ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 19 Mr. A


__ADS_3

"Bibi Anna, tolong saya Bi.." Lova berbicara melalui intercom. Dengan kondisi lemah, ia meminta pertolongan.


Dengan susah payah ia berjalan menuju ranjang. Dan kini ia berdiri dengan berpegangan pada dinding.


"Bi.. tolong saya, Bi!" Ucapnya lirih.


Tak lama, pintu kamar itu terbuka dan tubuh Lova ambruk tepat di depan pintu.


"Nona! Anda kenapa? Apa yang terjadi?" Bibi Anna berusah menolong Lova.


"Penjaga! Bantu dia!" Bibi Anna meminta tolong kepada beberapa orang berjaket hitam yang bekerja menjaga Lova agar tidak kabur.


Lova diangkat ke atas ranjangnya. Wajah pucatnya membuat Bibi Anna semakin khawatir. Bibirnya juga kering.


Bibi Anna duduk ranjang, ia meletakkan punggung tangannya di kening Lova. "Dia demam. Panas sekali suhu tubuhnya." Wanita itu juga menyentuh tangan dan kaki Lova.


"Dia tidak sadarkan diri." Gumam wanita lima puluhan tahun itu.


"Kalian keluar lah!" Perintah Bibi Anna pada tiga orang penjaga yang membantunya. "Dan beritahu pada Alvin untuk memanggil dokter pribadi kesini!"


"Ah, Ya... Suruh pelayan membawakan makanan dan minuman untuknya." lanjutnya.


"Baik Nyonya!"


Semua penjaga meninggalkan Bibi Anna dan Lova di dalam kamar.


Perlahan Lova membuka matanya, kepalanya terasa berat dan pandangannya buram.


"Bi...bi..." ucapnya saat perlahan ia bisa melihat wajah Bibi Anna.


"Tenanglah, Nona. Anda akan baik-baik saja." Bibi Anna menahan tubuh Lova yang hendak bangun dari tidurnya.


"Kondisi anda sangat lemah." lanjut wanita yang Lova tahu hanyalah seorang pelayan itu.


"Kepala saya..." Lova memegangi kepalanya yang terasa berat.


"Sssst! Jangan banyak bergerak dan bicara dulu, Nona."


"Dokter sedang dalam perjalanan."


Tak butuh waktu lama, pelayan membawakan segelas air hangat dan makanan di atas nampan.


Bibi Anna membangunkan tubuhnya, menjadi sedikit lebih tegak. Bibi Anna membantunya untuk minum. "Minum dulu, Nona."


"Sepertinya anda dehidrasi parah."


Lova diam mematung.


"Tidak ada racun, Nona!" Bibi Anna tersenyum kecil. "Minumlah!"


Lova dengan ragu meminumnya meski hanya seteguk.


Selama ini, Lova tidak memakan makanannya. Ia membuangnya di dalam closet. Tentu apa yang ia perbuat diketahui melalui cctv karena Lova kerap kali membawa nampan ke dalam kamar mandi lalu keluar dengan makanan yang tak tersisa lagi di piring.


Ia sengaja, ia membiarkan dirinya sakit untuk memancing Mr. A keluar dari persembunyian dan menemuinya.


Lova beberapa kali mencoba untuk lari dari kamar ini. Ia berusaha kabur saat Bibi Anna membawakan makanan untuknya. Tapi sayang, ia tidak berhasil. Penjagaan ketat yang ada di rumah itu membuatnya kesulitan untuk kabur. Bahkan saat ia baru keluar dari pintu kamar itu, sudah ada dua sampai empat orang yang berjaga.

__ADS_1


Dan saat sebuah teriakan "Nona kabur!" terdengar nyaring di rumah itu. Lova bisa melihat puluhan penjaga mengejarnya. Dan akhirnya Lova kembali dikurung di kamar itu.


"Kalau saya mati..."


"Ssst! Anda bicara apa, Nona. Anda tidak akan mati karena makanan ini."


"Ingin saya buktikan?" Bibi Anna bertanya padanya tapi Lova hanya diam.


"Baiklah! Lihat!" Bibi Anna menyuapkan sesendok nasi ke mulutnya lalu mengunyah dengan perlahan kemudian menelannya.


Suapan kedua dengan sayur dan lauknya. Tapi Lova tetap diam.


"Semua makanan disini aman, Nona. Bahkan semua isi lemari es di sana boleh anda habiskan." tunjuk Bibi Anna pada sebuah lemari es yang baru kemarin di masukkan ke kamar ini. Lemari es berisi banyak makanan dan minuman yang sama sekali tidak pernah ia sentuh.


Lova masih diam mematung. *Sebenarnya anda siapa Bibi? Dari cara anda makan, sepertinya anda orang terhormat.


Lalu siapa yang menculikku dan memberiku fasilitas ini? Jika Mr. A orang jahat, mungkin aku sudah tidak bernyawa sekarang. Tapi tidak mungkin ada orang baik yang menculik seseorang*.


"Tolong ambilkan sendok bersih untuk Nona dan jika perlu ambilkan makanan yang baru." Perintah Bibi Anna pada pelayan itu.


Suara bibi Anna membuat Lova terhenyak dari lamunanya. "Ehm, tidak perlu bibi. Saya hanya ingin tiduran saja." Perlahan, ia kembali membaringkan tubuhnya. Ia tidak ingin makan. Ia hanya ingin bebas dari rumah ini.


***


"Anda mengalami dehidrasi." Ucap dokter cantik yang memeriksa Lova. Beberapa menit setelah ia kembali membaringkan tubuhnya, seorang dokter datang memeriksanya.


"Anda juga kehabisan tenanga."


"Sepertinya anda tidak makan dalam waktu yang lumayan lama."


Lova diam menatap dokter cantik itu. Bagaimana caranya aku memberi tahu dokter cantik ini bahwa aku sedang diculik?


"Dokter, apa perlu dirawat di rumah sakit?" Tanya Bibi Anna yang selalu setia mendampingi Lova.


"Tidak perlu, Bibi."


"Nona..."


"Lova, namanya Lova." Sambung Bibi Anna cepat saat dokter cantik itu menggantungkan kalimatnya.


"Ah, Ya... Nona Lova hanya perlu istirahat yang cukup, makan minum yang cukup dan bergizi serta minum obat yang sudah saya resepkan."


Dokter cantik itu memberikan selembar kertas berisi resep obat yang harus ditebus kepada Bibi Anna.


"Terima kasih dokter," ucap Lova kemudian.


****


Malam harinya, setelah minum obat ia merasa mengantuk. Ia memejamkan matanya namun sulit untuk tidur nyenyak. Ia masih memikirkan nasib ayahnya dan Rosa serta supir kantor.


Lova mendengar suara handle pintu yang dibuka dari luar. Ia tetap memejamkan matanya. Ia bahkan tak ingin bergerak sedikitpun.


Terdengar langkah kaki yang berjalan mendekat. Seketika, aroma parfum mewah menyeruak di indera penciumannya.


Parfum pria. Apakah ini Mr. A? Batin Lova.


Ia merasa hembusan nafas hangat menyapu wajahnya. Ia merasa pria itu sangat dekat dengannya.

__ADS_1


Pria ini mendekati wajahku. Dia mau apa?


"Hai, Lova..." Suara berat nan lembut menyapanya. "Aku Mr. A."


Akhirnya datang juga!


"Maaf atas kekurang ajaranku."


Suara Ken? Ya, ini suara Ken.


"Aku hanya ingin menyelamatkan hidupmu."


Kenapa kamu ingin menyelamatkan hidupku?


"Aku sudah terlanjur berjanji pada seseorang."


Kepada siapa? Apakah ayah?


"Kelak kamu akan mengetahuinya, Lova."


Aku menunggu saat-saat itu.


"Jangan marah padaku."


Aku marah padamu jika kamu benar-benar Ken! Aku akan menghajarmu, Ken.


"Ah, ya. Kamu pasti khawatir pada ayahmu, kan? Tenanglah, dia sedang dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada yang bisa mendekat bahkan menyentuhnya."


Dia mengetahui keadaan ayah? Dia Ken? Aku yakin dia Ken.


"Tetaplah disini sampai semuanya beres."


Aku ingin pulang, asal kamu tahu!


"Jangan khawatirkan apapun karena semuanya akan baik-baik saja."


Tapi aku pasti membuat semua orang khawatir. Belum lagi perusahaan yang mulai kembali bangkit. Aku tidak mungkin meninggalkan ini semua terlalu lama.


"Dan ya, mengapa kamu bod*h sekali." Pria itu terdengar tertawa kecil. "Hampir mat* karena kelaparan, padahal disini banyak makanan."


Aku lebih takut mat* jika memakan makanan itu.


"Aku pergi dulu. Aku akan sering menemuimu!"


Pria itu berjalan menjauh darinya. Saat handle pintu di buka Lova mengintip dengan membuka sedikit matanya.


Sial*an! Dia pakai masker dan topi. Batin Lova saat melihat pria itu ternyata masih memeriksa intercom di samping pintu.


Lova kembali memejamkan matanya. *Punggungnya memang seperti punggung Ken. Tapi Aland juga punya tubuh se-atletis Ken.


Aku harus tetap pura-pura tidak tahu. Aku tidak boleh percaya begitu saja padanya. Bagaimana jika aku hanya tawanan yang tinggal menunggu waktu eksekusinya saja*.


***


Nah, Kata Lova Ken yang menculiknya.


Next bab kita lihat yaaa, Ken atau bukan dan siapa Bibi Anna sebenarnya 😊😊

__ADS_1


Jejaknya kak 😚😚


__ADS_2