
Halaman rumah Brata kini sudah ramai dengan banyaknya mobil milik awak media dan pihak kepolisian.
Ken mengundang semuanya dan dalam waktu kurang dari 30 menit, mereka sudah berdatangan. Berita ini akan menjadi berita besar karena kabar putri seorang pengusaha yang menjabat sebagai CEO telah kembali ke rumah setelah kasus penculikan yang terjadi beberapa hari lalu.
Teras rumah sengaja diatur sedemikian rupa sebagai tempat jumpa dengan awak media. Polisi dibantu dengan orang suruhan Ken mengamankan lokasi itu.
Lova sedang berada di ruang tengah. Dengan make up tipis, ia sudah siap memberikan konfirmasi mengenai kabar penculikan terhadap dirinya dan berita simpang siur yang beredar.
Selama ini tidak ada yang buka mulut soal hilangnya Lova. Tentu atas perintah Ken. Bahkan Rosa hampir tidak pernah keluar rumah. Ia juga terpaksa cuti karena ingin menghindari banyak pertanyaan datang padanya.
Rosa dan supir kantor ada disana. Mereka sengaja dihadirkan agar bisa memberi keterangan pada awak media.
Rosa menangis memeluk Lova saat pertama kali melihat atasannya itu setelah beberapa hari.
"Sudah siap?" tanya Ken.
Lova dan yang lainnya mengangguk.
Sementara itu, di dalam kamar, Mariska mondar mandir tak karuan. Ia hampir gila memikirkan bagaimana dia akan menyelamatkan dirinya. Mauren bahkan sudah menangis di sudut kamar.
"Diamlah, Mauren! Kamu membuat mama tidak bisa berfikir! Pelankan tangismu!" bentak Mariska.
"Ini semua salah mama! Aku tidak ingin terbawa-bawa atas kejahatan mama!"
"Jika polisi membawa mama. Jangan pernah menyebut namaku!" bentak Mauren.
"Diam!" Bentak Mariska.
Mariska berjalan menuju jendelanya untuk bisa melihat situasi di luar. Ia berharap punya kesempatan untuk kabur.
Ia membuka kain jendela dan menemukan seorang wanita dengan wajah berdarah berdiri di depan jendelanya.
"Aaah!" teriaknya. Mariska mundur dan melompat kearah ranjang.
Mauren langsung menghampirinya. "Ma, mama kenapa?" Mauren membuka selimut yang ia gunakan untuk menutup wajahnya.
"Ma... mama kenapa?" Mauren menatap wajah Mariska yang ketakutan.
"Itu!" tunjuk Mariska kearah jendela. "Itu... ada...!" Ia merasa gugup. Keringatnya bercucuran.
Mauren melihat kearah jendela. "Tidak ada apa-apa, Ma."
"Ada, Mauren!"
"Ada!"
Mauren mendekat ke arah jendela. Ia bahkan membuka jendela itu lebar-lebar dan tidak menemukan apapun.
"Tidak ada, Ma! Mama pasti berhalusinasi."
"Mama melihat apa?"
Mariska duduk bersandar. Ia mencoba mengingat. "Mama lihat wajah Alana! Ya, wajah Alana!" ucapnya dengan nafas memburu.
"Alana?" tanya Mauren. "Alana siapa, Ma?" tanyanya yang tidak mengenal siapa Alana yang dimaksud mamanya.
"Alana. Alana sudah lama mati, Mauren!" Bentak Mariska seperti orang gila.
"Sstt! Mama tenanglah!" Mauren memberikan segelas air yang ada di atas nakas.
__ADS_1
"Mama bisa memancing perhatian mereka yang berada diluar, Ma!"
Mariska perlahan mulai tenang. Ia merapihkan rambutnya kebelakang dengan kedua tangannya. Nafasnya mulai stabil.
"Kamu yakin tidak lihat apapun, Mauren?"
Mauren menggeleng. "Hanya ada penjaga di ujung sana!" Tunjuk Mauren kearah pagar rumah bagian samping. Kamar Mariska memang terletak di lantai bawah.
"Kalau ada orang lain yang mencurigakan, sudah pasti mereka menangkapnya, Ma!"
Mariska terdiam. *Apa itu hanya halusinasiku saja? Mungkin aku yang terlalu ketakukan karena Ken mencurigaiku terlibat dengan kasus kemat*ian Alana.
Pasti Ken hanya menebak-nebak sesuai cerita Brata. Dia kan selalu berfikiran negatif terhadapku*!
Alana sudah mati. Dia tidak mungkin kembali lagi.
"Ma..."
"Ma..."
"Mama..." Mauren berkali-kali mengguncang bahunya.
"Ah! Ya!" ia kaget.
"Ada apa?"
"Mama melamun?"
Mariska menggeleng. "Kita harus lakukan sesuatu, Mauren. Kita tidak bisa hanya diam menunggu polisi menyeret mama."
"Mama lebih baik keluar!" Mauren memberinya ide.
"Pencitraan, Ma!"
"Mama menangis dan pura-puralah bersimpati!" lanjut Mauren.
"Kamu fikir, Ken akan membiarkan itu terjadi ?" tanya Mariska.
"Oke.. tenanglah Mariska!" ia mencoba menarik nafas dalam-salam dan menghembuskan perlahan.
"Yang terpenting, rekaman cctv saat mama menukar obat itu sudah aman, Mauren."
"Hingga dia tidak menemukan bukti apapun lagi."
"Mungkin saja, Lova juga hanya sedang menakut-nakuti kita, atau mungkin Nur!" Mariska tersenyum senang. Perasaannya berubah-ubah hanya dalam hitungan detik.
"Tapi bisa saja penculik itu mengatakan bahwa mama yang menyuruh mereka."
"Tapi kan tidak ada bukti, Mauren!"
"Lagi pula mereka entah kemana sekarang!"
"Tapi dia korban, Ma. Dia bisa bersaksi loh, Ma!" Mauren dan Mariska berdebat.
***
"Disini saya akan mengkonfirmasi soal kabar penculikan terhadap saya." ucap Lova di depan banyak wartawan.
"Kabar itu benar adanya."
__ADS_1
"Saya benar-benar diculik saat sedang dalam perjalanan pulang dari kunjungan proyek di kota X." Semua wartawan mendengarkan dengan baik.
"Saya dan Rosa, asisten pribadi saya dibuat tidak sadarkan diri. Mungkin dengan obat bius. Karena seingat kami, sebelum benar-benar kehilangan kesadaran, penculik itu menutup hidung dan mulut kami dengan kain."
"Ditengah hutan, saya berhasil sadarkan diri."
"Penculik yang berjumlah 4 orang itu belum menyadarinya."
"Tapi entah siapa yang menolong saya. Karena saat itu, ada dua mobil yang menghadang dan mereka berkelahi disana."
"Saya diam diam mengendap-endap dan berlari di balik pepohonan yang rimbun. Namun sayang, saya terperosok ke dalam jurang. Tapi saya bersyukur karena saya selamat dari kejaran penjahat-penjahat itu."
"Saya hidup terlunta-lunta tak tahu arah. Bertahan hidup hanya dari buah yang saya harap tidak beracun. Hingga pagi tadi saya bertemu dengan beberapa orang yang menebang kayu di hutan."
"Mereka berbaik hati menolong saya dan salah satunya mengantarkan saya hingga ke rumah ini."
Wartawan diberi kesempatan untuk memberika pertanyaan.
"Kira-kira siapa yang mencoba menculik anda, Bu Lova? Apa ada pihak yang anda curigai?" tanya salah satu wartawan.
"Saya tidak bisa menuduh tanpa bukti. Tapi ada beberapa nama dan semuanya akan saya serahkan pada pihak kepolisian." jawab Lova.
"Mengapa orang yang menyerang penculik itu dan pihak kepolisian tidak bisa menemukan anda, Bu Lova?" tanya salah satu wartawan lagi.
"Hutan itu begitu luas. Saya juga ingin segera ditemukan," jawab Lova.
"Tapi yang terpenting saat ini saya sudah pulang dengan selamat dan bisa berkumpul dengan keluarga," lanjutnya.
"Apa penculikan itu ada hubungannya dengan hampir bangkrutnya perusahaan Bratadikara?" satu pertanyaan lagi yang harus Lova jawab.
Lova menggeleng pelan. "Saya juga tidak tahu kalau soal itu."
"Bagaimana kondisi pak Brata saat ini? Terakhir kali terdengar kabar bahwa beliau kembali dirawat di rumah sakit?"
"Kalau soal kondisi ayah, biarlah Ken yang menjawab pertanyaan kalian." Lova melihat Ken yang duduk disampingnya.
"Terima kasih bu Lova."
"Sebagai seorang ayah, pasti beliau syok mendengar putri satu-satunya diculik."
"Beliau yang dengan keadaan tidak sehat dan mendapat kabar seperti itu, sudah jelas membuat kesehatannya kembali menurun."
"Tapi syukurnya, beliau akan pulang sore nanti."
"Saya rasa cukup sekian dari kami."
"Hari ini, saya akan menyerahkan nama-nama orang yang terlibat pada pihak berwajib."
"Beberapa kali salah satunya mencoba menyakiti Bu Lova dan saya akan meminta polisi memeriksanya."
"Saya yakin dia ada hubungannya dengan kasus penculikan ini."
"Siapa orang itu, Pak?" Wartawan menyerbu Ken dengan pertanyaan yang sama.
"Kalian akan tahu jawabannya dari pihak kepolisian. Jika sudah lengkap bukti-buktinya, pihak kepolisian akan membuka konferensi pers."
"Terima kasih!" Ken membawa Lova dan Rosa untuk masuk kedalam.
Sepertinya awak media belum puas hingga mereka mencari informasi dari orang-orang yang bekerja di rumah itu.
__ADS_1
***