ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 80 H -5


__ADS_3

Menjelang hari paling ditunggu-tunggu pasangan Ken dan Alova, semua pihak menjadi sibuk. Bahkan orang-orang yang tidak berkepentingan juga ikut-ikutan sibuk. Katakan saja orang itu adalah Alvin.


"Selamat pagi semuanya!" Sapa Alvin yang mengejutkan seisi rumah Brata. Ketentraman di meja makan itu sedikit terusik saat pria dengan koper besar di tangannya masuk sambil berteriak kencang.


"Alvin! What are you doing, here?" Ken tersentak kaget saat melihat adiknya itu sudah tiba di Jakarta.


"Hahaha... Sipitkan sedikit matamu, Kak!" Melihat ekspresi Ken yang seperti akan menerkamnya, Alvin malah tertawa dan berjalan mendekati harimau yang akan mengamuk itu.


"Apa yang ku lakukan disini adalah tentu untuk menghadiri pernikahan kakakku!" Jawab Alvin enteng dan dia duduk di samping Lova.


Lova, Alana dan Brata hanya bisa tersenyum miring melihat kelakuan Alvin yang suka sekali menggangu Ken.


"Pernikahan akan tetap berlangsung meski kamu tidak datang!" Gumam Ken kesal.


"Aku tidak datang untukmu, kak. Aku datang untuk kakakku." Alvin bersandar di bahu Lova.


"Menyingkir darinya, Vin! Menjauhlah dari istriku!" geram Ken memancing tawa Brata dan Alana. Sepasang orang tua itu menahan agar tawa mereka tidak pecah.


"Hahah... Masih 5 hari lagi, kak. Janur kuning belum melengkung! Jadi, jangan mengaku-ngaku. Kak Lova masih milik kami bertiga!" Alvin menatap Brata dan Alana bergantian. "Bukan begitu Ayah, Mommy?"


Brata dan Alana mengangguk. "Alvin benar, Ken. Lova belum sah menjadi istrimu. Dia masih milik keluarganya," ucap Alana.


"Tapi Alvin bukan..."


"Dia adikku, Ken!" sahut Lova cepat.


"Ck!" decak Ken. "Jika dia adikmu, lalu aku ...?"


"Kamu tidak ingin jadi kakakku kan, Ken?" tanya Lova. "Maka bersabarlah hingga statusmu berubah menjadi suamiku."


Alvin tersenyum penuh kemenangan. "Ah, ya... Aku hampir lupa, kak!"


"Setelah makan siang aku akan ke kantor. Ada proyek baru yang akan ku serahkan ke perusahaan kakak."


"Cabang perusahaan yang Ken bangun belum selesai. Jadi, perusahaan kakak akan menangani satu proyek lagi. Pemiliknya ingin cepat selesai kak. Jika menunggu cabang perusahaan, aku takut kita kehilangan klien penting ini."


Lova mengangguk. "Aku akan meminta Rosa mengurus semuanya."


"Haruskah kamu yang datang? Apa tidak bisa jika Thomas saja yang ke sini dan kamu tetap stay di kantormu?" tanya Ken sinis. Adiknya itu sepertinya menjadikan pernikahannya sebagai alasan untuk bertemu dengan Rosa.


"Bisa saja, Kak!" jawab Alvin cepat. "Tapi apa aku salah jika aku merindukan gadis itu." Alvin nyengir kuda.


Ck! Sesuai dengan apa yang ada dalam fikiranku.


"Anggap saja sekali dayung dua tiga pulau terlampaui," lanjut Alvin. "Aku bisa mengurus perusahaan, bertemu gadisku dan menghadiri pernikahan kakakku."


"Ck! Bagaimana? Aku sudah pintar kan, Mom?" tanya Alvin pada Alana.


Alana dan Brata kompak tertawa. Alana dan Brata tidak berkata apapun, keduanya hanya mengacungkan ibu jari mereka.


Alvin tertawa senang. "Lihat kak! Mommy dan Ayah mengakui bahwa aku sudah pintar!"


"Terserah padamu, Vin!" Ken berdiri dari kursinya. "Ayo sayang! Kita akan terlambat ke kantor jika masih harus meladeni pria ini." Ajak Ken pada Lova.

__ADS_1


"Ayah, Bunda, kami berangkat dulu." Lova mengecup pipi ke dua orang tuanya.


"Kak, tolong kecup juga pipi si batu itu. Siapa tahu dia bisa berubah menjadi pangeran yang tampan."


Lova tertawa kecil. "He is my king, Vin!" Lova meraih tangan Ken dan memeluk erat tangan kekar itu.


"Dengar baik-baik, Vin. She is my queen!"


"Astaga!" Alvin menepuk keningnya. "Mengapa kalian berdua jadi norak begini?" tanya Alvin heran.


***


"Selamat siang!" Clara terpesona dengan suara bariton yang terdengar jelas di telinganya. Gadis itu mengangkat kepalanya menatap pria tampan yang berdiri tepat di depan meja kerjanya.


"Se... selamat siang, pak Alvin." Clara tak menyangka Alvin tampak berbeda dengan setelan jas rapi seperti yang ia lihat sekarang.


"Bu Lova sudah menunggu di dalam, Pak!" Alvin di arahkan untuk masuk ke ruangan Lova.


Alvin mengedarkan padangan. Ia melihat Rosa sedang fokus pada laptopnya, Lova sedang fokus pada berkas-berkas diatas mejanya dan Ken sedang menarikan jemarinya di atas tab.


"Selamat siang, Bu Lova."


"Selamat siang, pak Alvin." Alvin senang dipanggil bapak. Ia melirik wajah Ken yang menatapnya sinis.


"Silahkan duduk!" Lova menunjuk kursi di depannya.


"Terima kasih Clara!" Ucap Alvin ramah. Ia sempat melirik Rosa yang juga melirik ke arahnya tanpa ekspresi.


"Baiklah, Pak..."


"Alvin saja, kak!"


"Hahaha... Oke Vin! Kita mulai?" tanya Lova.


Alvin dan Lova mulai membahas proyek baru ini. Lova harus memahami semuanya sebelum akhirnya membawa proyek ini dalam meeting bersama karyawannya.


Ken bisa melihat bahwa Alvin cukup profesional dan bisa diandalkan. Sebenarnya ia punya pekerjaan lain, tapi demi melihat cara kerja Alvin, ia rela menunggu adiknya itu datang.


Rosa juga memperhatikan penjelasan dari Alvin membuat pria yang masih belajar otu sedikit gugup.


Ayolah, Vin. Ini demi membuat pintu hatinya terbuka untukmu. Jangan lirik wajahnya apa lagi sampai ketahuan menatapnya penuh damba. Batin Alvin menguatkan hatinya.


Rasa cinta yang terlalu menggebu hampir mengacaukan konsentrasi Alvin. Ia tidak ingin ketahuan masih mengharapkan gadis itu. Ia ingin gadis itu bersikap biasa padanya. Ia takut Rosa illfeel padanya.


Pertemuan itu selesai. "Kita akan bahas besok dalam meeting pagi, Ros!"


"Tolong persiapkan semuanya ya..."


"Bukankah besok harusnya kamu sudah cuti, Lov?" tanya Ken.


"Ku rasa belum bisa Ken. Aku akan cuti mulai H -3."


"Jangan terlalu lelah. Aku tidak ingin kamu sakit saat hari H nanti."

__ADS_1


"Ada kamu sebagai moodbosterku. Ada kamu sebagai vitamin termujarap sedunia."


Rosa mengulum senyum mendengar hal yang mulai biasa ia dengar itu. Semakin mendekati hari H Lova dan Ken mulai bertingkah seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta lainnya.


"Tidak bisakah kalian sedikit bersikap wajar, kak?" protes Alvin yang masih belum pergi dari ruangan itu.


"Dunia ini bukan hanya milik kalian berdua, Kak. Aku dan Rosa juga punya hak atas dunia ini." lanjut Alvin.


"Kami tidak ngontrak loh disini."


"Tapi ini kantorku, Vin!"


Alvin menggeleng dan mengangkat kedua telapak tangannya. "Aku menyerah. penguasa akan tetap jadi penguasa." Alvin tertawa.


"Aku pergi dulu." Pamitnya sambil berdiri merapikan jasnya.


"Ros, antar dia." perintah Lova.


"Baik, Bu." Rosa mengangguk.


"Tidak perlu, Ros. Tetaplah disini, jaga kakakku. Jangan sampai batu itu menerkamnya." Liriknya sinis pada Ken.


Alvin memakai kacamata hitamnya dan berjalan keluar. "Ah, ya..." Saat membuka pintu, Alvin berbalik sebentar.


"Kak, fasililitas mobil darimu ku beri bintang 4."


"Seperti ojek online saja," gumam Ken.


"Akan ku beri bintang lima jika kakak mengganti dengan keluaran terbaru dari pabrik lain." Alvin segera keluar dari ruangan sebelum vas bunga dimeja terlempar ke arahnya.


"Lihat adikmu, sayang!" Geram Ken. "Aku sudah membelikan mobil baru, dengan harga yang tidak murah, tapi ia malah protes ingin mobil keluaran terbaru."


"Bukankah yang kamu belikan juga keluaran terbaru Ken?"


"Ya, tapi dia ingin jenis lain."


"Ck! Dia fikir semua itu semudah membeli mobil remote control, apa?" keluh Lova.


"Ros! Jangan mau dengannya!" ucap Ken kesal. Rosa yang sedari tadi mengulum senyum mendengar keduanya membicarakan Alvin mendadak terkesiap.


"Ken!" Lova memperingatkan Ken. Mereka harusnya membantu Alvin mendapatkan hati Rosa. Bukan malah membuat Rosa semakin ragu pada Alvin.


"Saya tidak tertarik, Pak!"


"Terserah padamu, Ros!" Jawab Lova. "Tapi sungguh, aku tidak ingin kamu datang ke pernikahanku tanpa gandengan."


"Hahaha... Ada Pak Husein yang saya rasa tidak menolak untuk menggandeng saya, Bu."


Ken terbahak. Bagaimana mungkin Rosa menolak Alvin dan malah memilih pak Husein, security berusia 50 tahun berstatus duda itu.


"Hahaha... Aku tidak menyangka, pak Husein bisa lebih unggul dari Alvin." Tawa Ken membuat Rosa dan Lova menatapnya.


"Aku tidak tahu, matamu yang bermasalah atau memang adikku yang tidak menarik, Ros!" Lanjut Ken yang masih tertawa.

__ADS_1


__ADS_2