
Seorang pria menutup pintu ruangan kedap suara dimana seorang gadis cantik tengah terbaring di dalamnya. Ia baru saja menyapa gadis itu, gadis yang berhasil ia culik dari tangan penculik. Hahaha, terdengar membingungkan, bukan?
Ya, dia seperti seekor kucing besar yang mencuri ikan dari mulut kucing lain. Tapi tujuannya bukan untuk memangsa gadis itu, melainkan untuk melindungi dan untuk memuluskan rencananya.
"Bagaimana? Sudah kangen-kangenannya!" Ucap pria lain yang duduk di sofa tak jauh dari kamar itu.
"Diamlah!" balas pria itu dingin sambil membuka masker dan topinya.
Bukannya takut, pria yang duduk di sofa itu malah terbahak.
"Mommy, lihat putra kesayangan mommy itu!" Ucap pria bermasker tadi pada seorang wanita berpakaian pelayan. "Bisanya hanya mengejek saja!"
"Hahah..." Wanita itu malah tertawa kecil. "Alvin, jangan ganggu kakakmu!"
Pria bernama Alvin itu tersenyum mengejek. "Dia terlalu rumit, Mommy!"
"Apa susahnya sih! Dia cuma perlu menunjukkan wajahnya maka gadis itu akan mengikuti permainannya, Mom."
"Tidak perlu bermain kucing-kucingan dengan masker dan topi segala." Alvin menunjuk masker dan topi yang tergeletak diatas meja. "Ck!" Decaknya kemudian.
"Setidaknya Mommy juga tidak perlu berperan sebagai Bibi Anna."
"Justru gadis itu juga bisa memanggil dengan sebutan Mommy Anna." Wanita itu tersenyum tipis tanpa mengucapkan satu kata pun.
"Ayolah, Ken! Semua orang tahu, wajahmu itu tampan dan rupawan. Untuk apa disembunyikan!" Alvin masih terus saja mengejek Ken yang sudah memasang ekspresi kesal.
"Jika masih ingin ikut dalam permainan balas dendam ini, ikuti saja aturanku!" ucap Ken dingin.
"Ah! Tentu aku ikut! Aku ingin mengubur bangk*ai Hendrico dengan tanganku sendiri!" Alvin menatap kedua tangannya.
"Aku akan menginjak tanah itu dan membuat jasadnya terhimpit di dalamnya hingga akhirnya habis dimakan cacing." lanjutnya.
"Jangan terlalu kejam, Vin!" Tegur wanita yang mereka panggil Mommy itu.
"Itu terlalu manis untuknya, Mom. Harusnya jasadnya digantung diatas pohon dimana singa lapar berkeliaran dibawahnya." Alvin menggemertakan giginya, tanda bahwa ia tengah menahan geram.
"Apa mommy mau aku membantu mommy menguburkan jasad Mariska juga?" tanya Alvin.
"Dia bagianku, Vin!" Sambar Ken.
Alvin tertawa. "Ayolah Ken, aku juga ingin menuntut balas wanita yang sudah menyakiti mommyku ini!" Alvin memeluk Mommy Anna yang duduk di sampingnya.
"Terserahlah!" Ken tidak ingin bicara lagi. Ia enggan menanggapi adiknya yang selalu ingin ikut dalam permainannya itu.
__ADS_1
"Kembali ke negaramu! Bantu Thomas disana!" Perintah Ken pada Alvin.
"Aku tidak berbakat mengurus perusahaan." Alasannya. "Thomas saja sudah cukup, Kak!"
"Cih, memanggilku kakak hanya karena tidak ingin dipulangkan, uhm?"
"Selalu bisa menebakku!" Alvin memeluk Mommy Anna. "Putra Mommy sungguh menakjubkan!" Alvin menatap kagum yang dibuat-buat pada kakaknya.
Ken terpaksa melakukan semua rencana ini. Ia terpaksa menggunakan Lova sebagai perantaranya untuk balas dendamnya. Anggap saja sekali dayung dua tiga pulau terlampaui.
Ia bisa membalas kebusukan Mariska dan ia akan bisa berperang dengan keluarga Hendrico tanpa pria itu tau siapa musuh yang sedang ia hadapi.
Awalnya ia hanya berniat menjaga Lova, tapi mendadak api balas dendamnya berkobar saat pertama kalinya ia melihat wajah Hendrico saat membantu perusahaan Lova beberapa waktu lalu.
Setahu Ken, nama pria itu bukanlah Hendrico melainkan Juan Verdiand. Seorang pria kejam yang telah membuat seluruh hidup Ken dan Alvin jungkir balik, berputar 360 derajat, dan terperosok ke dalam jurang kesengsaraan.
Hendrico merampas semua kebahagiaan, harta, tahta bahkan nama belakang keluarga yang saat ini Ken dan Alvin tidak gunakan lagi. Keduanya hidup dalam ketakutan hingga Tuhan mengirim sosok wanita yang kini menjadi Mommy bagi keduanya.
***
Ken pulang ke rumah Bratadikara. Rumah baginya meski Brata masih di rawat. Saat ini, semua urusan perusahaan diurus oleh Ken selama Lova belum ditemukan.
Ken masuk ke dalam rumah dan sambutan tepuk tangan Mariska yang tengah duduk diruang tamu membuatnya berhenti melangkah.
Ken tertawa dalam hatinya kala melihat sudut bibir wanita itu masih membiru. Ia jelas tahu apa penyebabnya karena Mariska masih terus mengomel hingga masuk ke dalam kamar sepulang dari penangkapannya oleh tuan Hendrico malam lalu.
Di dalam kamar itu, ia terus memak* dan mengumpat Ken yang ia duga menjadi dalang dibalik semua ini. Mariska menebak Ken dan Brata yang melindungi Lova dari aksi kejahatannya.
Sementara Ken, bisa mendengarkan apapun yang wanita itu ucapkan dari penyadap suara yang hingga kini belum diketahui oleh Mariska.
"Seekor anj*ng jalanan yang dipungut dan kini tega menggigit majikannya. Bahkan juga memangsa anak majikannya." Mariska tersenyum sinis. "Sebutan apa yang cocok untukmu?"
"Penghi-anat? atau tidak tahu diri?" Mariska menatap Ken penuh kebencian.
"Permainanmu begitu terbaca olehku, Ken!"
"Kamu yang menculik Lova hingga Brata kembali drop!" tuduhnya dengan suara lantang membuat semua asisten rumah tangga mengintip dari arah dapur.
"Dan lihat dirimu sekarang!" Mariska menunjuk Ken dengan dua tangannya. "Menjadi pemimpin perusahaan Bratadikara!"
"Wooww!" Wanita itu menatap kagum yang dibuat-buat. "Sungguh pencapaian yang luar biasa, Ken!"
"Kelak, tukang kebun di rumah ini akan meniru perbuatanmu, dan dia akan menjadi asistenmu. Begitukah?" ejek Mariska.
__ADS_1
"Atau salah satu asisten rumah tangga akan kamu jadikan sebagai istrimu!" Mariska melipat tangan di dada. Ia menggeleng pelan.
"Setelah ini apa lagi, Ken?"
"Menguasai rumah?"
"Mengusir Brata dan anak-istrinya?" tanya Mariska. "Atau menjadikan kami semua sebagai budakmu?"
Ken maju beberapa langkah. Ia menatap tajam Mariska. Jarak mereka hanya beberapa langkah.
"Bukankah Bapak juga memungut anda dari jalanan, Nyonya Ma-riska!" Ucap Ken pelan tapi dengan nada dingin.
Mariska membelalakkan matanya.
"Tidakkah anda jauh lebih licik dariku? Berulang kali berusaha meleny*apkan beliau hanya karena tidak mendapatkan hak atas perusahaan Bratadikara." tuduhan Ken membuatnya semakin membulatkan mata.
"Benarkah tuduhanku Nyonya Mariska? Siapa yang lebih licik kalau begitu?" tanya Ken.
Ia segera berbalik dan meninggalkan wanita itu. Ken berhenti dan melihat kearah samping agar Mariska bisa melihat sebelah wajahnya. "Berhentilah mengurus hidupku. Dan Selamatkan saja kedua putrimu dari cengkraman Hendrico." Ken kembali melanjutkan langkahnya.
Berani menuduhku serendah itu. Dasar nenek sihir! Seluruh harta Brata tidak ada seujung kuku pun dari apa yang ku punya.
Dan seluruh sisa waktumu bahkan bisa ku beli saat ini juga.
Aku hanya melindungi apa yang menjadi hak Lova dari manusia rakus sepertimu.
Kamu bahkan rela seluruh harta ini musnah agar Lova juga tidak mendapatkan apapun.
Dan lebih kejam lagi, kamu bahkan tega menukar gadis itu demi mendapatkan kekayaan hingga saat ini putrimu yang terkena imbas.
Ken sudah mengetahui apa yang terjadi pada Mariska dan kedua putrinya. Ken juga sudah mengetahui bahwa Mariskalah dalang dibalik kecelakaannya.
Ia juga sudah mengetahui bahwa penculikan Lova didalangi olehnya juga.
Ken, mengumpulkan semua orang yang ia tangkap di satu tempat yang aman. Termasuk orang-orang suruhan dari Tuan Hendrico.
Ken yakin, kelak ia membutuhkan orang-orang itu untuk memuluskan semua rencananya.
***
Udah pada tau kan, Ken itu siapa?
Nanti akan terbongkar kok, kekejaman Juan Verdiand alias Hendrico terhadap keluarga Ken. 😊😊
__ADS_1
pelan-pelan yaaa 😊😊