
Tubuh Alvin masih terasa lemas, tapi ia harus harus menegakkan kepalanya kala langkah kaki seseorang yang ia duga adalah dalang dibalik penculikannya ini mulai terdengar.
Terlihat jelas bagaimana pria-pria bertubuh besar itu menunduk hormat kala seorang pria datang bersama beberapa orang di belakangnya.
Gudang kosong nan usang ini sangat minim cahaya. Alvin sedikit kesulitan memlihat wajah pria itu. Tapi dari siluet tubuhnya, ia bisa menduga siapa pria itu.
Hendrico Tua. Batin Alvin tersenyum licik.
Pria itu duduk di depan Alvin. Jarak yang kurang dari dua meter itu membuat Alvin begitu mengenali wajahnya.
Pria yang dulu ia lihat tak setua sekarang, tapi sepertinya otak liciknya masih sama.
Apa kabar paman Juanku? Kita kembali bertemu di tanah, dimana kamu menghabisi kedua orang tuaku. Selamat datang di medan perang yang sesungguhnya. Batin Alvin.
Ia tahu, ia sedang ditawan dan bahkan ia tidak tahu sampai kapan ia akan tetap hidup. Tapi rasa percayanya pada Ken begitu besar. Ia yakin Ken bisa menyelamatkannya.
Semoga kakakku ingat akan liontin di leherku. Liontin yang sudah terpasang GPS . Pemberiannya beberapa minggu lalu saat aku sedang berada di negara ini. Batin Alvin.
"Apa kabar Alvino Aldric?" tanya Tuan Hendrico dengan menyilangkan kakinya. Asap rokok ia hembuskan kearah Alvin.
Alvin tersenyum kecil. "Kabar baik, Tuan Hendrico." Alvin menunduk hormat. "Mengapa anda membawaku kesini?" tanyanya.
"Apa yang anda inginkan dariku? Si miskin, yang hanya seorang office boy." Alvin tetap tenang di kursinya meski tangannya terasa perih karena tali yang mengikat begitu kuat.
"Hahahah!" Tuan Hendrico tertawa. "Jangan berlagak bodoh, putra bungsu Adam Aldric!"
Jangan sebut nama papaku dengan mulut busukmu itu, Juan brengs*k! Batin Alvin tak terima.
"Ah, ya... Alvino Darrass. Apa hubunganmu dengan Ken Darrass?" tanya Tuan Hendrico dengan tatapan liciknya.
"Diakah Alkenzy Aldric?"
Alvin sudah menduga ini, Tuan Hendrico sudah tau mengenai hubungannya dengan Ken.
"Siapa dia? Apakah penyanyi terkenal di negara ini?" tanya Alvin seolah ia begitu terpukau.
"Wah, aku pasti beruntung jika bisa menjadi adiknya. Aku akan menjadi kaya dalam sekejap dan tidak perlu memegang nampan dan sapu lagi." Ucap Alvin.
"Dimana dia Tuan Hendrico?" Tanya Alvin dengan wajah penuh harap.
Tuan Hendrico berjalan maju dan "Plak!"
Tamparan keras mendarat di wajahnya. Seketika sudut bibirnya berdarah. Alvin menatap pria itu dengan tatapa tajam dan penuh dendam.
"Jangan berpura-pura, Aldric kecil!" bentaknya.
__ADS_1
"Aku tahu siapa dirimu!"
"Aku tahu kamu hanya pura-pura!" Tuan Hendrico mencengkram dagunya.
Alvin tersenyum licik. "Jangan sok pintar jika anda hanya menebak-nebak!"
"Jangan mengajariku!" Bentak Tuan Hendrico sambil melepaskan cengkramannya dengan kasar hingga wajah Alvin terhempas.
"Perlu anda tahu!"
"Nama Aldric sudah digunakan puluhan bahkan ratusan orang!"
"Jika anda hidup dalam ketakutan karena dosa besar yang anda perbuat dengan keluarga Aldric yang anda maksud, please! Be smart pak tua!" Alvin tertawa remeh.
"Aku tidak pernah salah!" Bentak Tuan Hendrico.
"Namamu Alvino Aldric, kamu berasal dari negara ini, kamu fasih berbahasa. Apa lagi yang harus ku ragukan, Ha?"
Alvin tertawa. "Hahahah... Anda lucu sekali Tuan!"
"Anda sangat lucu!"
"Lalu jika aku datang ke perusahaan pak Thomas dan memperkenalkan diriku sebagai putramu, Aland Hendrico, dia harus percaya begitu saja?"
"Astaga!" Alvin terbahak. "Untung saja dia tak sebodoh dirimu, Pak Tua!"
"Dengan pria tua nan bodoh, yang hidup dalam ketakutan akan dosanya di masa lalu. Dan menahan seorang office boy hanya untuk menjawab rasa penasarannya akan nama Aldric."
"Buggh!" Satu lagi bogeman mendarat di wajah Alvin.
"Cih!" Alvin meludah karena rasa asin akibat darah yang sudah memenuhi mulutnya. sepertinya langit-langit bagian dalam mulutnya robek.
"Darahku, akan anda bayar dengan kematian, Tuan Hendrico yang terhormat!"
"Hahahah... bagaimana kamu akan membunuhku dengan tangan terikat begini?"
"Bukan kematianmu! Tapi kematian putramu!"
"Cepat cari dia dan sembunyikan di ketiakmu sebelum polisi menangkapnya dan menembak seluruh kakinya."
Tuan Hendrico menelisik wajah Alvin. Ia merasa pria di depannya ini begitu berani. Tapi Ia ragu apakah ini hanya ancaman semata atau memang benar- benar hal yang harus ia khawatirkan.
"Siksa dia sampai dia mengaku!" Perintah Tuan Hendrico pada orang suruhannya.
Pria itu kembali duduk dan melihat bagaimana tubuh Alvin dicambuk. Ia tersenyum puas dengan harapan Alvin akan mengaku dan mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.
__ADS_1
Alvin menggemertakan giginya menahan rasa sakit yang begitu menyiksa. Ia tak mengatakan apapun lagi.
Ini belum seberapa, yang mama dan papa rasakan bahkan lebih menyakitkan dari ini.
"Menyerahlah! Dan katakan saja bahwa Ken adalah kakakmu!"
Alvin diam saja. Namun, cambukan demi cambukan ia terima. Bahkan kakinya juga menjadi sasaran. Ia bisa memastikan kuku jari kakinya sudah tak berbentuk lagi sekarang.
Alvin sudah tak berdaya perlahan wajahnya mulai menunduk hingga akhirnya ia pingsan.
"Hentikan!" Perintah Tuan Hendrico dan orang suruhannya berhenti menyiksa Alvin.
"Jangan sampai dia mati! Aku ingin memancing Kakaknya keluar dari persembunyian!"
Tuan Hendrico baru menyadari bahwa Alvin dan Ken adalah saudara dari laporan gadis yang ia perintahkan untuk mengikuti Alvin.
Gadis yang menabrak tubuh Alvin ternyata adalah orang suruhannya.
Gadis itu melihat nama Alvino Darrass di tiket pesawat yang tak sengaja terjatuh di lantai karena terlepas dari tangan Alvin.
Gadis itu lantas memberi laporan pada tuan Hendrico termasuk waktu tibanya pesawat di Bandara di kota Jakarta.
Gadis itu juga sempat memfoto Alvin dan kedua pengawalnya agar lebih mudah dikenali oleh orang suruhan Tuan Hendrico yang bertugas menjemput mereka di bandara.
Ternyata menipu Alvin begitu mudah. Dan Tuan Hendrico akan menangkap keduanya dengan memancing Ken.
Tuan Hendrico mengirim pesan pada Ken dengan nomor baru. Ia mengirim foto Alvin yang sudah tak berdaya.
Datanglah jika ingin mengucapkan salam terakhir padanya.
Aku tidak tahu sampai kapan ia masih bisa bernafas.
Tuan Hendrico tersenyum puas.
Lihatlah Adam, aku akan memastikan kedua putramu yang ku kira sudah mati itu untuk tidak bisa membalas dendam.
Putramu itu tidak akan bisa membalasku! Sepertinya keinginan terakhirmu sebelum menghembuskan sisa nafasmu itu tidak akan terwujud.
Aku akan mengirim putra-putramu kepadamu, di surga yang damai. Hahahaha..
Semoga kalian bahagia berkumpul lagi disana. Jangan berterima kasih padaku karena ini memang tugasku, Adam!
Ponsel yang bergetar membuatnya menjawab panggilan masuk itu.
"Baik! Aku akan kesana!"
__ADS_1
Tuan Hendrico pergi dari tempat itu dan menuju suatu tempat dimana seseorang telah menunggunya.