ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 34 Depresi


__ADS_3

Alana menatap nisan bertuliskan nama putranya, Attala Bratadikara. Tanggal wafat tiga belas tahun lalu, sama dengan nisan disebelahnya yang bertuliskan namanya.


Ia menghembuskan nafas berat, merasa iba pada wanita yang dimakamkan atas namanya. Apakah keluarga wanita itu tidak mencarinya? Entahlah, Alana mungkin akan mencari tahu hal itu suatu saat nanti.


Setelah peristiwa kemarin sore, malam harinya ia kembali bersama Alvin ke rumah mereka. Sementara Ken tetap tinggal disana.


Jujur, ia masih merindukan putrinya. Tapi mau bagaimana lagi? Ia juga tidak enak hati jika terus berada di rumah itu. Statusnya dan Brata juga tidak jelas meski sebenarnya ia masih istri sah Brata.


"Hai sayang!" Sapa Alana untuk pertama kalinya. Ia bisa melihat makam ini terawat dengan baik. Beberapa tangkai bunga yang mulai kering terletak di dekat batu nisan itu menandakan makam ini sering dikunjungi.


Brata dan Lova memang rutin datang ke makam meski mereka sedang sibuk.


"Apa kabar anak bujang, bunda." Alana tersenyum pahit. "Bunda kangen kamu, sayang!" Ia mengusap rumput yang tumbuh subur dan terawat diatas makam.


"Tenang disana ya..."


"Bunda sudah menghukum orang yang melakukan kejahatan terhadap kamu. Bunda akan memastikan dia menyesal dan menghabiskan sisa hidupnya di tempat gelap nan sempit itu."


"Bunda bisa saja meleny*pkannya, Nak! Tapi bunda takut tidak bisa bertemu denganmu di surga..." Alana mengusap nisan putranya.


"Bunda serahkan pada pihak berwajib, tugas bunda hanya membuat hukuman itu tidak berkurang bahkan sedetik pun."


"Maaf ya, bunda terlalu lama membalaskan ini untukmu."


"Tenang disana ya sayang! Bunda tahu, Attala pasti bahagia disana."


"Jutaan untaian doa tidak pernah putus bunda panjatkan untukmu, Nak."


"Doa terbaik akan selalu bunda hadiahkan di setiap hembusan nafas bunda."


"Tunggu bunda di keabadian ya sayang!" Alana mencium nisan atas nama putranya itu. Ia menyeka air mata yang sudah membasahi pipinya.


"Bunda pulang dulu, Nak! Sampai ketemu lagi, anak hebatnya bunda." Pamitnya seraya berdiri dan berjalan menjauh dari makam.


***


Ken, Lova dan semua orang yang terkait kasus yang menimpa Mariska, hari ini dimintai keterangan oleh pihak berwajib.


Alana mengaku, pasukan dengan logo A, yang menyerang orang Mariska adalah orang suruhannya. Alana juga mengakui dirinya adalah ibu kandung Lova yang menjadi salah satu korban rencana jahat Mariska.


Alana akan diperiksa lebih lanjut dan menjalani tes DNA untuk memastikan dia benar-benar Alana atau hanya sekedar mirip dan mengaku-ngaku.


Ken juga menyerahkan orang yang ia tahan ke kantor polisi, sebagai tersangka yang terlibat dalam kasus yang menimpa Mariska.


Mariska duduk lemas. Pada jam besuk ini, Mauren menemuinya.


"Ma..."


Mariska menatap Mauren yang hadir bersama kuasa hukum mereka.


"Mauren datang. Kita berjuang sama-sama ya..." gadis itu menggenggam tangan Mariska.

__ADS_1


"Mama jangan bertingkah konyol lagi selama disini. Mama berkelakuan baik, yaaa."


"Mauren dan satu-satunya pengacara yang bersedia membantu kita, akan berusaha keras agar mama dibebaskan."


Mauren menghela nafas. "Atau minimal mengurangi masa tahanan, Ma."


Mauren bisa melihat, mamanya sangatlah syok menghadapi kenyataan ini. Mariska hanya diam dan mematung mendengar perkataan Mauren. Pandangannya kosong dan sepertinya enggan merespon putrinya.


"Ma, ini Mauren bawakan udang goreng tepung kesukaan mama." Mauren mengambil kotak bekal dari paperbagnya.


"Mauren juga bawa saos sambal, Ma." Maure mengeluarkan sebotol saos sambal di hadapan Mariska.


Wanita itu bergeming. Ia menatap Mauren dan perlahan air matanya menetes juga.


"Mauza..." gumamnya tidak jelas.


"Mauza..." Mauren menggerakan bola matanya cepat. Tanda ia tengah mencari kata-kata yang pas.


"Mauza baik-baik saja, Ma."


"Mauza mama...." Mariska terisak. Perlahan suaranya semakin pelan dan pilu. "Mauza mama... anak mama... maafkan mama..."


Mariska menatap lurus ke depan dengan rambut yang sudah tidak rapi lagi. "Mauza!" Teriaknya.


"Mauzaaaaa!"


Braak!


"Hendrico sial*an!" Mariska berteriak kencang. "Kembalikan putriku!"


"Keeen! Biad*ap kau, Ken! Aku akan menuntut balas padamu."


Polisi wanita memegangi tubuh Mariska yang terus memberontak. "Aku akan membunuhmu, Brata dan juga Alana sial*an itu!!!!"


"Tenanglah, Bu! Tenang!" Bujuk polisi wanita yang memeganginya.


Mariska menatap wanita berseragam yang terus memegangi tangannya. "Heiii! Panggil aku nyonya..."


"Hahahaha... panggil aku nyonya!"


Mauren terduduk lemas di lantai dan kembali menangis. Melihat mamanya yang histeris membuatnya tak mampu lagi berkata-kata.


Kemungkinan besar, Mariska mengalami depresi atau bahkan gangguan jiwa.


Mengapa semua jadi seperti ini? Bagaimana caranya agar aku bisa menyelamatkan mama dari hukum? Dan bagaimana caranya aku bisa menyelamatkan Mauza dari Tuan Hendrico?


***


"Bersihkan sepatuku!" Aland menyodorkan sepatu yang ia pakai di hadapan Mauza. Gadis belum lulus SMA itu harus menjadi pelayan akibat ulah mamanya.


Aland sudah memakai sepatu kulit nan mengkilap itu. Namun saat melihat gadis itu duduk melamun, ia langsung memberikan perintah.

__ADS_1


Dengan terpaksa Mauza duduk menekuk kaki dilantai. Ia memegang semir sepatu dan mulai membersihkan sepatu Aland yang sudah berada di atas pengkuannya.


"Yang bersih!" Perintah Aland. Ia bahkan tidak melepas sepatunya.


"Baik Tuan!" Jawabnya lemah.


Mauza dengan telaten membersihkan sepatu Aland dari debu yang sama sekali tidak terlihat, lalu ia menyemir dengan sikat secara perlahan.


"Awas! Jangan sampai terkena celanaku!"


"Ku dengar Ibumu dipenjara!" Aland membuat Mauza langsung menatapnya. Matanya memancarkan banyak pertanyaan.


Aland tersenyum licik. "Ya.. itu yang ku dengar. Kamu belum tahu, ya?" Tanyanya mengejek.


Mauza menggeleng dan kembali menunduk. Ia melanjutkan tugasnya meski dengan perasaan hancur.


"Itulah mengapa kamu masih disini. Ibumu gagal dan kamu akan menjadi pelayanku terus!"


"Tapi sampai matipun, tenagamu tidak akan bisa mengembalikan uang 10 Milyar itu," ucap Aland merendahkan Mauza.


Harusnya aku sadar, mama tidak akan bisa menyelamatkanku, apalagi kak Mauren. Mungkin saja kak Mauren sedang dipenjara juga.


Akan lebih baik aku tetap disini, meski menjadi pelayan sekalipun. Asalkan aku tidak dijadikan budak **** oleh keluarga ini.


Hidup dipenjara juga belum tentu sanggup ku hadapi. Aku terbebas dari penjara dan keluarga ini, juga percuma. Aku akan kemana? Aku tidak punya siapa-siapa lagi. Kak Lova dan Ayah tidak mungkin mau menerimaku setelah semua kejahatan yang mama lakukan pada mereka. Batin Mauza.


Kenapa gadis ini diam saja. Dia bahkan tidak menangis! Batin Aland.


"Kamu tidak sedih?" Tanya Aland.


Dengan posisi masih menunduk, Mauza menggeleng pelan.


Tentu dia sedih, tapi ia harus egois kali ini. Ia tidak ingin memikirkan mamanya ataupun Mauren karena nasibnya sendiri dia belum tahu akan berakhir seperti apa.


Aland tersenyum sinis. "Kasihan sekali ibumu. Bahkan putrinya saja tidak peduli padanya."


"Kamu ingin bebas dari sini?" Tanya Aland.


Mauza diam saja.


"Hei...! Kamu dengar tidak?" Tanya Aland. Aku sedang bicara padamu!" Aland menunduk, memegang dagu Muaza agar gadis itu melihat kearahnya.


Mauza menatapnya. Aland bisa melihat pancaran mata itu menandakan bahwa saat ini gadis dihadapannya tengah kebingungan, stres dan putus asa.


Mata yang berkaca-kaca namun tangisnya tidak tumpah membuat Aland tak sanggup menatap manik mata itu lagi.


Ia melepaskan cengkraman di dagu Mauza dan membiarkan gadis itu melanjutkan pekerjaannya.


"Lanjutkan pekerjaanmu!" Ucapnya pelan. Aland melihat kearah lain asalkan bukan kearah gadis itu.


Mengapa aku merasakan hal aneh dalam diriku? Mengapa aku iba padanya? Bukankah dia harusnya bekerja lebih keras dari ini?

__ADS_1


__ADS_2