ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 69 Ken Dan Kejutannya


__ADS_3

Hari ini, tepat enam bulan Ken meninggalkan negara dimana hatinya tertawan oleh seorang wanita. Kesibukan dan jadwal yang padat membuatnya tidak bisa segera kembali ke negara itu.


Pria berwajah tampan dengan setelan kemeja dan jeans itu menatap jam tangan bermerk yang melingkar di pergelangan tangannya. "Dua jam lagi." gumamnya.


Ia menyempatkan diri menikmati sarapan di bandara sambil menunggu jadwal penerbangannya. Pagi ini ia akan mengejutkan semua orang di rumah Bratadikara.


Happy weekend my Hero.


Sebuah pesan dari Lova yang berhasil membuat senyum kecilnya terbit. Ia tidak menyangka gadis itu bisa bersikap manis setelah enam bulan mereka menjalin hubungan jarak jauh.


Kesibukan tidak menghalangi keduannya untuk tetap berkomunikasi dengan baik. Video call sehari sekali pasti mereka lakukan. Saling berbagi cerita tentang apa yang mereka lalui hari itu menjadi rutinitas sebelum tidur.


Lova dan Ken selalu mengerjakan semua pekerjaan mereka tepat waktu sehingga keduanya tidak perlu lembur dan punya waktu lebih banyak untuk bercerita.


Happy weekend, My Lova. Sampai siang ini aku akan berenang bersama Thomas. Jadi, Sorry jika aku tidak membalas pesan dan panggilanmu.


Ken mengetikkan balasan dan Lova memberi balasan yang cukup membuatnya lega. Gadis itu tidak marah dan justru senang karena ia sempatkan diri berolah raga ditengah-tengah kesibukan.


***


"Melamun bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang menahan rindu yang berat." Alvin duduk di samping Lova yang sedang memandangi kolam ikan koi di depan rumah mereka.


Semenjak kepergian Ken dan tak lama mereka kembali ke rumah Bratadikara, Lova memiliki hobi baru yaitu memberi makan ikan koi. Kolam itu baru dibangun saat mereka kembali ke rumah besar itu.


"Jangan menggangguku, Vin!" Ketus Lova. "Aku sedang menghitung jumlah ikan koi di kolam ini."


Alvin tertawa kecil. "Tidak adakah pekerjaan lain yang bisa kakak kerjakan? Ikan itu jumlahnya sudah sebanyak rindumu pada Ken!" Alvin tertawa lagi.


"Ck!" Lova menatap sinis pada Alvin. "Jangan urus seberapa banyak rinduku pada Ken."


"Urus saja hatimu yang hancur berkeping setelah tiga kali ditolak Rosa!" Lova menjulurkan lidahnya mengejek Alvin.


"Ck! Iya kak! Sulit sekali menakhlukan gadis itu," ucap Alvin lemas. Malam tadi, tepat untuk ketiga kalinya Rosa menolak pernyataan cintanya.


Gantian Lova yang tertawa. "Lagi pula, gadis mana yang bersedia menerimamu, Vin. Menyatakan cinta sampai tiga kali dalam waktu kurang dari 6 bulan."


"Dia tidak illfeel saja sudah syukur!"


Alvin mengambil pakan ikan di toples berbentuk tabung yang Lova pegang dan melemparkannya sedikit ke tengah kolam. Seketika ikan-ikan berwarna cantik itu berkumpul dan saling berebut.


"Aku kan hanya sedang berusaha, Kak. Dengan harapan dia sudah berubah fikiran."


Lova tertawa. "Kamu fikir, dia wanita yang kerjanya hanya scroll sosial media dan melamun-melamun manja di kamarnya?"


"Alvin, Alvin!" Lova menggeleng.

__ADS_1


"Dia itu, wanita karier. Jabatannya itu sudah tinggi sesuai dengan pekerjaannya yang banyak dan menyita konsentrasi."


"Mana mungkin dia sempat memikirkanmu!"


"Cobalah fokus pada pekerjaan. Dan bersikaplah sedikit lebih dewasa, Vin!"


"Yang kamu kejar itu bukan gadis tujuh belas tahun lagi. Dia sudah kepala tiga loh!" Lova menasehati Alvin.


"Dia pasti berfikir, bahwa kamu hanya akan mempermainkannya. Usia kalian terpaut lima tahun, Vin!"


"Baginya usia segitu bukan lagi saatnya untuk main-main. Dia butuh pria serius yang siap menikahinya."


"Kamu sudah siap, Vin?" tanya Lova dan pria itu mengangguk ragu.


"Kamu saja terlihat ragu begitu. Siap bukan hanya tentang perasaan. Tapi tentang kesiapan secara mental, dan finansial."


"Kalau kamu masih main-main dalam pekerjaan begini, bagaimana dia akan percaya kalau kamu bisa diandalkan?"


"Dia butuh sandaran, Vin. Dia sebatang kara, asal kamu tahu itu?" Alvin langsung menatap Lova penuh tanya.


"Dia itu, hidup di panti asuhan sejak bayi. Jangankan asam garam kehidupan, mungkin bahayanya racun sudah pernah terteguk olehnya."


Alvin tertegun, dia baru tau tentang hal ini. Selama ini ia hanya mengobrol dan berbicara mengenai hal-hal yang tidak terlalu penting menurutnya. Ah, Alvin ingat! Dia justru lebih sering merayu dan memuji gadis itu.


"Dan asal kamu tahu, dia didekati banyak pria. Mulai dari karyawan kantor hingga rekan bisnis. Jadi, ubahlah sikapmu karena saingan kamu tidak main-main!"


Alvin diam. Ia menyadari selama ini ia kurang serius dalam hal pekerjaan. Sejak lima bulan lalu, tepatnya sejak jabatannya menjadi supir pribadi selesai dalam sebulan, Lova memberinya pekerjaan menjadi karyawan di salah satu divisi di perusahaan Brata.


Sebenarnya dia bisa belajar dengan cepat, namun karena terlalu santai dan cenderung main-main, Alvin malah menjadi karyawan paling dicari dari segi ketampanan dan keramahan.


Siapapun akan terpesona dengan wajah tampannya dan keramahannya tidak diragukan lagi. Mulai dari gadis muda hingga satpam usia empat puluh tahunan pasti selalu ia sapa. Semua orang di sudut kantor pasti mengenalnya.


"Jadi, aku harus bekerja serius kak?" tanyanya.


"Belajar sedikit saja dari Ken dan Thomas. Cool..." Lova membenarkan bahu Alvin yang merosot karena pria itu terduduk lemas hingga tubuh Alvin duduk tegak.


"Berwibawa..." Lova menepuk bahu Alvin.


"Dan dewasa..." Lova membenarkan kerah kaos pria itu.


"Senyum boleh..." Lova menarik sudut bibir Alvin dengan kedua telunjuknya.


"Tapi, tidak boleh mengerling! Banyak gadis salah mengartikannya, Vin!" Alvin tersenyum lebar.


"Anggap Rosa adalah berlian yang harus kamu miliki dengan banyak perjuangan."

__ADS_1


"Kalau mudah di dapat, itu namanya kerikil jalanan."


Lova menepuk pipi Alvin. "Kamu anak dari dua orang luar biasa, Vin."


"Kakak kamu juga luar biasa." Lova tersenyum lebar saat sekilas wajah pria itu muncul dalam fikirannya.


Alvin mencebik. "Jika tidak, kakak tidak mungkin mau menerimanya."


"Tentu." Lova tertawa keras. Alvin berdiri dan meninggalkannya sendirian di kolam.


"Brak!"


Terdengar suara sesuatu terjatuh dari arah samping rumah. Lova langsung berdiri dan mendekati arah suara itu namun tidak menemukan apapun.


Semenjak keadaan mulai aman, penjagaan di rumah ini tidak lagi diperketat. Hanya ada dua security yang berjaga di depan gerbang.


"Siapa?" Lova bertanya dengan wajah panik. Tidak ada jawaban dan Lova segera masuk ke dalam karena ia sedikit takut.


***


Malam harinya, semua orang berkumpul dimeja makan.


"Aku mendengar suara aneh di kamar itu, ayah!" tunjuk Alvin pada kamar yang dulu di tempati Brata dan Ken.


Setelah Brata kembali bersama Alana, Brata merenovasi rumah ini. Menjadikan kamar Mariska sebagai kamar tamu, begitu juga kamar Mauza dan Mauren kerena keduanya benar-benar tidak ingin kembali ke rumah itu.


Kamar lama Brata dibiarkan kosong namun tetap dijaga kebersihannya. Mereka memang mempersiapkan kamar itu untuk Ken jika kembali suatu saat nanti.


"Suara apa? Itu kamar yang kita sediakan untuk Ken," jawab Brata.


"Tapi aku mendengar suara kran air menyala. Jangan-jangan ada hantu di dalamnya."


"Tidak mungkin, Vin!" Alana ikut bicara. "Berbulan-bulan kamar itu kosong, setiap hari dibersihkan, mana mungkin ada hantu!' Alana dan yang kain tertawa kecil.


"Ditolak berkali-kali sepertinya membuat akal sehatmu terganggu, Vin!" Ejek Lova.


Sebuah suara aneh terdengar. Handle pintu kamar yang ditunjuk Alvin bergerak, seperti ada yang akan membukanya dari dalam.


"Kalian lihat! Aku tidak bohong, kan?" ucap Alvin dengan wajah pucat. Pria itu bahkan sudah berdiri dari kursinya dan bersiap kabur jika ada hantu yang muncul dari dalamnya.


Brata dan Alana juga berdiri. Lova juga berdiri dari kursinya karena handle pintu itu terus bergerak hampir tiga puluh detik.


Perlahan pintu terbuka dan...


Seseorang keluar dari kamar itu. "Tidakkah kalian ingin memelukku." Ken berdiri sambil tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2