ALOVA Tawanan Istimewa

ALOVA Tawanan Istimewa
Bab 15 Ken Kecelakaan


__ADS_3

"Segera pulang, Ros! Biar saya yang mencarinya," ucap Ken saat Rosa memberinya kabar tentang penculikan Lova. Ia menjawab panggilan itu di balkon kamar Brata. Ia tak mengucapkan kata-kata apapun sebelum sampai di balkon agar Brata tidak curiga.


Ken menghela nafas. Ia harus tetap tenang karena ia punya banyak orang yang berada dibawah naungannya. Sekali ia menurunkan perintah, maka apapun itu pasti akan mereka kerjakan.


Ia menyadari sesuatu, ternyata perasaan tidak enak yang Brata rasakan merupakan satu firasat buruk yang menandakan akan terjadi sesuatu pada Lova. Sungguh suatu ikatan batin yang sangat erat.


Ken melihat Brata sedang membaca buku sambil duduk bersandar di headboard ranjang. Ia pamit untuk keluar sebentar dan Brata mengangguk.


"Kalian, berjaga di depan pintu kamar Bapak!" Perintahnya pada dua orang pria bertubuh kekar yang berjaga di halaman belakang rumah Brata. "Saya harus pergi ke suatu tempat."


"Pastikan Bapak dalam keadaan aman dan tidak ada siapapun yang masuk!"


"Baik, Bos!"


Ken segera meninggalkan rumah Brata. Ia harus pergi ke suatu tempat untuk mencari keberadaan Lova. Entah sejak kapan keselamatan keluarga ini menjadi penting baginya dan seolah menjadi tanggung jawabnya.


Ken mengendarai mobilnya sendiri. Ditengah perjalanan, ia terus menghubungi orang-orangnya, mencoba mencari keberadaan Lova hingga konsentrasinya sedikit terganggu.


Saat memasukkan ponsel ke saku jaketnya, silau sorot lampu sebuah bus dari arah depan membuatnya kehilangan kendali. Mobilnya sedikit oleng. "Si*al!" Gerutunya karena nyaris mobilnya bertabrakan dengan bus itu.


"Braaak!" Dan sebuah truk dari arah belakang menabrak bagian belakang mobilnya hingga mobil miliknya terus terdorong kedepan.


"Astaga!" Kagetnya saat tubuhnya sedikit terhentak akibat tabrakan itu. "Jalanan sepi tapi kenapa truk dibelakang sampai menabrak mobilku?" ucapnya heran.


Ken berusaha keras mengendalikan stir kemudi hingga ia berhasil melesakkan mobilnya kearea trotoar hingga mobilnya menabrak sebuah tembok pagar rumah warga.


"Braak!" Kepala Ken terpental ke depan lalu kebelakang. Seketika darah segar keluar dari keningnya. Pandangan Ken mulai buram dan akhirnya ia tak sadarkan diri.


Mesin mobilnya mengepulkan asap. Beberapa orang langsung menolongnya sementara truk yang menabraknya kabur begitu saja. Jalanan yang tidak terlalu ramai membuat truk itu bisa melaju cepat.


Ken dilarikan ke rumah sakit dengan mobil ambulance. Di tengah perjalanan ia mulai sadarkan diri. Kepalanya terasa pusing dan berdenyut, tapi ia masih memikirkan nasib Lova meski dirinya juga sedang tidak baik-baik saja.


Sesampainya di rumah sakit, Ken langsung ditangani dokter, keningnya diperban untuk menghentikan perdar*ahan. Lukanya tidak terlalu parah, hanya saja syok yang ia rasakan membuat tubuhnya lemah.


"Saya harus pergi sekarang, Dok! Terima kasih atas bantuannya," ucap Ken pada dokter yang menanganinya.


"Tapi anda masih harus dirawat, Pak. Tubuh anda masih lemah."


"Besok atau lusa anda baru bisa pulang." Dokter berusaha melarang Ken yang mencoba untuk duduk diatas brangkarnya.


Ken tidak peduli, ia menatap tajam pada pria berjas putih yang telah menolongnya itu membuat si pria merinding ketakutan.


"Tolong jangan halangi saya!" ucapnya dingin.


Dengan langkah tegap ia berjalan keluar dari IGD. Rasa sakitnya tak lagi terasa karena saat ini keselamatan Lova jauh lebih penting. Ia langsung membayar tagihan dan menunggu mobil jemputannya.

__ADS_1


***


"Lihat!" Mariska tertawa senang saat seseorang mengirimkan foto betapa hancurnya kondisi mobil Ken. Ia menunjukkan foto itu pada kedua putrinya. Kali ini, keduanya sedang berada di perjalanan menuju sebuah restoran mewah untuk merayakan keberhasilan rencana mereka.


"Wah, harusnya patah tangan dan kaki ini, Ma. Hahahahah..." Mauza menertawakan kondisi Ken yang ia duga akan mengalami patah kaki.


"Aku berharap dia amnesia." Mauren ikut tertawa.


"Mama malah berharap dia tew*as!"


"Tapi segini saja cukup untuk memberinya pelajaran!" Mariska tersenyum licik.


"Sudahlah biarkan saja. Biarkan dia menikmati rasanya terkapar di rumah sakit." Mariska yakin karena foto berikutnya menunjukkan situasi dimana Ken sedang diangkat oleh beberapa orang untuk bisa dievakusi ke mobil ambulance.


"Mama memang pintar, Ma..." Mauza yang sedang duduk di kursi belakang memuji wanita yang sedang mengemudikan mobil itu. "Mama selalu allout saat merencanakan sesuatu," lanjutnya.


"Setelah ini, apa Ma?" Tanya Mauren.


"Kita nikmati dulu malam ini sayang. Besok kita akan buat Brata terkena serangan jantung dengan kabar diculiknya Lova dan kecelakaannya Ken."


"Bagaimana kalau malam ini saja, Ma. Supaya Ken dan ayah dirawat di ruangan yang sama. Hahahah..." tawa Mauza meledak mengejek Ken dan Brata.


"Hahaha, terus kita rekam dan tunjukkan pada Lova, kalau dua orang penyelamatnya sedang tidak berdaya." Mauren tak kalah jahat dengan mamanya.


Kejahatan Mauren dan Mauza merupakan hasil didikan Mariska yang terus saja menanamkan rasa benci terhadap Lova dan Brata. Mariska ingin kedua putrinya diperlakukan seperti anak kandung, tapi sayangnya kedua putrinya itu memang tidak lebih unggul dari Lova. Baik dari sisi pendidikan maupun prilaku mereka.


Ia merasa Brata tidak adil pada Mauren. Putrinya itu mendapat posisi rendah di perusahaaan, meskipun perlahan Mauren bisa naik jabatan. Berbeda dengan Lova yang langsung mendapatkan posisi bagus hingga menjadi CEO di usianya yang baru 25 tahun.


"Mama akan menuntut balas akan ketidakadilan yang Brata lakukan pada mama."


"Dia tidak lagi menganggap mama sebagai istrinya. Dia dengan sadar mengatakan bahwa perusahaan hak Lova sepenuhnya. Bahkan saham perusahaan, tidak ada untuk mama meski sepuluh persen pun." Mariska mengungkapkan betapa ia kecewa pada pria itu. Dulu ia menduga, jika menikah dengan Brata hidupnya akan bahagia. Hingga ia rela menghalalkan berbagai cara.


"Sudahlah, Ma." Mauren mengusap bahu Mariska. "Yang terpenting sekarang, kita sudah hampir berhasil, Ma."


Keduan tertawa bahagia.


Pagi harinya....


"Nur, kemana Ken? Apa dia tidur diluar?" Tanya Brata saat Nur membawa makanan untuknya.


"Pak Ken belum pulang sejak pergi kemarin malam, Pak," jawab Nur yang tidak tahu apa-apa.


Brata diam sejenak. Ia menyuapkan makanan ke mulutnya. Hanya beberapa suap tapi ia sudah merasa kenyang.


"Sedikit sekali, Pak." Nur menerima piring yang Brata sodorkan padanya. Ia masih melihat nasi masih tersisa banyak dipiring itu.

__ADS_1


"Saya tidak selera makan, Nur."


"Kalau begitu minum obat dulu, Pak."


"Nanti saja." Tolak Brata. "Aku ingin berjemur di halaman belakang, Nur."


Nur mengangguk dan membawanya keluar kamar. Brata tidak akan minum obat yang bukan dari tangan Ken. Selama ini hanya Ken yang ia percaya untuk memberinya obat karena Ken memberitahunya bahwa Mariska beberapa kali menukar obatnya.


"Bapak disini dulu, ya? Nur tinggal sebentar untuk membereskan sisa makan tadi?"


Brata mengangguk.


Nur meminta pada dua orang pria yang berjaga untuk mengawasi Brata yang duduk di halaman belakang.


Brata mengalihkan pandangannya ke arah dalam rumah. Ia lupa, putrinya belum menemuinya pagi ini.


"Kalian, kemarilah!" Brata memanggil dua orang pria itu untuk mendekat.


"Kalian melihat putriku?"


"Bu Lova, Pak?" Tanya salah satunya.


"Ya..."


Keduanya hanya bisa saling tatap lalu menggeleng. "Tidak ada, Pak."


Brata mengangguk kecil. Perasaannya diselimuti rasa takut yang teramat besar. Sebesar rasa sakit yang ia rasakan saat puluhan tahun silam istri dan putra pertamanya meninggal dunia karena kecelakaan mobil.


Brata menghelan nafas. Ia merasa tidak berguna saat ini. Ia tidak bisa melindungi putrinya dengan baik. Ia bahkan tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Ia menatap kaki yang sebenarnya sudah bisa digunakan untuk berjalan meski belum terlalu kuat.


Terdengar suara berisik dari arah samping rumah. Sekilas Brata bisa mendengar pembicaraan mereka.


"Kamu jangan bercanda, Mauren!" Bentak Mariska. "Kamu tahu dari mana kalau Lova diculik?" Mariska sengaja mengeraskan suaranya.


"Grup sosial media teman kantor sudah ramai, Ma! Rosa sendiri yang mengatakan bahwa Lova diculik kemarin."


"Dia belum pulang kan sampai detik ini?"


Seketika para asisten rumah tangga langsung berkumpul. Semua meminta kejelasan tentang kabar itu. Mereka semua tidak melihat Brata yang juga sedang mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kalian tenanglah!" Ucap Mariska keras. "Saya juga belum mendapatkan berita yang akurat. Tapi kita semua tahu kan? Lova tidak pulang malam ini."


Brata menarik nafas dalam berkali-kali. Ia berusaha agar penyakit jantungnya tidak kambuh. Nafas Brata mulai terasa berat, ia memegang dadanya.


Tidak mungkin Lova diculik. Tidak mungkin! Dia gadis tangguh. Aku yakin Lova bisa menjaga dirinya. Aku yakin dia baik-baik saja.

__ADS_1


Ken? Apa karena ini Ken pergi dan belum kembali. Batin Brata.


__ADS_2