
"Bagaimana, Ma?" Tanya Mauren pada Mariska. Mereka sedang berada di dalam kamar dan menunggu Mariska mendapat kabar dari orang-orang suruhannya.
"Hahahah, tentu berhasil!" Wanita lima puluhan tahun itu tertawa senang. "Tidak sia-sia kita membayar mahal untuk membuntuti dia sampai malam begini."
"Huuh!" Mauza menghembuskan nafas. Tidak sia-sia juga acting nangis!" Ia pura-pura menyeka matanya yang sama sekali tidak ada air mata yang menetes.
"Huuh! Tidak sia-sia juga kan info dari aku?" Mauren membanggakan dirinya, karena ia yang memberi tahu daerah yang akan Lova datangi.
Mauren dengan mudah mendapatkan informasinya karena ia merupakan salah satu staff di perusahaan Lova.
"Dia sudah berada dalam genggaman kita." Mariska tersenyum licik. "Sebentar lagi, hadiah dari keluarga Hendrico akan menjadi milik kita."
"Saat bangun nanti, dia akan kebingungan." Mariska menatap lurus ke depan. Ia tersenyum puas.
"Lepaskaaan..." Mariska berakting seolah dirinya adalah Lova yang tengah terikat.
"Aku harus menemui ayahku..."
"Hiks... hiks... hiks... ayaaaah... ayah..." tangis palsunya berlebihan.
"Hahahahaha..." ketiganya terbahak bersama menertawakan apa yang akan terjadi pada Lova.
"Ma, tapi kenapa ayah belum mat*?" Tanya Mauza heran karena Brata masih baik-baik saja.
Mariska berdiri dan melipat tangannya di dada. "Mama yakin, Ken menyadarinya."
"Tapi kita bisa mat*, Ma. Kalau Ken tau mama yang menukar obat itu!" Mauren merasa khawatir.
"Dia tidak punya bukti untuk menuduh mama." Mariska menatap Mauren.
"Tapi dia licik, Ma." Mauza juga merasa panik. "Bisa saja dia bertindak sendiri tanpa melibatkan polisi."
"Tenanglah sayang. Mama lebih pintar darinya," ucap Mariska sombong.
"Bagaimana dengan cctv, dan sidik jari di botol obat itu, Ma?" Tanya Mauren.
"Mama tidak pegang langsung, sayang!" Mariska tertawa kecil.
"Mama pakai sarung tangan dan berhasil mama sembunyikan sebelum dia muncul."
"Lagi pula ada Nur yang lebih sering masuk kesana!"
"Atau, Ken?"
"Hahahah... " Mariska tertawa.
Mauren dan Mauza sama sekali tidak mengerti mengapa mamanya menyebut Ken sebagai pelakunya sementara sudah sangat jelas pria itu bekerja untuk Lova dan Brata.
***
__ADS_1
"Bangs*at!" Umpat Aland yang masih mengemudikan mobilnya. Ia baru saja mendapatkan kabar dari orang-orang suruhannya bahwa di lokasi hanya ada Supir dan Rosa yang sedang dibantu beberapa orang sedangkan Lova sudah menghilang entah kemana.
"Mengapa gerak kalian begitu lambat seperti siput!" Bentak Aland murka. "Cari gadis itu sampai ketemu!" Perintahnya kemudian.
"Jika kalian tidak bisa menemukan gadis itu, bersiaplah untuk mat* ditanganku!"
"Dan satuhal lagi! Temukan dia dalam keadaan hidup!" Aland langsung menutup panggilannya.
"Aarrrgghhh!" teriaknya keras. Tangannya mengepal memukul setir kemudi.
"Siapa orang yang berani menculik gadisku?" Gumamnya. Ia mencengkeram kuat setir mobil hingga buku buku jarinya memutih. Aland merasa ia sudah cepat bergerak, tapi mengapa masih ada yang lebih cepat darinya.
"Ada kepentingan apa hingga orang itu menculiknya?"
"Itu jelas bukan perampokan atau pembunuh*n. Rosa dan supir mereka baik-baik saja."
"Berani-beraninya mereka berurusan dengan Aland Hendrico!"
"Aku akan mengejar milikku sampai aku mendapatkannya!"
Sejauh ini, hanya Lova yang membuatnya tertarik meski puluhan gadis bisa ia taklukkan dalam semalam.
Lova, gadis yang bisa membuat adrenalinenya berpacu hebat. Selama ini ia tidak pernah mengajar seorang gadis, tapi kali ini berbeda. Semakin sulit Lova untuk ditaklukkan maka semakin ia merasa tertantang.
Aland berfikir sejenak. "Ck!" Decaknya. "Mungkinkah Daddy melangkah lebih dulu? Apa mungkin Daddy yang menculiknya?"
"Ada apa, Aland?" Tanya Tuan Hendrico di seberang telpon. "Sudah selesai dengan pekerjaanmu?"
"Langsung saja, Daddy. Apa Daddy yang menculik Lova?" Tanya Aland to the point.
"Hahahahah...." Tuan Hendrico tertawa. "Apa kamu fikir Daddy tidak punya *pek*erjaan hingga harus menculik gadis itu?"
"Masalahnya, ada yang menculik Lova. Dan anak buahku tidak bisa menemukan keberadaannya, Daddy!"
"Hahaha... berarti lumayan juga orang-orang suruhan Mariska yang bisa mengecoh anak buahmu!"
"Tenanglah, Aland. Gadis itu sudah diurus oleh Mariska! Kamu tunggu saja, kurang dari dua kali dua puluh empat jam, Lova akan menjadi pengantinmu!"
"Apa Daddy yakin?" Tanya Aland tak percaya begitu saja.
"Tentu. Jika tidak, kamu bisa menikm*ati kedua putri Mariska."
"Cih!" Aland berdecih. "Aku tidak sudi dengan barang bekas, Daddy!"
"Hahahah..." Tuan Hendrico terbahak. Aland langsung mengakhiri panggilannya.
****
Rosa terbangun saat percikan air mengenai wajahnya. Sesosok pria yang tak ia kenali menjadi orang pertama yang ia lihat saat matanya terbuka.
__ADS_1
"Mbak, bangun!" Pria itu mencoba mengguncang bahunya.
Rosa perlahan menerjapkan matanya. Ia menatap sekitar, dimana sudah banyak orang yang mengerubunginya. Rosa memijat kening yang berdenyut. Ia perlahan mendudukkan diri di rerumputan pinggir jalan tempatnya tergeletak tadi.
"Astaga! Bu Lova?" Rosa teringat akan Bosnya yang tidak terlihat batang hidungnya.
"Ada apa, Mbak?"
"Bos saya?" Rosa melihat sekitar, ia berusaha berdiri dan pria itu membantunya. "Bos saya mana? Kalian lihat?" Tanya Rosa pada orang-orang yang telah berkumpul di tempat itu. Tapi mereka sepertinya tampak kebingungan.
"Wanita cantik, pakai jeans dan denim jaket?"
"Putih, bersih, rambutnya melewati bahu. Masih muda, sekitar 25 tahun."
Semua orang kebingungan. "Kami hanya menemukan Mbak dan bapak itu tidak sadarkan diri disini."
"Benarkah mbak yang menghubungi bengkel?" Tanya pria itu.
"Ya..." Rosa mengangguk. "Ya, saya yang menelpon bengkel."
"Saya montir dari bengkel, Mbak." ucap Pria yang membangunkannya tadi. "Dan hanya ada anda dan bapak disini."
"Ibu juga kan yang order taxi?" Rosa melihat seorang pria yang kemungkinan merupakan supir taxi online.
"Ya, Pak." Rosa mengangguk.
"Ah, ya... Supir saya, bagaimana keadaannya, Pak?" Tanyanya pada pria yang berusaha membangunkan supirnya.
"Masih mulai sadar, Bu."
Rosa kembali memijat keningnya. Ia memeriksa semua barang-barang di dalam mobil. Tidak ada yang hilang, bahkan tas dan ponsel Lova juga masih utuh. Jatuh di lantai mobil.
"Mas! Teman saya diculik!" Semua orang mulai berbisik-bisik. Mereka tak menduga ada kasus penculikan yang terjadi di daerah ini karena biasanya hanya kasus perampokan dan pembegalan.
Rosa mencari ponselnya di tas yang masih tergeletak di dalam mobil. Ia merasa harus menghubungi seseorang.
"Hallo, pak Ken."
"Bu Lova diculik!" Ia panik. Ia bahkan langsung mengatakan hal itu saat Ken belum mengatakan sepatah katapun.
"Mobil kami rusak, lalu ada beberapa orang dengan penutup wajah menyerang."
"Sa... saya pingsan dan saat terbangun Bu Lova tidak ada di tempat."
Panggilan langsung di akhiri, Rosa bingung karena Ken hanya mengatakan. "Segera pulang, Ros! Biar saya yang mencarinya."
Rosa dan supirnya akhirnya pulang dengan menumpang taxi online. Ia ingin lapor polisi, tapi sepertinya Ken melarangnya. Mobil kantor akan diantar pihak bengkel jika sudah selesai diperbaiki.
***
__ADS_1