan menumpahkan tangis mereka.


Mauren merasa lega, melihat adiknya dalam keadaan sehat. Ia mengurai pelukan dan melihat tubuh Mauza yang sedikit lebih kurus, namun ia tidak melihat adanya luka tanda bekas penyiksaan.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Mauren.


Mauza mengangguk. "Maafkan kakak yang belum bisa membawamu pulang."


Mauza mengangguk lemah.


Mauren diam sesaat dan ketika ia melihat Aland sedang duduk di sofa, Mauren menghampirinya dan duduk di lantai menghadap ke arah Aland.

__ADS_1


"Tuan, bisakah anda melepaskan adik saya?" pinta Mauren dengan wajah dan nada suara memelas. "Saya berjanji akan menyicil semua uang yang sudah mama kami pakai."


Mauza langsung menarik kakaknya. "Apa-apaan ini kak? Jangan lakukan ini kak!."


Mauren menghempaskan tangan Mauza. "Tidak apa-apa, Mauren! Kakak akan melakukan apapun asal kamu terbebas dari sini."


Mauza jatuh terduduk di lantai sementara Aland masih terus diam. Tapi gadis itu kembali berdiri dan menarik kakaknya. Ia tidak rela melihat kakaknya bersimpuh di hadapan Aland, memohon agar ia dibebaskan.


"Kak! Ku mohon jangan seperti ini!" Mauza duduk dan memeluk Mauren. "Jangan begini kak!"


Keduanya saling peluk. "Mauza, cuma kamu yang kakak punya saat ini!"


Mauza bersujud mencium sepatu Aland. "Saya mohon Tuan!"


"Atau... atau bagaimana jika saya saja yang menggantikan dia. Bebaskan dia Tuan!"


Mauren tidak membuat Aland bereaksi meski gadis itu telah bersujud di kakinya.


"Kak..." Mauza hanya bisa menangis.


"Jangan kak! Kakak masih bisa bekerja di tempat yang lebih layak!" Mauza menarik tubuh Mauren dan menatap dalam mata sembab itu.


"Bekerja keraslah kak! Bantu aku melunasi semua uang yang mama pakai. Meski itu menghabiskan waktu sepuluh atau dua puluh tahun lagi, Kak!" Mauza menghapus air mata Mauren.


"Kalau aku yang bekerja diluar sana, pasti sulit bagiku mendapatkan pekerjaan, Kak! Aku tidak punya bekal pendidikan yang cukup, Kak!"


Mauren memeluk Mauza. "Kakak takut terjadi sesuatu padamu. Kakak takut ada yang menyakitimu, Za!"


"Tenang ya kak! Aku bisa menjaga diriku dan aku akan baik-baik saja." Mauza berusaha menenangkan kakaknya.


Meski aku tidak tahu sampai kapan aku akan baik-baik saja kak! Tempat ini begitu mengerihkan, Kak! Bahkan lebih buruk dari hutan rimba! Sementara aku hanya kelinci kecil yang sewaktu-waktu bisa saja diterkam pemangasa. Batin Mauza.


Aland yang melihat itu tersenyum kecil. Ia melihat bagaimana Mauza seolah merasa kuat padahal matanya selalu memancarkan ketakutan yang begitu besar.


*Mengapa gadis ini tidak ingin posisinya ditukar oleh kakaknya? Mengapa dia lebih memilih terkurung di rumah ini dari pada dibebaskan?


Apa dia sesayang itu pada kakaknya hingga ia rela membahayakan dirinya? Atau memang seperti yang dikatakannya tadi? Jika kakaknya yang bekerja di luar akan mendapat gaji lebih besar dan lebih cepat pula mereka membayar uang itu?


Sepuluh tahun pun aku tidak yakin akan terbayar lunas*! Batin Aland.


Mauren pulang dengan perasaan campur aduk. Ia harus rela Mauza berada di rumah itu lebih lama lagi. Harapannya hanya satu, semoga Brata bisa membawa Mauza kembali.

__ADS_1


Mauren begitu merasakan sakit hati yang Mauza rasakan. Adiknya itu bahkan enggan menanyakan kabar mama mereka dan perkembangan kasusnya. Segitu sakit hatinya Mauza pada mamanya.


__ADS_2